Tampilkan postingan dengan label pendakian gunung lawu cemoro sewu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendakian gunung lawu cemoro sewu. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 02, 2011

LAWU , THE 3rd JOURNEY ; Keindahan Di balik Sebuah Misteri



Secara geografis Gunung  Lawu terletak di posisi kordinat 111°11'39" LS 07°37'37" BT. Secara Administratif  terletak diperbatasan Propensi Jawa Tengah dan Propensi Jawa Timur. Tepatnya di Kabupaten Karang Anyar , Kabupaten Wonogiri, dan Kabupaten magetan. Gunung ini memiliki tipe gunung stratovolcano atau gunung aktif yang tertidur. memiliki ketinggian 3265 MdpL, Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit,hutan Dipterokarp Atashutan Montane, dan hutan Ericaceous.. Sebagai salah satu gunung dijawa yang dianggap misterius gunung lawu memiliki banyak cerita legenda dan tempat - tempat yang keramat. Karena Gunung ini memang menjadi pusat spiritualisme di pulau jawa. Banyak orang - orang yang sengaja mendaki kepuncaknya untuk melakukan ritual - ritual khusus atau sekedar mengalap berkah. Terutama pada Tahun Baru jawa 1 suro , Puluhan peziarah berasal dari berbagai daerah , datang kesini untuk mendaki ke puncak. mulai tua sampai muda , berpangkat atau orang biasa , bahkan yang sudah menjadi  kakek atau nenek pun tak ketinggalan meramaikan agenda tahunan di Gunung Lawu ini.


nenek pun ikut mendaki
Dibalik sisi misteriusnya , gunung ini memiliki keindahan dan keunikannya tersendiri. Karena anda tak kan menemui gunung lain yang berketinggian 3000-an ditanah jawa selain gunung lawu yang dipuncaknya ada penjaja makanan dan minuman. Atau jalur pendakian yang telah tertata rapi dari basecamp menuju kepuncaknya.


Untuk mendaki ke Gunung ini dapat dilalui melalui 2 jalur utama, yaitu Jalur Cemorosewu yang berada di Magetan dan Jalur Cemoro Kandang yang berada di Karanganyar. Antara kedua jalur ini hanya terpisah jarak sekitar 200 meter. Namun kedua jalur ini memiliki keuntungan dan kekurangannya masing - masing. Jalur Cemoro Sewu memiliki keunggulan lebih pendek dan lebih cepat serta jalur yang berundak tertata rapi oleh batu - batuan alam mulai dari basecamp sampai Sendang Drajad. Tapi kekurangan jalur ini jalurnya yang  menanjak terus sampai pos 5 sehingga banyak menguras tenaga....
Berbeda dengan Jalur Cemoro Sewu , Jalur Cemoro Kandang relatif lebih landai dan teduh.karena banyaknya tumbuhan tinggi yang menaungi di sepanjang jalur. Tapi jalur ini juga memiliki kekurangan tersendiri. Karena Jalur ini memutari dan melewati beberapa puncak bukit, melewati jalur ini terkesan lebih lama dan berputar - putar. Disamping itu karena jalur yang masih berupa tanah , dimusim hujan  jalur ini menjadi lebih licin.


butuh peta???neh aq kasih..kurang apa sih aq ne....hehehe




3 kali saya mendaki kegunung ini ; saya pribadi lebih menyukai Jalur Cemoro Sewu. Pendakian saya yang terakhir kegunung ini ; pandakian ke3....yaitu 1 suro kemarin bersama teman saya ; Arip , saya pun memilih Jalur Cemoro Sewu. Karena jarak yang relatif lebih pendek dan melimpahnya sumber air serta banyaknya penjaja makanan dipos - pos pendakiannya ; menjadi pemandangan unik tersendiri bagi saya. Walaupun untuk melewati jalur ini memang tidak mudah. Karena kerasnya batu - batu alam yang tertata rapi disepanjang jalur ini , otot telepak kaki kita dipaksa untuk mengikuti keras dan bentuk batu yang tidak beraturan. sehingga banyak sekali pendaki dan peziarah yang saya lihat kakinya cidera melewati jalur ini. Ditambah jarangnya pepohonan tinggi yang menaungi disepanjang jalur ini , membuat terasa panas melewati jalur ini disiang hari. Disamping panas oleh teriknya matahari , pantulan panas dari batu - batu alam pun ikut menyiksa sewaktu melewati jalur ini.


suasana pagi dibase camp cemoro sewu
Terbukti ketika kaki memasuki pintu gerbang Cemoro Sewu. Awalnya sih tidak terlalu berat melewati hutan cemoro sewu yang boleh dibilang memiliki kerapatan yang cukup teduh....tetapi sehabis melewati hutan tersebut , mulai dari pos 1 sampai puncak tubuh serasa jadi santapan dari sinar mentari yang panasnya bukan main. Alhasil tengkuk leher dan muka saya yang tak tertutupi apapun terasa sedikit perih akibat terbakar dari panasnya mentari. Tapi sayapun cukup bersyukur karena waktu  mendaki telah diberi cuaca yang cukup cerah sehingga selepas pos 4 pemandangan yang indah...bahkan super indah dapat saya nikmati dengan leluasa.


gunung wilis
Tak ada kesulitan atau halangan waktu mulai mendaki dari base camp. Malahan boleh dibilang kami berdua menikmati perjalanan ini dengan santainya. memasuki gerbang cemoro sewu kami harus melapor dan mendaftar pada petugas setempat ; kemudian membayar biaya pendaftaran Rp 5000 untuk 1 orang , Baru bisa melanjutkan pendakian kepuncak.


Pintu gerbang pendakian
Awal perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan cemara gunung  yang rapat dan teduh dikanan dan kiri jalur. Ramainya pendaki dan peziarah yang mendaki menambah nuansa tersendiri bagi kami berdua. berapa kali kami berpapasan dan saling bertegur sapa dengan pendaki lain ketika bertemu. Kadang terjadi sedikit guyonan - guyonan lucu diantara perbincangan kami. Melewati hutan cemoro sewu, vegetasi mulai terbuka diganti dengan ladang  penduduk yang tampak terbengkalai tidak tergarap. saya sempat heran ...karena terakhir kali datang kesini tahun 2008 , tempat ini begitu hijau dan penuh ditumbuhi oleh sayuran. Tapi pemandangan yang saya lihat sekarang adalah gundukan - gundukan tanah yang tertata rapi tak ditumbuhi apapun..


Area CEMORO SEWU
menaiki jalur yang menanjak akhirnya kami sampai dipos 1 setelah terlebih dahulu melewati sebuah tempat keramat yang sekaligus merupakan salah satu sumber air di jalur ini , SENDANG PENGURIPAN. Di Pos 1 dan Sendang Penguripan yang berada di ketinggian 2214 dari permukaan laut ini  sudah berbentuk bangunan beton permanen yang bisa digunakan untuk berteduh dan beristirahat. Baik dikedua tempat ini , terdapat penjual dan penjaja makanan yang menjual mulai dari "gorengan" , nasi plus lauknya , minuman sampai perlengkapan sehari - hari. Unik kan???






WATU JAGO
kami tak berlama - lama beristirahat di pos 1 ini , karena setelah menunggu teman saya selesai merokok...kamipun kembali berjalan , terus mengikuti jalur berbatu yang semakin menanjak tapi masih cukup landai. ditengah perjalanan ke Pos 2 kami melewati sebuah batu yang cukup menarik perhatian kami ; yaaaa tempat ini juga merupakan salah satu tempat keramat dan sering diadakan ritual oleh para peziarah. Tempat ini terkenal dengan sebutan WATU JAGO yang bila diartikan dalam bahasa indonesia berarti Batu Ayam Jago(ayam jantan). Batu ini cukup menarik karena boleh percaya atau tidak bila dilihat dari bawah dikejauhan batu ini seperti ayam jago raksasa yang hidup tengah bertengger diatas bukit.


Karena panasnya mentari yang semakin mendekati siang, kamipun akhirnya melanjutkan perjalanan setelah mengambil beberapa foto.
Berjalan beberapa puluh menit kamipun tiba juga di Pos 2 yang berada di ketinggian 2578 dari permukaan laut. Sama seperti pos 1 , Di pos 2 ini juga terdapat bangunan beton  sebagai shelter dan penjual makanan dan minuman. Suasana di Pos 2 ini cukup ramai oleh pendaki dan peziarah yang tengah beristirahat.ditempat ini pegunungan wilis sudah mulai terlihat disisi utara.


POS 2
Tidak membuang waktu , Saya dan teman saya kembali berjalan melanjutkan pendakian. Mulai dari pos 2 inilah jalur lebih menanjak exstrem dan berliku - liku sehingga untuk menuju ke Pos 3 terasa panjang dan cukup lama. Ditambah bau belerang yang terasa menyengat disepanjang jalur membuat nafas terasa pedas.ini wajar karena tak jauh dari samping kiri jalur terdapat KAWAH CONDRODIMUKO yang masih aktif  dan masih mengeluarkan asap belerang.


POS 3
Setelah berjalan cukup lama ; sampailah kami Pos 3 yang berada di ketinggian 2800 dari permukaan laut. Seperti di pos - pos yang sebelumnya, di Pos 3 juga terdapat sebuah bangunan beton yang cukup terawat sehingga bisa digunakan sebagai shelter untuk berlindung dari panas dan hujan.
Meninggalkan pos 3 , jalur kembali menanjak lebih exstrem. Karena bila saya lihat jalur memang menaiki bukit yang kemiringannya hampir 85 derajad.


Jalur yang bikin lelah...
Mungkin karena inilah disepanjang jalur dari Pos 3 ke Pos 4 banyak ditemui jalan zig - zag. Tapi walaupun jalur telah dibuat zig - zag , tetap saja kemiringan dari tanah masih terasa extrem. karena berulang kali aku dan kawanku harus berhenti mengambil nafas yang tersengal - sengal  melewati jalur yang terasa berat ini. Sebenarnya jarak antara Pos 3 dan Pos 4 tak terlalu jauh tapi karena posisi jalur yang berada di terjalnya bukit kapur menjadikan jalur ini terasa berat dari semua jalur di cemero sewu yang ada. Saking terjalnya , dibeberapa ruas jalur sengaja dipasangi pipa - pipa besi  mendatar yang dihubungkan dengan tiang - tiang beton setinggi kira - kira setengah meter sebagai alat bantu untuk menyangga tubuh yang kelelahan


POS 4
Setengah menyeret langkah akhirnya kamipun tiba juga di Pos 4 yang berada diketinggian 3082 dari permukaan laut..Pos 4 berupa sebuah tempat datar berada diatas bukit kapur yang tertutupi oleh lebatnya pohon cantigi. Di Pos ini tak terdapat shelter untuk berlindung seperti halnya pos - pos sebelumnya. Hanya tersedia sebuah tempat datar yang cukup untuk mendirikan satu tenda. Karena minimnya Petunjuk dan penanda tempat , kadang banyak pendaki dan peziarah yang tak menyadari kalo tempat ini adalah pos 4. Satu hal yang membuat saya suka pada pos 4 adalah tempatnya yang berada diatas bukit sehingga pemandangan pegunungan wilis begitu terlihat jelas lengkap dengan guratan - guratan aliran airnya...dan menurut saya tempat ini adalah spot foto yang paling indah di gunung lawu...


Ini neh spot foto indah di pos 4
Kamipun tak berhenti lama di Pos 4 karena permintaan dari teman saya yang ingin segera mendirikan tenda dipuncak karena segera ingin cepat tidur(teman saya ini kecapain karena semalam tidak tidur setelah pulang kerja pukul 23:00 , jam 00:00 langsung berangkat mengendarai motor bersama saya dan tiba di terminal Tawangmangu pukul  3:30 cuma tidur satu jam di mesjid depan terminal tawangmangu untuk kemudian paginya mendaki ke puncak lawu...bisa bayangkan kan capeknya gimana????)....sedikit menaiki puncak bukit ....jalur kemudian berubah landai...karena jam sudah menunjukan pukul 12:00 WIB kamipun berhenti disalah satu puncak bukit tidak jauh dari SUMUR JOLOTUNDO dan memakan bekal nasi bungkus yang sengaja kami bawa dari bawah dengan menu nasi telur ceplok. Memakan bekal diatas puncak bukit dengan pemandangan lepas kearah utara sungguh membawa nuansa tersendiri...walau panas sekalipun tak terasa oleh sejuknya hembusan udara dingin khas pegunungan...nun jauh di bawah kota magetan yang berada dibawah pegunungan wilis dan karanganyar terlihat dengan jelasnya....sebotol minuman cola dingin pun juga menemani makan siang kami...segarrr sekali


SUMUR JOLOTUNDO
Seusai makan perjalanan pun kami lanjutkan dengan melewati SUMUR JOLOTUNDO , sebuah goa bawah tanah yang banyak dikeramatkan oleh para peziarah...banyaknya sesaji dan bunga - bunga serta bau kemenyan yang menyengat menandakan bagaimana jauhnya tempat ini di sakralkan..Goa ini sangat gelap dan curam turun kebawah kurang lebih 5m dan memiliki pintu goa dengan diameter 90 Cm. Konon.... Tempat ini sering digunakan untuk bertapa dan digunakan guru - guru untuk memberi wejangan kepada muridnya. Berapa ratus meter dari tempat ini kemudian Pos 5 yang berada di ketinggian 3115 dari permukaan laut kami temui...sebuah tempat datar yang cukup luas dan terlindung oleh bukit - bukit tinggi. Ditempat ini dapat didirikan sekitar 10 tenda. Di pos ini juga dapat kita temui penjual makanan dan minuman yang menjajakan dagangan mereka dibawah shelter sederhana yang dibangun dari terpal dan kayu...unik kan???


POS 5
Pos 5 juga menyajikan pemandangan yang indah kearah barat laut....terutama jalur selepas pos 5 yang menurun kemudian menanjak ...pemandangan lepas kearah utara dan barat daya bisa kami lihat berpadu dengan lereng gunung lawu yang tampak menghijau...jalur ini adalah jalur yang paling saya sukai dari semua jalur yang ada di cemoro sewu...karena melewati tempat ini seolah kita seperti berpindah kedunia lain yang indah...


Jalur favoritku...bisa kelihat kan jalurnya melewati puncak bukit..indah lho jalur ini 
 Disepanjang jalur menuju SENDANG DRAJAD , kami pun melewati beberapa tempat sakral yang letaknya saling berdampingan. Diantaranya adalah Lumbung Sayur , Pawon Sewu yang berbentuk susunan batu mirip candi yang katanya dulu digunakan untuk bertapa oleh para abdi prabu brawijaya, dan Goa Sigolo Golo yang terlihat jelas dari kejauhan berada ditebing salah satu puncak gunung lawu.
Kemudian setelah mengitari salah satu puncak lawu...kamipun tiba di SENDANG DRAJAD...sebuah sumber mata air yang konon memiliki debit air yang tetap dan tidak berubah sepanjang tahun walau airnya diambil terus menerus. Sumber mata air ini telah dibangun dan dikelilingi tembok beton. Memiliki diameter 2m dan kedalaman 2m. Kepercayaan yang beredar diantara para peziarah , air ini dapat membawa mukzizat bagi yang percaya seperti namanya. Selain itu , para peziarah sering mengunakan air dari mata air ini untuk mandi dengan tujuan menyucikan diri sebelum akhirnya menuju makam atau melakukan ritual tertentu. Tempat ini juga sering digunakan untuk transit bagi para pendaki sebelum akhirnya menuju kepuncak. 



SENDANG DRAJAD
Sesampai di Sendang Drajad ini , kamipun berhenti untuk mengambil air untuk dimasak dan sekedar membasuh muka dan kepala yang sejak dari bawah terkena panasnya sinar matahari. Air yang sungguh dingin sekali...pertanyaan pun mendera pikiran saya demi melihat banyaknya orang yang bergantian mandi di tempat yang telah disediakan disini. Karena air yang dingin ini , kaki saya yang saya basuh dengan air dari mata air ini langsung terasa menegang otot - ototnya begitu kami berjalan meninggalkan sendang ini menuju hargo dalem. Mungkin karena otot kaki yang mengendur , dan tiba - tiba tersiram oleh dinginnya air dari sendang drajad ini membuat otot kaki seketika menegang. Tapi semua rasa itu saya tahan , karena puncak telah terlihat di depan mata.


HARGODALEM
Setelah mengitari puncak berikutnya dengan mengikuti jalan tanah setapak tibalah kami di HARGO DALEM. Sebuah tempat keramat yang merupakan pusat spiritual di Gunung Lawu yang berada pada ketinggian 3170 MdpL. Karena ditempat inilah sang prabu brawijaya muksa dan mengangkat salah satu abdi dalemnya menjadi penguasa gunung lawu dengan gelar Sunan Lawu. Sejatinya tempat ini berupa bangunan yang didalamnya terdapat makam kuno.Konon untuk melihat Eyang Sunan Lawu , seseorang harus melakukan Pisowanan atau upacara ritual tertentu sebanyak 7 kali. Di hargo dalem ini banyak terdapat bangunan terbuat dari seng yang biasa digunakan oleh peziarah untuk menginap dan bermalam. Di tempat ini juga banyak terdapat penjaja dan penjual makanan yang banyak membantu aktivitas dari para peziarah dan pendaki.


penjaja makanan di ketinggian 3000-an
 Melalui sebelah kiri dari bangunan makam di Hargo Dalem inilah pendakian melewati tanjakan terakhir ini dimulai. kamipun harus berjuang keras memompa sisa - sisa tenaga terakhir  demi menuju kepuncak tertinggi. Karena seolah kaki ini seperti tak mau bertoleransi dengan medan terakhir menjelang puncak. Setelah berjalan dengan nafas ngos - ngosan akhirnya sekitar pukul 14:30 kamipun sampai dipuncak HARGO DUMILAH dengan ketinggian 3265 Mdpl.


Kegembiraan kami ungkapkan dengan berfoto foto ditugu setinggi 2m yang menjadi penanda puncak tertinggi dari gunung Lawu. Dipuncak inilah konon pada zaman dahulu sering digunakan untuk tanding kesaktian dari para pendekar. Kamipun lantas segera mencari tempat yang tepat untuk mendirikan tenda takut tak kebagian tempat mengingat ramainya pendaki yang mendirikan tenda di puncak. Pilihan kami jatuh pada sebuah tempat lapang disebelah timur tak jauh dari tugu penanda puncak. Sebuah tempat datar cukup untuk mendirikan 5 tenda..segera setelah tenda berdiri kamipun masuk kedalamnya karena angin yang cukup kencang juga membawa suhu menjadi semakin dingin. Didalam tenda kamipun memasak air panas untuk membuat minuman hangat. suasana tenda pun menjadi semakin hangat...


INI NEH...tugu penanda puncak
Dan setelah itu kamipun akhirnya ketiduran didalam hangatnya sleeping bag karena kelelahan. Menjelang  maghrib saya sempat terbangun. Teriakan dari beberapa pendaki yang sampai puncak tampaknya membuatku terjaga. saya langsung melongok keluar takut kalo - kalo Sunset yang saya tunggu terlewatkan. Dan benar saja diluar tenda langit di garis horizon tampak memerah. Saya coba membangunkan arif untuk mengajaknya keluar...Tapi karena teman saya ini tak bangun juga...akhirnya saya keluar sendiri...
udara dingin dan angin kencang menyambut saya begitu saya keluar....brrrrr...


lereng sebelah barat...


Tapi itu semua terbayar sesudah saya melihat keufuk barat...pemandangan indah dari terbenamnya matahari terpampang didepan mata tanpa terhalangi awan atau pun kabut...begitu "clear" ...indahhhh buannngggeeet. Saya pun tak melongo terus...langsung saya keluarkan kamera digital saya dan mengabadikan moment indah ini...sunset tak berlangsung lama karena matahari sudah tengelam diufuk waktu saya datang..tapi saya sudah merasa cukup puas diberi kesempatan melihat sunset indah yang jarang bisa ditemui di puncak gunung..


SUNSET
Selesai melihat terbenamnya sang surya...sayapun kembali ketenda. Ditenda arif telah bangun..dan tampak kelaparan...segera kamipun memasak perbekalan yang ada , dan sebentar saja mie goreng panas dan dua cangkir kopi susu instan hangat pun terhidang.
Seusai makan kamipun kembali tidur setelah berbincang - bincang cukup lama. Karena mau keluar lagi rasanya sudah malas demi merasakan suhu yang makin dingin. Diluar tenda tampak terdengar suara dari pendaki lain yang sedang mendirikan tenda disamping tenda kami. Kamipun sempat keluar sebentar dan bermaksud menawarkan bantuan demi mendengar perdebatan 2 orang yang mendirikan tenda tapi tak jadi juga.
Untuk selanjutnya kamipun tidur terus didalam tenda dan baru bangun sekitar pukul 5 pagi....saat sunrise mulai muncul...mungkin saya tak kan bangun bila arip yang terbangun duluan membangunkan saya...kamipun segera keluar....dengan perlengkapan fotografi masing - masing di tangan. Diluar...tepatnya ditugu penanda puncak tertinggi banyak pendaki telah mulai berkumpul dan menunggu terbitnya sang surya.


aHHH ramenya,...
Mereka tampak tak menghiraukan kencangnya angin yang bertiup dan dinginnya suhu udara. Segera kamipun ikut bergabung meramaikan suasana...sementara  Diufuk timur yang agak tertutup awan , langit telah memerah. dan sebentar kemudian yang ditunggu pun muncul juga. Sunrise membawa kehangatan dan harapan baru...kereeeeennnn bangettt...inilah moment yang selalu ditunggu oleh para hikers...


SUNRISE
Kamipun mulai beraksi dengan kamera digital masing masing ditangan...tak lupa saling bergantian memotret dengan back ground sunrise...suasana rame menaungi puncak...benar - benar nuansa yang kereeeennn...


siluet sunrise...
Tak berapa lama setelah sang surya makin meninggi...arip pun kembali ketenda dan memasak air panas untuk membuat kopi , sementara saya tetap sibuk diluar berputar - putar mencari spot bagus untuk foto saya.
sayapun akhirnya kembali ketenda setelah puas mengelilingi puncak hargodumilah dan mendapatkan beberapa gambar bagus. Ditenda arip tampak asik menikmati kopi buatannya. Sayapun ikut nimbrung dan segera membuat sarapan seadanya.


lihat deh indahnya lembah Gunung Lawu berpadu dengan kabut yang turun...
Seusai sarapan , kamipun langsung memacking barang ke tas dan melipat tenda untuk selanjutnya bergerak meninggalkan puncak menuju basecamp kembali setelah sebelumnya ngobrol dengan tetangga kami yang mendirikan tenda di sebelah tenda kami.
Menuruni bukit tak terlalu sulit... sebentar saja kami telah sampai di hargodalem terus menuju sendang drajad dan melewati jalur favorit saya. Disini kami berhenti cukup lama untuk istirahat dan mengambil gambar.Setelah itu kembali berjalan menuruni jalan pos 5 , pos 4 ,dan seterusnya hingga sampai di base camp sekitar pukul 14:30 setelah melewati jalur yang panas dan ribuan kenangan...


indahnyaaaa.....




(Thank you for my friend "arip permadi" yang telah mendukung dan tetap tabah selama perjalanan kepuncak..)