Tampilkan postingan dengan label goa pancur PATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goa pancur PATI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Oktober 24, 2015

SATU HARI MENJELAJAH KOTA PATI BAGIAN 3-HABIS : GOA PANCUR DARI KENDENG


goa pancur guys...
Baca juga kisah sebelumnya “SATU HARI MENJELAJAH KOTA PATI BAGIAN  2 : Nasib AIR TERJUN TADAH HUJAN dan WADUK GUNUNG ROWO nan merana"
 Goa Pancur adalah sebuah obyek wisata di Desa Jimbaran , Kecamatan Kayen , Kabupaten Pati. Sebuah obyek wisata yang menyajikan sebuah pemandangan goa alam sedalam 900 meter dan juga pemandangan sekitar goa yang berada di kaki gunung Kendeng. Sebenarnya aku sudah melewati kecamatan Kayen saat aku menuju Air Terjun Tadah Hujan dan sebuah papan bertuliskan "Goa Pancur" tampak terlihat jelas saat aku menuju sukolilo. Tapi karena ku pikir tempat ini bisa aku kunjungi nanti saat aku sekalian pulang ke Semarang , jadinya aku lewati saja. Kini saat aku menuju semarang akhirnya aku pun menuju tempat ini walau waktu sudah menunjukan pukul 15:00. Berkendara ke arah jalan lingkar Pati-Surabaya , aku terus menyusuri jalan Pati-Purwodadi sambil mencari keberadaan papan petunjuk arah ke Goa Pancur. Setelah berkendara cukup lama dan tiba di Kecamatan Kayen akhirnya kutemukan juga papan petunjuk arah ini yang mengharuskanku belok ke kanan dari arah Sukolilo masuk ke gapura bertuliskan Desa Jimbaran. Begitu memasuki gapura ini , areal persawahan yang menguning menyambut kedatanganku. Jalan sebenarnya cukup lebar dan telah beraspal tapi kondisi aspal sebagian telah mulai mengelupas. Beberapa ratus meter kemudian , aku sampai di Desa Jimbaran yang cukup padat dengan rumah penduduk. Jalan menuju lokasi wisata ini sangat sempit saat memasuki perkampungan Jimbaran. Meski sempit, tetapi jalan ini cukup bisa untuk memuat satu mobil. Dari desa ini perjalanan masih berlanjut ke arah selatan melewati ladang penduduk dengan jalan aspal yang lumayan bagus walau di beberapa bagian jalan ada beberapa yang rusak. Tetapi 500 meter menjelang lokasi obyek wisata aspal di jalan menuju lokasi kembali rusak di sana sani. 
lihat tuh atap goanya...indah yaaaa...
15 menit dari jalan raya Pati-Purwodadi aku pun sampai di lokasi. Sebuah portal jalan yang cukup lebar menyambut kedatanganku. Memang tak ada retribusi resmi karena Goa Pancur memang tak lagi di kelola oleh Pemda Pati. Tapi Di sini aku tetap diwajibkan membayar biaya masuk sebesar Rp 3.500 kepada pihak pengelola yang tampaknya beralih ke tangan warga setempat. Biaya ini juga sudah termasuk biaya parkir kendaraan. Selesai administrasi motorku pun meluncur masuk ke lokasi obyek wisata. Berbeda dengan tempat wisata lain yang sebelumnya tampaknya wisata Goa Pancur ini lebih tertata dan terawat dengan baik. Di sekitar lokasi banyak tumbuh pohon-pohon yang cukup rindang. Dibawah pohon-pohon rindang ini pun juga banyak tersedia bangku-bangku terbuat dari kayu cocok untuk melepas penat dan bersantai. Tak heran banyak muda-mudi yang memadu kasih di tempat ini.
suasana di luar goa

Sebuah kolam buatan tampak menghiasi tepat di sisi utara lokasi Goa Pancur. Di tepi kolam ini pun juga tersedia beberapa saung atau pondok-pondok kecil untuk beristirahat. Tapi fungsi dari kolam ini saya pun juga kurang jelas. Tapi menurut litetaratur yang saya baca , di sini tersedia tempat pemancingan. Jadi kemungkinan kolam ini adalah tempat pemancingan yang di maksud. Konon kolam buatan ini dulunya indah tapi seiring berjalannya waktu obyek wisata ini jadi terbengkalai dan kolam ini pun juga tak terawat dan banyak di tumbuhi rerumputan dan alang-alang tinggi. Akan tetap saat ini danau buatan ini telah terlihat rapi dan bersih.
Tak jauh dari kolam ini terdapat sebuah bangunan yang kelihatannya di fungsikan sebagai taman. Di tengah taman ini dibangunlah kolam berbentuk bundar dengan air mancur ditengahnya. Sayangnya saat saya ke sini air mancur ini belum di fungsikan. Dekat  dari taman ini , banyak berderat warung-warung yang menjajakan makanan dan minuman. Jadinya anda tak perlu repot memenuhi kebutuhan perut anda.
Dan jika anda bertanya dimana Goa Pancur itu sendiri? Goa Pancur terletak di depan taman ini. Goa ini memiliki dua pintu yang terletak bersebelahan. Mulut goa banyak di hiasi dengan staglagmit yang masih "muda" yang terlihat cukup elok di pandang. Begitu saya masuk ke goa ini , saya langsung disambut oleh sungai yang membentuk kolam yang cukup luas. Kolam ini memiliki air yang jernih dan dingin. Saya pun mencoba membasuh muka  dengan air kolam ini...hmmm...terasa begitu sejuk di muka...
pda terapi ikan tuh...
Air kolam yang berasal dari sungai bawah tanah dari goa pancur ini begitu deras dan memiliki debit air kurang lebih 40 liter/detik cukup untuk mengairi sawah di sekitar goa ini. Saking derasnya air dari sungai ini sehingga menutupi seluruh pintu masuk goa. Sebuah pagar teralis terbuat dari besi di pasang di mulut goa yang telah terendam air ini sehingga Sangat mustahil untuk memasukinya. Tetapi bagi anda yang tetap ingin menjelajah goa ini anda bisa lewat di sebuah lubang yang tak terlalu lebar. Letak lubang ini berada di sebelah kanan tak jauh dari pintu goa Pancur. Dari lubang yang memiliki tinggi sekitar 100 meter-an ini anda bisa memulai penjelajahan ke dalam perut goa. Di dalam gua terdapat aliran sungai dengan air yang mengalir keluar dengan kedalaman sebatas pinggul orang dewasa, merupakan mata air yang berasal dari ujung gua paling dalam, dan tak pernah kering meskipun musim kemarau panjang sekalipun. Dari air sungai ini katanya banyak di huni oleh ikan-ikan dari ukuran besar maupun kecil yang konon tak bisa di pancing. Nah lhoo....malah terkesan mistis kan. Dan sebagaimana lazimnya gua-gua yang terbentuk secara alami di balik perut Pegunungan Kapur Kapur Utara, gua ini dipenuhi oleh bebatuan stalaktit dan stalakmit yang sudah pasti menjadi daya tarik tersendiri. Selain stalaktit dan staklamit di perut goa ini juga banyak terdapat batuan-batuan kapur dengan bentuk yang unik. Salah satu batuan kapur yang paling terkenal adalah batuan kapur berbentuk patung seekor kuda yang oleh warga setempat diberi nama sebagai watu jaran (batu kuda).
peta penelusuran goa pancur...monggo nekminat...hehehe

Selain semua yang disebutkan diatas , Di tengah-tengah kedalaman gua, terdapat sumber mata air hangat yang konon bisa dijadikan media untuk penyembuhan berbagai macam penyakit. Meski tidak terbukti secara klinis-ilmiah, tetapi masyarakat mempercayai khasiat mandi air hangat di gua pancur dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Untuk menjelajah goa ini sendiri pengunjung harus terlebih dahulu melapor pada pengelola goa ini. Dahulu Wisata Goa Pancur ini di kelola oleh pemda Pati , tapi saat sesudah krisis moneter tahun 1998 silam goa ini mulai ditelantarkan dan tak di urus. Kemudian pengelolaannya berpindah pada masyarakat setempat. saat ini gua pancur dirawat dan dijaga oleh sekelompok komunitas lokal yang menyebut dirinya "Gasong Community". Sebuah komonitas yang memiliki semboyan "solidaritas tanpa batas" inilah yang kemudian merawat , menjaga , dan , mengelola goa Pancur ini. Disamping itu , jika pengunjung takut tersesat di dalam perut Goa Pancur , pengunjung juga bisa meminta jasa panduan dari juru kunci Goa pancur ini yang bernama Mbah Sahuri. Menurut cerita yang beredar , penemuan goa ini sendiri tak lepas dari jasa seorang petani yang bernama mbah Sarto.
pintu mulut goa sebelah timur(kanan) dan pintu sebelah barat (kanan)

Saat itu pada tahun 1932, masyarakat Desa Jimbaran yang berada di kaki pegunungan kendeng tengah bingung dengan musim kemarau berkepanjangan yang membuat sawah mereka kering. Adalah Mbah Sarto yang juga merasa sedih karena hujan tak kunjung datang. Di tengah lamunannya , Mbah Sarto sayup-sayup mendengar suara gemericik air dari bawah sebuah bukit yang tak jauh dari tempatnya berada. Kemudian dia membongkar tebing batu dimana suara air itu berasal dengan sebuah "gancu" (alat semacam besi tajam keras yang biasa untuk menebang pohon, semacam kapak). Dari lubang inilah muncul mata air yang kemudian dialirkan ke sawah-sawah penduduk. Dari lubang ini kemudia diketahui ada sebuah goa yang di dalamnya memiliki pemandangan yang indah. Kemudian oleh pemerintah daerah dibuatlah lubang untuk pintu masuk pengunjung di sebelah barat dari lubang pertama. Dan di berilah nama Goa Pancur yang berarti Goa yang selalu memancarkan air. Demikian sejarah singkat dari goa ini. Walau saat ini Pemda Pati tak lagi mengelola goa ini , objek wisata gua pancur dimasukkan ke dalam benda cagar budaya yang dilindungi oleh Pemkab Pati dan barang siapa yang terbukti merusak, ia akan dikenakan pasal tentang denda atau pidana penjara sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku.
mau sih menjelajah masuk tapiii
Sebenarnya saya pun berkeinginan masuk lebih jauh ke dalam goa , tetapi berhubung waktu sudah menunjukan jam 15.00 saya pun mengurungkan niat saya dan sekedar duduk di pintu goa. Beberapa pengunjung tengah merendam kakinya di dalam air. Sejumlah ikan kecil pun mengrubuti kakinya. Rupanya ikan-ikan di sini pun dapat di jadikan sebagai alternatif pijat ikan yang belakangan lagi marak. Hehehe....

Saya pun lalu asyik mengambil beberapa foto dengan kamera digital. Terlihat beberapa pengunjung yang kebanyakan remaja tengah bercanda dan duduk-duduk di bangku-bangku kayu di atas Goa Pancur yang rupanya banyak ditumbuhi pohon sehingga suasana yang panas pun terasa sejuk. Sebenarnya di atas goa ini sendiri terdapat bukit dengan pemandangan kota Pati dari ketinggian. Tapi karena capek , aku pun malas untuk mendatanginya…hehehe… Pukul 16.00 aku pun beranjak meninggalkan obyek wisata terakhir di Pati yang aku kunjungi dalam 1 hari. Aku pun bergerak meninggalkan koa Bumi Mina Tani ini dan pulang menuju semarang. Sebenarnya masih banyak obyek wisata lain di kota ini  yang belum aku kunjungi. Dan kota ini pun memiliki banyak potensi yang ibarat intan bila di gosok akan menjadi lebih bernilai. Sayang sekali tak ada perhatian dari Pemerintah Daerah...sayang sekali masyarakatnya tak mau peduli...