Tampilkan postingan dengan label curug indrokilo . embung sebligo lerep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curug indrokilo . embung sebligo lerep. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juli 29, 2017

Curug Indrokilo Dan Embung Sebligo , Potensi Tersembunyi Dari Lerep


Curug Indrokilo
Nama itu selalu membuat penasaran tiap kali aku membacanya. Begitu jelas terpampang di papan petunjuk arah yang terpancang tak begitu jauh dari gapura Desa Lerep. "Curug Indrokilo" , begitulah yang tertulis di papan petunjuk arah yang berwarna hijau bersanding dengan beberapa nama tempat wisata yang telah familier di telinga , seperti Wisata Watu Gunung , kolam renang Lerep Indah , dan beberapa tempat lainnya. Apa yang membuat penasaran bagiku adalah karena setahu saya hanya ada Curug Lawe dan Benowo di atas desa Lerep ini. Nama "Indrokilo" sebagai sebuah air terjun terasa begitu asing  di telinga.
Karena didorong oleh rasa penasaran aku pun mulai mencari keberadaan air terjun ini. Langkah pertama yang ku ambil adalah menggunakan GPS...nah lho GPS yang saya maksud di sini bukanlah yang ada di smart phone itu lho kawan...GPS disini berasal dari singkatan Gunakan Penduduk  Setempat alias bertanya pada penduduk sekitar. hehehe...saya pun mulai bertanya pada penduduk yang kutemui , yang jelas bukan orang gila di pingir jalan lho tentunya...hahaha.
Peta ke Dusun Indrokilo...di lihat ya sebagai petunjuk arah...
Tapi di luar dugaan , dari beberapa orang yang kutemui malah mengarahkan jawabannya ke Curug Lawe di desa Kalisidi. Nah lho…. makin rumit neh..yang di tanya Curug Indrokilo malah jawabannya Curug Lawe. Saya pun mulai berpikir ini jangan-jangan cuma bohongan belaka. Atau bisa juga "indrokilo" adalah nama curug lawe sebelumnya. Karena terdoktrin oleh pikiran ini saya pun menghentikan perburuan saya akan curug ini.
Nama tempat itu tetap terpampang di papan petunjuk  arah. Setiap kali saya lewat tulisan itu semakin membuat penasaran. Karena saya tak bisa tidur karena terngiang nama Curug Indrokilo ini saya pun mengambil inisiatif untuk bertanya pada mbah dukun. Dukun ini sangat sakti dan tahu segala hal lho bro...dan dukun ini hanya melayani lewat jaringan internet...anda pun pasti kenal...nama dukun ini adalah Mbah GOOGLE.....hahaha tahu kan yang saya maksud kawan....nah cukup ketik satu kunci , informasi yang kucari pun muncul dilayar Hp smartphone kesayangan...tidak banyak sih...cuma ada 3 situs yang membahas tempat ini...
tuhhh...
ternyata Curug Indrokilo ini memang ada...keberadannya pun tak jauh dari kolam renang Watu Gunung..
Setelah mendapatkan sedikit pencerahan , saya pun mulai berburu Curug Indrokilo ini...untuk menyingkat tulisan ini saya pun akan mulai langsung dari kota ungaran , tepatnya mulai dari alun-alun lama kota ungaran yang terletak di sebelah barat pasar Bringharjo. Dari alun-alun barat kota ungaran ini perjalanan berlanjut ke arah barat menuju kecamatan Lerep. Jalan raya yang semula datar menurun tajam melewati  jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai. Jembatan ini akan membawa anda ke gapura desa lerep. Disinilah terdapat papan petujuk arah curug indrokilo yang membuat penasaran itu bro. Nah setelah papan petunjuk arah ini , jalan raya yang semula menurun pada awalnya , kemudian datar begitu menyebrangi sungai ; jalan aspal pun kini menanjak tajam dengan sudut kemiringan antara 50-60 derajat. Dan tidak main-main jalan raya ini terbagi menjadi dua...
Ke kanan atau ke kiri yah?mungkin itu yang akan terpikir di benak anda ketika sampai ditanjakan bercabang ini...untuk itulah kawan makanya saya sarankan untuk membaca papan petunjuk arah yang berada sebelum tanjakan ini. Bagi yang sudah membaca petunjuk arah ini pasti tak akan ragu mengambil jalan ke kiri ditanjakan bercabang ini. Jalan menanjak ke kiri ini akan terus membawa anda ke Wisata Watu Gunung. Setelah melewati wisata Watu Gunung ini sekitar 200 meter kemudian kembali saya temukan pertigaan jalan. Di sini kembali saya mengambil jalan turun  ke kiri...nah pencerahan yang saya dapat dari mbah Google hanya sampai di sini kawan , jadi setelah pertigaan ini saya kembali mengandalkan GPS alias bertanya pada warga sekitar. Pilihan saya pun jatuh pada salah seorang warga yang tengah berkerja di sebuah konstruksi bangunan...
" Indrokilo mas???...hmmm...bagaimana ya...begini saja mas dari sini mas ikuti aja jalan ini..ntar kalo ketemu tanjakan , nah di situ ada pertigaan dengan sebuah pos ojek disebelahnya..mas belok ke kanan..terus ikuti jalan keatas jangan berbelok-belok  nanti mas akan sampai di desa terakhir...nah itu dia Desa Indrokilo...selanjutnya tanya lagi pada warga desa sana mas biar lebih jelas.."
pose dari bawah
Yossss....jawaban ini membuatku bersemangat karena arah yang kutuju sudah benar...aku lantas mengikuti petunjuk yang ku dapat..awalnya jalan menanjak dan  melewati persawahan yang menguning setelah itu jalan aspal kembali datar melewati rumah-rumah penduduk. Setelah itu jalan menanjak tajam. Di atas tanjakan ini terdapat pos ojek dan pertigaan yang dimaksud. Langsung aja deh , aku belok ke kanan mengikuti jalan yang terus menanjak tanpa berbelok sedikitpun.
"Mas terus aja..nanti ketemu pertigaan besar , mas terus aja ke atas...ikuti jalan ini terus sampai ke atas nanti ketemu desa...nah itu dia desa indrokilo..." di sebuah persimpangan kembali aku mengorek keterangan dari seorang anak SMA untuk memastikan arah perjalananku. Dan setelah mendapat info ini aku pun kembali memacu motor mengikuti jalan yang menanjak. Jalan ini membawaku ke luar desa dan menuntunku ke sebuah pertigaan jalan persis seperti info yang ku dapat. Selepas pertigaan ini , jalan aspal semakin menanjak menaiki bukit terjal...disamping kiri dan kanan jalan tak lagi ditemui perumahan penduduk...hanya ada kebun , hutan , dan jurang yang cukup dalam. Tapi pemandangan yang terlihat mengesankan semakin ke atas. Setelah berkendara sekitar 20 menit , tibalah saya di desa terakhir yang dimaksud. Sebuah sepanduk besar bergambar air terjun dan bertuliskan Wisata Curug Indrokilo menyambut kedatanganku..
peta ke air terjun dari Dusun Indrokilo..cusss yuuukkk..
Yeeepppp...inilah Dusun Indrokilo yang di maksud itu kawan. Sebuah desa yang berada pada ketinggian 700 Mdpl. Terletak di sebelah barat ungaran dengan suhu udara berkisar antara 21 - 25 drajad C. Desa ini terletak di sisi utara Gunung Ungaran  dan merupakan desa tertinggi di daerah Ungaran barat. Sebagai desa tertinggi , so pasti dusun ini memiliki panorama pemandangan yang luar biasa. Terbukti ketika saya terus masuk ke dalam pemukiman dan berhenti di salah satu rumah penduduk , pemandangan lepas ke arah utara tampak menghampar  dari halaman pekarangan rumah penduduk. Luar biasa....subhanallah....begitulah yang terucap dari bibir sampai hati ini. Deretan awan di kejauhan menghiasi horizon. Bukit-bukit yang tampak terlihat saling tumpang tindih di lengkapi dengan warna hijau dan titik -titik putih yang merupakan pemukiman penduduk. Sungguh terbayang pemandangan yang tersuguh saat malam hari yang di penuhi oleh kerlip lampu rumah dan jalan raya dari tempat ini. Atau pemandangan saat pagi hari , saat sunrise muncul diufuk timur...betapa bahagianya penduduk dusun ini yang bisa melihat pemandangan ini setiap hari ketika membuka pintu rumah mereka.
pemandangan ini neh yang di lihat sehari -hari oleh penduduk desa ini...agak mendung tapi tetap kereeennn..
Saya pun tersadar kembali dari rasa takjubku akan desa ini karena saya belum menemukan tempat yang saya cari , Curug Indrokilo. Dan karena minimnya petunjuk arah ke air terjun ini , saya pun kembali bertanya pada penduduk tentang keberadaan air terjun ini.
"Lurus terus mas , nanti ketemu pertigaan belok ke kiri...terus ikuti jalan ke kiri ini ntar nyampe kok..." begitulah jawaban yang ku terima dari salah satu warga ketika mencari informasi. Tanpa buang waktu , akupun lantas mengikuti arahan yang kuterima ini. Awalnya jalan datar saja , tapi mendekati pertigaan yang dimaksud jalan menurun tajam dan di ujung turunan inilah jalan terbagi dua arah. Seperti info yang kudapat disini , aku pun berbelok ke kiri. Jalan ke kiri ini rupanya membawaku keluar desa. Saya pun sedikit merasa ragu dengan jalur ini. Karena jalan ini semakin menjauhi desa dan melewati rimbunnya hutan bambu dan pohon tinggi lainnya. Namun ke khawatiran saya pun lenyap ketika saya menemui sebuah pos bertuliskan "LOKET" dan sebuah papan petunjuk arah bertuliskan "Ke Air terjun" di ujung jalan beton selebar 1 1/2 meter.
gak perlu di omongin dehhh...tu ada kok keterangannya...hehehhe
Tapi...anehhh...tak ada satu pun orang yang berjaga di sini...lagipula tak tersedia tempat parkir ...hanya tersedia sedikit tanah lapang yang bisa digunakan untuk parkir motor...tanah lapang ini pun tak muat bila di gunakan untuk parkir 1 mobil pun...sebenarnya dari loket ini jalan beton masih berlanjut berbelok ke kanan menuruni bukit yang terjal...terbersit sebuah dugaan bahwa tempat parkir yang sebenarnya ada di penghujung jalan ini?namun melihat dari jalan yang berlanjut ke bawah ini cuma selebar 50 cm lebih dengan kondisi jalan yang masih meragukan aku pun jadi ragu dengan pemikiranku sebelumnya. antara penasaran dan ragu , untung saja seorang petani yang sedang menggotong rumput di atas kepalanya melintas dari arah jalan ini...buru-buru aku menyapa dan bertanya pada bapak-bapak separuh baya ini.
"Ya kalau jalan bisa mas bawa motor ke bawah tapi paling cuma sampai di penghujung jalan ini mas...lepas itu mas harus jalan kaki untuk menuju air terjun..." jawaban yang cukup membuatku yakin untuk langsung membawa motor mengikuti jalan beton menurun ini. Tapi diluar dugaan jalan beton ini tak semulus yang dikatakan sebelumnya. Karena jalan ini melewati pinggiran jurang dan tidak rata. Disamping itu sudut kemiringan jalan beton ini benar-benar tajam sehingga bikin hati was-was saat melewatinya..ingin diriku putar arah dan kembali ke atas namun kodisi jalan yang sempit di pinggir jurang membuatku tak bisa lagi balik arah...praktis akhirnya akupun nekat maju melewati jalan maut ini...dan rupanya tak sampai 1 km jalan ini pun berakhir di tengah jalan yang tidak terlalu lebar. Jalan beton pun digantikan dengan jalan setapak. Pengerjaan betonisasi ini tampaknya memang belum selesai. Terlihat dari beberapa matrial bangunan seperti pasir dan kricak yang tampak di jalan tanah ini. Terpaksa akupun memparkirkan kendaraanku di badan jalan yang memiliki lebar kurang dari 1 setengah meter ini. Selanjutnya...jalan kaki merupakan satu-satunya pilihanku untuk menuju air terjun ini.
habis menuruni anak tangga ini...sampai deh di kawasan perkebunan...
Namun berjalan beberapa meter kemudian , jalan tanah di gantikan kembal oleh undak-undakan yang terbuat dari beton. Kurang lebih ada sekitar 40 anak tangga yang harus aku turuni sebelum akhirnya aku tiba di kawasan perkebunan kopi dan cengkeh. Dari sini jalan setapak dengan lebar kurang dari 1 meter-an kembali menjadi santapan bagi kakiku lagi. Suasana yang semula sedikit gelap karena lebatnya pepohonan sedikit mulai terang. Vegetasi yang semula didominasi oleh pohon-pohon tinggi tergantikan oleh pohon kopi dan cengkeh yang umumnya tidak terlalu tinggi. Terus mengikuti jalan setapak ini , aku kembali di bawa untuk menuruni jurang dengan melewati jalan setapak menurun. Di beberapa pinggir jalan yang berbatasan dengan jurang dalam ini terlihat beberapa longsoran tanah yang mengarah ke jurang. Wah ini sih harus hati-hati melewatinya. Karena salah melangkah kaki ku bisa terpeleset dan jatuh ke dalam jurang. Ini tidak kudramatasi lho bro....memang perjalanan menuju air terjun ini penuh tantangan dan petualangan. Tapi ini semua tak lantas menyurutkan niat ku untuk terus maju menuju air terjun indrokilo ini.
setelah melewati perkebunan kopi n cengkeh...gini neh jalur ke curug..
Jalan setapak menuruni punggung jurang ini pun semakin membawa diriku masuk ke dalam hutan. Sayup-sayup terdengar suara air sungai yang berasal jauh dari bawah jurang sana. Suasana gelap kembali menaungi pencarianku karena rapatnya pepohonan di sepanjang jalan ini. Beberapa dahan pohon kadang menutupi badan jalan dan memaksaku untuk menyingkirkannya. Terkadang pula rumput tinggi sempat menutupi jalan dan membuatku harus berjalan extra hati-hati. Setelah berjalan sejauh 1km lebih dari tempat aku meninggalkan motor , tibalah aku di bawah lembah di pinggir sebuah sungai dengan aliran air yang cukup deras. Sebuah papan hijau besar terpampang bertuliskan "Selamat Datang Di Wana Wisata Curug Indrokilo" menyambut kedatanganku di sini. Cukup senang rasanya menemui papan petunjuk ini , mengingat sedikit sekali papan petunjuk arah yang ku jumpai saat tracing menuju air terjun ini.
mendekati lokasi air terjun bakalan ketemu neh papan....kalo belum hilang...hehehe
Tapi air terjun yang di maksud belum juga terlihat meski dari sini bisa kudengar deburan air yang jatuh cukup keras. Aku pun mencoba menyusuri sungai ini dan setelah melewati belokan , terlihatlah sebuah pemandangan air terjun yang indah di depan mata. Wuih....tinggi...begitulah kesan yang kudapat saat melihat air terjun ini untuk pertama kalinya. Aku pun semula mengira debit air yang jatuh dari air terjun ini tak terlalu deras. Tapi setelah mendekat , air terjun ini ternyata memiliki debit air yang cukup deras. Bahkan terlihat megah saat aku berdiri di bawah air terjun ini...
woooww...cukup tinggij juga brooo..
Air terjun Indrokilo ini berada di Dusun Indrokilo , Desa Lerep , kecamatan Ungaran Barat , Kabupaten Ungaran. Terletak diketinggian 640 mdpl , air terjun ini memiliki ketinggian sekitar meter 25 meter lebih. Aliran air dari Curug ini berbentuk lurus ke bawah. Air ini kemudian membentur dinding tebing dan membentuk aliran-aliran air yang kecil sebelum akhirnya jatuh di dasar curug. Di bawah air terjun , air yang jatuh membentuk sebuah kolam kecil dengan kedalaman hingga diatas mata kaki orang dewasa. Tak terlalu dalam memang....air dari kolam ini terus mengalir di sela-sela bebatuan dengan berbagai macam ukuran membentuk sungai kecil yang terus mengalir hingga sampai ke bawah desa indrokilo. Suasana di sekitar curug ini masihlah sangat alami.
kaya orang hilang...
 Di kanan dan kiri air terjun ini masihlah banyak di jumpai pepohonan tinggi dan rimbun. Di pohon-pohon tinggi ini kadang terdengar kicauan burung liar yang riuh bersaing dengan suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian. Keberadaan air terjun ini pun cukup tersembunyi karena letaknya yang berada di bawah lembah dan di apit oleh dua bukit yang disatukan oleh tebing dimana air terjun ini terbentuk. Sehingga praktis air terjun ini jarang sekali di kunjungi oleh manusia dahulunya. Setelah beberapa waktu yang lalu curug ini mulai di kenal oleh beberapa mahasiswa yang melakukan KKN di desa indrokilo. Lalu keberadaan air terjun ini mulai di kenalkan kepada masyarakat luas dan pembangunan sarana jalan , papan penunjuk arah , mulai digalakan dibeberapa titik disepanjang jalan menuju air terjun ini. Bahkan jalur pendakian menuju puncak gunung Ungaran pun di buka melalui Desa Indrokilo ini. Tapi meskipun telah di usahakan , tampaknya masih belum banyak yang tau keberadaan air terjun ini. Terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang masih sedikit terlihat. Sehingga kealamian air terjun ini dari jamahan tangan manusia masih sangat terasa sekali.

EMBUNG SEBLIGO dari Desa Lerep
ini neh tampilan sebuah embung....
Ada yang tahu apa itu Embung???
Embung adalah tampungan air atau Waduk kecil buatan yang di gunakan untuk mengairi tanaman perkebunan. Beda antara embung dan waduk adalah pada cara untuk menampung air , asal sumber air yang ditampung , tempat pembuatan , luas , serta fungsi dari pembuatannya. Kalao waduk biasanya dibuat dengan membendung aliran sungai tanpa bahan apapun untuk menampung airnya , Umumnya embung menggunakan bahan plastik polymer tebal yang di letakkan pada bidang tanah cekung. Luas cekungan ini bisa sampai berhektar-hektar tergantung pembuatan. Cekungan tanah yang terlapisi plastik polymer ini kemudian akan menampung air hujan yang turun sehingga semakin besar intensitas hujan yang turun air yang ada pada suatu embung pastilah banyak.
Air dari waduk biasanya terus mengalir tanpa henti karena berasal dari aliran sungai  dengan debit air yang bisa di atur sepanjang waktu. Kondisi ini sangat tepat untuk mengairi areal persawahan. Tapi tidak demikian dengan embung. Air hanya di alirkan disaat kurang hujan dan umumnya , embung di bangun di dataran atau tempat yang tinggi untuk mempermudah mengalirkan air ke tanaman. Fungsi dari embung ini sendiri umumnya di gunakan untuk mengairi tanaman perkebunan dan buah-buahan. Itulah sedikit penjelasan tentang Embung.
Lalu apa menariknya dari embung ini...well karena rata-rata sebuah embung selalu dibuat di tempat yang tinggi , rata-rata sebuah embung memiliki pemandangan yang menawan hati dan suasana khas pegunungan. Namun keberadaan embung di pulau jawa sendiri masihlah jauh dari kata banyak. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Terlebih di daerah kota Semarang dan sekitarnya , sangat jarang di temui. Dan satu-satunya embung yang bisa di temui adalah Embung Sebligo yang berada dibawah lereng sebelah timur dari Gunung Ungaran. Tepatnya berada di desa   kelurahan Lerep , Kecamatan Ungaran Barat , Kabupaten Semarang. Letak embung ini masih sejalur dengan arah ke desa Indrokilo. Jadi pastikan untuk mampir sejenak ya kawan di embung ini ketika berkunjung ke Curug Indrokilo...gak ada ruginya kan...hehe
siapa yang mau berfoto??
Nah Embung Sebligo atau acap kali di sebut Embung Lerep ini , juga dibangun di dataran tinggi masih di daerah lerep kecamatan Ungaran Barat yang berada di ketinggian ± 700 m di atas permukaan air laut. Karena posisinya yang berada di dataran tinggi membuat embung ini memiliki udara yang sejuk khas pegunungan.  Suhu udara di kecamatan Lerep ini sendiri berkisar antara 21°C s/d 25°C. Di sekeliling Embung ini banyak di tanami pohon-pohon tinggi menambah teduh suasana. Di tepi embung sendiri tumbuh rumput dan alang-alang yang tak terlalu tinggi dan rapi. Satu hal yang menadakan kalau tempat ini terawat dengan baik. Di sebelah timur walau tak terlalu terbuka , pemandangan suasana sekitar kota ungaran masih dapat terlihat meski tertutupi beberapa pepohonan tinggi.
Pembangunan embung ini pada awalnya di dasari oleh kekeringan yang melanda seluruh indonesia pada tahun 2013 dan selesai pada bulan maret 2016. Pembangunan embung ini sendiri menelan biaya sebesar Rp. 965.030.000,00. Dana sebesar inipun tak serta merta terkucur dan terbagi menjadi 2 tahap , yaitu melalui dana bantuan APBD Prop. jateng dan dana APBD Kabupaten Semarang pada tahun 2014 sebesar Rp 785.030.000 dan dari APBD Kab. semarang pada tahun 2015 sebesar Rp 180.000.000.
Embung ini awalnya  mulai tak terurus dan bocor di salah satu sisinya , tapi belakangan masyarakat mulai intens melakukan perbaikan dan pembersihan sejumlah tempat duduk terbuat dari potongan kayu di buat di pinggir embung ini. Dan beberapa tempat selfi di ketinggian pun di buat menempel di pohon-pohon tinggi. Keberadaan tempat selfi berbentuk hati berwarna biru di pinggir embung ini pun turut mempercantik penggiran embung ini. Juga di buat tempat untuk menggantungkan gembok sebagai simbol cinta.
Tapi bagi saya sendiri , yang mengesankan dari tempat ini adalah suasananya. Tempat ini cocok untuk sekedar nongkrong bersama teman atau memadu cinta bersama kekasih tercinta...
Ciiieee...
andainya ada kopi n gorengan....
Duduk di salah satu bangku kayu sambil memegang secangkir kopi dan memakan cemilan seperti pisang goreng atau lainnya...mendengarkan suara angin yang membuat daun bergoyang sambil melihat air di tengah embung tersibak , beriak-riak karena angin...kadang terdengar kicau burung di kejauhan...bau khas pedesaan yang masih segar dan alami...sungguh...anda harus mencobanya sesekali.
Nah karena pembangunan embung ini bukanlah untuk kolam renang , jadi...please ya bro jangan nyemplung di embung ini...begitupun kalau melihat ikan , biawak , dan , ular tengah berenang di tengah kolam buatan ini , jangan juga deh melempar kail ke tengah kolam. Terlebih lagi menembak atau memanah ke arah embung ini. Selain dapat membuat kebocoran pada lapisan penampung air , memburu satwa kan juga dapat membuat hewan tersebut menjadi langka...jadi merugikan orang lain kan??
Embung ini sendiri memilili luas 60 x 80 meter dengan tinggi 4 meter  dan berdiri di atas tanah bekas bengkok Desa Lerep. Dengan luas seperti ini , embung Lerep ini dapat menampung air dengan volume kurang lebih 4000 meter persegi. Dengan volume air yang cukup melimpah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan air untuk pertanian tanaman hortikultura khususnya buah durian montong  yang diharapkan dapat menjadi produk pertanian unggulan atau ikon kebanggaan masyarakat petani desa Lerep dan  akan berdampak meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya.  Dimasa yang akan datang diharapkan tanaman-Tanaman seperti ini dapat menjadi agrowisata bagi desa di sekitar embung ini. Sebuah gagasan yang bagus brooo...kita doakan saja ini bisa terealisasi.
ini neh keadaan embung ini sebelumnya...gak kerawat...