 |
| curug yang indah kawan... |
Bila saya sebut Kota Temanggung , yang terlintas di benak anda
pertama kali pastilah tembakau berkualitas tinggi. Ini tak mengherankan karena
kota ini sejak dari zaman kolonial memang terkenal sebagai daerah penghasil
tembakau yang berkualitas tinggi. Letak kabupaten yang masih masuk provensi
Jawa Tengah ini berada di kaki gunung Sindoro Sumbing Prahu yang memang cocok
untuk membudidayakan tanaman sejenis Tembakau. Tapi selain terkenal sebagai
penghasil tembakau terbaik , kota ini juga terkenal akan pemandangan alam
pegunungan yang sangat indah. Kontur perbukitan dan jalan yang naik turun
menciptakan tempat tempat menakjubkan seperti Kledung Pass misalnya. Panorama
alam dari daerah ini tidak diragukan lagi keindahannya.
 |
| pemandangan alam daerah Kandangan,Temanggung...indah kannn??? |
Namun , tak banyak yang tahu pula bahwa kontur perbukitan dan
pegunungan dari kabupaten ini juga menghasilkan beberapa air terjun yang sangat
indah dan menakjubkan. Salah satunya adalah air terjun yang berada di barat
laut dari pusat kota temanggung ini. Nama air terjun ini adalah Curug Surodipo.
Wah mendengar namanya aja terasa begitu unik kan kawan?seperti nama seorang
bangsawan jawa gitu...memang tidak salah sih karena penamaan air terjun ini
sendiri erat kaitannya dengan salah satu bangsawan dari keraton yogyakarta yang
juga merupakan pahlawan nasional yang cukup terkenal Pangeran Diponegoro...
Wah tambah menarik saja neh...hehehe
Oke deh...bagi kawan yang penasaran terus aja deh baca artikel
ini sampai selasai..dijamin gak bakalan garing deh...
 |
| Curug Surodipo dan air terjun kecil |
Nah...letak air terjun nan cantik ini berada di Desa Tawangsari ,
Kecamatan Wonoboyo , Kabupaten Temanggung. Kecamatan Wonoboyo sendiri hanya
dapat di akses dari arah timur melalui jalan Raya Parakan-Weleri atau melalui
Kecamatan Kandangan-Jumo. Bagi yang datang dari arah selatan sebaiknya agan
lewat Jalan Raya Parakan-Weleri. Untuk lewat jalan ini agan harus menuju ke Kecamatan
Parakan terlebih dahulu. Parakan sendiri
adalah sebuah daerah yang masih dalam naungan Kabupaten Temanggung dan berjarak
sekitar 15 km dari pusat kota alun-alun Temanggung. Dari Alun-alun kota
Temanggung ini anda harus berkendara sekitar setengah jam ke arah barat.
Bagi kawan yang datang dari arah utara anda bisa mengakses Jalan
Raya Parakan-Weleri melalui kota Weleri. Tapi jika kesulitan , saya sendiri
menyarankan bagi anda semua untuk terlebih dahulu menuju kota Temanggung.
Karena menurut saya pribadi , untuk menuju ke daerah Curug Surodipo berada ;
yaitu Kecamatan Wonoboyo lebih mudah aksesnya lewat Alun-alun kota Temanggung.
Dari alun-alun kota Temanggung , anda bisa lewat Jl.Bulu-Parakan atau
Jl.Ajibarang-Secang. Yang pasti ke dua rute jalan dari alun-alun kota
Temanggung ini sama-sama membawa anda menuju Parakan
Oke...setelah berkendara dari alun-alun kota Temanggung ke
Parakan , anda akan menjumpai Pasar Parakan yang berada di sebuah tikungan
dengan banyak persimpangan yang merupakan pusat dari kota Parakan. Untuk masuk
ke Jl. Parakan-Weleri , dari pasar Parakan ini mengambil ke arah Weleri dengan
melalui Jl. Brigjen Katamso. Jalan ini terletak di kanan jalan setelah tikungan
pertigaan Pasar Parakan. Terus ikuti jalan ini hingga di ujung jalan
Parakan-Weleri anda akan temui pertigaan jalan yang telah masuk di daerah
Ngadirojo dengan sebuah tugu yang berdiri di tengah jalan. Di sini anda harus
belok ke kiri untuk menuju daerah kecamatan Wonoboyo. Di perempatan kedua
setelah pertigaan Ngadirojo , anda harus belok ke kanan mengikuti jalan aspal
yang cukup bagus. Terus ikuti jalan ini dan jangan berbelok kemanapun dan anda
akan sampai di daerah Kecamatan Wonoboyo.
 |
| pemandangan alam dari kecamatan Wonoboyo | | |
Tapi jangan kaget ya brooo kalo jalan menuju Wonoboyo ini
sebagian besar hanya selebar 1 meter lebih dan lebih banyak melewati desa dan
pemukiman penduduk...malah menurut saya sendiri , daripada di sebut sebagai
jalan raya ; jalan menuju Wonoboyo ini lebih tepat disebut sebagai Jalan
Kampung. Cukup membingungkan juga sih bagi yang pertama kali ke sini..untuk itu
agar tidak bingung ; anda cukup berpedoman pada desa-desa yang akan dilalui
dari Ngadirojo sampai Tawangsari , Wonoboyo. Rute ini melewati Desa
Ngadirojo-Desa Gondangwinangun-Desa mangunsari-Desa Candiroto-Desa
Krawitan-Desa Patekan-Desa Kebonsari-Desa Rejosari-Tawangsari. Untuk lebih
jelasnya bisa anda lihat gambar peta yang sengaja ane buat.
|
|
| Peta menuju ke daerah Wonoboyo... |
Sesampai di Desa Tawangsari , anda harus berkendara mengikuti
jalur ke barat desa. Setelah keluar dari desa ini dan melewati sebuah jembatan
kecil , anda akan menjumpai sebuah gapura berada di kanan jalan dengan papan
penunjuk arah menuju Curug Surodipo. Anda pun telah sampai ke pintu gerbang
menuju lokasi air terjun nan cantik ini. Tak ada retribusi resmi untuk masuk ke
lokasi wisata , namun biasanya penduduk Desa Tawangsari sering berjaga di gapura
ini dan meminta pengunjung membayar sejumlah uang untuk sekedar mengisi kas
desa.
 |
| Peta menuju Curug Surodipo dari desa Tawangsari... |
Selanjutnya , perjalanan bisa di lanjutkan dengan jalan kaki atau
berkendara dengan motor dari gapura ini. Bagi anda yang membawa mobil saya
sarankan untuk berjalan kaki karena jalan dan medan yang dilalui menuju tempat
parkir terakhir yang terletak di atas bukit sangatlah terjal. Anda bisa
memparkirkan mobil anda di sebuah lapangan yang terletak tidak jauh dari
gapura. Begitu juga bagi anda yang membawa motor dan berniat meninggalkannya
dibawah , anda pun bisa memparkirkannya di lapangan ini. Biasanya ada petugas parkir
yang berjaga. Tapi ada kalanya tak ada yang berjaga di lapangan ini. Jadi saya
sarankan untuk membawa kunci pengaman tambahan untuk motor atau mobil anda bila
berniat meninggalkannya di sini. Jika anda ingin lebih amannya lagi , anda juga
bisa menitipkan kendaraan yang anda bawa di rumah-rumah penduduk Desa
Tawangsari.
Naaaahhhhh....untuk anda yang membawa motor dan berniat
membawanya sampai tempat parkir , anda pun harus extra hati-hati. Karena
kondisi jalan selepas gapura ini bukan lagi aspal yang halus. Melainkan
berganti dengan batu-batu kecil dan sedang yang ditata disepanjang jalur
menaiki bukit membentuk jalan berbatu yang bisa membuat pantat cukup pegal.
Sebenarnya batu batu ini tertata cukup rapi di sepanjang badan jalan menuju ke
tempat parkir yang terakhir. Cuma karena medan jalan yang menanjak dan di
beberapa titik terdapat tikungan yang cukup tajam cukup membuat jantung
berdegup kencang bagi siapapun yang melewatinya. perasaan was-was?sudah pasti
broooo....hahaha apalagi saat turun...
 |
| tempat paekir yang sederhana... |
Jalan batu ini membelah melewati kebun kopi dan kebun sayur milik
penduduk. Awalnya pemandangannya pun biasa-biasa saja. Tetapi setelah melewati
tanjakan-tanjakan extrem , pemandangan alam dari Desa Tawangsari pun bisa
anda lihat karena jalan batu ini telah sampai di ketinggian yang cukup untuk
melihat pemandangan ke bawah. Dari sini medan jalan kembali datar. Beberapa
saat kemudian jalan batu ini pun membawa anda ke tempat parkir yang terletak di
ketinggian 1125 Mdpl. Di tempat parkir ini telah tersedia bangunan dari kayu
beratap ijuk. Tetapi sama seperti lapangan yang berada di bawah , tak ada
petugas khusus yang menjaga tempat ini. Menurut saya pribadi , tempat parkir
disini pun rawan dengan pencurian karena posisinya yang berada jauh dari
pemukiman maupun lokasi air terjun. Untuk itulah ada baiknya anda menambahkan
kunci tambahan pada motor anda dan jangan meninggalkan barang berharga apapun
di motor. Atau akan lebih baik jika ada salah satu kawan anda yang mau di
tinggal di tempat ini untuk menjaga motor.
 |
| tracking menuju curug... |
Okeee...lanjut ke pembahasan ...Dari area parkir yang terakhir ,
perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki alias tracking...siapkan stamina
dan air minum , karena jalan yang dilalui cukup menanjak. Tapi tenang kawan ,
anda pasti akan senang karena suasana dan pemandangan yang di sajikan di
sepanjang perjalanan bener-bener masih alami. Dari tempat parkir motor kembali
anda harus berjalan menyusuri jalan batu.
 |
| jalan menuju air terjun seperti ini neh brooo... |
.
Kira kira 300 meter dari tempat parkir jalan batu pun berakhir
setelah melewati tikungan jalan. Jalan pun di gantikan dengan jalan setapak dan
cukup melelahkan karena menanjak cukup tajam. Tapi gak lama kok
nanjaknya...karena tak sampai 10 menit , anda pun telah sampai di salah satu
sisi bukit dan dari sini jalan akan terbagi menjadi dua. Ke kanan adalan
turunan jalan yang akan menuntun anda sampai ke bawah air terjun..ke kiri
adalah tanjakan jalan untuk menuju puncak bukit di mana pemandangan Curug Surodipo
bisa di lihat dari kejauhan dari atas bukit.
 |
| pemandangan yang kereeennnn,,,, |
 |
| mulai kelihatan tuh |
Jalan ke kanan merupakan jalan dengan medan menuruni bukit. Jalan
ini telah dibuat anak tangga terbuat dari gundukan tanah yang di tahan oleh
batang bambu ntuk memudahkan pengunjung yang datang. Begitu anda menuruni jalan
ini , pemandangan ngarai dari dua bukit yang mengapitnya terlihat begitu
indahnya dengan jurang yang cukup dalam. Di sela dua bukit inilah mengalir air
sungai bentukan dari air terjun. Tapi tak jarang juga dari atas bukit menyembur
air membentuk air terjun kecil dengan debit air yang kecil. Karena menyembul
dari ketinggian yang cukup tinggi , sehingga terlihat seperti benang putih
kecil mengelantung di antara warna hijau pepohonan....cantik sekali. Dan tak
perlu lama kawan , 5 menit berjalan menuruni jalan setapak ini dan sampai
dibawah lembah ditepi sungai , terlihat air terjun yang di maksud....inilah
Curug Surodipo itu..
Curug ini hanya terlihat sebagian saja karena masih tertutup oleh
bukit. Tapi setelah berjalan mendekat , anda akan melihat bentuk keseluruhan
dari air terjun ini dengan jelas. Curug ini memiliki debit air yang cukup deras
dan tak terpengaruh oleh musim. Karena itulah saat musim kering pun air terjun
ini masih terlihat mengalirkan air dengan cukup deras. Apalagi ketika anda
berjalan mendekat ke bawah air terjun. Air jatuhan dari atas yang berubah
menjadi kabut ini akan langsung membasahi tubuh anda. Terlebih saat arah angin
bertiup ke bawah lembah , di jamin deh...dalam sekejap pakaian yang anda
kenakan akan langsung basah..hehehe...
 |
| suasanacurug Surodipo yang mulai tertutup kabut... |
Dasar dari Curug Surodipo ini sendiri berupa batu batu alam
dengan berbagai bentuk dan ukuran. Jadi buat anda datang ke sini ingin berenang
, jangan harap deh menemukan kolam-kolam untuk melakukannya di
sini...karena landskape dari sungai hasil bentukan dari air terjun ini sendiri
berada di kemiringan bukit sehingga jatuhan air dari curug ini langsung di
alirkan ke bawah lembah melalui sungai. Tapi tenang kawan , anda masih bisa
bermain air di sungai kok...masa iya sih ada yang tidak tertarik dengan
beningnya dan kesejukan air dari curug ini. Tapi saya sendiri menyarankan
kepada anda agar jangan sekali-kali berenang atau bermain air di sungai ini
saat musim hujan. Selain deras , kadang muncul banjir dadakan tak terduga dari
atas air terjun.
Soal suasana dari obyek wisata ini secara keseluruhan bisa saya
katakan "kereeeeennnnn". Tak ada kata lain yang tepat untuk
mengambarkannya. Selain keren , suasana di sekitar air terjun ini juga tenang
dan damai. Tebing setinggi 100 meter-an lebih dimana curug ini terbentuk banyak
di tumbuhi tumbuhan hijau yang menyejukan mata yang melihatnya. Ditambah dengan
formasi ladang penduduk yang menghijau oleh sayuran menghiasi di sekitar bukit
tempat curug ini berada. Semua ini berpadu dengan suara gemuruh air terjun dan
sejuknya angin pegunungan....mantaaappppp....
 |
| gak mendekat ahhh...nek basah nanti...hehehe |
Dan katanya curug Surodipo ini masih memiliki sekitar 5
tingkat air terjun pada aliran sungai selanjutnya dengan jarak antara
15-20 meter antar tingkatan. Tapi entah mata saya yang tidak jeli atau memang tersembunyi
, saya sendiri tak melihat tingkatan air terjun yang lainnya saat ke
sini...hehehe….air terjun utama dari curug ini sendiri memiliki tinggi sekitar
120 meter dari dasar sampai puncak air terjun. Wooowww....tinggi juga kan
guys...berada pada ketinggian 1200 Mdpl , curug ini terbentuk dari pertemuan 2
bukit dengan tebing yang membentuk letter u sehingga tersembunyi dari dunia
luar. Di sebut juga dengan nama Curug Trocoh yang berasal dari kosakata bahasa
Jawa "Trocoh" yang bila di artikan dalam bahasa Indonesia berarti
"Bocor". Tapi penggunaan kata Trocoh dalam Bahasa Jawa sendiri lebih
sering digunakan pada atap atau genting yang "Bocor". Hal ini sesuai
dengan karakteristik dari curug ini yang seperti terbentuk dari Trocph-an atau
bocoran dari atas tebing yang tinggi.
 |
| dari atas bukit neeehhhh.... |
Setelah puas menikmati suasana dan bermain air di bawah curug ini
, jangan tergesa-gesa untuk pulang kawan. Karena anda bisa mengganti suasana
dengan menikmati pemandangan Curug Surodipo ini dari atas bukit. Untuk mencapai
puncak bukit yang saya maksud ini , anda harus berjalan menuju pertigaan jalan
setapak yang berada di atas sungai. Sampai ke pertigaan ini , anda harus belok
ke kanan menyusuri jalan setapak yang membelah padang ilalang. Hanya butuh 10
menit saja dan anda pun akan sampai di puncak bukit Di sebelah barat dari
puncak ini terlihatlah pemandangan Curug Surodipo dari kejauhan lengkap dengan
aliran sungainya. Airnya yang deras seperti mengucur dari atas tebing dan jatuh
menimpa batu-batu dibawah lembah membentuk sungai yang sangat deras aliran
airnya. Dari puncak bukit ini pula tebing yang menjulang tinggi ini terlihat
begitu indah dengan lekukan-lekukan dan puncaknya. Ladang penduduk terlihat
seperti guratan-guratan garis-garis yang teratur membentuk suatu pola yang unik.
 |
| pemandangan alam dari Desa Tawangsari... |
Dari puncak bukit ini pula , tersaji pemandangan lepas ke arah
timur. Jajaran perbukitan dan pepohonan yang menghiasinya terlihat menghampar
bersatu dengan awan dan birunya langit. Barisan ladang dari penduduk yang di
tanami aneka sayuran tak lupa meramaikan suasana. Kadang-kadang pula , angin
sejuk bertiup membawa kesegaran. Suasana yang benar-benar jarang di temui di
perkotaan...sungguh kawan ...puncak bukit ini adalah spot yang nyaman untuk
dijadikan tempat nongkrong bersama teman anda. Saat saya tiba di puncak bukit
ini , sempat pula terbersit sebuah pikiran untuk camping di atas bukit ini dan
merasakan suasana pagi dari tempat ini...yaaahhh....mungkin suatu saat
nanti kawan...:-)
 |
| sungai hasil bentukan dari curug... |
Benar-bebar obyek wisata yang menarik...sayang sekali
penggembangan dari obyek wisata ini masihlah sanggat minim. Kurang perhatiannya
pemerintah daerah Temanggung...dan juga kurang sadarnya penduduk Desa
Tawangsari akan manfaat wisata tampaknya menjadi kendala bagi Curug Surodipo
ini untukberkembang dan di kenal sebagai mana Curug Lawe dan Benowo dari
ungaran , atau Grojogan sewu di Tawangmangu...tapi sisi baiknya adalah tetep
terjaganya kealamian dari tempat ini hingga sekarang...bahkan saking
alaminya , jumlah sampah yang ada di
obyek wisata bisa di hitung dengan jari. Bener-bener siiipppp dehhh….semoga
saja kealamian dan keindahan dari Curug Surodipo ini akan tetap terjaga seiring
bertambahnya zaman....
SEPENGGAL KISAH DARI "SURODIPO"
Nama Surodipo sangat erat kaitannya dengan Pangeran Diponegoro.
Surodipo adalah salah satu pengikut setia Pangeran Diponegoro. Ia pernah
dipercaya sebagai panglima perang saat melawan tentara belanda (1825-1830).
Saat pecah perang Jawa , Surodipo pergi mengungsi ke daerah Wonoboyo. Di Desa Tawangsari
inilah Surodipo membangun benteng pertahanannya. Dan Di tempat ini pula,
Pangeran Diponegoro mengumpulkan para panglima perang dan pengikutnya untuk
menyusun siasat perang gerilya yang sangat melegenda itu.
 |
| petilasan ki Surodipo....WATU GODHEG |
Surodipo mengalami beberapa kali pergantian nama dalam perjalanan
hidupnya, hanya saja karena beliau bukan dari kalangan keluarga bangsawan
utama, namanya hampir tidak tercatat dalam babad yang ditulis oleh sastrawan
pada waktu itu. Kalaupun ada yang mencatat namanya hanyalah saat beliau
memegang jabatan tertinggi di kraton Ngayogyakarta, itupun tidak menjelaskan
latar belakang Surodipo secara rinci.
Riwayat Surodipo justru ditemukan dalam babad (biografi) yang
ditulis oleh Pangeran Diponegoro saat beliau berada dalam pengasingan di
Menado. Kisah dalam biografi tersebut menggambarkan kedekatan yang sangat
mendalam antara Pangeran Diponegoro dengan Surodipo, bahkan beberapa hal yang
paling rahasiapun dibeberkan secara gamblang. Nama-nama yang pernah digunakan
Surodipo adalah sebagai berikut :
1.
Raden Joyosentiko, nama ini dipakai ketika masih menjadi abdi
kepercayaan Pangeran Adipati Anom (ayahanda Pangeran Diponegoro, kelak HB III).
2.
Tumenggung Sumodipuro, nama ini dipakai ketika menjabat Bupati
Japan (Mojokerto). Beliau memperoleh kepercayaan menjadi bupati karena
jasa-jasanya ketika muncul pemberontakan Sepoy, dan juga karena jasanya dalam
proses pergantian pucuk kekuasaan dari HB II kepada HB III.
3.
Raden Adipati Danurejo IV (Patih Danurejo IV), nama jabatan
tertinggi yang dicapai dalam karir politik Surodipo. Pengangkatan dalam jabatan
ini diraih karena usul John Crawfurd (Residen Yogyakarta) dan didukung oleh
Pangeran Diponegoro. Beliau memegang jabatan ini dalam kurun waktu lebih dari
30 tahun (1813-1847), adalah waktu yang sangat lama untuk jabatan politik
kenegaraan.
4.
Pangeran Kusumoyudo, nama kehormatan anugerah dari pemerintah
Hindia Belanda sebagai penghargaan atas prestasi dan jasa-jasa Patih Danurejo
IV selama menjalankan tugasnya. Penghargaan tersebut diberikan saat
dilaksanakan acara serah terima jabatan (purna tugas) Patih Danurejo IV. Selanjutnya
jabatan Patih Ngayogyakarta digantikan Tumenggung Gandakusuma dengan memakai
nama jabatan Raden Adipati Danurejo V (Patih Danurejo V)
5.
Surodipo, nama yang dipakai setelah terbebas dari urusan
pemerintahan dan menjadi rakyat biasa yang berbaur di tengah-tengah masyarakat.
Pada jamannya dulu nama yang satu ini sangat populer di kalangan
masyarakat jawa. Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, Surodipo
sering berpindah-pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
Pergaulan Surodipo sangat luas di kalangan masyarakat bawah,
tetapi hampir tidak ada yang mengetahui Surodipo adalah mantan penguasa
tertinggi dalam pemerintahan di Kasultanan Yogyakarta, karena Surodipo sendiri
tidak pernah menceritakan masalah tersebut kepada orang lain.
Berdasarkan beberapa bukti sejarah dan cerita tutur dari para
keturunannya yang tersebar di berbagai tempat, ada dugaan kuat Surodipo
menghabiskan masa akhir hidupnya di kawasan Gunung Prahu Kabupaten Temanggung.
Di kawasan ini beliau mendirikan pesantren untuk menyebarkan agama Islam. Untuk
mengenang kesejarahan Surodipo, Pemerintah Kabupaten Temanggung mengabadikan
nama Surodipo sebagai nama tempat obyek wisata air terjun yang semula bernama
Curug Trocoh menjadi Curug Surodipo.
 |
| terlindung oleh dinding neh curug |