Senin, November 16, 2015

Curug Lawe dan Curug Benowo , Dulu Dan Sekarang

Curug Benowo saat ini (2015)
Sebenarnya saya telah sering ke tempat ini. Bahkan jauh sebelum kedua curug ini di kenal oleh khalayak luas. Pertama kali saya berkunjung ke kedua curug ini pada tahun 2003 silam. Tempat ini masih prawan dan alami. Tak banyak yang berkunjung ke tempat ini waktu itu dan biasanya hanya pecinta alam saja yang mau berkunjung ke tempat ini lho...
Curug ini adalah Curug Lawe dan Curug Benowo yang berada di Desa Kalisidi , Kecamatan Ungaran Barat , Kabupaten Semarang , Propensi Jawa Tengah. Berada pada lereng utara gunung Ungaran , curug ini berada pada tempat dengan ketinggian 1000 meter dari permukaan laut dan berada di tengah rimba...
Rimba????
Maksudnya di tengah hutan gituuuu?!?!!?
Curug Lawe saat ini(2015)
Yaaapppp...kamu benar sobat...kedua air terjun ini terletak di tengah hutan belantara dan justru ini yang bikin tempat ini makin asyik untuk di kunjungi. Kamu akan di ajak tracking melewati lebatnya hutan menyusuri sungai dan jalan setapak di pinggir jurang..hehehe sudah kebayang kan bagaimana serunya petualangan yang akan anda alami.
Nah start awal dari Pasar Ungaran anda harus ke arah Alun alun Barat yang letaknya berada di selatan Pasar Ungaran. Untuk menuju Alun-Alun Barat ini , tersedia banyak transportasi umum yang melewati tempat ini. Tapi untuk menuju Desa Kalisidi  dari Alun-Alun Barat ini , tak ada transportasi umum. Hanya ada ojek yang tarifnya mahal pastinya atau opsi terakhir jalan kaki sejauh 6,5 km yang bila anda tetap nekat melakukannya ya sudah pasti anda akan tepar...hahaha.
Curug Lawe & Benowo tahun 2010
So Dari Alun-Alun Barat kota Ungaran ini terus pergi ke arah barat arah Desa Lerep. Terus ikuti jalan ini hingga anda sampai di pertigaan setelah Resto Watu Gunung. Di sini anda harus tetap lurus jangan berbelok ke kiri karena jalan ini menuju ke kota Ungaran kembali. Di sepanjang perjalanan anda tak kan pernah bosan karena pemandangan yang cukup menghibur dengan hamparan sawah dan ladang penduduk. Walau menjelang  Desa Kalisidi anda akan lebih sering melihat jajaran rumah penduduk. Kondisi jalan dari Alun Alun Barat ini terhitung cukup baik dengan kontur tanah naik turun bukit(tapi lebih banyak naiknya daripada turunnya hehehe..). Tapi di pertengahan perjalanan ada beberapa jalan yang rusak yang memerlukan ke hati-hatian kita...

peta menuju desa Kalisidi...kalo masih bingung tanya yach...
Alternatif lainnya , mas bro juga bisa lewat dari gunung pati dengan melewati Desa Sumur Gunung. Kembali saya ambil alun-alun Lama sebagai patokan bro...dari alun-alun lama yang juga di sebut juga alun-alun barat kota ungaran ini , mas bro harus ambil jalan ke arah barat laut tepatnya ke arah gunung pati atau Boja. Sesampai di kantor Kecamatan Gunung pati , mas bro maju sedikit akan ketemu Gang dengan gapura bertuliskan "Sumur Gunung" yang terletak di kiri dari mas bro datang. Masuk deh ke gang ini dan terus ikuti jalan ini jangan berbelok-belok , kemudian mas bro pun akan sampai di Desa Kalisidi.
Perjalanan belum berhenti walaupun anda telah sampai di Desa Kalisidi. Mas broo masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat parkir obyek wisata yang terletak di atas desa Kalisidi ini. Jika anda terus menyusuri jalan Di desa Kalisidi , anda akan menjumpai sebuah pertigaan dengan sebuah TK RA Kalisidi. Di pertigaan ini anda harus ambil jalan ke kanan. Jika anda terus menyusuri jalan ke kanan ini anda akan di bawa ke pintu masuk perkebunan cengkeh Zanzibar. Masuk ke perkebunan ini dan terus susuri jalan menanjak yang membelah di antara pohon pohon cengkeh ini dan anda pun akan sampai di parkir Obyek Wisata Curug Lawe Benowo. di Sepanjang jalan di perkebunan cengkeh kembali mas bro akan merasa takjub dengan pemandangan yang keren. Di sini mas bro akan melihat deretan pohon cengkeh menghampar di lereng lereng gunung Ungaran. Barisan pohon cengkeg ini tampak berpadu serasi dengan perbukitan di sini. Di tambah semilir angin gunung yang sejuk pastinya akan membuat anda semakin betah di sini. Jika ingin bonus tambahan , coba deh mas bro datang ke sini antara bulan Juli - Agustus. Mas bro akan melihat kesibukan panen raya cengkeh yang di lakukan di bulan-bulan ini.
nampang dulu ahhh...heheeh(2014)

Setelah anda puas melihat indahnya kebun cengkeh di sepanjang perjalanan ke obyek wisata ini , andapun bisa menuju ke pos jaga 1 obyek wisata curug lawe-benowo yang letaknya berada di tengah kebun cengkeh ini. Setiba di pos ini , anda akan di minta untuk memparkirkan kendaraan anda di area parkir oleh petugas karena sangat tidak mungkin membawa kendaraan sampai ke lokasi air terjun...
Lha terussss...????
Lha terus ya jalan dong mas brooo...hahaha
Jalan kaki?!???!!!
Ya iyalah masak merangkak....hahaha...selepas area parkir kita harus jalan kaki sejauh kira-kira 2 km untuk menuju ke curug Lawe ataupun Benowo. Tapi sebelum itu anda harus menyelesaikan masalah administrasi dulu dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 4000 perorang , biaya parkir bagi yang bawa motor sebesar Rp 2000 , dan untuk mobil sebesar Rp 5000. Selain tempat parkir yang luas , di pos jaga 1 ini juga tersedia 2 kamar mandi kalau kalau sobat semua kebelet pipis atau mau ganti baju yang basah setelah bermain air. Bagi anda yang lapar , di sekitar pos jaga 1 ini juga banyak penjaja- penjaja makanan dan minuman dengan harga terjangkau.
start tracking (2014)

Bayar karcis dan parkir sudah. Mengisi perut sudah..buang air sudah...nah saatnya tracking ke air terjun. Perjalanan dimulai dengan menyusuri jalan perkebunan ke arah barat. Jalan cukup menanjak dan kiri kanan , sobat akan melihat pohon-pohon cengkeh tampak menjulang tinggi dan kokoh. Sekitar 10 menit dari pos Jaga 1 , anda akan menemui jalan setapak mengarah ke kiri jalan. Sebuah papan petunjuk arah telah tersedia dan mengarahkan perjalanan anda ke jalan setapak ini. Susuri jalan ini dan anda akan di arahkan ke jalan menurun dengan beberapa anak tangga untuk menuruninya. Anak tangga dari beton ini berakhir disebuah saluran irigasi selebar 1-1,5 meter yang letaknya berada di bawah bukit. Apa yang menarik dari saluran irigasi ini adalah sistem  pengairan ini dibangun di pinggir sebuah jurang dengan kedalaman yang....woowww...dalam sekali.
berjalan diatas saluran irigasi...(2014)
Air di saluran irigasi ini di batasi oleh 2 buah beton setinggi 1 meteran dengan ketebalan 40-60 cm memanjang dari Bendungan Sidomble sampai pos jaga 1 membentuk sebuah jalan beton yang biasa digunakan manusia untuk menuju ke Curug Lawe dan Benowo dari semenjak dulu kala. Nah untuk menuju ke lokasi air terjun ini mas bro harus menyusuri saluran irigasi ini neh karena memang jalan ini lah satu satunya jalan menuju ke air terjun.
Perjalanan awal menyusuri saluran irigasi ini memang cukup mendebarkan. Karena selain sempit jalan beton yang juga berfungsi sebagai pembatas air irigasi ini berdiri di atas jurang yang dalam.
jalan yang di lewati kayag gini bro....masih berani???(2015)
Saking sempitnya anda harus bergantian melewatinya saat berpapasan dengan pengunjung lainnya. Disamping itu jalan beton ini akan berubah menjadi licin saat musim penghujan sehingga memang dibutuhkan perhatian extra ketika melewatinya. Tak ada yang berubah dari saluran irigasi ini dari semenjak pertama kali saya datang ke sini. Kecuali banyaknya rambu rambu yang di pasang di sepanjang jalur dan juga di beberapa tempat terdapat betonisasi yang menutup air irigasi sehingga jalan menjadi lebar dan bisa digunakan pada saat berpapasan dengan pengunjung lainnya. Walau ini dilakukan hanya di beberapa bagian jalan , tapi inipun cukup membantu.
neh peta ke curug Lawe & Benowo
Pemandangan hutan tropis dengan pohon pohon tingginya mendominasi baik di kiri dan kanan jalan. Sementara suara air mengalir dari irigasi yang seolah membentuk sungai kecil menambah suasana damai di hati. Jernihnya air yang mengalir membentuk riak dan jeram-jeram kecil ini akan membuat mas bro tak jemu jemu untuk memandangnya. Terkadang bertiup angin sejuk dan dingin di sela sela pohon membuat badan terasa nyaman. Bagi anda yang ingin sejenak keluar dari rutinitas kota yang bising , tempat ini adalah tempat yang tepat untuk merefresh kembali pikiran anda...pokoknya recomend bangetlah brooi...Setelah berjalan di atas saluran irigasi sekitar 600 meter kemudian saya pun menemukan sebuah papan bertuliskan "area pandang lutung". Terus terang berkali-kali ke tempat ini baru saya tahu kalau di sepanjang jalur ini kita pun dapat melihat aktivitas dari mamalia yang satu ini. Tapi fakta masih adanya hewan liar di hutan ini menandakan hutan sekitar obyek wisata ini masih liar dan belum banyak dijamah tangan manusia.
mana neh lutungnya???(2015)
Kemudian tak jauh dari area pandang ini anda akan melewati tempat yang saya yakin membuat anda senang. Tempat ini berjarak sekitar 300 meter dari area pandang lutung. Tempat yang saya maksud ini sering di sebut Jembatan Romantis. Jembatan ini berwarna merah membentang sepanjang 50 meter menghubungkan kedua sisi jurang dengan kedalaman 10 meteran. Selain sebagai jalan penghubung , jembatan ini juga menjadi penghubung saluran irigasi dari kedua sisi jurang. 
mirip kayak di film petualangan...(2015)
Saluran irigasi ini terletak dibawah jalan dan tertutup oleh papan. Melewati jembatan ini seakan terasa melewati jembatan kanopi yang berada di atap hutan seperti yang terlihat di film. Pertama kali saya ke sini pun saya pun gak menyangka masih ada tempat seperti ini di indonesia. Saat ini pun jembatan ini tak berubah dan masih terjaga kondisinya. Anda pun akan setuju kalo saya bilang melewati jembatan ini bener-bener mirip seperti petualangan film Indiana Jones. Tapi kenapa sih dinamakan Jembatan Romantis???alasanya sederhana mas brooo...jika anda lewat jembatan ini bersama pacar pasti pegangan pacar anda akan semakin erat kan..nah ini menambah kedekatan dengan si doi...itu makanya kenapa jembatan ini di namakan Jembatan Romantis...hehehe
jembatan romantis...(2014)
Dari Jembatan Romantis ini jalan masih mengikuti saluran irigasi yang berada di pinggir jurang. Jadi tetap waspada, pasang mata, dan jaga konsentrasi kawan. Sekitar 500 meter dari Jembatan Romantis anda akan sampai di Bendungan Sidomble. Bendungan inilah yang mengatur seberapa besar debit air yang melewati irigasi.
dari dulu gak berubah neh ...(2015)
Bendungan ini jugalah yang menjaga agar air tetap mengalir ke arah saluran irigasi sebelum akhirnya jatuh ke sungai di bawahnya. Untuk selanjutnya jalan irigasi ini pun berakhir di sini dan di gantikan jalan setapak untuk menuju curug lawe-benowo. Jika anda melanjutkan perjalanan lagi , andapun akan menemui tempat istirahat dan pos jaga 2 yang terletak di puncak bukit kecil tak jauh dari Bendungan Sidomble. Pos jaga 2 ini berada dibawah pohon-pohon besar.
pos jaga 2 & mushola...(2015)
Di salah satu pohon besar berdiri rumah pohon yang di gunakan petugas untuk mengawasi ke adaan sekitar. Di sini tersedia kamar mandi dan mushola bagi anda yang mau melaksanakan ibadah sholat. Di sini pun terdapat beberapa warung makan yang buka saat hari libur. Bagi yang ingin mendirikan tenda , di pos jaga 2 ini juga tersedia camp ground walau tidak terlalu luas. Dari pos jaga 2 ini jalan setapak terbagi menjadi 2. Untuk menuju ke curug Lawe anda harus mengambil jalan ke kanan dan untuk menuju ke Curug Benowo anda bisa mengambil ke kiri.


C U R U G   L A W E

cahaya surga dari Curug Lawe..(2015)
Dari persimpangan jalan di pos jaga 2 , perjalanan berlanjut ke arah kanan mengikuti aliran sungai dengan jalan yang naik turun. Beberapa kali anda akan berpindah dari sisi kiri sungai menuju sisi kanan sungai dengan menyebrangi sungai ini sendiri. Tapi tenang bro...telah tersedia jembatan-jembatan dari kayu yang disediakan oleh pengelola. Tidak seperti dahulu waktu saya mengunjungi curug ini tak ada yang namanya jembatan dan untuk menuju Curug Lawe ini sendiri , dahulu saya harus menyusuri sungai ini berbasah ria dan naik turun batu-batu besar.
dulu...mau ke curug lawe harus nyemplung ke kolam ini kemudian manjat tebing i belakangngnya..bayangin...
Tapi sekarang jalan pun telah tersedia dan petunjuk arah begitu banyaknya. Benar-benar berubah total. Menjelang lokasi air terjun Curug Lawe , anda akan melewati sebuah tanjakan di atas sungai. Jalan di sini pun telah di buat undakan dan besi pegangan di sepanjang sisi jalan. Tak seperti saat tahun 2003 saya kemari harus melewati kolam di bawahnya dan memanjat batu besar di atas kolam ini dengan sebuah tali tambang. Kebayang kan sulitnya saat itu demi menuju curug lawe bro??Pada tahun 2012 di bangunlah jalan memutar ke atas sungai tapi belum ada jalan beton seperti sekarang...jadi lumayan sulit juga melewatinya.
sekarang pun sudah ada tangga...(2015)
Sampai di atas jalan beton berundak ini jalan menurun kembali menuju sungai. Setelah itu anda akan masuk ke sebuah ngarai yang dibatasi oleh 2 tebing tinggi. Anda seakan serasa dibawa ke dunia lain. Kalau boleh aku bilang ngarai ini mirip dengan background dari film Jurassic Park. Benar-benar fantastis kawan. Dari sini suara dari jatuhnya air di Curug Lawe telah terdengar begitu kencang...jalan kembali diarahkan menyusuri aliran sungai dan begitu berjalan beberapa puluh meter , terlihatlah sebuah air terjun terpampang didepan mata...inilah Curug Lawe itu brooo...
ngarai yang mirip di film Jurassic Park...(2015)

Curug Lawe ini berada pada ketinggian 950 Mdpl. Posisinya yang berada di tebing yang berbentuk melingkar membuat curug ini memiliki pemandangan alam yang lain dari yang lain. Saat mendekat ke air terjun seolah kita berada didalam sebuah mangkok yang besar. Pemandangan tebing terlihat megah di sekeliling kita  di tebing-tebing ini banyak bermunculan curug-curug kecil menghiasi dinding-dinding tebing bak untaian benang-benang kecil. Menurut pengelola dahulu saat di temukan jumlah curug-curug kecil ini termasuk curug lawe sendiri berjumlah 25 buah karena itulah curug ini dinamakan "Lawe" yang berasal dari kata "Selawe" , kata 25 dalam bahasa jawa.
foto tahun 2003...terkenang jadinya


siapa yang gak kegoda liat air sejernih ini...
Banyaknya pohon-pohon tinggi yang tumbuh subur diatas tebing membuat Suasana di sekitar curug ini pun sangatlah tenang dan teduh. Angin dingin yang  semilir sering berhembus dari ngarai membuat tubuh kadang merinding. Air sungai yang jernih seolah mengajak pengunjung untuk turun sekedar membasuh kaki mereka. Dingin...begitulah expresi dari mereka yang mencoba menceburkan salah satu anggota tubuh mereka di air. Rasa khas dari segarnya air pegunungan.
Untuk mendekat ke air terjun curug Lawe ini sendiri , anda harus melewati batu-batu dengan beraneka ragam ukuran yang banyak tersebar di sekitar lokasi. Belum sampai di bawah air terjun cipratan dari air yang jatuh akan membuat baju anda menjadi basah..apalagi setelah berada di bawah air terjun yang membentuk kolam kecil ini. Tubuh anda akan basah kuyup oleh air yang jatuh dari ketinggian. Sebentar saja bisa saya pastikan anda akan menggigil kedinginan saat mandi di air terjun ini. Hehe..
derasnya..(2015)
Sayang rasanya bila anda tak mengambil foto selfie atau foto kenangan di tempat seindah ini. Satu hal yang membuat saya sempat keheranan adalah perubahan besar yang di alami di sekitar air terjun ini. Dulu mau makan atau minum saja saya harus membawa bekal sendiri dari luar lokasi obyek. Namun sekarang gak perlu bingung kawan...soal-e di dekat air terjun pun ada lho yang jualan makanan dan minuman. Dulu mau duduk aja susah lho cari tempat yang kering...sekarang mau duduk sudah tersedia bangku-bangku dari kayu...benar benar beda. Semua perubahan ini tak lepas dari ter-expose nya tempat ini di salah satu acara TV swasta beberapa waktu lalu sehingga membuat terkenal tempat ini(Itu lho acara wisata My Trip My Adventure).
kurang cahaya mas...ngeblur(2015)
Tapi Tempat ini walau terlihat asyik dan indah , sejatinya memiliki bahaya yang tinggi. 
Kok???
Iya lho brooo...Banyaknya pohon besar di atas tebing yang mengelilingi curug ini merupakan sesuatu yang perlu di waspadai. Pohon-pohon ini bisa saja roboh terkena longsor dan jatuh ke bawah. Hal ini tidak mustahil kawan mengingat terlihat  banyaknya bekas bekas pohon tumbang yang ada di sekitar curug ini.
nah lhooo..banyak lho kayu segedhe ini di sekitar curug lawe...(2015)
Dulu saat saya pertama kali ke tempat ini , sempat tersiar kabar ada seorang pengunjung yang tewas tertimpa kayu yang jatuh dari atas tebing. Batu memorial dari peristiwa ini sampai sekarang masih ada lho terletak tidak jauh dari Curug Lawe ini sendiri.
Jadi ada baiknya anda tak berlama-lama mandi di bawah air terjun ini. Terlebih saat musim penghujan. Perlu saya ingatkan juga kepada anda kawan untuk tak mendatangi curug ini selepas maghrib. Karena posisinya di tengah hutan dan air dari curug ini juga jadi tumpuan hidup bagi makhluk hutan , saat malam curug ini sering di datangi oleh hewan-hewan liar yang sudah pasti membahayakan. Pengelola sendiri memberikan aturan bagi para pengunjung untuk meninggalkan lokasi wisata sebelum jam 4 sore...





C U R U G   B E N O W O
wuih derasnya ...padahal lage kemarau neh. bayangkan bila musim hujan(2015)

Nah curug yang ke dua ini pun tak kalah indahnya dengan Curug Lawe. Untuk menuju air terjun ini anda harus kembali ke persimpangan jalan di pos jaga 2. Sebenarnya ada sih jalan yang lebih dekat menuju ke curug Benowo dari Curug Lawe yang berjarak sekitar 700 meter. Cuma karena jalannya lumayan nanjak dan banyak longsoran serta susah untuk dilewati , sedikit yang mau melewati jalan ini. Lebih banyak pengunjung yang memilih kembali dan lewat persimpangan jalan di pos penjagaan 2. Karena jalan menuju Curug Benowo lebih mudah dan landai di jalur ini. Dari persimpangan ini anda harus berjalan dijalan setapak yang berada di sepanjang sisi sungai. Sama seperti perjalanan ke Curug Lawe , di sepanjang jalan menuju Curug Benowo ini anda akan banyak sekali melihat pohon-pohon tinggi karena memang jalan setapak ini melewati lebatnya hutan rimba.
gaya dulu bro.hahaha..(2015)

Hanya berjalan sekitar 800 meter dari persimpangan di pos 2 , anda akan tiba di bawah kaki Curug Benowo. Sebuah air jatuh dari tebing berwarna hitam memanjang dari tenggara hingga barat laut Terlihat megah dan keren dari kejauhan. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 100 meteran. Di kaki air terjun ini tersebar banyak sekali batu berukuran sedang dan besar. Melewati batu-batu inilah jatuhan air dari Curug Benowo ini mengalir membentuk aliran sungai hingga pos 2. Tidak seperti Curug Lawe , Curug ini berada di tempat terbuka sehingga terlihat lebih terang suasananya.
pemandangan sekitar curug Benowo.(2015)
Debit air yang jatuh pun terhitung cukup deras walau di musim kemarau sekalipun. Saat musim penghujan , air yang jatuh dari curug ini sangatlah deras hingga membentuk butiran air yang bisa terbawa jauh di lembah yang berada dibawahnya. Tapi seperti yang sudah-sudah kembali saya mengingatkan kepada anda untuk berhati-hati terhadap tanah longsor yang kerap juga terjadi disekitar curug ini saat musim penghujan.

Curug yang berada pada ketinggian 950 mdpl ini , juga memiliki ceritanya sendiri lho kawan.
berdiri di sini pun pasti basah lho saat musim hujan(2015)
Dulu curug ini oleh warga sekitar desa Kalisidi di anggap sebagai tempat angker dan di huni oleh seekor ular besar. Saking angkernya , bahkan penduduk Desa Kalisidi bahkan tak ada yang berani mendatangi curug ini. Pernah juga tersiar kabar bahwa ada seorang warga yang hilang di tempat ini. Warga setempat percaya orang tersebut yang juga seorang pencari rumput telah di makan oleh ular besar penghuni tempat ini. Dan kalau anda tanya pendapat saya tentang mitos ini , saya sih percaya juga tidak percaya. Karena pertama kali saya ke curug benowo pada tahun 2003 silam , saya bersama sekitar 10 orang teman saya sempat ngecamp di sekitaran curug ini , tepatnya di pinggir aliran sungai dibawah air terjun ini. Saat mendirikan tenda terlihat lorong-lorong besar di bawah batu-batu di sekitar curug ini. Lorong-lorong ini memiliki ukuran sebesar 2 kali paha orang dewasa dan terlihat saling terhubung. Seketika saya terbayang lorong ini merupakan rumah dari seekor binatang yang besar. Dan hanya ular kemungkinan yang terpikir dibenakku saat itu. Begitu tenda berdiri , aku langsung mengambil garam dan menebarkan garam dapur di sekeliling tenda..jaga-jaga kalo makhluk yang dimaksud muncul.
tahun 2003 ,saat ngecamp di Benowo

"I had baaaaadddd  feeling about this...." itulah yang terus terpikir olehku sementara yang lain malah senang-senang. Dan betul juga malam harinya suasana horor menaungi kawasan ini. Ini yang tak habis ku pikir...memang di tempat ini banyak kunang-kunang yang berterbangan , tapi masa iya di atas pohon yang jaraknya puluhan meter dari tempatku masih terlihat kunang-kunang bersinar terang benderang. Rasanya mustahil...mungkinkah ini adalah orbs atau penjelemaan mahkluk metafisik???cuma kemungkinan ini yang terpikir olehku sampai saat ini...untung saja kami melewatkan malam itu tanpa ada satupun gangguan..yang jelas antara percaya dan tidak percaya begitulah pengalamanku saat bermalam di curug ini.
benowo yang tersembunyi(2010)

Benowo sendiri berasal dari kata dalam bahasa jawa , Beno yang berarti banjir. Hal ini merujuk pada karakteristik air terjun ini yang memiliki debit air yang besar saat musim penghujan sehingga terlihat mirip seperti air bah. Versi lain mengatakan bahwa Benowo merupakan nama dari seorang pangeran dari kerajaan Pajang yang kemudian menjadi raja terakhir dari kerajaan ini.
Hubungannya???
Gak ada sih hahahaha….

Banyak yang mengatakan kedua curug ini merupakan harta tersembunyi dari kabupaten Semarang. Dan kalau mas bro mau tahu , rupanya kedua air terjun ini pun juga memiliki peranan penting bagi warga  semarang lho…Aliran sungai dari curug ini pun merupakan hulu dari sungai Kaligarang dan sungai Banjar kanal barat yang menjadi tumpuan bagi banyak hewan dan penduduk. Gak nyangka yaaaa…yang jelas ter-exposenya kedua curug ini jangan lantas menjadi alasan bagi kita untuk nyampah dan mengotori aliran sungainya yang jernih. Yuk tetep jaga kelestarian dan kealamiannya kawan…..

1 komentar:

  1. Sy pernah ke Curug Lawe.Ada penampakan tongkat emas di tebing . Suami lagi ambil video pake hp. Baru ketahuan kalo Allah SWT telah menunjukkan kebesaran Nya. Subhanallah....

    BalasHapus