Mungkin kota pati terdengar kurang menarik bagi anda. Saya
pun awalnya juga beranggapan seperti itu. Tentu saja , mengingat kota ini tak
setenar kota tetangganya seperti kota Kudus , Demak , ataupun Jepara. Tapi
setelah saya mencoba bertanya pada “mbah Google” , kota BUMI MINA TANI inipun
ternyata memiliki sejumlah obyek wisata yang memiliki pontensi jika saja pihak pemerintah
daerah mau serius menggarapnya. Mulai dari wisata alam , religi , budaya ,
semua ada di kota ini. Saya pun mulai menggagas sebuah rencana untuk mengexplor
kota ini. Rencana inipun akhirnya terwujud.
W A D U K S E L O R O M O
Berangkat dari semarang jam 6 pagi saya mulai menyusuri jalanan menuju Kota Pati. Tidak sulit menemukan jalan ke arah pati karena banyak papan petunjuk arah menuju kota ini. Pada pukul 8:15 sayapun sampai di kota ini setelah melewati kota Demak dan Kudus. Saya pun lalu menuju ke tujuan pertama...WADUK SELOROMO
Setelah beristirahat sebentar , saya pun melanjutkan perjalanan menuju waduk ini. Beberapa kali saya bertanya dengan orang yang kebetulan saya jumpai di jalan. Untuk menuju danau buatan ini , pertama anda harus menemukan Stadion Jayakusuma. Dari stadion ini terus lurus hingga menemukan sebuah perempatan jalan dengan sebuah patung Garuda berdiri di tengah perempatan ini. Di perempatan ini saya harus belok ke kiri atau ke utara , arah Tayu. Setelah lampu lalu lintas yang ke tiga dari perempatan , belok ke kiri ke arah gembong. Awalnya saya sempat bingung dan kesasar sampai ke pasar Gembong. Tapi setelah bertanya-tanya kesana kemari , sayapun tiba dilokasi wisata. Kesan saat saya tiba dilokasi waduk adalah benar-benat takjub. Karena setelah melewati deretan rumah penduduk , pandanganku langsung disambut oleh birunya air waduk yang terlihat di sela-sela pohon randu. Semakin mendekat warna birunya air semakin terlihat jelas dan membentang luas. Kereeeennnn...gak di sangka di patipun ada tempat seperti ini.
Waduk Seloromo terletak di Desa Gembong , Kecamatan Gembong , Kabupaten Pati. Waduk ini terletak di lereng sebelah timur Gunung Muria. Letaknya yang berada dibawah gunung membuat waduk ini memiliki pemandangan alam yang memukau mata. Menurut penduduk sekitar desa Gombong , danau buatan ini pertama kali di buat oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1930. Penamaanya sendiri berasal dari kata "selo" yang berarti batu dan "Romo" yang berarti bapak atau ayah. Menurut cerita , pada zaman penjajahan Jepang waduk ini kembali di bangun dengan sistem kerja rodi yang akhirnya banyak memakan korban. Diwaktu itu pula , terdapatlah sebuah batu yang tak dapat di hancurkan oleh tentara jepang meskipun telah menggunakan bom. Dari sinilah kemudian waduk ini memperoleh nama SELOROMO yang berarti Bapaknya Batu.
Semula fungsi awal dari waduk ini hanya sebagi pengairan sawah , tapi seiring berjalannya waktu keindahan waduk ini pun semakin tersebar dan semakin banyak orang yang kemudian datang ke waduk ini. Saat ini pun waduk ini telah menjadi obyek wisata andalan kota pati. Keindahan dan suasananya yang asri dimanfaatkan sebagian orang untuk berwisata keluarga. Bagi para muda-mudi , tempat ini juga di gunakan sebagai tempat memadu kasih atau istilah kerennya "pacaran" hahaha. Keberadaan waduk ini juga membawa berkah bagi penduduk sekitar waduk ini. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini membuat warga sekitar waduk untuk menambah penghasilan mereka dengan berjualan aneka makanan dan minuman di sekitar lokasi waduk.
Meski menjadi andalan wisata kota Pati , waduk ini tak
lantas kehilangan fungsi utamanya yaitu sebagai cadangan air dan pengairan
saluran irigasi sawah sawah yang berada di bawah waduk. Air dari waduk ini
telah mengairi sawah hingga mencapai puluhan kilometer dibawahnya. Air dari
waduk ini telah mengairi areal persawahan di Pati kota , kecamatan Wedirijaksa
, Tlogowungu , bahkan telah mencapa Juwana yang berada di pingir laut. Kata
BUMI MINA TANI yang di sandang Kota Pati tak lepas dari jasa Waduk Seloromo.
Selain pertanian , waduk ini juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar walau untuk yang satu ini tidak segencar dengan yang dilakukan di waduk lainnya. Tapi di waduk ini juga kerap dijumpai penduduk setempat sedang menjala ikan...
Sayapun berhenti di salah satu tepi waduk ini sekedar ingin menikmati suasana alam yang asri ini. Tak lupa narsis menjadi agenda wajib ketika berada di tempat yang indah. Puas menikmati suasana di waduk ini. Saya pun lantas meninggalkan waduk ini dan bergerak menuju tempat berikutnya. Sebuah air terjun yang ada di sebelah utara waduk ini , Air Terjun Grenjengan.
A I R T E R J U N G R E N J E N G A N ( kw 2)
Awal perjalanan saya langsung ke arah utara melewati
talud waduk dengan jalan yang hanya cukup untuk papasan 2 motor. Sesampai di
ujung utara talud waduk seloromo , jalan mulai menanjak. Sebenarnya jalan ini
cukup lebar , namun kondisi jalan yang rusak disana sini membuat perjalanan
makin sulit. Apalagi sebagian besar jalan ini melewati hutan dan ladang
penduduk. Sehingga cukup mengkhawatirkan ketika berpikir kalau saja ban motor
bocor atau bensin habis , saya pun akan benar-benar dalam masalah besar. Karena
jangankan menemukan tukang tambal ban atau bengkel , lha menemukan rumah
penduduk saja cukup jarang. Untuk itu begitu saya menemui warung yang menjual
bensin eceran , langsung saja tangki motor saya isi sekaligus bertanya tentang
tempat yang saya tuju. Dan dari jawaban yang saya terima arah ini sudah benar
dan masih dibutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke lokasi. Dan benar saja ,
lebih dari 1 jam aku menyusuri jalan yang bener-bener rusak parah.
Walau menjelang sampai di lokasi perkebunan jalan kembali
beraspal dengan kondisi yang cukup bagus. Perkebunan? Ya dari sebagian besar
jawaban orang yang kutemui ketika kutanya menjawab Air terjun Grenjengan
terletak di dekat Wisata Perkebunan Kopi Jolong. Saya pun akhirnya sampai di
pintu gerbang perkebunan Kopi Jolong. Sebuah pos jaga tampak berdiri
kosong tanpa penjaga disamping gerbang. Sayapun masuk begitu saja walaupun di
situ tertera tarif Rp 4.000 untuk masuk ke kawasan wisata jolong ini. Ya mau
bagaimana lagi..hahaha
Tak jauh dari pintu gerbang ini sebuah papan arah bertuliskan "Air Terjun Grenjengan" berdiri di pertigaan jalan. Aku pun langsung senang karena mengetahui arahku sudah tepat.
Cumaaaa...
kenapa jalannya kayak gini...apa benar air terjun ini yang dimaksud. Soalnya dipertigaan jalan ini aku kembali harus dihadapkan pada jalan yang parah. Arah ke air terjun dari pertigaan belok ke kiri , turun melewati jalan yang terbuat dari batu yang ditata. Bagus bila saja batu ini seragam dan rata. Tapi jalan ini terdiri dari susunan batu yang tak rata dengan ukuran besar kecil sehingga permukaan jalan tidak rata dengan batu yang menonjol di sana sini....hadeeeewwww...
Sempat terpikir olehku untuk kembali saja. Tapi karena sudah kepalang tanggung dan didepanku sebuah motor juga tengah mengarungi jalan ini , aku pun akhirnya maju menuruni jalan batu ini. Baru awal perjalanan motor yang kunaiki terguncang tanpa henti. Aku pun tak berani memacu motor cepat-cepat , karena pelan saja sudah terasa guncangannya apalagi bila motor ku pacu dengan kecepatan penuh. Tidak hanya itu , jalan batu ini juga melewati lereng lereng bukit yang berkelok-kelok dan naik turun cukup untuk membuat jantung ini berdesir berulang kali. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya aku pun sampai dilokasi air terjun grenjengan. Walau tak ada setengah jam jalan ini terasa begitu lama bagiku. Motor pun langsung ku parkir ditempatnya sambil kuamati situasi sekitar. Tak jauh dari area parkir ini , sebuah gapura dengan jalan berundak terbuat dari beton menyambut kedatanganku..
Untuk menuju air terjun rupanya aku harus menyusuri jalan menanjak ini. Di samping kanan jalan sengaja di buat beberapa patung binatang yang memperindah jalan masuk menuju air terjun. Beberapa meter kemudian sampailah aku di air terjun....
tapi kok lhooooo...
......
Ini air terjunnya?jelek banget...
Daripada air terjun ini sih lebih mirip dengan air hujan yang menetes dari genting...sialan....dongkol juga sih jadinya...pasalnya ini semua tak sesuai dengan yang dikatakan mbah google. Katanya "indah" , katanya "menakjubkan" ; eee lha kok kayak gini...jangankan deras airnya , ini aja debit airnya bener-bener kecil. Tidak tahu apa karena musim kemarau atau memang seperti ini. Untung saja pemandangan sekitar air terjun ini cukup indah dan menawan. Di sebelah kiri dari tempat aku datang , telah disulap menjadi taman-taman mini dengan pohon cemara menaungi lokasi. Beberapa tempat duduk terbuat dari kayu tampak menghiasi lokasi wisata. Taman ini berbentuk terasering sehingga semakin ke atas pemandangan terlihat semakin menakjubkan.
Kebun kopi tampak menghijau dan menghampar di
lereng-lereng lembah gunung Muria. Di sebelah barat tampak puncak Muria begitu
gagah menjulang di antara biru-nya langit. Sayapun terus menuju ke atas air
terjun melewati taman ini karena saya mendengar di atas masih ada air terjun
lagi. Ternyata air terjun yang ke dua ini masih mending daripada yang ada di
bawah walaupun kalau di pandang yaaa sama saja…hahaha. Sungguh bikin hati
kecewa….Karena tak setimpal dengan perjuangannya yang dilakukan saat menuju ke
tempat ini. Lalu ku coba untuk mencari info lagi dari "mbah
google" dan memang ada air terjun lain di daerah pati ini yang sama sama
bernama grenjengan yang letaknya berada di daerah tayu.
Karena merasa kecewa dan tertipu , setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi ; aku pun beranjak meninggalkan tempat ini. Kembali jalan berbatu menjadi makanan bagi roda motor-ku. Di luar dugaan perjalanan kembali terasa begitu cepat. Sebentar saja saya pun sampai di pintu gerbang perkebunan kopi Jolong. Di pintu gerbang terlihat ramai dengan pengunjung. Saya pun berhenti sejenak sekedar mencari info tentang air terjun grenjengan.
"Wah memang gitu mas debit air-nya kalau musim kemarau kayak gini. Tapi kalo musim hujan debit airnya ya cukup deras dan air terjunnya terlihat bagus." begitu jawaban dari salah satu petugas perkebunan ketika ku tanya tentang Air Terjun Grenjengan di Jolong ini.
"Ooo yang di tayu itu mas , itu air terjun Grenjengan
Sewu namanya. Memang sih air-nya lebih banyak yang sana tapi grenjengan yang
sinipun sebenarnya tak kalah jika musim hujan" jawaban dari si bapak ini
semakin memperjelas kalau sebenarnya aku salah tempat...yang di maksud oleh
mbah google adalah air terjun Grenjengan Sewu yang terletak di Kecamatan Tayu.
Aku pun gak banyak bicara lagi , setelah meluncur di aspal ku coba mencari letak pasti Kecamatan Tayu yang ternyata masih sangat jauh dari Wisata Jolong. Karena waktu telah beranjak siang aku memutuskan untuk menunda ke Air Terjun Grenjengan Sewu dan mengarahkan perjalanan ke Pati wilayah selatan sekaligus pulang ke Semarang. Untuk itu aku harus kembali ke arah pati kota. Dan kali ini aku memilih alternatif jalan lain. Kalau sebelumnya pada perjalanan ke Jolong aku lewat Kecamatan Gembong yang jalannya luar biasa parah rusaknya , di perjalanan turun ini aku lewat arah Kecamatan Tlogowungu. Karena di pertigaan jalan sewaktu aku menuju wisata Jolong sempat ku lihat papan petunjuk arah ke sebuah wisata yang juga telah terkenal keberadaannya , Waduk Gunung Romo.
Bersambung ke “Satu Hari Menjelajah Kota Pati (Bagian 2 : WADUK GUNUNG ROWO , AIR TERJUN TADAH HUJAN , dan GOA PANCUR)
W A D U K S E L O R O M O
![]() |
| langit yang biru dan air waduk yang biru...benar benar perpaduan yang pas kawan...... |
Berangkat dari semarang jam 6 pagi saya mulai menyusuri jalanan menuju Kota Pati. Tidak sulit menemukan jalan ke arah pati karena banyak papan petunjuk arah menuju kota ini. Pada pukul 8:15 sayapun sampai di kota ini setelah melewati kota Demak dan Kudus. Saya pun lalu menuju ke tujuan pertama...WADUK SELOROMO
![]() |
| dari atas bukit kaya gini neh waduk seloromo... |
Setelah beristirahat sebentar , saya pun melanjutkan perjalanan menuju waduk ini. Beberapa kali saya bertanya dengan orang yang kebetulan saya jumpai di jalan. Untuk menuju danau buatan ini , pertama anda harus menemukan Stadion Jayakusuma. Dari stadion ini terus lurus hingga menemukan sebuah perempatan jalan dengan sebuah patung Garuda berdiri di tengah perempatan ini. Di perempatan ini saya harus belok ke kiri atau ke utara , arah Tayu. Setelah lampu lalu lintas yang ke tiga dari perempatan , belok ke kiri ke arah gembong. Awalnya saya sempat bingung dan kesasar sampai ke pasar Gembong. Tapi setelah bertanya-tanya kesana kemari , sayapun tiba dilokasi wisata. Kesan saat saya tiba dilokasi waduk adalah benar-benat takjub. Karena setelah melewati deretan rumah penduduk , pandanganku langsung disambut oleh birunya air waduk yang terlihat di sela-sela pohon randu. Semakin mendekat warna birunya air semakin terlihat jelas dan membentang luas. Kereeeennnn...gak di sangka di patipun ada tempat seperti ini.
![]() |
| ngadem duloooeeee.... |
Waduk Seloromo terletak di Desa Gembong , Kecamatan Gembong , Kabupaten Pati. Waduk ini terletak di lereng sebelah timur Gunung Muria. Letaknya yang berada dibawah gunung membuat waduk ini memiliki pemandangan alam yang memukau mata. Menurut penduduk sekitar desa Gombong , danau buatan ini pertama kali di buat oleh pemerintah kolonial belanda pada tahun 1930. Penamaanya sendiri berasal dari kata "selo" yang berarti batu dan "Romo" yang berarti bapak atau ayah. Menurut cerita , pada zaman penjajahan Jepang waduk ini kembali di bangun dengan sistem kerja rodi yang akhirnya banyak memakan korban. Diwaktu itu pula , terdapatlah sebuah batu yang tak dapat di hancurkan oleh tentara jepang meskipun telah menggunakan bom. Dari sinilah kemudian waduk ini memperoleh nama SELOROMO yang berarti Bapaknya Batu.
Semula fungsi awal dari waduk ini hanya sebagi pengairan sawah , tapi seiring berjalannya waktu keindahan waduk ini pun semakin tersebar dan semakin banyak orang yang kemudian datang ke waduk ini. Saat ini pun waduk ini telah menjadi obyek wisata andalan kota pati. Keindahan dan suasananya yang asri dimanfaatkan sebagian orang untuk berwisata keluarga. Bagi para muda-mudi , tempat ini juga di gunakan sebagai tempat memadu kasih atau istilah kerennya "pacaran" hahaha. Keberadaan waduk ini juga membawa berkah bagi penduduk sekitar waduk ini. Banyak wisatawan yang berkunjung ke tempat ini membuat warga sekitar waduk untuk menambah penghasilan mereka dengan berjualan aneka makanan dan minuman di sekitar lokasi waduk.
![]() |
| sayang gak ada kapalnya...hahaha |
Selain pertanian , waduk ini juga dimanfaatkan untuk budidaya ikan air tawar walau untuk yang satu ini tidak segencar dengan yang dilakukan di waduk lainnya. Tapi di waduk ini juga kerap dijumpai penduduk setempat sedang menjala ikan...
![]() |
| di atas talud... |
Sayapun berhenti di salah satu tepi waduk ini sekedar ingin menikmati suasana alam yang asri ini. Tak lupa narsis menjadi agenda wajib ketika berada di tempat yang indah. Puas menikmati suasana di waduk ini. Saya pun lantas meninggalkan waduk ini dan bergerak menuju tempat berikutnya. Sebuah air terjun yang ada di sebelah utara waduk ini , Air Terjun Grenjengan.
A I R T E R J U N G R E N J E N G A N ( kw 2)
![]() |
| bisa lihat kan?betapa kecewanya aku...huft |
![]() |
| Aslinya sih bagus...sayang...air terjunnya itu lho... |
Tak jauh dari pintu gerbang ini sebuah papan arah bertuliskan "Air Terjun Grenjengan" berdiri di pertigaan jalan. Aku pun langsung senang karena mengetahui arahku sudah tepat.
Cumaaaa...
![]() |
| menuju air terjun , gini neh jalannya |
kenapa jalannya kayak gini...apa benar air terjun ini yang dimaksud. Soalnya dipertigaan jalan ini aku kembali harus dihadapkan pada jalan yang parah. Arah ke air terjun dari pertigaan belok ke kiri , turun melewati jalan yang terbuat dari batu yang ditata. Bagus bila saja batu ini seragam dan rata. Tapi jalan ini terdiri dari susunan batu yang tak rata dengan ukuran besar kecil sehingga permukaan jalan tidak rata dengan batu yang menonjol di sana sini....hadeeeewwww...
Sempat terpikir olehku untuk kembali saja. Tapi karena sudah kepalang tanggung dan didepanku sebuah motor juga tengah mengarungi jalan ini , aku pun akhirnya maju menuruni jalan batu ini. Baru awal perjalanan motor yang kunaiki terguncang tanpa henti. Aku pun tak berani memacu motor cepat-cepat , karena pelan saja sudah terasa guncangannya apalagi bila motor ku pacu dengan kecepatan penuh. Tidak hanya itu , jalan batu ini juga melewati lereng lereng bukit yang berkelok-kelok dan naik turun cukup untuk membuat jantung ini berdesir berulang kali. Sekitar setengah jam kemudian akhirnya aku pun sampai dilokasi air terjun grenjengan. Walau tak ada setengah jam jalan ini terasa begitu lama bagiku. Motor pun langsung ku parkir ditempatnya sambil kuamati situasi sekitar. Tak jauh dari area parkir ini , sebuah gapura dengan jalan berundak terbuat dari beton menyambut kedatanganku..
![]() |
| gapura masuk |
Untuk menuju air terjun rupanya aku harus menyusuri jalan menanjak ini. Di samping kanan jalan sengaja di buat beberapa patung binatang yang memperindah jalan masuk menuju air terjun. Beberapa meter kemudian sampailah aku di air terjun....
tapi kok lhooooo...
......
Ini air terjunnya?jelek banget...
Daripada air terjun ini sih lebih mirip dengan air hujan yang menetes dari genting...sialan....dongkol juga sih jadinya...pasalnya ini semua tak sesuai dengan yang dikatakan mbah google. Katanya "indah" , katanya "menakjubkan" ; eee lha kok kayak gini...jangankan deras airnya , ini aja debit airnya bener-bener kecil. Tidak tahu apa karena musim kemarau atau memang seperti ini. Untung saja pemandangan sekitar air terjun ini cukup indah dan menawan. Di sebelah kiri dari tempat aku datang , telah disulap menjadi taman-taman mini dengan pohon cemara menaungi lokasi. Beberapa tempat duduk terbuat dari kayu tampak menghiasi lokasi wisata. Taman ini berbentuk terasering sehingga semakin ke atas pemandangan terlihat semakin menakjubkan.
![]() |
| itu lho puncak muria |
Karena merasa kecewa dan tertipu , setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi ; aku pun beranjak meninggalkan tempat ini. Kembali jalan berbatu menjadi makanan bagi roda motor-ku. Di luar dugaan perjalanan kembali terasa begitu cepat. Sebentar saja saya pun sampai di pintu gerbang perkebunan kopi Jolong. Di pintu gerbang terlihat ramai dengan pengunjung. Saya pun berhenti sejenak sekedar mencari info tentang air terjun grenjengan.
"Wah memang gitu mas debit air-nya kalau musim kemarau kayak gini. Tapi kalo musim hujan debit airnya ya cukup deras dan air terjunnya terlihat bagus." begitu jawaban dari salah satu petugas perkebunan ketika ku tanya tentang Air Terjun Grenjengan di Jolong ini.
![]() |
| DARI ATAS |
Aku pun gak banyak bicara lagi , setelah meluncur di aspal ku coba mencari letak pasti Kecamatan Tayu yang ternyata masih sangat jauh dari Wisata Jolong. Karena waktu telah beranjak siang aku memutuskan untuk menunda ke Air Terjun Grenjengan Sewu dan mengarahkan perjalanan ke Pati wilayah selatan sekaligus pulang ke Semarang. Untuk itu aku harus kembali ke arah pati kota. Dan kali ini aku memilih alternatif jalan lain. Kalau sebelumnya pada perjalanan ke Jolong aku lewat Kecamatan Gembong yang jalannya luar biasa parah rusaknya , di perjalanan turun ini aku lewat arah Kecamatan Tlogowungu. Karena di pertigaan jalan sewaktu aku menuju wisata Jolong sempat ku lihat papan petunjuk arah ke sebuah wisata yang juga telah terkenal keberadaannya , Waduk Gunung Romo.
Bersambung ke “Satu Hari Menjelajah Kota Pati (Bagian 2 : WADUK GUNUNG ROWO , AIR TERJUN TADAH HUJAN , dan GOA PANCUR)










