![]() |
| kemegahan sebuah candi |
Aku tak menyangka akan melewati bangunan – bangunan bersejarah
ketika melewati trowulan. Karena niat awalku yang ingin kembali ke semarang
melewati malang kubatalkan setelah terdampar dikota wisata Pacet. Menurut peta
yang kubawa , Pertimbangan jarak dari pacet menuju semarang lewat kota malang
akan jauh lebih memutar dan bertambah jauh…karena itu aku kemudian mencari alternative
jalan lainnya ; yaitu melewati kota trowulan kemudian menuju kota mojokerto
untuk seterusnya mengikuti jalan raya kearah kota solo…awal perjalanan dari
kota pacet jalanan terasa mulus dan cenderung lurus…tapi semakin jauh jalan
yang kulalui menuju trowulan menjadi berkelok dan penuh dengan
persimpangan…saking banyaknya persimpangan aku dibuat bingung jadinya…kompas
yang kubawapun tak berguna banyak walaupun arah yang ditunjukan tidak berubah
menunjuk utara dan selatan…akhirnya, akupun menggunakan cara terakhir agar
terhindar dari kesasar…yaaa…apalagi kalau tidak bertanya pada orang yang
kebetulan kutemui.hehehehe…tak dapat kuhitung lagi berapa kali aku berhenti dan
bertanya pada orang atau penduduk yang tak sengaja berada di pinggiran
jalan…dan uniknya setiap orang yang kutemui pasti selalu memandang pada tas
carrier yang berada dipunggungku dengan pandangan heran bercampur penasaran(mungkin
mereka berpikir seperti ini kali ya “kok ada ya orang aneh yang berpergian pake
sepeda motor dengan memanggul tas sebesar kulkas di jaman modern seperti
ini…hahahaha) Dan cara ini terbukti efektif…walau masih sedikit bingung
akhirnya akupun sampai juga diselatan kota trowulan.
Sedikit lega ; akupun memacu kendaraan sedikit lebih pelan….lagi
enak-enaknya menikmati semilir angin , mataku dikejutkan oleh pemandangan
sebuah bangunan yang tinggi dan megah yang berada di kanan jalan. Rem langsung
kuinjak dan roda sepeda motorpun langsung berhenti…mataku tertuju pada papan
yang bertuliskan “GAPURA BAJANG RATU” sambil merasa takjub pada bangunan tinggi
yang berada jauh dibelakangnya….merasa tertarik akupun langsung putar arah
menuju bangunan indah ini…
Memasuki area wisata yang ditandai dengan gapura kecil motorpun
langsung kuparkirkan ditempat parkir dan kemudian aku menuju loket untuk
membeli karcis masuk sebesar Rp 3000 (kalau saya tak salah ingat maklum
karcisnya langsung saya buang begitu saya masuk hehehe.) sambil menjinjing tas
carrier sayapun langsung mendekat ke Candi ini. Ingatan saya langsung membawa
pada sebuah buku milik kawanku yang pernah kubaca…candi ini ada dibuku itu dan
jujur saja ketika melihat gambarnya dibuku saya memang punya ketertarikan dan
keinginan yang tinggi untuk mengunjungi tempat ini…dan siapa sangka
perjalananku ke jawa timur ini tanpa sengaja telah mewujudkan keinginanku ini…benar-benar
beruntung…
![]() |
| bajang ratu jika dilihat dari belakang |
![]() |
| struktur candi terbuat dari bata merah...unik ya |
CANDI BAJANG RATU atau GAPURA BAJANG RATU begitulah orang-orang memberi
nama pada bangunan bersejarah ini. Terletak di Dukuh Kraton, Desa
Temon, Kecamatan Trowulan, Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara
pasti, baik mengenai tahun pembuatannya, raja yang memerintahkan
pembangunannya, fungsinya, maupun segi-segi lainnya. Nama Bajangratu sendiri pertama kali disebut
dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun 1915. Menurut dugaan Arkeolog Sri Soeyatmi Satari ; nama Bajangratu ada hubungannya dengan Raja Jayanegara dari
Majapahit, karena kata 'bajang' berarti kerdil dan “ratu” berarti Raja. Dan dari cerita rakyat, Raja Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih
kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajangratu melekat padanya.
Mengenai fungsi candi ini sendiri, terdapat 2 pendapat yang
mengemukakan teorinya masing-masing. Pendapat pertama mengatakan bahwa Candi Bajangratu
didirikan untuk menghormati Raja Jayanegara. Dasar perkiraan ini adalah adanya relief Sri Tanjung
di bagian kaki gapura yang menggambarkan cerita peruwatan. Sedang pendapat yang
kedua mengatakan bahwa Bajangratu diduga merupakan salah satu pintu gerbang Keraton
Majapahit Mengingat bentuknya yang
merupakan gapura paduraksa atau gapura beratap dengan tangga naik dan turun. Perkiraan ini didukung
oleh letaknya yang tidak jauh dari lokasi bekas istana Majapahit. Dilihat dari
fungsinya inilah bangunan megah ini diperkirakan didirikan antara abad ke-13 dan ke-14.
Candi Bajangratu menempati area yang cukup luas diapit oleh taman yang
tertata rapi yang ditanami dengan aneka bunga yang indah dan berwarna warni. Seluruh bangunan candi
dibuat dari batu bata merah, kecuali anak tangga dan bagian dalam atapnya.
Sehubungan dengan bentuknya yang merupakan gapura beratap, Candi Bajangratu
menghadap ke dua arah, yaitu timur-barat. Ketinggian candi sampai pada puncak
atap adalah 16,1 m dan panjangnya 6,74 m. Gapura Bajangratu mempunyai sayap di
sisi kanan dan kiri. Pada masing-masing sisi yang mengapit anak tangga terdapat
hiasan singa dan binatang bertelinga panjang. Pada dinding kaki candi, mengapit
tangga, terdapat relief Sri Tanjung, sedangkan di kiri dan kanan dinding bagian
depan, mengapit pintu, terdapat relief Ramayana. Pintu candi dihiasi dengan
relief kepala kala yang terletak tepat di atas ambangnya. Di kaki ambang pintu
masih terlihat lubang bekas tempat menancapkan kusen. Mungkin dahulu pintu
tersebut dilengkapi dengan daun pintu.
![]() |
| koyo wong ilang neehhh.. |
![]() |
| hiasan di pintu candi |
Atap candi berbentuk meru (gunung), mirip limas bersusun, dengan
puncak persegi. Setiap lapisan dihiasi dengan ukiran dengan pola limas terbalik
dan pola tanaman. Pada bagian tengah lapis ke-3 terdapat relief matahari, yang
konon merupakan simbol kerajaan Majapahit. Walaupun candi ini menghadap
timur-barat, namun bentuk dan hiasan di sisi utara dan selatan dibuat mirip
dengan kedua sisi lainnya. Di sisi utara dan selatan dibuat relung yang
menyerupai bentuk pintu. Di bagian atas tubuh candi terdapat ukiran kepala
garuda dan matahari diapit naga.
Sejenak aku tertegun merasa takjub dengan bangunan bersejarah
ini. Karena bangunan ini tampak begitu tinggi menjulang kelangit dan terbuat
dari batu bata…bayangkan….batu bata!!!!dan tanpa bahan campuran perekat seperti
semen dan pasir bangunan ini masih berdiri kokoh memecah langit hingga
sekarang. Dan menurut pendapat pribadiku kita memang harus angkat topi atau salut
dan bangga terhadap nenek moyang kita yang pada zamannya telah memiliki
teknologi dan arsitektur yang seperti
ini.
Tak lupa foto foto
narsispun kuambil untuk kenang kenangan…hehehe…maklumlah buat bukti kalau aku
pernah datang ketempat ini…wuhehehehe…
(Bersambung ke “Journey to the decade 8th place”)





