 |
| CURUG SILANGIT😀 |
Purworejo adalah nama sebuah kabupaten yang berada di sebelah
berat kota Yogyakarta. Meskipun berada dekat dengan kota Yogyakarta , kota
Purworejo sendiri tidaklah setenar seperti kota Yogyakarta yang telah terkenal
akan wisatanya. Padahal kabupaten ini boleh di bilang kaya akan potensi
wisatanya yang masih tersembunyi. Mulai air terjun , puncak gunung , hutan
tropis , goa sampai pantai ; semua ada di kabupaten ini. Potensi wisata ini
jugalah yang membuat saya ingin menelusur lebih jauh ke kabupaten ini. Dan akhirnya...hari
itu pun datang juga....saya berkesempatan untuk mengunjungi kabupaten Purworejo
ini. Walaupun menurut saya sendiri , kunjungan saya ke kabupaten ini terlalu
singkat. Tapi setidaknya "it's worthty" untuk diceritakan kawan...
Starting awal dari kota Semarang , saya berangkat pukul 08:00.
Sebenarnya ini terlalu siang sih , but..it's oke lah😤...saya pun menaiki motor
kesayangan melewati trotoar Jl.Semarang-Solo.
Sesampai di terminal Bawen , motor ku arahkan ke arah Magelang melewati Jl.Lingkar Ambarawa yang berujung di kecamatan
Jambu. Setelah keluar dari Jl.Lingkar Ambarawa
ini , perjalanan berlanjut ke arah Magelang melewati rute
Jambu-Banaran-Secang-Pringsurat baru saya sampai di kota Magelang. Di kota ini
saya sempat bingung karena minimnya rambu menuju arah Purworejo. Namun setelah
bertanya sana-sini , saya pun pada akhirnya menemukan rute ke Purworejo
kembali. Melewati kecamatan Salaman yang masih berada di wilayah Kabupaten
Magelang , saya terus berkendara ke arah selatan dan menjelang pukul 11.00
siang , saya pun tiba di Kabupaten Purworejo.
 |
| Peta ke curug Silangit dari magelang |
Awalnya saya berniat mengunjungi wisata pantai di kabupaten ini
yang katanya tidaklah kalah dengan pantai-pantai yang ada di Yogyakarta. Tapi
karena keterbatasan waktu yang cuma 1 hari , akhirnya tujuan pun saya alihkan
ke daerah Kecamatan Kaligesing yang kaya akan wisata alam khas pegunungan
daerah Purworejo. Salah satu yang cukup beken adalah Curug Silangit..
 |
| air terjun nan indah |
Nah...dari pusat kota , saya langsung berkendara ke daerah Kaligesing.
Rambu-rambu jalan menuju daerah di mana Curug Silangit ini berada cukup banyak
terpampang. Saya hanya tinggal mengikutinya dan tak sampai 30 menit saya tiba
di daerah Kaligesing. Di sini rambu-rambu jalan mengarahkan jalan menuju desa
Somongiri...Awalnya saya berpikir jalan menuju desa ini akan ramai seperti
jalan menuju tempat wisata lainnya seperti jalan menuju Grojogan Sewu di
Tawangmangu atau Air terjun Jumog di daerah Karanganyar ; tapi selepas
perempatan Manukan saya harus merubah pola pikir saya ini. Karena jalan ke
Curug Silangit ini rupanya melewati daerah pedesaan yang sepi membelah areal
perkebunan dan hutan heterogen dengan jalan yang naik turun dan berkelak-kelok.
Dan apa perasaanku saja ya atau memang sayalah satu-satunya manusia yang hendak
datang ke Curug Silangit ini....soalnya ini benar-benar sepi dan hanya suara
motor saya saja yang terdengar meraung dari tadi. Walaupun memang saya juga
sempat berpapasan dengan beberapa motor yang kelihatannya penduduk setempat
yang lewat.
Lebih kaget lagi setelah saya sampai di desa Somongari. Karena
jalan yang semula beraspal menjadi jalan beton selebar 1 meteran lebih. Arah
rambu-rambu jalan menuju Curug Silangit pun semakin mengarahkan motor keluar
desa kearah rimba yang penuh dengan hutan yang penuh dengan pohon yang tinggi .
rapat , dan rimbun. Sudah begitu jalan beton seolah semakin menciut dan
menyempit...
 |
| tampak dari jauh |
"Waduhhh...bener gak
nih ini jalan menuju Curug Silangit😟" begitu pertanyaan yang terus
terngiang di benak ku. Ini sangat beralasan...soalnya boleh dibilang jalan ini
terus melewati kawasan hutan rimba yang gelap dan tak ada tanda rumah penduduk
di samping kiri dan kanan jalan.
Tapi saya pun bisa bernafas lega. Karena setelah 20 menit
berkendara melewati jalan beton yang menembus hutan tropis yang gelap ,
terlihat beberapa rumah penduduk. Yaaa....walaupun tak banyak , ini sudah cukup
membuatku lega😌. Satu hal yang membuat saya tak habis pikir adalah rumah-rumah
penduduk ini juga berada di tengah rapatnya hutan yang di isi oleh pohon-pohon
tinggi. Kok bisa ya? Kok berani ya...bisa di bayangkan seperti apa suasana desa
ini bila malam tiba. Gelap mencekam....belum lagi banyak hewan dari hutan yang
mungkin mendatangi desa ini mengingat letaknnya yang berada di tengah
hutan...belum lagi makhluk halus dengan berbagai bentuk yang sewaktu-waktu bisa
keluar dari kegelapan hutan...hiii...serem deh brooo...😱
Walau begitu pemandangan yang di sajikan di desa ini saya akui
bener-bener masih alami. Letaknya yang berada di tengah hutan menampilkan
pemandangan khas hutan tropis yang di penuhi pohon besar yang tinggi dan
rimbun. Terlebih desa ini terletak di tepian sungai yang mengalirkan air yang
jernih dan bening. Bahkan jalan trotoar menuju desa ini di bangun di sisi sungai yang membuat saya bisa
menysikan pemandangan sungai deras nan jernih di sepanjang jalan dari Pertigaan
Manukan ke Desa Somongari. Dengan aliran air yang deras di antara batuan besar
dan kecil bersatu dengan hijaunya suasana sekitar. Woooowww....hanya itu yang bisa terucap dari
bibir ini😲.
 |
| pemandangan sugai di sepanjang perjalanan...gak bakal bosen deh.. |
Sayapun melewati rumah penduduk ini. Tak berapa lama kemudian
terlihatlah sebuah gapura selamat datang yang menandakan saya telah sampai di
kawasan wisata Curug Silangit. Nah
sampai disini pula pengunjung bisa
membawa kendaraan mereka dan harus lanjut berjalan menuju lokasi air terjun. Di
salah satu rumah warga digunakan sebagai pos pelaporan bagi pengunjung yang
hendak menuju Curug Silangit.Di halaman rumah warga ini juga di buat tempat
parkir cukup luas beratapkan asbes.
Pengunjung wajib membayar biaya retribusi sebesar Rp 3000 per orang dan
biaya parkir sebesar Rp 2000 per motor. Di sini juga dibuka sebuah warung kecil
yang menjajakan makanan dan minuman. Jadi bagi pengunjung yang tak membawa
bekal makanan bisa membelinya di sini. Tak jauh dari pos pelaporan ini juga
terdapat sebuah mushola kecil dan 2 buah mck. Ada baiknya anda mulai menyiapkan
perbekalan di sini karena setelah pos pelaporan ini tak akan di temui penjual
makanan dan minuman lagi. Begitu juga bila ada yang kebelit pipis atau buang
air besar , sebaiknya anda lakukan di
sini. Karena Cuma di pos pelaporan ini akan anda temui MCK. Atau anda ingin
melakukannya di alam bebas mungkin…hehehe😛😛
 |
| parkir motor yang cukup luas dan terlindung,,, |
Setelah mengurus perizinan , administrasi , dan perbekalan saya
pun siap untuk lanjut berjalan menuju lokasi Curug Silangit. Dari pos pelaporan
saya berjalan melewati gapura selamat datang , kemudian sebuah mushola kecil saya lewati.
Baru kemudian rambu jalan mengarahkan langkah kaki ke sebuah jembatan yang
terbuat dari lonjoran bambu berdiameter kurang lebih 15 cm. Bambu-bambu ini di
tata memanjang menyatukan 2 sisi sungai tanpa di ikat atau di satukan oleh
apapun. Hanya ke dua sisi ujung tempat jembatan bambu ini bertumpu di tahan
oleh kayu , sehingga bambu yang menyusun jembatan ini tidak terpisah. Dan
karena bagian tengah dari jembatan ini tak di satukan oleh apapun , sudah pasti
akan melengkung ke bawah bila dilewati.
 |
| jembatan bambu tradisional yang fenomenal.. |
Namun begitu masih ada juga beberapa
warga yang melewatinya dengan menggunakan sepeda motor. Mending kalo cuma
sepeda motor , ini sepeda motor membawa beban kayu sepanjang 1meteran
berdiameter hampir 50 cm...sayapun sempat bengong melihat pemandangan ini.
Padahal jembatan bambu yang tak di ikat oleh apapun ini pastinya akan
melengkung dan tidak stabil pada bagian tengahnya. Jika saja roda motor
tergelincir masuk disalah satu sela-sela bambu , bisa di pastikan motor beserta
orangnya akan jatuh ke sungai. Namun warga yang melewatinya lewat tanpa
kesulitan apapun...aduuuhhh...salut deh dengan semangat warga desa ini...
 |
| melewati hutan belantara yang sepi... |
Masih dengan rasa takjub😦😧 , saya pun meneruskan langkah kaki
melewati jembatan ini. Sampai di seberang , kaki ini kembali menapaki jalan beton selebar kurang dari 1 meter.
Semula saya mengira langkah kaki saya sudah menjauh dari lokasi pemukiman
penduduk , namun setelah melewati belokan jalan kembali lagi terlihat beberapa
rumah penduduk di antara lebatnya pepohonan. Bener-bener deh...baru kali ini
lho saya lihat sebuah pemukiman berada di tengah hutan dengan jarak antar rumah
berjauhan...
Setelah melewati rumah penduduk , kembali saya harus menyebrangi
sebuah sungai melewati sebuah jembatan bambu lagi..kemudian jalan beton masih
berlanjut di seberamg sungai. Medan jalan pun agak menanjak dan beberapa puluh
meter kemudian jalan beton ini berakhir dan digantikan jalan setapak menaiki
sebuah punggung bukit. Jalan setapak ini pun telah di buat berundak untuk
memudahkan pengunjung.
 |
| air terjun mini 1....gak tinggi sih tapi oke juga... |
Di samping kiri terlihat air terjun kecil dengan aliran
air yang miring. Jalan pun berlanjut menaiki bebatuan di samping air terjun
ini. Sesampai di atas air terjun yang pertama , terlihat air terjun kecil dengan
karakteristik yang hampir sama dengan air terjun yang pertama. Dari air terjun
yang kedua ini sudah mulai terdengar gemericik air yang jatuh cukup keras.
Setelah melewati jalan menanjak di
samping air terjun yang kedua ini , terlihatlah air terjun yang tinggi dengan
aliran air yang cukup deras di hadapan saya...Curug Silangit...
Kesan pertama yang bisa saya katakan adalah indah banget😆. Air yang
jatuh dari atas puncak tebing jatuh membentur tebing –tebing yang menonjol di
bawahnya membentuk aliran-aliran air kecil yang melebar di tengah tebing.
Aliran-aliran air ini kembali menyatu sebelum akhirnya jatuh dibawah air terjun.
Beberapa batu besar tampak menghiasi
bagian bawah dari curug ini.
 |
| penampilan curug silangit... |
Air jatuhan dari
atas lantas membentuk kolam dengan kedalaman yang tidak terlalu dalam. Untuk
menambah luasnya kolam ini, airan air dari curug ini kemudian sengaja di
bendung sehingga terlihat seperti sebuah telaga mini. Cantik sekali 😆…kolam ini
pun sering di gunakan para pengunjung untuk mandi dan berenang. Tapi pada
puncak musim penghujan di mana air sedang banyak- banyaknya , kedalaman kolam ini
bisa lebih dalam dari biasanya. So bagi anda yang tak bisa berenang sebaiknya
jangan coba-coba untuk nyemplung di kolam ini.
Di sisi kanan dan kiri
air terjundi percantik dengan tebing berwarna hitam keabuan. Di sisi kanan
tebing air terjun lebih banyak ditumbuhi
semak-semak dan tumbuhan perdu berwarna
hijau yang menambah kesan alami dari curug ini. Di sekeliling air terjun juga
banyak di tumbuhi oleh pohon-pohon tinggi yang semakin menambah kesan asri dari
tempat wisata ini..
Curug silangit adalah curug yang berada di Dusun Janur , Desa
Somongiri , Kecamatan KaliGesing , Kabupaten Purworejo , Provensi Jawa Tengah.
Curug ini memiliki tinggi antara 25 - 30 meter dan di nobatkan sebagai air
terjun paling tinggi di purworejo. Asal kata nama "Silangit" sendiri
berasal dari kata "si" yang bisa diartikan sebagai "sang"
dan "langit" yang berarti angkasa atau langit. Bila di gabungkan
menjadi "sang langit". Nama ini dimaksudkan juga pada tingginya air
terjun ini sehingga seolah membelah langit.
 |
| menatap tingginya cuurg ini,,, |
Aliran curug silangit ini berasal dari mata air di sebuah bukit
di dusun Sijanur, Somongari yang
merupakan bagian dari kelompok Perbukitan Menoreh. Air terjun ini tergolong
sebagai air terjun yang memiliki debit air yang cukup besar bahkan disaat musim
kemarau. Karena debit air yang deras dan tingginya ini juga yang membuat air
yang jatuh berubah menjadi titik-titik air yang membasahi sekitar air terjun
ini. Konon saat musim penghujan , titik
air yang kemudian berubah menjadi kabut air ini bisa menjangkau hingga radius
15 meter dari air terjun . Airnya yang jernih dan sejuk seperti mengajak
siapapun yang berkunjung untuk bermain air. Terlebih suasana pegunungan yang
masih asri di sekitar air terjun ini , bakalan membuat siapapun betah
berlama-lama di tempat ini. Berenang di Telaga mini dengan latar belakang air
terjun yang keren seperti di film-film. Atau duduk di salah satu bangku atau di
tepian kolam sambil memandang pemandangan air terjun yang memukau ; Di temani
juga oleh sepoi angin yang bertiup sepoi-sepoi dari puncak perbukitan menorah ,
tampaknya merupakan suatu hal yang jarang di temui di kehidupan sehari-hari.
 |
| jadi pingin mandi neh lihat mata air yang jernih ini boys.... |
Sebagi tempat wisata, air terjun ini sendiri belum banyak di
kenal oleh wisatawan. Terlihat dari jumlah pengunjung yang bisa di hitung
dengan jari saat saya berkunjung ke tempat ini. Bisa di katakan tempat wisata
yang satu ini masihlah sangat alami. Sampah pun nyaris tak terlihat di tempat
ini. Walau belum terlalu terkenal , pengelolaan tempat ini pun bisa saya
katakan sudah cukup bagus. Terlihat dari akses jalan yang telah di betonisasi
walupun tidak terlalu lebar. Terus…petunjuk jalan yang bertebaran di sepanjang jalan menuju air terjun yang
memudahkan pengunjung untuk menemukan curug ini. Dan juga pembuatan bendungan
air kolam yang semakin mempercantik air terjun ini.
Untuk fasilitas yang ada disekitar air terjun , masih sangat
minim sekali. Hanya terdapat bangku-bangku beratap terbuat dari kayu dan bamboo
yang tersebar disekitar area wisata. Itupun beberapa sudah mulai rusak. Dan sangat disayangkan sekali tak ada toilet
atau paling tidak ruang ganti bagi pengunjung yang hendak berganti pakaian.
 |
| beberapa fasilitas yang ada...semoga kedepannya lebih maju lagi....amien... |
Tapi bagi saya it,s oke lah…saya tetap enjoy dengan semua
kekurangan ini…Sejenak aku terbawa suasana curug ini yang damai. Semilir angin
yang bertiup dari kolam di depanku , membawa hawa sejuk ke seluruh tubuh. Suara
gemericik air yang jatuh seolah melantunkan melodi yang indah di telinga ini.
Ini benar-benar simponi alam yangmemikat..tapi sayang sekali saya tak bisa
berlama-lama ditempat ini. Karena saya harus melanjutkan perjalanan saya di
kota Purworejo ini. Sekitar pukul 12:30
saya pun meninggalkan air terjun ini dan berjalan kembali ke lokasi parkir.
Kemudian motor kembali saya starter dan perjalanan pun berlanjut…
Kali ini …tujuan berikutnya adalah Goa Spalwan
 |
| ini neh air terjun mini yang pertama....yah oke deh.... |