Tampilkan postingan dengan label air terjun tirtosari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air terjun tirtosari. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 30, 2016

Telaga Sarangan , Danau Indah Pengukir Kenangan


dinginnya pagi di telaga sarangan...
Sebenarnya saya telah sering ke tempat ini ; tapi saya sendiri merasa tak bosan dan masih ingin ke tempat ini. Telaga Sarangan...bagi saya pribadi tempat ini membuat kenangan sendiri tiap kali saya berkunjung ke tempat ini. Selain indah , tempat ini juga memiliki suasana dan nuansa yang membuat siapa pun ingin kembali ke tempat ini. Nuansa sebuah danau alam yang berada di kaki pegunungan.
Danau nan mempesona ini berada di kaki Gunung Lawu sebelah barat. Posisi pastinya berada diKecamatan Plaosan , Kabupaten Magetan , Provensi Jawa Timur. Letaknya yang berada tidak jauh dari jalan raya membuat akses menuju telaga ini tidaklah terlalu sulit. Dari Kota Magetan pengunjung bisa menempuh  jalan ke arah selatan sejauh kurang lebih 16 km melalui jalan pegunungan yang berkelok dan naik turun...soal pemandangan? Jangan tanya lagi bro...kerennnn pake + + +....hehehe..Di sepanjang jalan dari pusat kota Magetan menuju Telaga Sarangan, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang indah. Di kanan-kiri jalan terlihat hamparan sawah dan ladang penduduk. Jalannya berkelok-kelok dan naik.

Telaga Sarangan dari Pos 5 Gunung Lawu
Namun Anda tak perlu khawatir, karena keadaan jalannya cukup baik, tidak rusak dan bergelombang. Tapi Anda juga harus tetap berhati-hati, karena terkadang ada kendaraan yang tidak kuat naik, sehingga mogok di tengah jalan.
Opsi lainnya , pengunjung juga bisa lewat rute dari arah barat melalui kabupaten Karanganyar yang lebih dekat. Gampang kok...dari kota solo , pengunjung harus berkendara menuju ke arah wisata grojogan Sewu di Kecamatan Tawangmangu yang telah di kenal banyak orang. Wisata air terjun ini terletak di Kabupaten Karanganyar. Hanya berjarak sekitar 40 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dari kota solo. Dari Grojogan Tawangmangu ini pengunjung harus mengambil ke arah Telaga Sarangan , Kabupaten Magetan yang terletak 20 km dari Grojogan Sewu Tawangmangu. Karena jalan menuju Telaga Sarangan ini melewati kaki gunung Lawu , so...jangan kaget ya kalau jalan yang di lewati sebagian besar tanjakan dan berkelok cukup tajam dibeberapa tempat. Untuk itu , ada baiknya juga anda memeriksa kondisi kendaraan anda sebelum berangkat. Tapi saya jamin anda bakalan berdecak kagum dengan pemandangan yang akan anda lihat di sepanjang jalan dari Tawangmangu menuju Telaga Sarangan ini. Deretan lembah dan perbukitan yang dipenuhi oleh pohon-pohon tinggi dan besar. Ada juga pemandangan kebun dan ladang sayur yang ditanam di kemiringan bukit. Terlihat rapi dan indah brooo... Terlebih jika malam tiba gemerlap pemandangan lampu perkotaan terlihat dikejauhan disepanjang jalan menuju Telaga Sarangan ini.

berpelukan...hahaha
Dalam perjalanan menuju Telaga Sarangan , anda juga akan melewati dua buah tempat wisata yang merupakan titik tertinggi dari jalan di perbukitan gunung Lawu ini. Tempat ini adalah Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu. Kedua wana wisata yang memperlihatkan kerimbunan dan keindahan hutan cemara di gunung Lawu ini sama-sama merupakan Basecamp dari pendakian ke puncak Gunung Lawu. Kedua tempat ini juga merupakan penanda dari perbatasan provensi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cemoro Kandang berada diwilayah Jawa Tengah dan Cemoro Sewu berada di wilayah Jawa Timur hanya berjarak sekitar 1 km. Dari kedua tempat wisata ini , Telaga Sarangan sudahlah sangat dekat. Anda cuma perlu berkendara ke arah timur melewati jalan yang mulai menurun. Sekitar 3 km anda akan menemukan pertigaan jalan. Untuk menuju Telaga Sarangan anda harus belok ke kanan mengikuti turunan jalan yang cukup tajam. Tidak berapa lama dari pertigaan anda akan di sambut oleh beberapa penginapan yang berada di kanan dan kiri jalan. Di kejauhan , tepatnya di kanan jalan sebuah danau dengan warna biru kehijau-hijauan terlihat dibawah lembah. Inilah dia kawan...Telaga Sarangan atau dikenal juga dengan nama Telaga Pasir.
menikmati pagi di pinggir danau...tuh lihat....puncak gunung Lawu pun terlihat jelas...
Pintu masuk obyek wisata ini terletak tidak jauh dari turunan jalan. Tiket masuknya pun cukup murah lho...cuma membayar antara Rp. 6000 sampai Rp. 10000 perorang(tergantung hari broo...kalau hari libur biasanya harga tiket masuk naik beberapa persen) dan anda pun telah dapat masuk ke obyek wisata yang elok ini. Melewati jalan masuk ke obyek ini pengunjung akan disambut oleh deretan bangunan beraneja ragam yang merupakan penginapan dan hotel. Di ujung jalan terlihatlah riak air biru kehijauan menghampar di depan mata seolah mengajak pengunjung untuk bermain air bersamanya...kereeennn kawan...seolah kita berada di negeri antah berantah....jujur...saya sendiri begitu melihat pemandangan di telega ini untuk pertama kalinya langsung jatuh cinta dan berikrar untuk kembali ke tempat ini suatu saat nanti....hehehe
Telaga ini secara adminstratif berada di Kelurahan Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Memiliki luas total 30 hektar dengan kedalaman mencapai 30 meter. 

di sisi sebelah utara...
Berada di lereng Gunung lawu pada ketinggian sekitar 1000 meter dari permukaan laut , menjadikan tempat ini memiliki hawa yang sejuk antara 18-23 derajad celcius. Sehingga jangan di tanya deh dinginnya tempat ini saat sore hingga pagi. Terlebih saat kabut turun dari puncak gunung. Saking dinginnya , air pun terasa seperti es bila bersentuhan dengan kulit manusia. Meski kalau malam cenderung dingin , tapi kalau waktu pagi dan siang ; tempat ini memiliki udara yang sejuk dan segar. Suasana pun kalau boleh saya bilang , dapet bangetttt deh...sungguh tenang rasanya duduk di pinggir telaga yang tenang ditemani sepoi angin gunung yang lembut. Si sisi tenggara dan selatan terlihat pemandangan hijau pegunungan Sidoramping yang penuh dengan pepohonan. Bahkan puncak Gunung Lawu pun terlihat jelas lengkap dengan lekukan lembahnya jika anda memandang ke arah Selatan dari sisi timur dari telaga Sarangan. Terlihat begitu dekat seakan tangan ini bisa menjangkaunya. Di sisi sebelah barat dari telaga ini juga masih terdapat hutan pinus yang masih alami dan rimbun. Kawasan hutan ini juga di jadikan sebagai bumi perkemahan Telaga Sarangan. Di bumi perkemahan ini tersedia Camp Ground yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Dan 1 hal yang menarik yang mungkin bisa menjadi hiburan bagi pengunjung adalah keberadaan kawanan kera liar di sekitar hutan pinus ini.
neh  kenalin neh...salah satu kera penghuni telaga sarangan....
Di kala suasana sepi , seperti saat pagi ; kera-kera ini kerap turun dari atas pohon untuk mencari makan dan minum di sekitaran telaga. Sebuah pulau kecil terdapat di tengah telaga. Pulau ini di percaya oleh penduduk setempat sebagai tempat bersemayamnya roh leluhur pencipta Telaga Sarangan, yaitu Kyai Pasir dan Nyai pasir. Tak ada yang tahu kondisi pulau ini karena pulau ini memang tak di buka untuk umum. Tapi beberapa kali saya berkunjung ke Telaga ini , beberapa kali saya melihat beberapa burung hinggap di pulau ini. Tampaknya rimbunnya pepohonan di pulau kecil ini di manfaatkan oleh beberapa unggas untuk bersarang.
pemandangan telaga dari sisi sebelah barat...
Terus  apa saja sih yang bisa dilakukan di obyek wisata ini??? Banyak kawan...
Sebagai obyek wisata andalan dari Kabupaten Magetan , Telaga Sarangan memiliki berbagai fasilitas yang cukup menarik untuk di coba. Anda bisa mencoba untuk naik Speed Boot untuk merasakan sensasi berkeliling telaga ini menggunakan kapal Super cepat. Di jamin adrenalin anda bakal meningkat. Karena saat melaju kencang di atas air badan kapal seolah terbang dan menghempas permukaan air telaga. Percikan air pun kadang menggenai wajah dan tubuh anda. Benar-benar menegangkan....untuk naik Speed Boat ini anda cuma perlu membayar antara Rp 40.000-60.000 untuk sekali putaran dengan kapasitas 6 orang untuk 1 kapal. Jadi bila anda naik bersama 5 teman anda cuma perlu membayar patungan sebesar Rp 10.000 untuk tiap orang...hehe cukup murah kan. Kalau satu putaran dirasa terlalu singkat , anda dapat mencoba paket 3 kali putaran dengan tarif sekitar Rp 150.000.

nah...gak lengkap juga neh kalo belum coba sensasi naik speed boat di telaga ini...hehehe
Nah bagi anda yang kurang suka menantang adrenalin , anda pun bisa naik becak air yang berbentuk bebek atau angsa. Laju becak air ini cukup lamban meskipun telah di gerakan oleh mesin jadi cocok bagi anda yang ingin menikmati suasana air di telaga ini lebih lama. Untuk ongkos naik becak air ini di patok harga antara Rp 30.000-50.000 dengan kapasitas 2 orang untuk 1 becak air.
Bagi anda yang takut atau sungkan bermain air di danau ini , anda masih bisa kok bermain di sekitaran telaga. Ada banyak hal yang bisa anda lakukan di sini. Semisal sekedar berjalan mengitari pinggiran telaga dengan jarak tempuh sekitar 1,5 km. Tersedia jalan yang cukup lebar di semua pinggir telaga ini. Jalan ini juga cocok untuk di jadikan track Jogging bagi anda yang suka berolah raga. Jika tak ingin lelah , anda pun bisa memanfaatkan jasa penyewaan kuda untuk mengitari telaga ini. Cukup asyik juga kan menunggang kuda bergaya ala koboi melewati pinggiran danau dibawah pegunungan...hehe...lagi pula harga yang di patok pun gak terlalu mahal kok...hanya Rp 50.000 satu kali putaran. Tentunya jika anda mau pun bisa mengendarai kuda mengelilingi telaga ini dengan pelan sehingga anda bisa lebih puas menikmati telaga ini...
Pastinya semua aktivitas ini pasti membuat perut menjadi lapar kan brayy...relax...di sekeliling pinggir danau ini banyak penjual makanan dan minuman yang sanggup menggugah selera. Salah satu menu yang menjadi andalan dan di sebut makanan khas dari tempat ini adalah Sate Kelinci.
gak lengkap juga kalau belum nyicipin sate kelinci....
Makanan berbahan dasar hewan kelinci ini terlihat menarik untuk dicoba. Potongan daging kelinci yang ditusuk batang bambu dibakar dan diberi bumbu kacang yang kental. Kemudian disajikan bersama irisan nasi Lontong yang legit. Hmmm...kebayang kan kawan nikmatnya....biasanya 1 porsi sate kelinci berisi 10 tusuk sate dengan harga Rp 15000. Bila pembeli menghendaki di tambah lontong , pembeli cuma harus tambah Rp 5.000. Cukup terjangkau bukan....biasanya pula para penjual sate kelinci ini juga menyediakan menu Sate Ayam sebagai alternatif lain bila tak suka pada Sate Kelinci...harganya pun cukup murah kok...cuma Rp.10.000 untuk satu porsi...
Dan bila anda tanya apa yang paling berkesan dari Telaga Sarangan ini...saya akan menjawab "Suasana Malam dan Pagi Hari" di telaga ini. Pertama kali saya ke tempat ini , malamnya saya coba keluar sekedar nongkrong di tepi telaga. Wuihhh brooo...kemerlap bintang di langit terlihat bertebaran di langit. Di tambah temaram cahaya lampu penerang jalan yang berwarna kekuningan membuat hati ini benar-benar damai. Memang dingin sih kalo malam...tapi di temani semangkuk wedang Ronde dan sepiring sate kelinci membuat hangat badan dan lengkap semuanya....paginya setelah subuh...saya pun mengajak kawan saya untuk sekedar jalan-jalan mengelilingi telaga...suasana pagi yang masih sepi dan segar...kemudian sunrise yang muncul membiaskan warna kuning di sekitaran telaga...benar-benar indah kawan..
Tentunya anda cuma bisa merasakan pengalaman seperti saya di atas bila menginap 1 malam saja di obyek wisata ini. Jangan bingung kawan , seperti yang saya katakan sebelumnya , di sekitar Telaga Sarangan ini banyak penginapan dengan kelas dan harga bervareasi. Mulai kelas melati sampai kelas bintang ada semua kok. Mulai dari yang berharga Rp 50.000 semalam sampai yang berharga Rp 500.000 semalam ada brooo...anda mau hemat bisa , anda mau bermewah pun bisa...biasanya sih penginapan yang berada di pinggir danau persis memiliki harga yang cukup mahal , yaitu antara Rp 300.000-Rp 500.000. penginapan yang agak jauh dari Telaga rata-rata memiliki tarif antara Rp 50.000-Rp 250.000 permalam. Tentu saja semua harga penginapan di sini di pengaruhi juga oleh hari libur selain dipengaruhi oleh posisi penginapan....yah saran saya sih...cobalah menginap 1 malam saja...hehehe
malam pun oke buat foto....
Nahhh...bagi yang ingin membawa cindera tangan atau oleh-oleh bahasa kerennya , tak perlu pergi jauh-jauh brooo...tak jauh dari loket pembelian karcis masuk wisata , berderet pedagang  pedagang yang menjual segala pernak-pernik yang berhubungan dengan Telaga Sarangan. Mulai dari kaos sampai pulpen dengan branding Telaga Sarangan bisa anda dapatkan di pasar ini. Bagi yang mau membeli makanan khas sebagai oleh-oleh pun ada. Banyak yang jual dengan harga vareatif. Kalau anda pintar menawar pun , harga-harga yang anda dapat tentu saja bisa lebih murah....hehehe.

AIR TERJUN TIRTOSARI


air terjun Tirtosari...
Satu yang tidak boleh anda lewatkan bagi anda yang berkunjung ke Telaga Sarangan adalah mengunjungi sebuah air terjun yang letaknya tidak jauh dari lokasi Telaga Sarangan. Air terjun ini bernama Air Terjun Tirtosari. Pintu masuk air terjun ini terdapat di sebelah barat telaga, ditandai dengan patung pesawat di bagian depannya. Di sini terdapat  gapura dan  loket untuk membeli tiket. Cukup membayar Rp 8.000 per-orang anda sudah dapat menikmati keindahan air terjun ini.
Tapi untuk menuju air terjun ini anda harus menempuh perjalanan melewati pedesaan sejauh kira-kira 1 km dari gapura pintu masuk. Kondisi jalan beraspal cukup bagus dan lebar. Anda bisa menggunakan kendaraan untuk menuju ke air terjun ini. Tapi saya pribadi menyarankan kepada anda untuk berjalan kaki dari Telaga Sarangan menuju ke air terjun ini. Memang cukup jauh sih...tapi anda akan lebih bisa menikmati alam pedesaan yang luar biasa indah disepanjang perjalanan menuju air terjun. Pemandangan pegunungan ala pegunungan mediterania akan terlihat ketika anda treking menuju air terjun ini. Terlebih bila anda datang saat pagi hari , suasananya benar-benar sempurna kawan. Perjalanan yang panjang pun terasa berkesan...
Bagi anda yang membawa kendaraan , anda hanya bisa membawa kendaraan sampai tempat parkir air terjun ini. Setelah itu mau tak mau anda tetap harus jalan kaki melewati jalan yang naik turun. Meski memang cukup melelahkan terlebih bagi anda yang tak terbiasa berjalan kaki , namun anda pasti suka banget dengan jalan menuju air terjun ini. Soalnya pemandangan yang akan anda lihat di sepanjang jalan menuju air terjun ini benar-benar tak bisa di lupakan. Alam yang elok sungai yang deras dan bersih , gubuk di tengah ladang dengan latar birunya langit atau pemandangan dari atas bukit...I say "it's very INSTAGRAMABLE!!!"...

salah satu spot pemandangan di atas bukit...
Awalnya anda akan melewati jalan setapak yang membelah ladang penduduk. Kemudian Mendekati lokasi air terjun ini anda akan melewati ladang penduduk dan beberapa saluran irigasi dengan aliran air yang deras. Setelahnya anda akan di paksa menyebrangi sungai yang cukup lebar melalui sebuah jembatan yang terbuat dari bambu...kemudian jalan pun mulai menanjak dan tak berapa lama Air terjun yang di maksud pun terlihat di depan mata...
Air Terjun Tirtosari terletak di Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 50 meter dan berada di ketinggian 1200 meter dari permukaan laut. Untuk mendekat ke bawah air terjun telah di buat undakan terbuat dari beton. Cuman karena kemiringan undakan dari beton ini cukup tajam , akan terasa cukup capek untuk menaikinya bagi yang tak terbiasa berjalan. Air terjun ini mengalir dari atas tebing dan jatuh membentuk aliran air yang menyebar hingga sampai di bawah air terjun. Dan karena letaknya yang berada di cekungan lembah , air terjun ini jarang sekali tersentuh oleh matahari sehingga suasana di sekitar air terjun terasa lembab. Hanya saat siang saja sinar matahari dapat mencapai air terjun ini.

itu pelanginya asli lhoooo....
Dan dimoment ini , biasanya terlihat bias pelangi muncul dibawah air terjun ini….cantik meeennnn....
Dibawah air terjun terdapat banyak batu-batuan dan terdapat kolam kecil dengan air yang benar-benar bening dan jernih. Pengunjung biasanya memanfaatkan kolam ini untuk mandi atau sekedar membasuh wajah. Tapi jangan kecewa ya kawan , karena jika kealamian sebuah air terjun yang anda cari , jangan berharap deh menemukannya disini. Karena setelah kolam kecil dibawah air terjun ini telah dibangun saluran-saluran air irigasi yang terbuat dari beton. Pembangunan saluran irigasi ini memang menimbulkan kesan air jatuh yang bertingkat tetapi sayang mengurangi kealamian dari obyek wisata ini sendiri.
air terjun yang unik
Tapi hal ini jugalah yang membuat keunikan air terjun ini yang tak ditemui di air terjun lainnya. Karena anda tak akan menemui sebuah air terjun dengan sebuah aliran irigasi yang telah tertata dengan apik dan rapi di bawahnya selain di air terjun ini….
Yang jelas keberadaan air terjun ini selain bermanfaat untuk pengairan sawah dan ladang penduduk juga ikut mengangkat perekonomian warga setempat. Ini terlihat dengan banyaknya penjual makanan yang mendirikan lapak mereka di sekitaran air terjun ini. Walaupun memang kebanyakan berjualan sate kelinci sihhh….heheheeh….tapi itu cukup membuktikan bahwa sebuah obyek pariwisata mampu mengubah wajah suatu daerah menjadi lebih hidup dan maju…setuju kawan
Mengunjungi Telaga Sarangan dan Air terjun Tirtosari merupakan pengalaman yang tak terlupakan. Saat pertama kali bersama 1 kawan…kedua kali bersama banyak teman…ketiga kali bersama anak istri…kenangan itu tak kan terlupa kawan. Tentunya banyak bicara tak akan merasakan apapun…untuk itulah kunjungi tempat ini dan buatlah kenangan untuk anda sendiri kawan….hehehe   :)


ASAL – USUL   TELAGA SARANGAN
Tersebutlah sepasang suami istri yang hidup di kaki Gunung Lawu bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Pasangan ini bertahun-tahun hidup berdampingan tetapi belum dikaruniai seorang anak pun. Terasa sepi hidup pasangan suami istri ini karena mendambakan kehadiran seorang anak. Mereka pun tak berputus asa. Kyai dan Nyai Pasir kemudian bertapa dan bersemedi memohon kepada Sang Hyang Widhi agar di anugrahkan seorang anak, Pasangan ini kemudian mendapat petunjuk akan memiliki seorang anak. Dan tak berapa lama Nyi Pasir pun mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat setelah genap usia kandungannya.anak ini kemudian di beri nama Joko Lelung.
full view of Telaga Sarangan
Betapa bahagianya pasangan suami istri ini. Mereka pun membesarkan anak ini dan melalui hari-hari mereka dengan bahagia. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, sehari-hari mereka bercocok tanam dan berburu. Hari – hari terus berlalu…Joko Lelung telah tumbuh menjadi remaja sementara Kyai Pasir dan Nyai Pasir semakin tua. Tubuh tua Kyai dan Nyai pasir sering sakit-sakitan dan lemah. Bahkan untuk bekerja ke ladang dan berburu mereka berdua jarang melakukannya. Tugas ini pun akhirnya di ambil alih oleh Joko Lelung sebagai anak satu satunya walau terkadang kyai Pasir dan Nyai Pasir terkadang masih membantu pekerjaan yang berat ini.
Tak kuasa melihat anak mereka berkerja membanting tulang setiap hari di ladang dan di hutan , Kyai Pasir dan Nyai Pasir pun merasa sedih dan meratapi kondisi tubuh tuanya yang mulai melemah. Mereka pun kembali bertapa dan bersemedi untuk memohon kesehatan , tubuh kuat dan panjang umur kepada Sang Hyang Widhi. Dalam semedinya kali itu, pasangan suami tersebut mendapatkan wasiat agar keinginannya bisa terwujud, pasangan ini harus dapat menemukan dan memakan telur yang berada didekat ladang mereka. Mereka pun lalu pergi mencari keberadaan telur ini dan akhirnya
selalu ke monumen ini tiap kali ke sini....
menemukannya. Tanpa ragu telur ini kemudian di bawa pulang kemudian di masak hingga matang. Lalu telur yang sudah matang itu dibagi untuk keduanya . setelah memakannya pasangan itu merasa tubuh mereka terasa segar dan sehat. Tak di duga kasiat telur ini benar – benar ajaib…Kyai Pasir dan Nyai Pasir pun terus pergi ke ladang untuk membantu pekerjaan anak mereka karena merasa sudah sehat. Baru bekerja berapa menit , kedua pasangan itu merasa keganjilan terjadi pada tubuh mereka. Mereka berdua merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya. Mereka berdua pun mengaruk tubuh mereka tapi rasa gatal itu tak kunjung hilang juga. Pasangan suami itu terus menggaruk tubuhnya yang terasa gatal hingga menimbulkan luka lecet di seluruh tubuh mereka. Dari luka ini keluar darah yang kemudian berubah menjadi sisik yang menutupi seluruh tubuh mereka. Dan tanpa di duga , lama kelamaan keduanya berubah menjadi ular naga yang sangat besar.
Lalu kedua ular jelmaan kyai Pasir dan Nyai Pasir tersebut berguling-guling di pasir sehingga menimbulkan cekungan yang kemudian mengeluarkan air yang sangat deras dan menggenangi cekungan yang di buat oleh ular naga tersebut membentuk sebuah telaga. Beberapa tetangga Kyai Pasir dan Nyai Pasir yang melihat pasangan ini berubah menjadi ular naga yang menakutkan segera lari ketakutan dan menceritakan kejadian ini pada penduduk lainnya. Karena di dorong oleh rasa takut , penduduk pun beramai ramai mendatangi ladang kyai Pasir dan Nyai Pasir untuk membunuh kedua naga ini. Tapi tak ada satu pun penduduk yang berhasil melukai kedua naga ini.
Malah serangan penduduk ini membuat murka kedua naga jelmaan Kyai Pasir dan Nyai Pasir ini yang saat itu merasa menyesal dan sedih atas kejadian yang menimpa mereka. Kemurkaan pasangan ini sampai pada titik dimana mereka berniat untuk membuat cekungan yang banyak untuk menciptakan telaga lain guna menenggelamkan Gunung Lawu beserta semua penghuninya.
termenung di pinggir telaga...
Sementara itu ditempat lain Joko Lelung yang kebingungan mencari-cari kedua orang tuanya menerima laporan dari penduduk bahwa kedua orang tuanya telah berubah menjadi ular naga dan berniat jahat menengelamkan seluruh gunung Lawu.  Merasa tak menemuka solusi yang tepat atas apa yang terjadi pada orang tuanya , kemudian ia pun bertapa dan bersemedi memohon agar niat kedua orang tuanya tersebut dapat digagalkan, dan semedi Joko Lelung pun diterima oleh Hyang Widhi. Saat keduan orang tuanya sedang berguling-guling membuat cekungan baru, lalu timbul wahyu kesadaran agar Kyai dan Nyai Pasir mengurungkan niat mereka untuk menenggelamkan Gunung Lawu.
Kyai Pasir dan Nyai Pasir teringat pada anak mereka , Joko Lelung. Pasangan naga ini pun sadar jika mereka menenggelamkan seluruh Gunung Lawu , anak semata wayang mereka pun akan ikut terkena dampaknya. Sesaat kemudian Joko Lelung pun mendatangi kedua orang tuanya yang telah berubah menjadi naga. Tak terasa tetes air mata mengalir dari orang tua dan anak ini. Dan karena merasa sudah tidak mungkin bersama dengan anak kesayangan mereka , kedua naga jelmaan Kyai Pasir dan Nyai Pasir ini memutuskan untuk tinggal dan menjaga di telaga yang telah mereka ciptakan. Tak ada satupun warga yang berani mengusik kedua naga ini dan dari nama kedua pasangan inilah telaga ini kemudian di kenal sebagai Telaga Pasir. Karena telaga ini terletak di Kelurahan Sarangan , kini telaga ini lebih di kenal dengan nama Telaga Sarangan.