Tampilkan postingan dengan label Curug Bendut Sumowono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curug Bendut Sumowono. Tampilkan semua postingan

Selasa, Maret 15, 2016

BERBURU CURUG PRAWAN DI SUMOWONO Bagian 2 : CURUG BENDUT


Curug Bendut..
Setelah beberapa waktu lalu saya mengunjungi Desa Duren demi mencari dua air terjun prawan yang berakhir dengan ketemunya Curug Glawe , saya pun mencoba datang ke desa ini lagi untuk memburu air terjun yang ke dua , Curug Bendut. Curug Bendut sendiri terletak di atas Curug Glawe. Dalam perjalanan sebelumnya , saya pun telah berusaha mencari curug ini setelah menemukan Curug Glawe. Tapi pencarian saya tak menemukan hasil dan berujung pada kegagalan. Setelah beberapa waktu rencana pun kembali saya susun..saya pun kembali ke  Desa Duren di mana curug ini berada…
peta ke desa Duren lewat Desa Kenteng
Seperti biasa saya mengendarai motor menuju Kecamatan Sumowono yang terletak di lereng selatan Gunung Ungaran. Sumowono sendiri adalah nama sebuah desa penghasil sayuran dan bunga yang telah terkenal dari zaman dulu kala. Letak desa ini sangatlah strategis karena berada di pinggir jalan raya . Dalam perkembangannya desa ini kemudian beralih fungsi menjadi Kecamatan yang menaungi desa-desa di sekitarnya ; termasuk Desa Duren dimana Curug Glawe dan Curug Bendut berada. Akses menuju Desa Duren dari Terminal Sumowono sangatlah mudah dan gampang di cari walau untuk soal jalan masihlah sangat buruk memang. Pada perjalanan pertama ke Curug Glawe saya mengambil jalan melewati Desa Losari yang memiliki kondisi jalan yang tak terlalu bagus. Kemudian dalam perjalanan ke dua ini saya pun mencoba alternatif jalan lain. Dan setelah googling di google map saya pun menemukan ada alternatif jalan lain menuju Desa Duren , yaitu lewat Desa Kenteng yang terletak tak jauh dari Terminal Sumowono. Untuk menuju Desa Kenteng , dari Terminal Sumowono saya harus menuju ke arah Limbangan. Tak jauh dari terminal ini saya harus belok ke kiri pada tikungan yang pertama , tepatnya di Jl.Sukorono yang terletak tak jauh dari ATM Bank Danamon. Selanjutnya saya pun mengikuti jalan ini lurus tanpa berbelok hingga setiba di Desa Kenteng jalan pun bercabang menjadi dua. Merasa bingung , akupun bertanya pada penduduk setempat dan untuk menuju ke Desa Duren aku harus belok ke kiri di pertigan ini karena jalan ke kanan menuju ke arah Desa Mendong..
pertigaan desa Kenteng ...jangan lupa belok kiri brooo...
Yap...akhirnya tanpa ragu motor pun ku putar ke arah kiri mengikut jalan aspal dengan kondisi yang masih bagus. Tak berapa lama jalan aspal ini menuntun motorku untuk keluar dari Desa Kenteng. Jalan aspal pun berganti dengan jalan cor beton yang kayaknya baru selesai di kerjakan , mengering dan boleh di lewati. Beruntung juga perjalanan kali ini sedikit sekali merasakan jalan rusak.. hehehe..jalan beton ini terus menuruni lembah melewati persawahan dan ladang penduduk. Sampai di bawah lembah sebuah sungai yang tak terlalu lebar menanti di kejauhan. Di atas sungai ini berdiri jembatan penyebrangan yang menghubungan ke dua sisi sungai. Kemudian jalan pun menanjak menikung ke kiri. Kondisi jalan beton yang mulanya oke berganti dengan jalan aspal yang lumayan bagus. Sesampai di atas , jalan pun melewati sebuah makam yang bila di perhatikan cukup angker juga. Tapi aku sendiri tak ambil pusing dan melewati makam ini dengan santai saja..
lewat jalan ini hati-hati ya kawan...selain rusak juga sepi lho...
Dari area makam ini jalan kembali datar melewati hutan yang cukup sepi. Ada baiknya jika anda ingin berkunjung ke desa Duren lewat jalan Desa Kenteng ini usahakan jangan melewati jalan ini saat sore. Karena di lihat dari sepinnya jalan dan posisinya yang jauh dari pemukiman penduduk , daerah ini sangatlah rawan dengan kejahatan. Keadaan ini di perparah dengan kondisi jalan yang semakin buruk setelah melewati sebuah tikungan. Selain kondisinya yang rusak jalan ini juga menurun dan menikung tajam. Suasana di jalan ini terlihat begitu gelap tertutup oleh rimbunnya pohon. Tapi untung saja lebar jalan masilah cukup memadai untuk berpapasan dengan 1 mobil sehingga untuk ancang-ancang pun masih mungkin. Tiba di akhir jalan rusak ini kondisi jalan mulai beraspal halus dan rata. Dari sini jalan kembali datar dengan pemandangan sebelah kiri terassering persawahan penduduk dengan back ground Gunung Ungaran...wuiiihhh...keren mennn...bak lukisan alam kalau boleh aku bilang brooo..berapa saat kemudian , kembali ku jumpai perkampungan dan jalan ini berakhir di pertigaan jalan...
jajaran terasering persawahan
Kembali aku teringat akan pertigaan ini...aku pernah melewatinya saat aku ke Desa Duren untuk pertama kalinya...pertigaan ini kalau belok ke kiri akan membawaku ke Desa Mendong dan kalau aku lurus ke kanan akan membawaku ke Desa Kali Tumpang yang kemudian terus berlanjut ke Desa Skeper dan Desa Duren...baru aku pahami rupanya jalan ini tembus di pertigaan ini. Ya sudah...karena tujuanku ke Desa Duren aku pun lantas lurus ke kiri mengikuti jalan yang telah ku kenal. Tak ada kesulitan berarti setelah pertigaan ini dan dalam waktu yang tidak lama , aku pun tiba di Desa Skeper , Desa yang berada di atas Desa Duren. Menurut info yang kuterima  sewaktu aku berkunjung ke Desa Duren sebelumnya , Curug Bendut lebih mudah di akses dari desa ini ketimbang Dari Desa Duren .
peta ke Curug Bendut dari Desa Skeper.
Aku pun mulai menggali informasi...dan sekali bertanya pada salah satu  warga Desa Skeper , aku langsung mendapat jawaban yang memuaskan
"Itu mas...jalan menuju Curug Bendut tuh setelah turunan jalan ini(turunan jalan menuju Desa Duren) , di kiri jalan , tepatnya di ladang tembakau ada jalan setapak yang menanjak. Lewatnya situ...ntar kalo bingung tanya aja sama petani yang sedang di ladang" Jawab warga sambil menunjuk ke bawah lembah dimana ladang penduduk tampak menghampar...
"Kalo kendaraan , bisa sampai di dekat curugnya gak?" tanyaku memastikan
"Yaaaaaaa ....kalo mas berani sih...bisa mas pake kendaraan..."dengan nada ragu warga skeper ini menjawab. "Tapi paling hanya bisa sampai di ladang cabe mas..."kembali warga ini menimpali..
"Lha parkirnya pak???"semakin penasaran juga neh.
"Yaaa...tinggalin aja di ladang , mas..."jawaban yang singkat tapi sedikit membuatku kaget. Masa iya sih di tinggal begitu saja brooo...Apa ga takut dimaling neh?
"Nah lho...aman gak neh?dari ladang cabe masih jauh curugnya pak?"jawaban si bapak ini semakin membuatku bertanya-tanya Jadinya ya banyak bertanya deh...hehe
"Amaannnn massss...wong warga sini kalo cari rumput atau ke ladang pake motor tuh ya di parkir di ladang atau di pinggir jalan kok...atau kalau enggak motor sampeyan titipin aja di rumah warga kemudian mas jalan kaki dari sini...deket kok??" sambil tersenyum bapak ini menjelaskan panjang lebar.
"Gak pa pa neh kalo nitip motor ke warga pak?gak ngrepotin neh?""Ndak pa pa mas...kalo mau titipin aja di sini..."tawaran bapak ini cukup membuatku senang. Akhirnya ku putuskan untuk menitipkan motor di rumah warga dan mulai berjalan dari desa Skeper.
Wokeeeyyy...info sudah di dapat walau gak lengkap , saatnya tracking boz...dari Desa Skeper ini aku harus berjalan menuruni jalan beton menyusuri jalan menuju Desa Duren. Aku ingat betul dengan turunan tajam ini...dahulu aku melewati jalan ini dan hampir jatuh karena kondisi jalan yang rusak sebagian di samping memang turunan ini terlalu curam. Sesampai di bawah jalan turun ini , setelah jembatan terdapat jalan setapak ke kiri menanjak. Jalan ini melewati ladang tembakau yang berada di perengan bukit persis seperti yang di katakan oleh bapak tadi.
jalan setapak melewati hutan dan ladang penduduk...
Tanpa ragu sedikit pun , aku terus mengikuti jalan setapak ini dengan semangat 45...walau semakin naik  bukit semangat ini berubah menjadi semangat ngos-ngosan...hahaha. Akhirnya aku pun berjalan cukup santai sambil sesekali berhenti mengambil nafas. Semakin nanjak jalan setapak pun memasuki rimbunnya hutan. Kanan kiri yang semula ladang penduduk berganti dengan pohon-pohon tinggi. Suasana jalan yang semula terbuka menjadi gelap tertutup oleh rimbunnya pohon. Jalan setapak yg semula nanjak lurus pun perlahan menjadi datar dan berbelok ke kiri kemudian kembali berbelok ke kanan menanjak lagi beberapa saat dan tibalah aku di Kebun Cabe yang dimaksud. Suasana pun kembali terbuka karena pohon-pohon dan hutan kembali digantikan dengan deretan ladang penduduk.
Sampai di sini saya sempat terpikir oleh keterangan salah satu warga yang menyatakan kalau pake motor pun bisa tapi hanya sampai kebun cabe...tapi melihat medan jalan yang sempit dan kadang tak rata , kadang pula melewati jalan dengan tanah menjorok ke bawah di salah satu sisinya ; masa iya sih ada yang berani pakai motor sampai kebun cabe ini...kalau pun ada ni orang pasti nekat kali ya? Tapi kenyataannya memang ada beberapa motor terparkir di jalan menanjak tadi...gilaaaa...nekat juga ya penduduk desa ini...kalau itu aku , di bayar berapapun aku tak akan mau bawa motor ke medan yang kayak gini...ampun dehhh...
pemandangan dari kebun cabe...
Di kebun cabe ini kusempatkan untuk berhenti sejenak karena dari titik ini ketinggian telah mencapai 780 meter dari permukaan laut dan pemandangan yang di perlihatkan menghampar luas ke arah timur laut. Deretan perbukitan di hiasi warna hijau menghampar sampai di kejauhan. Bonus yang tak disangka-sangka. Disini aku kembali bertanya arah pada seorang petani yang tengah mencabut rumput di kebun cabe-nya untuk memastikan arah yang benar menuju Curug Bendut.
"Dari sini mas-e ntar ketemu dengan pertigaan...mas-e yang lurus ae...ntar sampe di tikungan mas lurus aja...setelah itu lewat kebun kopi...naik dikit...terus turun ketemu sungai , susuri sungai ini berlawanan arus ntar ketemu kok Curug Bendut-e" jawaban yang sangat jelas yang membuatku segera melanjutkan perjalanan setelah mengucapkan terima kasih kepada petani ini. Dan seperti yang di katakan , berjalan beberapa meter dari kebun cabe ini , aku pun menemukan pertigaan dengan jalan ke kiri menanjak menaiki bukit dan lurus merupakan jalan datar menuju Curug Bendut. 
ini saat kemarau bro...jadi lebih banyak warna kuningnya ...hehehe
Jalan ini mengikuti kontur bukit yang melekuk sehingga berjalan berapa meter dari pertigaan ini jalan memutar setengah lingkaran melewati sebuah mata air kecil. Jalan ini kemudian menikung kembali ke kiri dan terus lurus mengikuti kebun kopi yang di selang seling dengan pohon sengon. Di ujung kebun kopi ini jalan bercabang menjadi dua , jalan ke kanan menurun adalah jalan menuju sungai di mana terdapat sebuah kolam bening dengan air terjun kecil yang cukup cantik. Tapi bukan ini Curug Bendut yang dimaksud itu kawan...karena menurut info ,  jalan menuju ke Curug Bendut adalah jalan lurus menanjak dari percabangan jalur. Karena itu aku terus kembali ke percabangan jalur dan mengambil jalan lurus menanjak. Tidak perlu menanjak terlalu lama , jalan pun kembali menurun menuju sungai. Aliran sungai ini cukup deras dan berada di tempat terbuka. Dan sesuai petunjuk dari petani di kebun cabe tadi , akupun mulai menyusuri sungai berlawanan arah dengan arus sungai.
aliran sungai yang oke..
Berulang kali aku menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari jalan di pinggir sungai. Setelah melompat ke sebrang sungai ini , jalan setapak pun terlihat kembali berlanjut ke arah sisi kanan sungai. Jalan setapak ini awalnya berada persis di pinggir sungai , lalu membelah melewati ladang penduduk yang di tanami oleh pohon tembakau. Aku pun terus mengikuti jalan setapak ini yang kemudian berbelok ke kanan. Dari sini sudah dapat kulihat sebuah tebing hitam dengan air yang jatuh dari atas tebing. Inilah Curug Bendut itu...
Aku pun berjalan mendekat ke arah air terjun ini...tapi jalan setapak ke Curug ini tampak menghilang dan berlanjut ke atas bukit. Kondisi ini memaksaku mencari jalan menerobos rimbunnya semak di pinggir sungai...kemudian aku pun menyusuri sungai ini berlawanan arah...air terjun semakin dekat...tampak jelas guratan tebing  yang cukup tinggi...dan akhirnya aku pun sampai di bawah air terjun ini...tapi tampaknya aku datang di saat yang tak tepat...
Karena kunjunganku disaat puncak musim kemarau , debit air yang jatuh tidak terlalu deras...
akhirnya ketemu juga...tapi kok...
mengecewakan memang...padahal menurutku sendiri aliran air sungai yang menggalir dari air terjun ini sendiri sebenarnya cukup deras. Tapi karena tinggi tebing ini mencapai 100 meter dan bentuk aliran air yang jatuh dari air terjun ini melebar dan menyebar , membuat air seolah habis dan berubah menjadi butiran-butiran air kecil saat tiba di bawah tebing. Warna kuning dari keringnya daun pun tampak memenuhi sekeliling air terjun ini. Aku pun lantas meninggalkan air terjun ini.
Saat ini , kondisi air terjun ini tak terlalu bagus memang...tapi aku berani menjamin saat musim penghujan , wajah dari curug ini pasti berubah menjadi lebih indah. Dan untuk membuktikannya , aku pun kembali mengunjungi Curug Bendut ini berapa waktu kemudian disaat musim penghujan tiba...
Seperti dugaan ku , Saat musim hujan Curug ini memiliki debit air yang cukup deras. Dan dari ketinggian yang hampir mencapai 100 meter ini , air yang jatuh dari atas tebing  tanpa halangan dan berubah menjadi kabut yang membuat kondisi sekeliling air terjun lembab oleh air. Hal ini membuat lumut dan rumput tumbuh subur di sekitar air terjun sehingga pemandangan yang di tampilkan oleh air terjun ini saat ini sangatlah kereeeennn kawan...
nah ini baru benar...air terjun tuh harusnya kaya gini...
Sekeliling air terjun yang semula kuning oleh banyaknya daun kering , berubah menjadi hijau dengan suburnya tumbuh-tumbuhan. Keberadaan pohon bambu yang cukup lebat di sisi kiri dari tebing membuat suasana semakin teduh...aliran air yang jatuh dari air terjun ini pun memang tidak membentuk kolam yang bisa di gunakan untuk berenang. Tapi air yang jatuh dari air terjun ini mengalir di atas batu batu alam yang terbentuk indah secara alami sehingga pemandangan air yang jatuh mengalir bertingkat terlihat bila di pandang dari kejauhan menambah eloknya air terjun ini. Sungguh air terjun ini memiliki keunikannya dan keindahannya sendiri.
masih terlihat keran kan...hehe
Curug Bendut berada pada ketinggian 821 meter dari permukaan laut. Berjarak sekitar 1,29 Km dari Desa skeper atau dibutuhkan waktu tempuh dengan berjalan kaki sekitar 30 menit dari desa ini. Curug ini berada di posisi Lintang -7 ,21588 derajat dan Bujur 110 , 26702 derajat. Curug Bendut ini berbeda dengan Curug Glawe yang ada di bawahnya. Curug Glawe memiliki aliran air yang berundak sedangkan Curug Bendut memiliki jatuhan air yang langsung ke bawah. Namun menurut aku pribadi , kedua curug ini sama-sama indah dan patut di jadikan tempat wisata. Disamping dua air terjun ini , sebenarnya masih ada beberapa air terjun mini di sepanjang aliran air kedua air terjun ini. Saya pun telah membuktikannya dengan mencoba menyusuri aliran air sungai ini dari Curug Bendut ke Curug Glawe dan 2 air terjun saya temukan dengan ketinggian yang berbeda…dan menurut saya sendiri air terjun mini ini cukup cantik untuk di kunjungi. 
air terjun tanpa nama di bawah Curug Bendut...siiipp juga...
Memang keberadaan Curug Bendut dan Curug Glawe ini seharusnya dapat mengangkat keberadaan desa-desa terpencil yang ada di sekitarnya. Kedua air terjun cantik ini bila saja lebih banyak di ketahui oleh  masyarakat akan menjadi alternative wisata di Kabupaten Semarang. Perlunya pemasangan papan petunjuk arah dari jalan raya Sumowono –Limbangan akan mengangkat nama kedua Curug ini. Apalagi bila di jadikan 1 paket dengan Curug 7 Bidadari. Tentunya peran aktif masyarakat sangat membantu dalam hal ini….



SEPUTAR KISAH CURUG BENDUT DAN CURUG GLAWE
Curug Bendut

Nama dari Curug Bendut sendiri tak lepas dari asal usul dari Desa Duren. Hikayat ini pun saya tulis berdasarkan cerita dari Pak Rumadi yang merupakan salah satu penduduk Dusun Skeper , Desa Duren.
Di ceritakan pada zaman dahulu beberapa orang membuka daerah baru di daerah selatan Limbangan , tepatnya dibawah bukit Sukorini. Sebuah tempat dibawah perbukitan tak jauh dari sungai besar dipilih untuk mendirikan sebuah desa. Di pilihnya tempat ini karena kesuburan daerah ini sangatlah baik sehingga tanaman padi pun dapat berkembang dengan baik. Selain itu letaknya yang dekat dengan sungai memudahkan pembuatan saluran irigasi ke sawah. Karena di sekitar tempat yang dulunya hutan ini banyak berdiri pohon duren , tempat ini pun di namakan Desa Duren.
di bawah curug Bendut...terlihat lebih besar dari foto yang lain kan?

Seiring berjalannya waktu daerah ini semakin ramai dengan kedatangan manusia baru. Tapi Desa Duren ini ternyata berdiri di atas tanah yang bergerak sehingga kerap sekali terjadi longsor dan memakan korban yang tak sedikit. Puncak dari bencana ini terjadi di zaman Walisongo , dimana bencana tanah longsor terjadi begitu parah sehingga memakan korban yang begitu banyak. Belum lagi banyak bangunan rumah penduduk yang hancur tertimbun tanah longsor. Mendengar hal ini , beberapa wali dari demak pun datang ke desa ini. Mereka pun berinisiatif memindah desa ke tempat yang lebih aman yang terletak di bawah dari tempat desa sebelumnya. Sebuah "Luangan" atau lubang yang besar di bangun untuk mengamankan desa dari longsor.
air terjun yang lain dengan kolam yang cantik...

Luangan ini sekarang berubah menjadi area persawahan yang berada tak jauh dari Curug Glawe. Tempat baru di mana desa ini berdiri oleh penduduk setempat di sebut sebagai "Pomahan" atau lokasi perumahan dan tempat lokasi desa dahulu lebih sering di sebut sebagai daerah "Bedatan" yang berasal dari kosa kata bahasa jawa BEDAT yang berarti terlepas atau terlempar. Ini merujuk pada kondisi tanah daerah ini yang bergerak atau melemparkan segala sesuatu yang ada di atasnya. Dan di daerah ini terdapat sebuah air terjun yang oleh warga kemudian di sebut Curug Bedat. Seiring berjalannya waktu , penyebutan Bedat pun berubah menjadi Bendut sehingga Curug ini pun berganti nama menjadi Curug Bendut hingga sekarang.
hanya bisa ambil gambar begini kalo lagi kemarau kawan...aji mumpung...hehehe

Cerita babat alas dari waliullah untuk memindah desa Duren Ke tempat yang aman  ini pun turun temurun di ceritakan oleh penduduk desa Duren. Konon peninggalan dari para waliullah ini masih ada sampai sekarang. Peninggalan ini berupa sebuah batu besar dengan lubang di atasnya yang akrab di sebut sebagai Watu Lumpang oleh penduduk sekitar.
Lain lagi dengan Curug Bendut , Curug Glawe memiliki ceritanya sendiri  "kenapa di namakan Curug Glawe? Ya Karena jatuhnya air itu kaya kabut mas. Begitu sih ceritanya..." kata bapak rumadi ketika ku tanya prihal Curug Glawe...tapi saat ku tanyakan pada penduduk lainnya , ada  juga yang mengatakan Curug Glawe ini dengan Curug Menjangan. Dinamakan begitu karena dahulu di curug ini sering di temui beberapa menjangan atau kijang mati di curug ini...
Curug Glawe

baca juga "BERBURU CURUG PRAWAN DI SUMOWONO Bagian 1 : CURUG GLAWE"