![]() |
| Curug Bendut.. |
![]() |
| peta ke desa Duren lewat Desa Kenteng |
![]() |
| pertigaan desa Kenteng ...jangan lupa belok kiri brooo... |
![]() |
| lewat jalan ini hati-hati ya kawan...selain rusak juga sepi lho... |
![]() |
| jajaran terasering persawahan |
![]() |
| peta ke Curug Bendut dari Desa Skeper. |
"Itu mas...jalan menuju Curug Bendut tuh setelah turunan jalan ini(turunan jalan menuju Desa Duren) , di kiri jalan , tepatnya di ladang tembakau ada jalan setapak yang menanjak. Lewatnya situ...ntar kalo bingung tanya aja sama petani yang sedang di ladang" Jawab warga sambil menunjuk ke bawah lembah dimana ladang penduduk tampak menghampar...
"Kalo kendaraan , bisa sampai di dekat curugnya gak?" tanyaku memastikan
"Yaaaaaaa ....kalo mas berani sih...bisa mas pake kendaraan..."dengan nada ragu warga skeper ini menjawab. "Tapi paling hanya bisa sampai di ladang cabe mas..."kembali warga ini menimpali..
"Lha parkirnya pak???"semakin penasaran juga neh.
"Yaaa...tinggalin aja di ladang , mas..."jawaban yang singkat tapi sedikit membuatku kaget. Masa iya sih di tinggal begitu saja brooo...Apa ga takut dimaling neh?
"Nah lho...aman gak neh?dari ladang cabe masih jauh curugnya pak?"jawaban si bapak ini semakin membuatku bertanya-tanya Jadinya ya banyak bertanya deh...hehe
"Amaannnn massss...wong warga sini kalo cari rumput atau ke ladang pake motor tuh ya di parkir di ladang atau di pinggir jalan kok...atau kalau enggak motor sampeyan titipin aja di rumah warga kemudian mas jalan kaki dari sini...deket kok??" sambil tersenyum bapak ini menjelaskan panjang lebar.
"Gak pa pa neh kalo nitip motor ke warga pak?gak ngrepotin neh?""Ndak pa pa mas...kalo mau titipin aja di sini..."tawaran bapak ini cukup membuatku senang. Akhirnya ku putuskan untuk menitipkan motor di rumah warga dan mulai berjalan dari desa Skeper.
Wokeeeyyy...info sudah di dapat walau gak lengkap , saatnya tracking boz...dari Desa Skeper ini aku harus berjalan menuruni jalan beton menyusuri jalan menuju Desa Duren. Aku ingat betul dengan turunan tajam ini...dahulu aku melewati jalan ini dan hampir jatuh karena kondisi jalan yang rusak sebagian di samping memang turunan ini terlalu curam. Sesampai di bawah jalan turun ini , setelah jembatan terdapat jalan setapak ke kiri menanjak. Jalan ini melewati ladang tembakau yang berada di perengan bukit persis seperti yang di katakan oleh bapak tadi.
![]() |
| jalan setapak melewati hutan dan ladang penduduk... |
Sampai di sini saya sempat terpikir oleh keterangan salah satu warga yang menyatakan kalau pake motor pun bisa tapi hanya sampai kebun cabe...tapi melihat medan jalan yang sempit dan kadang tak rata , kadang pula melewati jalan dengan tanah menjorok ke bawah di salah satu sisinya ; masa iya sih ada yang berani pakai motor sampai kebun cabe ini...kalau pun ada ni orang pasti nekat kali ya? Tapi kenyataannya memang ada beberapa motor terparkir di jalan menanjak tadi...gilaaaa...nekat juga ya penduduk desa ini...kalau itu aku , di bayar berapapun aku tak akan mau bawa motor ke medan yang kayak gini...ampun dehhh...
![]() |
| pemandangan dari kebun cabe... |
"Dari sini mas-e ntar ketemu dengan pertigaan...mas-e yang lurus ae...ntar sampe di tikungan mas lurus aja...setelah itu lewat kebun kopi...naik dikit...terus turun ketemu sungai , susuri sungai ini berlawanan arus ntar ketemu kok Curug Bendut-e" jawaban yang sangat jelas yang membuatku segera melanjutkan perjalanan setelah mengucapkan terima kasih kepada petani ini. Dan seperti yang di katakan , berjalan beberapa meter dari kebun cabe ini , aku pun menemukan pertigaan dengan jalan ke kiri menanjak menaiki bukit dan lurus merupakan jalan datar menuju Curug Bendut.
![]() |
| ini saat kemarau bro...jadi lebih banyak warna kuningnya ...hehehe |
![]() |
| aliran sungai yang oke.. |
Aku pun berjalan mendekat ke arah air terjun ini...tapi jalan setapak ke Curug ini tampak menghilang dan berlanjut ke atas bukit. Kondisi ini memaksaku mencari jalan menerobos rimbunnya semak di pinggir sungai...kemudian aku pun menyusuri sungai ini berlawanan arah...air terjun semakin dekat...tampak jelas guratan tebing yang cukup tinggi...dan akhirnya aku pun sampai di bawah air terjun ini...tapi tampaknya aku datang di saat yang tak tepat...
Karena kunjunganku disaat puncak musim kemarau , debit air yang jatuh tidak terlalu deras...
![]() |
| akhirnya ketemu juga...tapi kok... |
Saat ini , kondisi air terjun ini tak terlalu bagus memang...tapi aku berani menjamin saat musim penghujan , wajah dari curug ini pasti berubah menjadi lebih indah. Dan untuk membuktikannya , aku pun kembali mengunjungi Curug Bendut ini berapa waktu kemudian disaat musim penghujan tiba...
Seperti dugaan ku , Saat musim hujan Curug ini memiliki debit air yang cukup deras. Dan dari ketinggian yang hampir mencapai 100 meter ini , air yang jatuh dari atas tebing tanpa halangan dan berubah menjadi kabut yang membuat kondisi sekeliling air terjun lembab oleh air. Hal ini membuat lumut dan rumput tumbuh subur di sekitar air terjun sehingga pemandangan yang di tampilkan oleh air terjun ini saat ini sangatlah kereeeennn kawan...
![]() |
| nah ini baru benar...air terjun tuh harusnya kaya gini... |
![]() |
| masih terlihat keran kan...hehe |
![]() |
| air terjun tanpa nama di bawah Curug Bendut...siiipp juga... |
SEPUTAR KISAH CURUG BENDUT DAN CURUG GLAWE
![]() |
| Curug Bendut |
Nama dari Curug Bendut sendiri tak lepas dari asal usul dari Desa Duren. Hikayat ini pun saya tulis berdasarkan cerita dari Pak Rumadi yang merupakan salah satu penduduk Dusun Skeper , Desa Duren.
Di ceritakan pada zaman dahulu beberapa orang membuka daerah baru di daerah selatan Limbangan , tepatnya dibawah bukit Sukorini. Sebuah tempat dibawah perbukitan tak jauh dari sungai besar dipilih untuk mendirikan sebuah desa. Di pilihnya tempat ini karena kesuburan daerah ini sangatlah baik sehingga tanaman padi pun dapat berkembang dengan baik. Selain itu letaknya yang dekat dengan sungai memudahkan pembuatan saluran irigasi ke sawah. Karena di sekitar tempat yang dulunya hutan ini banyak berdiri pohon duren , tempat ini pun di namakan Desa Duren.
![]() |
| di bawah curug Bendut...terlihat lebih besar dari foto yang lain kan? |
Seiring berjalannya waktu daerah ini semakin ramai dengan kedatangan manusia baru. Tapi Desa Duren ini ternyata berdiri di atas tanah yang bergerak sehingga kerap sekali terjadi longsor dan memakan korban yang tak sedikit. Puncak dari bencana ini terjadi di zaman Walisongo , dimana bencana tanah longsor terjadi begitu parah sehingga memakan korban yang begitu banyak. Belum lagi banyak bangunan rumah penduduk yang hancur tertimbun tanah longsor. Mendengar hal ini , beberapa wali dari demak pun datang ke desa ini. Mereka pun berinisiatif memindah desa ke tempat yang lebih aman yang terletak di bawah dari tempat desa sebelumnya. Sebuah "Luangan" atau lubang yang besar di bangun untuk mengamankan desa dari longsor.
![]() |
| air terjun yang lain dengan kolam yang cantik... |
Luangan ini sekarang berubah menjadi area persawahan yang berada tak jauh dari Curug Glawe. Tempat baru di mana desa ini berdiri oleh penduduk setempat di sebut sebagai "Pomahan" atau lokasi perumahan dan tempat lokasi desa dahulu lebih sering di sebut sebagai daerah "Bedatan" yang berasal dari kosa kata bahasa jawa BEDAT yang berarti terlepas atau terlempar. Ini merujuk pada kondisi tanah daerah ini yang bergerak atau melemparkan segala sesuatu yang ada di atasnya. Dan di daerah ini terdapat sebuah air terjun yang oleh warga kemudian di sebut Curug Bedat. Seiring berjalannya waktu , penyebutan Bedat pun berubah menjadi Bendut sehingga Curug ini pun berganti nama menjadi Curug Bendut hingga sekarang.
![]() |
| hanya bisa ambil gambar begini kalo lagi kemarau kawan...aji mumpung...hehehe |
Cerita babat alas dari waliullah untuk memindah desa Duren Ke tempat yang aman ini pun turun temurun di ceritakan oleh penduduk desa Duren. Konon peninggalan dari para waliullah ini masih ada sampai sekarang. Peninggalan ini berupa sebuah batu besar dengan lubang di atasnya yang akrab di sebut sebagai Watu Lumpang oleh penduduk sekitar.
Lain lagi dengan Curug Bendut , Curug Glawe memiliki ceritanya sendiri "kenapa di namakan Curug Glawe? Ya Karena jatuhnya air itu kaya kabut mas. Begitu sih ceritanya..." kata bapak rumadi ketika ku tanya prihal Curug Glawe...tapi saat ku tanyakan pada penduduk lainnya , ada juga yang mengatakan Curug Glawe ini dengan Curug Menjangan. Dinamakan begitu karena dahulu di curug ini sering di temui beberapa menjangan atau kijang mati di curug ini...
![]() |
| Curug Glawe |
baca juga "BERBURU CURUG PRAWAN DI SUMOWONO Bagian 1 : CURUG GLAWE"


















