 |
| Curug Glawe...curug yang indah kawan... |
Setelah sebelumnya saya sempat
memposting sebuah curug prawan di Sumowono bernama Curug Glawe , kali ini saya
akan memposting sebuah curug atau air terjun didaerah Kendal yang juga bernama
Curug Glawe. Lhah...kok sama namanya???iya sih bung...tampaknya orang-orang
jawa Tengah suka sekali memberi nama "Glawe" atau "lawe"
untuk sebuah air terjun...hehehe
Curug di Kabupaten Kendal ini sendiri
merupakan sebuah curug yang juga tidak begitu banyak dikenal orang. Letaknya
yang berada di pelosok desa dan akses jalan yang tidak memadai membuat curug
ini benar-benar masih alami. Padahal Curug Glawe ini memiliki pemandangan yang
sangat indah dan memiliki bentuk aliran air yang berbeda dari sekian banyak
curug di Jawa Tengah.
 |
| ini bila dilihat dari samping kanan...keren toww... |
Letak pasti curug ini berada di Dusun
Kaliereng , Desa Cening , Kecamatan Singorojo , Kabupaten Kendal , Jawa Tengah.
Untuk menuju Dusun Kaliereng sendiri anda terlebih dahulu harus mencari Desa
Cening. Untuk menuju desa ini sendiri anda bisa melewati 2 jalur yang tersedia
, Jalur Utara dan Jalur Selatan. Jalur utara melewati sisi utara Gunung
Ungaran. Jalur ini melewati Kecamatan Singorojo , Kabupaten Kendal. Untuk
menuju Singorojo bukanlah hal yang sulit. Anda yang datang dari arah barat atau
Pantura ,bisa menuju kabupaten Kendal terlebih dahulu. Kemudian bisa menuju ke
arah selatan dari kabupaten ini di mana daerah singorojo berada. Alternatif
lain bagi anda yang datang dari Pantura bisa lewat Pasar jerakah di kecamatan
Ngaliyan , Kabupaten Semarang. Dari sini anda harus lanjut menuju kota Boja
kemudian baru kecamatan Singorojo. Bagi anda yang datang dari selatan bisa
lewat alun-alun lama kota ungaran menuju kecamatan Gunungpati kemudian lanjut
ke daerah Boja. Selepas Boja anda pun akan tiba di daerah Singorojo. Setiba di kecamatan
ini hal pertama yang harus anda cari adalah kantor Polsek Singorojo. Tak jauh
di arah barat dari Polsek Singorojo ini terdapat sebuah pertigaan jalan
disamping sebuah pemakaman umum. Di sini telah terdapat papan petunjuk arah ke
Desa Kali putih.
 |
| peta ke Desa Kaliereng lewat singorojo...untuk ukuran besar klik DISINI |
Lho kok desa Kali putih
brooo....bukannya Desa Cening atau Dusun Kaliereng????
Iya mas brooo...memang kita mau pergi ke
Cening atawa Kali ereng...tapi umumnya penduduk di Singorojo ini tak terlalu
mengenal Desa Cening atau Dusun Kaliereng. Tapi kalo di tanya Desa Kaliputih ,
mereka akan langsung tahu. Desa Kali putih sendiri adalah sebuah desa yang
terletak di utara Desa Cening. Desa ini terletak di sebelah bawah desa Cening.
Nah dari pertigaan ini , anda harus belok ke kiri mengikuti anak panah tadi.
Pertama anda akan melewati jalan beraspal yang cukup bagus dengan ladang
penduduk di kanan dan kiri jalan. Lalu anda akan melewati perkebunan karet yang
sangat rimbun…jangan kaget ya brooo bila mendapati suasana yang agak seram dan
sepi karena memang beginilah adanya
perkebunan karet…kalau boleh saya bilang sih…rawan dengan kejahatan mengingat
di sini sangatlah jauh dari perkampungan. Untuk itu sangat saya sarankan untuk
berangkat di saat pagi karena saat masih pagi jalan di perkebunan karet ini
masih cukup ramai dengan lalu lalang penduduk yang hendak ke kota Singorojo ; entah
itu yang berangkat sekolah , berangkat kerja , atau sekedar menuju ke pasar.
 |
| jalan dari desa Banyuringin menuju Desa Kaliputih |
Selepas
hutan karet dengan jalan berkelok ini anda akan sampai di area persawahan .
disini jalan akan terbagi menjadi dua setelah melewati sebuah jembatan dan
untuk menuju desa Cening anda harus belok ke kiri. Jalan kembali melewati
ladang penduduk dan tak lama kmudian anda pun sampai di sebuah perkampungan
yang bernama Desa Banyuringin. Dari sini jalan aspal mulai rusak tapi belum
terlalu parah. Selepas Desa Banyuringin jalan kembali melewati perbukitan yang
banyak di tumbuhi oleh ilalang , pohon-pohon tinggi dan beberapa jembatan yang
menyatukan dua sisi sungai. Kondisi aspal semakin rusak parah. Saya pun
teringat dengan jawaban salah satu penduduk ketika bertanya arah ke desa
Kaliputih…."Mas pernah lihat sungai kalau kering terus terlihat dasarnya
yang penuh batu , nah jalan ke Cening dari Kaliputih kondisinya kayak
gitu"
Dan memang benar kata itu , belum sampai Desa Kaliputih saja
kondisi jalan sudah seperti ini , kondisi jalan yang parah yang akan
memaksa siapaun yang lewat menggunakan motor
untuk berkendara dengan pelan sehingga waktu pun lebih banyak terbuang
untuk menyusuri jalan ini. Sebelum sampai di Desa Kaliputih kembali anda akan
melewati perkebunan karet yang cukup sepi dan spoky alias horror…hehehe….jangan
takut brooo…terus ikuti jalan ini dan anda pun akan tiba di Desa Kaliputih.
Desa ini berada di cekungan lembah dan di kelilingi oleh perbukitan. Mayoritas
penduduk desa ini berprofesi sebagai petani . kesuburan tanah dari desa ini
terlihat dari hijaunya sewah yang membentang luas di sekitar desa ini. Nah dari Desa Kaliputih ini anda harus terus
menuju selatan keluar dari desa ini.
 |
| jalan dari desa Kaliputih menuju Desa Cening...parahhh |
Banyak persimpangan dan tikungan di desa
ini jadi sebaiknya anda harus sering bertanya kepada warga setempat arah ke
desa Cening. Keluar dari desa ini anda akan sampai di area persawahan. Di sini
jalan kembali bercabang dua , kembali anda harus memilih jalan ke kiri. Melewati
jalan setapak kecil yang akan menghantarkan ke sebuah jalan menanjak dengan
kemiringan yang cukup terjal. Jalan menanjak ini cukup lebar , namun kondisi
jalan yang rusak parah membuat jalan ini merupakan jalan tersulit dari semua
jalur menuju Desa Cening. Karena tidak
hanya rusak , tapi jalan menanjak ini sudah tak rata lagi dan di penuhi oleh
batu batu besar yang menonjol di sana sini persis seperti “sungai yang lagi kering”. Dan di sisi kiri
jalan menanjak ini adalah jurang yang sudah pasti sangat dalam. Anda mau tak
mau harus lewat jalan ini karena inilah satu-satunya jalan menuju ke Desa
Cening. Jalan ini menuju puncak bukit di mana desa cening berada. Sesampai di
Desa Cening Lor ini ,kondisi jalan tak serta merta menjadi membaik…masih parah
walau tak separah di jalan menanjak sebelumnya. Kembali anda akan menuruni
bukit menuju desa Cening kidul.
Kondisi jalan yang buruk membuat perjalanan
terasa lama. Dan sebelum sampai di desa Cening Kidul anda akan menemui
pertigaan jalan antara menuju Desa Cening Kidul dan Dusun kaliereng. Untuk
menuju Dusun kaliereng anda harus belok ke kanan menyusuri jalan rusak yang
menuruni bukit. Terus ikuti jalan ini dan anda pun akan sampai di Dusun
Kaliereng setelah sebelumnya menemui sebuah jembatan penyebrangan.
 |
| kalo ini peta ke desa kaliereng lewat Limbangan...untuk peta ukuran besar klik DI SINI |
Jalur Selatan merupakan jalur menuju ke
desa Cening melewati sisi selatan Gunung Ungaran. Jalur ini melewati Kecamatan
Limbangan , Kabupaten Kendal yang berbatasan dengan Kecamatan Sumowono di sisi
timurnya. Dari arah barat dan utara anda bisa mengambiI ke arah ke kota Boja.
Kemudian belok di pertigaan Limbangan. Kemudian sesampai di Limbangan , cari
SMP N 2 Limbangan. SMPN 2 Limbangan ini terletak tidak jauh dari jalan raya
Sumowono-Kendal walaupun memang terletak agak sedikit masuk dari jalan raya.
Dari SMPN 2 Limbangan ini , anda harus berkendara ke arah timur laut untuk
menuju Desa Cening. Masih harus melewati jarak sekitar 28 km dan 4 desa. Jalan aspal
dari SMP n 2 Limbangan ini berakhir di sebuah pertigaan dan anda harus belok ke
kiri untuk menuju ke desa Cening. Kondisi jalan pun beraspal cukup baik , tapi
sesampai di Desa Kedung Boto jalan aspal mulai berlubang dan rusak. Apalagi
sesampai di desa Cening , kondisi jalan sangatlah buruk dan lebih banyak
melewati hutan dan ladang penduduk. "Kayak sungai yang lagi kering airnya
mas. tapi masih bisa di pilih kok mas...wong sekarang sudah ada jalan cor yang
di bangun walau memang cuma sedikit...." begitulah penduduk setempat
mengibaratkan jalan menuju desa Cening ini. Memang sih jalan sebelum Desa
Cening ini sangatlah buruk kondisinya. Walau lebar jalan ada sekitar 2 meteran
, tapi kondisi jalan ini rusak di sana sini. Sejumlah batu mulai ukuran yang
besar maupun kecil tampak menonjol dari permukaan tanah. Anda yang belum pernah
kesini akan kaget begitu melihat kondisi jalan menuju Desa Cening ini. Jalan
ini berakhir di desa Cening Kidul. Masuk desa ini kondisi jalan mulai agak baik. Dari dari desa Cening Kidul ini
anda harus menuju ke arah Desa Cening Lor yang letaknya berada di balik bukit
dimana Desa Cening Kidul berada..
 |
| peta menuju curug Glawe dari Desa Cening...seperti biasa kawan , untuk peta ukuran besar klik DI SINI |
Terus ikuti jalan menuju ke utara ini dan
anda pun akan di bawa keluar desa. Jalan pun kembali rusak begitu anda
meninggalkan Desa Cening Kidul. Sekitar 500 meter setelah anda meninggalkan
Cening Kidul , anda akan menemui pertigaan jalan. Untuk ke Curug Glawe anda
harus mengambil jalan ke kiri menuruni bukit karena jalan lurus adalah jalan
menuju Desa Cening Lor. Kondisi jalan masihlah buruk dan rusak disana sini.
Namun sesampai di bawah bukit kondisi jalan mulai baik. Jalan terbuat beton
menggantikan jalan rusak dan anda akan melewati area persawahan dengan sebuah
sungai besar yang mengalir deras di samping kanan dari arah anda datang.
Pemandangan yang indah dan mempesona ketika anda sampai di point ini. Jalan
beton ini akan mengarahkan anda ke sebuah jembatan penyebrangan sepanjang
kurang lebih 100 meter. Jembatan inilah yang menghubungkan Desa Cening dan Desa
Kaliereng. Menurut cerita dari salah satu warga jembatan ini dibangun atas
swadaya masyarakat dan menghabiskan dana
lebih dari Rp 30.000.000 pada tahun 2009-2010. Sebuah nilai yang besar pada
waktu itu.
 |
| jembatan penghubung Desa Cening dan Desa Kaliereng |
Setelah jembatan ini terlewati , jalan
beton kembali menanjak membelah sawah melewati asrinya pemandangan. Tak berapa
lama kemudian sampailah anda di Dusun Kaliereng. Untuk menuju ke penitipan
motor , terus ikuti jalan dari
persawahan tanpa berbelok dan anda pun akan tiba di rumah pak Ponifan yang
merupakan pengelola dari wisata Curug Glawe ini. Di sini anda harus
memparkirkan motor atau mobil anda karena sangat tidak mungkin membawa
kendaraan anda sampai ke lokasi curug glawe. Untuk menitipkan motor beserta
biaya masuk cuma di kenai tarif sebesar Rp 5.000. Whaaaattttt????murah amat...
 |
| ini neh rumah Pak Ponifan yang juga merupakan tempat parkir |
Ya gitu dehhhh....yang jelas saat ini
pun fasilitas masihlah minim sehingga pengelola pun tak berani mematok harga
tinggi untuk obyek wisata ini. Tapi terakhir kali saya berkunjung ke tempat ini
, warga pun masih menambah sarana dan pra sarana...seperti 2 kamar mandi yang
lagi di bangun. Loket pembelian karcis dan gapura masuk serta pembenahan jalan
menuju curug glawe. Yang jelas 1 tahun lagi mungkin obyek wisata yang satu ini
akan memiliki sarana yang memadai....
Rute selanjutnya untuk menuju Curug
Glawe harus di lalui dengan jalan kaki alias tracking. Dari rumah pak Ponifan ,
pengunjung harus berjalan ke arah selatan melewati jalan setapak yang cukup
menanjak. Suasana cukup teduh karena di sebelah kiri jalan berjajar pohon karet
yang cukup rapat. Berjalan beberapa saat jalan agak landai dan anda pun masuk
di kebun kopi milik warga. Di sini jalan akan terbagi dua , lurus merupakan
jalan ke ladang penduduk dan belok kiri menuju Curug Glawe. Tentunya mas bro
harus pilih ke kiri lho...hehe
 |
| pemandangan Desa Kaliereng dari ketinggian bukit |
Jalan pun kembali menanjak cukup panjang
menuju puncak bukit yang membelah kebun milik warga dan lumayan menguras stamina
anda. Sesampai di puncak bukit , suasana pun perlahan mulai terbuka dan di
point ini anda bisa melihat Desa kaliereng beserta jajaran sawah yang
bertingkat membentuk pemandangan yang indah banget. Euissss kereeeennnn...
Tapi masih jauhkah curug nya?masihhhh…
ini baru sepertiga perjalanan....
Nah , jalan setapak pun terus melintang
di sepanjang sisi bukit. Jurang yang dalam pun lebih sering mengisi di sisi
kiri jalan sehingga berulang kali anda akan di hadapkan panorama menghadap ke
bawah yang di dominasi pohon dan sungai. Dan jangan kaget bila anda berulang
kali akan melihat beberapa air terjun tinggi di aliran sungai selama di
perjalanan..
 |
| jslsn menuju curug...agak gersang soale foto ini di ambil saat kemarau...heheh |
Maksudnya???
Wah belum saya jelaskan ya kalo selain
Curug Glawe di sepanjang aliran sungai ini banyak terdapat air terjun lain
dengan ketinggian bervareasi. Sejumlah air terjun seperti Curug Pring , Curug
Glowo , Curug Kedung Manuk , Curug Panas dan beberapa air terjun tanpa nama
akan terlihat dari jalan dimana anda berada...curug-curug ini tampak menggoda
untuk di datangi namun sayang akses jalan menuju curug- curug ini sangatlah
sulit dan membingungkan. Pernah saya mencoba untuk tracking menyusuri sungai
dari desa Kaliereng menuju curug Glawe. Dan sesampai di Curug Pring , sungai
pun di apit oleh dinding vertikal yang gak mungkin untuk di lalui. Saya coba
mencari jalan ke atas tebing ini melalui kebun penduduk. Tetapi bukannya dapat
jalan saya malah berulang kali nyasar di jalan buntu. Setelah capek bukan
kepalang saya pun menyerah dan kembali ke Desa Kaliereng.
 |
| noh.....petunjuk arahnya sudah jelas tuh... |
Mendingan bagi anda yang baru berkunjung
ke tempat ini , fokuskan dulu menuju Curug Glawe. Jika memang berniat tracking
menyusuri sungai dari desa , saya sarankan untuk mencari pemandu dari penduduk
desa yang telah mengenal medan dengan baik. Tentunya jangan lupa untuk memberi
uang lelah yang sepantasnya lho brooo..
Oke...sampai di mana tadi...o
ya....jalan setapak ini melewati 3 punggung bukit dengan trek yang naik turun.
Beberapa kali anda akan melintasi kebun milik warga yang umumnya di tanami
pohon kopi , pohon sengon , dan beberapa pohon perkebunan lainnya. Setelah
berjalan sejauh 1,9 Km dari tempat parkir , samar-samar di kejauhah terdengar
suara air yang jatuh dari ketinggian. Di balik tikungan jalan terlihat sebuah
air terjun dengan aliran air yang besar dan deras. Ini dia juara dari semua air
terjun di Dusun Kaliereng , Curug Glawe.
 |
| curug Glawe dari singorojo.. |
Seperti yang telah di di sampaikan di
atas , Curug Glawe memiliki bentuk aliran air yang berbeda dari sekian banyak
air terjun yang ada di Jawa tengah. Aliran air Curug ini berbentuk melebar dan
bertingkat dua dengan ketinggian total hampir 40 meter. Curug Glawe berada pada
ketinggian 500 meter dari permukaan laut dan posisi Lintang -7 , 17941 dan
Bujur 110 , 20264. Curug ini mengalir pada sebuah tebing bebatuan andesit yang
lebar. Tebing ini seolah membentuk dinding yang miring yang melebar dari kanan
ke kiri. Sebagian besar air mengalir di sisi sebelah kiri. Sedang dinding
sebelah kanan biasanya kalau tidak musim penghujan cenderung kering oleh air.
Dan karena bentuk dinding ini tak terlalu tegak , andapun bisa lho memanjat ke
atas curug jika berani....karena di tengah air terjun ini tepatnya di tingkat
yang pertama terdapat sebuah kolam yang
sering di gunakan untuk mandi dan berenang oleh pengunjung.
 |
| curug Glawe di lihat dari samping kiri pun tetap kereennnn... |
jika tidak anda pun
bisa duduk di bangku-bangku dari kayu yang telah tersedia. Anda tak akan pernah
bosan menikmati panorama dan suasana alam dari curug ini. Pemandangan air terjun yang membentuk kolam
kecil berpadu dengan batu batu sungai dan tumbuhan hijau seolah membentuk
kesatuan yang tak terpisahkan. Air yang jatuh ini lantas mengalir di antara
batu-batu dengan ukuran yang bervareasi dan membentuk jeram-jeram kecil nan
elok. Dari jeram-jeram ini kemudian terbentuk curug-curug kecil yang kemudian
menghasilkan kolam-kolam kecil dengan kedalaman yang berbeda-beda Suara air yang jatuh dari ketinggian berpadu
dengan suara angin yang berhembus di sela-sela dedaunan. Terkadang terdengar
suara kicauan burung-burung yang tengah mencari makan. Bahkan kadang terdengar
suara ayam alas yang berkokok di kejauhan. Ini membuktikan betapa masih
alaminya tempat ini....hutan di sekitar air terjun ini pun terbilang masih
tetjaga keasriannya. Ini terbukti dengan banyaknya pohon-pohon yang tinggi yang
tumbuh di sekitar aliran air sungai...bener-bener cool mannn....
 |
| aliran sungai yang membentuk kolam di antara rimbunnya pohon |
Alam di sekitar Desa Cening benar benar
di anugrahi air yang melimpah sehingga sungai sumber dari Curug Glawe memiliki
volume air yang terus mengalir sepanjang tahun. Sehingga tidaklah heran kalau
curug ini Memiliki debit air yang relatif besar dan tak terpengaruh oleh musim.
Bahkan saat musim kemarau curug ini masih memiliki aliran air yang mengalir
cukup deras. Aliran air dari curug ini jatuh membentuk sungai yang deras yang
mengalir sampai ke Desa Cening. Air sungai ini oleh warga desa lebih sering di
manfaatkan untuk mengairi sawah mereka. Tapi dulu aliran dari curug Glawe ini
juga pernah di manfaatkan sebagai penggerak kincir air yang menggerakan
generator motor untuk menghasilkan listrik secara swadaya dan di alirkan ke
rumah-rumah warga. Sekarang kincir ini tak lagi di fungsikan sejaj masuknya
listrik pemerintah ke Desa. Sekarang hanya tersisa pondasi dari kincir tersebut
yang longsor ke arah sungai dan membentuk air terjun baru dengan ketinggian
sekitar 20 - 25 meter.
 |
| ini dia Curug Kincir... |
Letak curug baru yang bernama Curug Kincir atau Curug
Glawe 2 ini terletak di sebelah dari
Curug Glawe. Curug ini pun memiliki pemandangan yang tak kalah indahnya dengan
Curug Glawe. Aliran airnya seolah deras dan menghanyutkan. Aliran air dari
curug kincir ini kemudian bertemu dengan aliran air sungai dari Curug Glawe
setelah sebelumnya melewati bebatuan dengan guratan alami yang membentuk
fenomena alam yang indah. Sungguh jika anda seorang pecinta fotografi anda pasti
tak akan mau berhenti untuk mrngabadikan ini semua....
 |
| derasnya aliran sungai yang membentuk pemandangan yang sipppp... |
Selesaikah sampai di sini?
Belum kawan...di dekat Curug Glawe dan
Curug Kincir masih terdapat beberapa curug yang menarik untuk didatangi bila
saja anda mau menyusuri aliran sungai menuju ke bawah. Untuk akses jalan , ya
gampang-gampang susah kok...karena kita harus menyusuri pinggiran sungai dan terkadang harus sedikit
merayap , terkadang pula harus mencari jalan ke seberang sungai...tapi semua
terbayar begitu anda sampai di curug yang saya maksud ini , Curug Glowo.
 |
| Curug Glowo... |
Curug Glowo ini terletak di bawah aliran
sungai dari Curug Glawe dan Curug Kincir. Untuk menuju curug ini anda harus
menuruni 2 tebing yang tak terlalu tinggi. Curug ini memiliki tinggi sekitar 10
meteran dan memiliki bentuk aliran air yang menyatu sehingga sekilas mirip
sebuah pancuran raksasa yang menyembul dari bebatuan. Yang khas dari curug ini
adalah terdapatnya ornamen batu-batu yang terpahat oleh air secara alami. Yang
paling mencolok adalah keberadaan batu besar di ujung tebing yang seolah-olah
terjepit dan hendak jatuh. Di bawah Curug Glowo ini juga terdapat kolam
berwarna hijau tosca yang cukup lebar. Melihat dari warnanya yang seperti ini
kolam ini sepertinya cukup dalam.
Air dari Curug Glowo ini mengalir dengan
deras dan berakhir di sebuah tebing yang cukup tinggi dan membentuk air terjun
lain lagi. Sayang tebing ini menjorok ke bawah secara vertikal sehingga sangat
mustahil untuk menuruninya. Tapi kalau saya tidak salah air terjun yang
terbentuk dari aliran air curug Glowo ini adalah Air Terjun Kedung Manuk yang
telah terlihat dari atas tadi. Air terjun ini konon memiliki kolam yang cukup
dalam di bawahnya.
 |
| Curug Kedung manuk |
Air terjun yang lain pun sebenarnya
masih ada lho broo...cuma air terjun inilah yang umumnya di kenal oleh warga
desa Kaliereng. Sebenarnya anda pun melewatkan sebuah curug saat menuju ke
Curug Glawe ini. Curug ini terletak tak jauh dari lokasi desa Kaliereng. Nama
curug ini adalah Curug Pring. Curug ini berjarak sekitar 5 km dari Desa Kaliereng.
Curug ini tidaklah terlalu tinggi namun memiliki bentuk aliran air yang melebar
di sepanjang aliran airnya. Curug ini memiliki kolam yang lebar dan luas. Tapi
hati hati ya bro kolam di bawah curug ini juga sangat dalam. Selain itu kolam
di curug ini juga memiliki pusaran-pusaran air yang cukup kencang. Hal ini
terjadi karena tabrakan dari dua arus air yang berlawanan. Oleh karena itu
sangat tidak di sarankan untuk berenang di curug ini.
 |
| aliran air dari sungai ini membentuk beberapa air terjun kecil dengan kolam indah dibawahnya...masih banyak yang seperti ini lho... |
"Anu mas, rata-rata curug di sini
memiliki kedung(kolam) di bawahnya dengan kedalaman yang bener-bener dalem.
Wong curug pring aja kedalaman kolamnya mencapai 20 meteran. Apalagi Curug
Kedung manuk....itu dalamnya hampir 30 meter lho mas..." kata salah
seorang warga yang ku temui saat mencari kayu. Memang di lihat dari derasnya
air sungai sangatlah mungkin terbentuk kolam kolam yang dalam akibat pengikisan batu dan tanah
selama bertahun tahun oleh air sungai.
Aliran air dari curug pring ini sendiri
sebagian di alirkan ke saluran irigasi ke sawah-sawah warga dan sebagian
mengalir terus ke bawah membentuk sungai dengan aliran air yang deras. Sebelum
di alirkan ke saluran irigasi , air sungai dibendung di sebuah kolam berbentuk
setengah lingkaran. Kolam ini oleh warga sering di sebut sebagai Kedung Bundar.
Hal ini membentuk pemandangan kolam air yang bertingkat. Fantastis sekali....
 |
| Curug tanpa nama.. |
Sebenarnya masih banyak curug-curug lain
yang belum terexpose di sepanjang aliran sungai ini. Tapi bukanlah hal yang
mudah untuk tracking di sepanjang sisi sungai. Karena selain kontur tanah yang
berbukit dan naik turun , kendala yang paling utama adalah tak tersedianya
jalan. Namun menurut pak Ponifan, suatu wacana sedang di gagas untuk
menyediakan jalan dari Curug Glawe turun menyusuri dan melewati beberapa curug
yang ada di bawahnya. Di harapkan pengunjung akan berangkat lewat jalan yang
sekarang menuju Curug Glawe dan pulang menuju desa Kaliereng melewati
curug-curug dibawahnya ini. Suatu gagasan yang bagus...beliau pun juga
berencana membangun kembali kincir air yang dulu ada di curug kincir dan
memasang generator listrik untuk menerangi jalan menuju curug ini...wah
benar-benar ide yang mantap tuh pak....kita tunggu deh perkembangan wisata yang
kereen ini deh...
 |
| Curug Glawe saat kemarau..masih deras aliran airnya.. |
Sebenarnya saat ini pun pengunjung Obyek
Wisata Curug Glawe ini pun telah banyak yang datang mengunjungi curug keren
ini. Tercatat sekurang-kurangnya 5 orang pengunjung pada hari-hari biasa. Dan
sekitar 10 orang pengunjung di hari sabtu dan minggu. Memang tempat ini
sejatinya kurang promosi dan perhatian dari pemerintah daerah. Andai saja
tersedia papan-papan petunjuk arah dari jalan raya Sumowono-Boja atau Jalan
Raya Singorojo-Kendal menuju Curug Glawe , saya yakin pengunjung pun akan
banyak yang berdatangan. Dan tentunya yang jadi kendala utama adalah akses
jalan menuju Desa Cening dan Dusun Kaliereng yang rusak parah. Hal ini terjadi
karena kontur jalan yang berbukit dan naik turun menyebabkan akses jalan yang
umumnya aspal menjadi gampang tergerus oleh air saat musim hujan di samping
dari mutu aspal yang kurang bagus juga.
Keadaan ini membuat Desa ini seperti
terasing dari dunia luar padahahal potensi yang di miliki Dusun Kaliereng ini
sangatlah bagus bila di kembangkan. Selain menjadi surganya Air Terjun dengan
banyaknya air terjun di sepanjang aliran sungai yang melaluinya , sungai yang
deras ini juga bisa di manfaatkan untuk olahraga Arung Jeram.
 |
| sungai deras ini bisa di manfaatkan lho.. |
Sungai ini
terhitung memiliki banyak jeram yang menantang.
Bayangkan kawan...bila saja paketan olah raga Arung Jeram ini bisa
terlaksana , akan memberikan peluang bagi warga dusun untik mengais rezeki.
Selain di gunakan untuk olah raga arung jeram , sungai yang debit airnya selalu
ada ini juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kolam-kolam ikan yang juga dapat
di fungsikan sebagai pemancingan dan warung makan yang menyajikan menu berbagai
olahan ikan air tawar. Dan andaikan di sepanjang jalan setapak menuju Curug
Glawe banyak di tanami tanaman buah-buahan , desa ini juga bisa menjadi sentra
agrowisata yang tentunya semakin menarik wisatawan untuk datang. Hal ini bisa
mengangkat perekonomian warga dusun menjadi semakin makmur. Saat ini pun dibukanya
Curug Glawe juga membuka peluang bagi beberapa warga untuk berjualan makanan
dan minuman di sekitar curug Glawe. Tapi karena curug ini umumnya ramai di
akhir pekan , mereka pun hanya berjualan saat sabtu dan minggu.
 |
| di sekitar curug pun banyak penjual makanan dan minuman ... |
Tapi ini semua hanya sebatas harapan ke
depan untuk obyek wisata ini. Saat ini pun pembangunan fasilitas , sarana dan
prasarana terus gencar di lakukan di obyek wisata ini. Semisal rencana
penambahan betonisasi sepanjang 1 km menuju Curug glawe yang tengah mulai di
laksanakan. Mungkin setahun atau dua tahun ke depan Dusun Kaliereng dan
Curug-curugnya yang fenomenal akan memiliki wajah baru yang berbeda dari
sebelumnya. Tentunya perubahan ke arah yang lebih maju dan lebih menarik...