Tampilkan postingan dengan label Curug Glawe Kendal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curug Glawe Kendal. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 19, 2016

Menjelajah Kawasan Wisata CURUG GLAWE , Surganya Wisata Air Terjun...


Curug Glawe...curug yang indah kawan...
Setelah sebelumnya saya sempat memposting sebuah curug prawan di Sumowono bernama Curug Glawe , kali ini saya akan memposting sebuah curug atau air terjun didaerah Kendal yang juga bernama Curug Glawe. Lhah...kok sama namanya???iya sih bung...tampaknya orang-orang jawa Tengah suka sekali memberi nama "Glawe" atau "lawe" untuk sebuah air terjun...hehehe
Curug di Kabupaten Kendal ini sendiri merupakan sebuah curug yang juga tidak begitu banyak dikenal orang. Letaknya yang berada di pelosok desa dan akses jalan yang tidak memadai membuat curug ini benar-benar masih alami. Padahal Curug Glawe ini memiliki pemandangan yang sangat indah dan memiliki bentuk aliran air yang berbeda dari sekian banyak curug di Jawa Tengah.
ini bila dilihat dari samping kanan...keren toww...
Letak pasti curug ini berada di Dusun Kaliereng , Desa Cening , Kecamatan Singorojo , Kabupaten Kendal , Jawa Tengah. Untuk menuju Dusun Kaliereng sendiri anda terlebih dahulu harus mencari Desa Cening. Untuk menuju desa ini sendiri anda bisa melewati 2 jalur yang tersedia , Jalur Utara dan Jalur Selatan. Jalur utara melewati sisi utara Gunung Ungaran. Jalur ini melewati Kecamatan Singorojo , Kabupaten Kendal. Untuk menuju Singorojo bukanlah hal yang sulit. Anda yang datang dari arah barat atau Pantura ,bisa menuju kabupaten Kendal terlebih dahulu. Kemudian bisa menuju ke arah selatan dari kabupaten ini di mana daerah singorojo berada. Alternatif lain bagi anda yang datang dari Pantura bisa lewat Pasar jerakah di kecamatan Ngaliyan , Kabupaten Semarang. Dari sini anda harus lanjut menuju kota Boja kemudian baru kecamatan Singorojo. Bagi anda yang datang dari selatan bisa lewat alun-alun lama kota ungaran menuju kecamatan Gunungpati kemudian lanjut ke daerah Boja. Selepas Boja anda pun akan tiba di daerah Singorojo. Setiba di kecamatan ini hal pertama yang harus anda cari adalah kantor Polsek Singorojo. Tak jauh di arah barat dari Polsek Singorojo ini terdapat sebuah pertigaan jalan disamping sebuah pemakaman umum. Di sini telah terdapat papan petunjuk arah ke Desa Kali putih.
peta ke Desa Kaliereng lewat singorojo...untuk ukuran besar klik DISINI
Lho kok desa Kali putih brooo....bukannya Desa Cening atau Dusun Kaliereng????
Iya mas brooo...memang kita mau pergi ke Cening atawa Kali ereng...tapi umumnya penduduk di Singorojo ini tak terlalu mengenal Desa Cening atau Dusun Kaliereng. Tapi kalo di tanya Desa Kaliputih , mereka akan langsung tahu. Desa Kali putih sendiri adalah sebuah desa yang terletak di utara Desa Cening. Desa ini terletak di sebelah bawah desa Cening. Nah dari pertigaan ini , anda harus belok ke kiri mengikuti anak panah tadi. Pertama anda akan melewati jalan beraspal yang cukup bagus dengan ladang penduduk di kanan dan kiri jalan. Lalu anda akan melewati perkebunan karet yang sangat rimbun…jangan kaget ya brooo bila mendapati suasana yang agak seram dan sepi  karena memang beginilah adanya perkebunan karet…kalau boleh saya bilang sih…rawan dengan kejahatan mengingat di sini sangatlah jauh dari perkampungan. Untuk itu sangat saya sarankan untuk berangkat di saat pagi karena saat masih pagi jalan di perkebunan karet ini masih cukup ramai dengan lalu lalang penduduk yang hendak ke kota Singorojo ; entah itu yang berangkat sekolah , berangkat kerja , atau sekedar menuju ke pasar. 
jalan dari desa Banyuringin menuju Desa Kaliputih
Selepas hutan karet dengan jalan berkelok ini anda akan sampai di area persawahan . disini jalan akan terbagi menjadi dua setelah melewati sebuah jembatan dan untuk menuju desa Cening anda harus belok ke kiri. Jalan kembali melewati ladang penduduk dan tak lama kmudian anda pun sampai di sebuah perkampungan yang bernama Desa Banyuringin. Dari sini jalan aspal mulai rusak tapi belum terlalu parah. Selepas Desa Banyuringin jalan kembali melewati perbukitan yang banyak di tumbuhi oleh ilalang , pohon-pohon tinggi dan beberapa jembatan yang menyatukan dua sisi sungai. Kondisi aspal semakin rusak parah. Saya pun teringat dengan jawaban salah satu penduduk ketika bertanya arah ke desa Kaliputih…."Mas pernah lihat sungai kalau kering terus terlihat dasarnya yang penuh batu , nah jalan ke Cening dari Kaliputih kondisinya kayak gitu"
Dan memang benar kata itu , belum sampai Desa Kaliputih saja kondisi jalan sudah seperti ini , kondisi jalan yang parah  yang akan memaksa siapaun yang lewat menggunakan motor  untuk berkendara dengan pelan sehingga waktu pun lebih banyak terbuang untuk menyusuri jalan ini. Sebelum sampai di Desa Kaliputih kembali anda akan melewati perkebunan karet yang cukup sepi dan spoky alias horror…hehehe….jangan takut brooo…terus ikuti jalan ini dan anda pun akan tiba di Desa Kaliputih. Desa ini berada di cekungan lembah dan di kelilingi oleh perbukitan. Mayoritas penduduk desa ini berprofesi sebagai petani . kesuburan tanah dari desa ini terlihat dari hijaunya sewah yang membentang luas di sekitar desa ini.  Nah dari Desa Kaliputih ini anda harus terus menuju selatan keluar dari desa ini. 
jalan dari desa Kaliputih menuju Desa Cening...parahhh
Banyak persimpangan dan tikungan di desa ini jadi sebaiknya anda harus sering bertanya kepada warga setempat arah ke desa Cening. Keluar dari desa ini anda akan sampai di area persawahan. Di sini jalan kembali bercabang dua , kembali anda harus memilih jalan ke kiri. Melewati jalan setapak kecil yang akan menghantarkan ke sebuah jalan menanjak dengan kemiringan yang cukup terjal. Jalan menanjak ini cukup lebar , namun kondisi jalan yang rusak parah membuat jalan ini merupakan jalan tersulit dari semua jalur menuju Desa Cening.  Karena tidak hanya rusak , tapi jalan menanjak ini sudah tak rata lagi dan di penuhi oleh batu batu besar yang menonjol di sana sini persis seperti  “sungai yang lagi kering”. Dan di sisi kiri jalan menanjak ini adalah jurang yang sudah pasti sangat dalam. Anda mau tak mau harus lewat jalan ini karena inilah satu-satunya jalan menuju ke Desa Cening. Jalan ini menuju puncak bukit di mana desa cening berada. Sesampai di Desa Cening Lor ini ,kondisi jalan tak serta merta menjadi membaik…masih parah walau tak separah di jalan menanjak sebelumnya. Kembali anda akan menuruni bukit menuju desa Cening kidul. 

Kondisi jalan yang buruk membuat perjalanan terasa lama. Dan sebelum sampai di desa Cening Kidul anda akan menemui pertigaan jalan antara menuju Desa Cening Kidul dan Dusun kaliereng. Untuk menuju Dusun kaliereng anda harus belok ke kanan menyusuri jalan rusak yang menuruni bukit. Terus ikuti jalan ini dan anda pun akan sampai di Dusun Kaliereng setelah sebelumnya menemui sebuah jembatan penyebrangan.
kalo ini peta ke desa kaliereng lewat Limbangan...untuk peta ukuran besar klik DI SINI
Jalur Selatan merupakan jalur menuju ke desa Cening melewati sisi selatan Gunung Ungaran. Jalur ini melewati Kecamatan Limbangan , Kabupaten Kendal yang berbatasan dengan Kecamatan Sumowono di sisi timurnya. Dari arah barat dan utara anda bisa mengambiI ke arah ke kota Boja. Kemudian belok di pertigaan Limbangan. Kemudian sesampai di Limbangan , cari SMP N 2 Limbangan. SMPN 2 Limbangan ini terletak tidak jauh dari jalan raya Sumowono-Kendal walaupun memang terletak agak sedikit masuk dari jalan raya. Dari SMPN 2 Limbangan ini , anda harus berkendara ke arah timur laut untuk menuju Desa Cening. Masih harus melewati jarak sekitar 28 km dan 4 desa. Jalan aspal dari SMP n 2 Limbangan ini berakhir di sebuah pertigaan dan anda harus belok ke kiri untuk menuju ke desa Cening.  Kondisi jalan pun beraspal cukup baik , tapi sesampai di Desa Kedung Boto jalan aspal mulai berlubang dan rusak. Apalagi sesampai di desa Cening , kondisi jalan sangatlah buruk dan lebih banyak melewati hutan dan ladang penduduk. "Kayak sungai yang lagi kering airnya mas. tapi masih bisa di pilih kok mas...wong sekarang sudah ada jalan cor yang di bangun walau memang cuma sedikit...." begitulah penduduk setempat mengibaratkan jalan menuju desa Cening ini. Memang sih jalan sebelum Desa Cening ini sangatlah buruk kondisinya. Walau lebar jalan ada sekitar 2 meteran , tapi kondisi jalan ini rusak di sana sini. Sejumlah batu mulai ukuran yang besar maupun kecil tampak menonjol dari permukaan tanah. Anda yang belum pernah kesini akan kaget begitu melihat kondisi jalan menuju Desa Cening ini. Jalan ini berakhir di desa Cening Kidul. Masuk desa ini kondisi jalan mulai  agak baik. Dari dari desa Cening Kidul ini anda harus menuju ke arah Desa Cening Lor yang letaknya berada di balik bukit dimana Desa Cening Kidul berada..
peta menuju curug Glawe dari Desa Cening...seperti biasa kawan , untuk peta ukuran besar klik DI SINI
 Terus ikuti jalan menuju ke utara ini dan anda pun akan di bawa keluar desa. Jalan pun kembali rusak begitu anda meninggalkan Desa Cening Kidul. Sekitar 500 meter setelah anda meninggalkan Cening Kidul , anda akan menemui pertigaan jalan. Untuk ke Curug Glawe anda harus mengambil jalan ke kiri menuruni bukit karena jalan lurus adalah jalan menuju Desa Cening Lor. Kondisi jalan masihlah buruk dan rusak disana sini. Namun sesampai di bawah bukit kondisi jalan mulai baik. Jalan terbuat beton menggantikan jalan rusak dan anda akan melewati area persawahan dengan sebuah sungai besar yang mengalir deras di samping kanan dari arah anda datang. Pemandangan yang indah dan mempesona ketika anda sampai di point ini. Jalan beton ini akan mengarahkan anda ke sebuah jembatan penyebrangan sepanjang kurang lebih 100 meter. Jembatan inilah yang menghubungkan Desa Cening dan Desa Kaliereng. Menurut cerita dari salah satu warga jembatan ini dibangun atas swadaya  masyarakat dan menghabiskan dana lebih dari Rp 30.000.000 pada tahun 2009-2010. Sebuah nilai yang besar pada waktu itu.
jembatan penghubung Desa Cening dan Desa Kaliereng
Setelah jembatan ini terlewati , jalan beton kembali menanjak membelah sawah melewati asrinya pemandangan. Tak berapa lama kemudian sampailah anda di Dusun Kaliereng. Untuk menuju ke penitipan motor , terus ikuti jalan  dari persawahan tanpa berbelok dan anda pun akan tiba di rumah pak Ponifan yang merupakan pengelola dari wisata Curug Glawe ini. Di sini anda harus memparkirkan motor atau mobil anda karena sangat tidak mungkin membawa kendaraan anda sampai ke lokasi curug glawe. Untuk menitipkan motor beserta biaya masuk cuma di kenai tarif sebesar Rp 5.000. Whaaaattttt????murah amat...
ini neh rumah Pak Ponifan yang juga merupakan tempat parkir
Ya gitu dehhhh....yang jelas saat ini pun fasilitas masihlah minim sehingga pengelola pun tak berani mematok harga tinggi untuk obyek wisata ini. Tapi terakhir kali saya berkunjung ke tempat ini , warga pun masih menambah sarana dan pra sarana...seperti 2 kamar mandi yang lagi di bangun. Loket pembelian karcis dan gapura masuk serta pembenahan jalan menuju curug glawe. Yang jelas 1 tahun lagi mungkin obyek wisata yang satu ini akan memiliki sarana yang memadai....
Rute selanjutnya untuk menuju Curug Glawe harus di lalui dengan jalan kaki alias tracking. Dari rumah pak Ponifan , pengunjung harus berjalan ke arah selatan melewati jalan setapak yang cukup menanjak. Suasana cukup teduh karena di sebelah kiri jalan berjajar pohon karet yang cukup rapat. Berjalan beberapa saat jalan agak landai dan anda pun masuk di kebun kopi milik warga. Di sini jalan akan terbagi dua , lurus merupakan jalan ke ladang penduduk dan belok kiri menuju Curug Glawe. Tentunya mas bro harus pilih ke kiri lho...hehe
pemandangan Desa Kaliereng dari ketinggian bukit
Jalan pun kembali menanjak cukup panjang menuju puncak bukit yang membelah kebun milik warga dan lumayan menguras stamina anda. Sesampai di puncak bukit , suasana pun perlahan mulai terbuka dan di point ini anda bisa melihat Desa kaliereng beserta jajaran sawah yang bertingkat membentuk pemandangan yang indah banget. Euissss kereeeennnn...
Tapi masih jauhkah curug nya?masihhhh… ini baru sepertiga perjalanan....
Nah , jalan setapak pun terus melintang di sepanjang sisi bukit. Jurang yang dalam pun lebih sering mengisi di sisi kiri jalan sehingga berulang kali anda akan di hadapkan panorama menghadap ke bawah yang di dominasi pohon dan sungai. Dan jangan kaget bila anda berulang kali akan melihat beberapa air terjun tinggi di aliran sungai selama di perjalanan..
jslsn menuju curug...agak gersang soale foto ini di ambil saat kemarau...heheh
Maksudnya???
Wah belum saya jelaskan ya kalo selain Curug Glawe di sepanjang aliran sungai ini banyak terdapat air terjun lain dengan ketinggian bervareasi. Sejumlah air terjun seperti Curug Pring , Curug Glowo , Curug Kedung Manuk , Curug Panas dan beberapa air terjun tanpa nama akan terlihat dari jalan dimana anda berada...curug-curug ini tampak menggoda untuk di datangi namun sayang akses jalan menuju curug- curug ini sangatlah sulit dan membingungkan. Pernah saya mencoba untuk tracking menyusuri sungai dari desa Kaliereng menuju curug Glawe. Dan sesampai di Curug Pring , sungai pun di apit oleh dinding vertikal yang gak mungkin untuk di lalui. Saya coba mencari jalan ke atas tebing ini melalui kebun penduduk. Tetapi bukannya dapat jalan saya malah berulang kali nyasar di jalan buntu. Setelah capek bukan kepalang saya pun menyerah dan kembali ke Desa Kaliereng.
noh.....petunjuk arahnya sudah jelas tuh...
Mendingan bagi anda yang baru berkunjung ke tempat ini , fokuskan dulu menuju Curug Glawe. Jika memang berniat tracking menyusuri sungai dari desa , saya sarankan untuk mencari pemandu dari penduduk desa yang telah mengenal medan dengan baik. Tentunya jangan lupa untuk memberi uang lelah yang sepantasnya lho brooo..
Oke...sampai di mana tadi...o ya....jalan setapak ini melewati 3 punggung bukit dengan trek yang naik turun. Beberapa kali anda akan melintasi kebun milik warga yang umumnya di tanami pohon kopi , pohon sengon , dan beberapa pohon perkebunan lainnya. Setelah berjalan sejauh 1,9 Km dari tempat parkir , samar-samar di kejauhah terdengar suara air yang jatuh dari ketinggian. Di balik tikungan jalan terlihat sebuah air terjun dengan aliran air yang besar dan deras. Ini dia juara dari semua air terjun di Dusun Kaliereng , Curug Glawe.
curug Glawe dari singorojo..
Seperti yang telah di di sampaikan di atas , Curug Glawe memiliki bentuk aliran air yang berbeda dari sekian banyak air terjun yang ada di Jawa tengah. Aliran air Curug ini berbentuk melebar dan bertingkat dua dengan ketinggian total hampir 40 meter. Curug Glawe berada pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut dan posisi Lintang -7 , 17941 dan Bujur 110 , 20264. Curug ini mengalir pada sebuah tebing bebatuan andesit yang lebar. Tebing ini seolah membentuk dinding yang miring yang melebar dari kanan ke kiri. Sebagian besar air mengalir di sisi sebelah kiri. Sedang dinding sebelah kanan biasanya kalau tidak musim penghujan cenderung kering oleh air. Dan karena bentuk dinding ini tak terlalu tegak , andapun bisa lho memanjat ke atas curug jika berani....karena di tengah air terjun ini tepatnya di tingkat yang pertama terdapat sebuah kolam  yang sering di gunakan untuk mandi dan berenang oleh pengunjung. 
curug Glawe di lihat dari samping kiri pun tetap kereennnn...
jika tidak anda pun bisa duduk di bangku-bangku dari kayu yang telah tersedia. Anda tak akan pernah bosan menikmati panorama dan suasana alam dari curug ini.  Pemandangan air terjun yang membentuk kolam kecil berpadu dengan batu batu sungai dan tumbuhan hijau seolah membentuk kesatuan yang tak terpisahkan. Air yang jatuh ini lantas mengalir di antara batu-batu dengan ukuran yang bervareasi dan membentuk jeram-jeram kecil nan elok. Dari jeram-jeram ini kemudian terbentuk curug-curug kecil yang kemudian menghasilkan kolam-kolam kecil dengan kedalaman yang berbeda-beda  Suara air yang jatuh dari ketinggian berpadu dengan suara angin yang berhembus di sela-sela dedaunan. Terkadang terdengar suara kicauan burung-burung yang tengah mencari makan. Bahkan kadang terdengar suara ayam alas yang berkokok di kejauhan. Ini membuktikan betapa masih alaminya tempat ini....hutan di sekitar air terjun ini pun terbilang masih tetjaga keasriannya. Ini terbukti dengan banyaknya pohon-pohon yang tinggi yang tumbuh di sekitar aliran air sungai...bener-bener cool mannn....
aliran sungai yang membentuk kolam di antara rimbunnya pohon
Alam di sekitar Desa Cening benar benar di anugrahi air yang melimpah sehingga sungai sumber dari Curug Glawe memiliki volume air yang terus mengalir sepanjang tahun. Sehingga tidaklah heran kalau curug ini Memiliki debit air yang relatif besar dan tak terpengaruh oleh musim. Bahkan saat musim kemarau curug ini masih memiliki aliran air yang mengalir cukup deras. Aliran air dari curug ini jatuh membentuk sungai yang deras yang mengalir sampai ke Desa Cening. Air sungai ini oleh warga desa lebih sering di manfaatkan untuk mengairi sawah mereka. Tapi dulu aliran dari curug Glawe ini juga pernah di manfaatkan sebagai penggerak kincir air yang menggerakan generator motor untuk menghasilkan listrik secara swadaya dan di alirkan ke rumah-rumah warga. Sekarang kincir ini tak lagi di fungsikan sejaj masuknya listrik pemerintah ke Desa. Sekarang hanya tersisa pondasi dari kincir tersebut yang longsor ke arah sungai dan membentuk air terjun baru dengan ketinggian sekitar 20 - 25 meter. 
ini dia Curug Kincir...
Letak curug baru yang bernama Curug Kincir atau Curug Glawe 2 ini terletak  di sebelah dari Curug Glawe. Curug ini pun memiliki pemandangan yang tak kalah indahnya dengan Curug Glawe. Aliran airnya seolah deras dan menghanyutkan. Aliran air dari curug kincir ini kemudian bertemu dengan aliran air sungai dari Curug Glawe setelah sebelumnya melewati bebatuan dengan guratan alami yang membentuk fenomena alam yang indah. Sungguh jika anda seorang pecinta fotografi anda pasti tak akan mau berhenti untuk mrngabadikan ini semua....
derasnya aliran sungai yang membentuk pemandangan yang sipppp...
Selesaikah sampai di sini?
Belum kawan...di dekat Curug Glawe dan Curug Kincir masih terdapat beberapa curug yang menarik untuk didatangi bila saja anda mau menyusuri aliran sungai menuju ke bawah. Untuk akses jalan , ya gampang-gampang susah kok...karena kita harus menyusuri  pinggiran sungai dan terkadang harus sedikit merayap , terkadang pula harus mencari jalan ke seberang sungai...tapi semua terbayar begitu anda sampai di curug yang saya maksud ini , Curug Glowo.
Curug Glowo...
Curug Glowo ini terletak di bawah aliran sungai dari Curug Glawe dan Curug Kincir. Untuk menuju curug ini anda harus menuruni 2 tebing yang tak terlalu tinggi. Curug ini memiliki tinggi sekitar 10 meteran dan memiliki bentuk aliran air yang menyatu sehingga sekilas mirip sebuah pancuran raksasa yang menyembul dari bebatuan. Yang khas dari curug ini adalah terdapatnya ornamen batu-batu yang terpahat oleh air secara alami. Yang paling mencolok adalah keberadaan batu besar di ujung tebing yang seolah-olah terjepit dan hendak jatuh. Di bawah Curug Glowo ini juga terdapat kolam berwarna hijau tosca yang cukup lebar. Melihat dari warnanya yang seperti ini kolam ini sepertinya cukup dalam.
Air dari Curug Glowo ini mengalir dengan deras dan berakhir di sebuah tebing yang cukup tinggi dan membentuk air terjun lain lagi. Sayang tebing ini menjorok ke bawah secara vertikal sehingga sangat mustahil untuk menuruninya. Tapi kalau saya tidak salah air terjun yang terbentuk dari aliran air curug Glowo ini adalah Air Terjun Kedung Manuk yang telah terlihat dari atas tadi. Air terjun ini konon memiliki kolam yang cukup dalam di bawahnya.
Curug Kedung manuk
Air terjun yang lain pun sebenarnya masih ada lho broo...cuma air terjun inilah yang umumnya di kenal oleh warga desa Kaliereng. Sebenarnya anda pun melewatkan sebuah curug saat menuju ke Curug Glawe ini. Curug ini terletak tak jauh dari lokasi desa Kaliereng. Nama curug ini adalah Curug Pring. Curug ini berjarak sekitar 5 km dari Desa Kaliereng. Curug ini tidaklah terlalu tinggi namun memiliki bentuk aliran air yang melebar di sepanjang aliran airnya. Curug ini memiliki kolam yang lebar dan luas. Tapi hati hati ya bro kolam di bawah curug ini juga sangat dalam. Selain itu kolam di curug ini juga memiliki pusaran-pusaran air yang cukup kencang. Hal ini terjadi karena tabrakan dari dua arus air yang berlawanan. Oleh karena itu sangat tidak di sarankan untuk berenang di curug ini.
aliran air dari sungai ini membentuk beberapa air terjun kecil dengan kolam indah dibawahnya...masih banyak yang seperti ini lho...
"Anu mas, rata-rata curug di sini memiliki kedung(kolam) di bawahnya dengan kedalaman yang bener-bener dalem. Wong curug pring aja kedalaman kolamnya mencapai 20 meteran. Apalagi Curug Kedung manuk....itu dalamnya hampir 30 meter lho mas..." kata salah seorang warga yang ku temui saat mencari kayu. Memang di lihat dari derasnya air sungai sangatlah mungkin terbentuk kolam kolam  yang dalam akibat pengikisan batu dan tanah selama bertahun tahun oleh air sungai.
Aliran air dari curug pring ini sendiri sebagian di alirkan ke saluran irigasi ke sawah-sawah warga dan sebagian mengalir terus ke bawah membentuk sungai dengan aliran air yang deras. Sebelum di alirkan ke saluran irigasi , air sungai dibendung di sebuah kolam berbentuk setengah lingkaran. Kolam ini oleh warga sering di sebut sebagai Kedung Bundar. Hal ini membentuk pemandangan kolam air yang bertingkat. Fantastis sekali....
Curug tanpa nama..
Sebenarnya masih banyak curug-curug lain yang belum terexpose di sepanjang aliran sungai ini. Tapi bukanlah hal yang mudah untuk tracking di sepanjang sisi sungai. Karena selain kontur tanah yang berbukit dan naik turun , kendala yang paling utama adalah tak tersedianya jalan. Namun menurut pak Ponifan, suatu wacana sedang di gagas untuk menyediakan jalan dari Curug Glawe turun menyusuri dan melewati beberapa curug yang ada di bawahnya. Di harapkan pengunjung akan berangkat lewat jalan yang sekarang menuju Curug Glawe dan pulang menuju desa Kaliereng melewati curug-curug dibawahnya ini. Suatu gagasan yang bagus...beliau pun juga berencana membangun kembali kincir air yang dulu ada di curug kincir dan memasang generator listrik untuk menerangi jalan menuju curug ini...wah benar-benar ide yang mantap tuh pak....kita tunggu deh perkembangan wisata yang kereen ini deh...
Curug Glawe saat kemarau..masih deras aliran airnya..
Sebenarnya saat ini pun pengunjung Obyek Wisata Curug Glawe ini pun telah banyak yang datang mengunjungi curug keren ini. Tercatat sekurang-kurangnya 5 orang pengunjung pada hari-hari biasa. Dan sekitar 10 orang pengunjung di hari sabtu dan minggu. Memang tempat ini sejatinya kurang promosi dan perhatian dari pemerintah daerah. Andai saja tersedia papan-papan petunjuk arah dari jalan raya Sumowono-Boja atau Jalan Raya Singorojo-Kendal menuju Curug Glawe , saya yakin pengunjung pun akan banyak yang berdatangan. Dan tentunya yang jadi kendala utama adalah akses jalan menuju Desa Cening dan Dusun Kaliereng yang rusak parah. Hal ini terjadi karena kontur jalan yang berbukit dan naik turun menyebabkan akses jalan yang umumnya aspal menjadi gampang tergerus oleh air saat musim hujan di samping dari mutu aspal yang kurang bagus juga.
Keadaan ini membuat Desa ini seperti terasing dari dunia luar padahahal potensi yang di miliki Dusun Kaliereng ini sangatlah bagus bila di kembangkan. Selain menjadi surganya Air Terjun dengan banyaknya air terjun di sepanjang aliran sungai yang melaluinya , sungai yang deras ini juga bisa di manfaatkan untuk olahraga Arung Jeram. 
sungai deras ini bisa di manfaatkan lho..
Sungai ini terhitung memiliki banyak jeram yang menantang.  Bayangkan kawan...bila saja paketan olah raga Arung Jeram ini bisa terlaksana , akan memberikan peluang bagi warga dusun untik mengais rezeki. Selain di gunakan untuk olah raga arung jeram , sungai yang debit airnya selalu ada ini juga bisa dimanfaatkan untuk membuat kolam-kolam ikan yang juga dapat di fungsikan sebagai pemancingan dan warung makan yang menyajikan menu berbagai olahan ikan air tawar. Dan andaikan di sepanjang jalan setapak menuju Curug Glawe banyak di tanami tanaman buah-buahan , desa ini juga bisa menjadi sentra agrowisata yang tentunya semakin menarik wisatawan untuk datang. Hal ini bisa mengangkat perekonomian warga dusun menjadi semakin makmur. Saat ini pun dibukanya Curug Glawe juga membuka peluang bagi beberapa warga untuk berjualan makanan dan minuman di sekitar curug Glawe. Tapi karena curug ini umumnya ramai di akhir pekan , mereka pun hanya berjualan saat sabtu dan minggu.
di sekitar curug pun banyak penjual makanan dan minuman ...
Tapi ini semua hanya sebatas harapan ke depan untuk obyek wisata ini. Saat ini pun pembangunan fasilitas , sarana dan prasarana terus gencar di lakukan di obyek wisata ini. Semisal rencana penambahan betonisasi sepanjang 1 km menuju Curug glawe yang tengah mulai di laksanakan. Mungkin setahun atau dua tahun ke depan Dusun Kaliereng dan Curug-curugnya yang fenomenal akan memiliki wajah baru yang berbeda dari sebelumnya. Tentunya perubahan ke arah yang lebih maju dan lebih menarik...