Tampilkan postingan dengan label pagoda avaloktesvara watugong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pagoda avaloktesvara watugong. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Januari 30, 2016

Suasana Negeri Tirai Bambu dari PAGODA AVALOKITESVARA


serasa di negeri cina
Tentunya siapapun pernah melewati tempat ini karena memang tempat ini berada di pinggir jalan raya Semarang-Solo. Dan jika kita flashback , tempat ini mengingatkan kita pada suasana negeri Cina yang penuh dengan bangunan-bangunan fenomenalnya. Ya ngapain jauh jauh pergi ke Cina kalau di propensi Jawa Tengah pun ada suatu tempat yang menghadirkan suasana layaknya di negeri Cina.
Tempat yang saya maksud ini adalah sebuah vihara atau tempat peribadatan umat budha yang terletak di kota Semarang bagian selatan. Tempat peribadatan umat budha ini akrab di panggil dengan nama Vihara Budhagaya. Sebuah kompleks peribadatan umat budhayang berada pada ketinggian dan  berdiri di atas lahan seluas 2,25 hektare dengan lima bangunan utama. Vihara ini konon merupakan Vihara pertama dalam penyebaran agama Budha di Pulau Jawa, setelah kejatuhan Kerajaan Majapahit.  Menurut beberapa info , ajaran Budha di Watugong dibawa biku asal Srilangka yang bernama Narada. 

ngadem dulu di bawah pohon bodi...
Yang menarik dari vihara ini adalah keberadaan bangunan tinggi yang juga terlihat dari jalan semarang-solo. Sebuah pagoda yang cukup tinggi di penuhi dengan ornamen ornamen yang menarik. Pagoda Avalokitesvara demikian nama bangunan berbentuk menara ini. Saya sendiri sering sekali melewati tempat ini saat menuju ke arah solo atau semarang. Keberadaan bangunan setinggi ini cukup menarik dengan warnanya yang merah terang. Sering kali terbersit keinginan untuk mampir mengunjungi tempat ini tapi selalu saja ragu karena tempat ini seperti terisolir dari dunia luar. 
hmmm keren broooo...
Kemudian , beberapa waktu kemudian saya pun mengajak istri dan anak memberanikan diri memasuki tempat ini. Dan ternyata diluar perkiraan tak ada larangan khusus atau penolakan dari penjaga gerbang pintu masuk ke vihara ini. Bahkan sebuah senyum ramah tersunging di bibir pak satpam yang melihat kami bertiga masuk ke lokasi peribadatan ini. Dan yang lebih mengagetkan , tak ada biaya retribusi disini.
"Seikhlasnya saja , mas..." jawab pak satpam dengan ramah ketika ku tanya biaya masuk ke tempat ini. Wah akhirnya saya pun cuma memberi uang sebesar Rp 2.000.hehehe...yahhh...akhirnya kami pun masuk dengan hati yang riang...hehehe
Masuk ke tempat parkir pun tak ada hambatan. Tempat parkir yang tersedia cukup luas cukup untuk menampung banyak mobil dan motor. Tempat parkir ini berada di samping vihara Dhammasala. Vihara Dhamassala merupakan Bangunan dua lantai  yang dibangun sejak tahun 1955. Saat masuk ke dalam Vihara ini, anda akan melihat patung Budha berwarna emas dengan ukuran besar yang sedang duduk. Semua unsur di bangunan ini sendiri memiliki makna, termasuk dinding sekeliling vihara. Dindingnya dihiasi oleh relief Paticca Samuppada, yang bercerita tentang pengajaran proses hidup manusia mulai lahir hingga meninggal. Nah yang paling menarik  adalah adanya aturan tertentu saat memasuki vihara ini. Sebuah aturan yang mengharuskan anda untuk menginjak relief ayam, ular dan babi yang ada di lantai pintu masuk. sebelum memasuki vihara,  

patung yang indah
Menurut keyakinan, ayam merupakan lambang dari keserakahan, ular lambang dari kebencian, dan babi lambang dari kemalasan. Melalui ritual ini, diharapkan umat beribadah dengan menanggalkan karakter tersebut dan bisa masuk surga. Tentunya ini pun berlaku untuk pemeluk agama budha.  Bagi anda yang bukan pemeluk agama budha dan tak ingin melakukan ritual ini , saya sarankan untuk tidak masuk ke vihara ini. Ini sebabnya vihara ini tak banyak di masuki sembarang orang luar dan kebanyakan dari pengunjung lebih suka ke Pagoda Avalokiteswara.
Di sebelah barat dari vihara Dhammasala ini , terdapatlah sebuah bangunan berbentuk menara setinggi 45 meter. Inilah dia kawan , Pagoda Avalokiteswara....primadona dari tempat ini. Sejarah Pembangunan pagoda ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan umat Budha akan tempat ibadah yang lebih layak dan nyaman.  Sebelumnya ditempat ini hanya ada vihara kecil yang sudah berdiri sejak 1957. Kemudian pada tahun 2005 dibangunlah Pagoda Avalokitesvara yang rencana pembangunanya hanya membutuhkan waktu 8 bulan tapi penyelesaiannya mundur menjadi 10 bulan karena menunggu barang-barang dan patung dari Cina.

beberapa hiasan dan ornamen dari negeri cina...
Dari Cina??
yoi broooo…Pagoda ini mempunyai banyak keistimewaan karena dari mulai genteng, aksesori, relief tangga dari batu (9 naga) , kolam naga, lampu naga, air mancur naga hingga patung burung hong dan lilin, seluruhnya diambil dari negeri Tiongkok. Bagian dalam pagoda berbentuk segi delapan dengan ukuran 15 x 15 meter. Pagoda ini terdiri atas tujuh tingkat. Di lantai dasar lebih banyak di tempatkan patung-patung untuk pemujaan. Kemudian, mulai tingkat kedua hingga keenam dipasang patung Dewi Kwan Im yang menghadap empat penjuru angin. Hal ini bertujuan agar sang dewi memancarkan kasih sayangnya ke segala arah mata angin. 7 tingkat ini memiliki makna seorang pertapa akan mencapai kesuciannya pada tingkat ketujuh.  Hampir semua konstruksi bangunan dari tempat peribadatan ini terbuat dari beton, serta banyak menggunakan latar warna merah dan beberapa arca di tiap tingkat pagodanya. Di lantai dasar sendiri ornament patung yang berwarna emas sebagi tempat pemujaan umat Budha lebih banyak menghiasi. Patung Dewi yang membawa bunga dan teratai bisa digunakan pengunjung untuk berdoa agar dimudahkan mendapatkan jodoh. 

patung Dewi Kwan im membawa anak
Patung Dewi dengan membawa anak perempuan, ditujukan bagi pengunjung yang berkeinginan memiliki anak perempuan. Demikian pula dengan patung Dewi yang membawa anak laki-laki, digunakan pengunjung berdoa agar mendapatkan anak laki-laki. Satu lagi, patung Dewi Kwan Im digunakan pengunjung untuk memohon panjang umur. Khusus di tingkat VII, diisi empat buah patung Amitaba. Selain 24 patung Dewi Kwan Im dan empat patung Amitaba, Di lantai Dasar , tepatnya didalam pagoda juga diletakkan satu patung besar Dewi Kwan Im dengan tinggi 5,10 meter serta satu patung Panglima We Do. Jumlah total patung yang ada di pagoda ini ada 30 buah. Selain itu, dua gazebo besar tampak mengapit di samping kanan-kirinya, yang digunakan sebagai tempat tambur dan lonceng, yang menjadi salah satu adat kelengkapan pagoda.  

patung Dewi Kwan im besar(kiri) dan patung Panglima Wedo(kanan)
Suasana di sekitar vihara ini begitu teduh oleh banyaknya pohon tinggi yang di tanam di sekitar tempat ini. Yang menarik adalah keberadaan pohon bodi di depan pagoda avalokitesvara. Seperti yang kita tahu pohon bodi merupakan pohon tempat sang budha memperoleh pencerahannya. Keberadaannya sangat disakralkan bagi penganut ajaran budha. Hal yang sama pun berlaku juga pada pohon bodi di tempat ini. Terlihat dari keberadaan patung dewi kwan im dibawah pohon ini dengan rantai yang mengelilinginya. Tak ketinggalan patung-patung budha berwarna emas pun di tempatkan dibawah pohon ini sebagai perwujudan dari sang budha yang mendapatkan pencerahan di pohon ini.
suasana yang teduh....
Pohon ini tumbuh begitu tinggi dan memiliki batang yang melebar ke segala arah sehingga membuat suasana di pagoda ini terasa sejuk. Konon Pada 1934 , saat sang biku dari srilangka Narada datang ke Indonesia membawa dua pohon bodhi yang kemudian keduanya ditanam di kawasan Candi Borobudur. Namun pada 1955, salah satu pohon ini dibawa dan ditanam di halaman Vihara Buddhagaya dan dibiarkan tumbuh membesar hingga seperti yang sekarang.
Sebagai tempat peribadatan , pagoda ini begitu berarti bagi umat Budaha di Indonesia. Pagoda Avalokitesvara juga disebut sebagai Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih Sayang karena keberadaannya untuk menghormati figur cinta kasih dan kasih sayang, yaitu Kwan Sie Im Po Sat. dengan tingginya yang mencapai 45 meter Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya ini juga telah ditetapkan oleh Museum Rekor Indonesia MURI sebagai pagoda tertinggi di Indonesia. Nah lho…sayang kan anda sebagai orang Indonesia belum pernah mendatangi pagoda tertinggi di Indonesia ini khan broo…padahal letaknya begitu mudah di akses dan di jangkau dari manapun. Kalau dari Semarang kota atau Bandara ahmad yani anda bisa naik angkutan umum ke terminal Terboyo. Dari terminal Terboyo ini selanjutnya anda bisa naik bus jurusan salatiga, Ambarawa ,Solo atau Yogyakarta. 45 menit kemudian ; setelah melewati terminal Banyumanik anda akan melihat bangunan Pagoda ini di kiri jalan tepat di daerah Kodam Diponogoro.
patung budha tidur

Kawasan vihara Buddhaghaya ini buka setiap hari mulai pukul 7 pagi hingga 9 malam. Pengunjung yang datang pun rata-rata berasal dari luar negeri seperti Negara Singapura , Cina , Dan Thailand. Malah kalau bisa saya lihat , rata-rata orang kita sendiri malah tak tahu keberadaan tempat keren ini padahal tempat ini sangat awesome…..tapi semenariknya tempat ini , sekeren- kerennya tempat ini , ingat kawan….tempat ini tetaplah sebuah tempat peribadatan yang harus kita hormati. Janganlah berprilaku berisik dan tak senonoh yang dapat mengganggu orang-orang yang sedang beribadat di sini. just enjoy it bro but never be a jerk…okey kawan….