![]() |
| Curug Indrokilo |
Nama itu selalu membuat penasaran tiap
kali aku membacanya. Begitu jelas terpampang di papan petunjuk arah yang terpancang
tak begitu jauh dari gapura Desa Lerep. "Curug Indrokilo" , begitulah
yang tertulis di papan petunjuk arah yang berwarna hijau bersanding dengan
beberapa nama tempat wisata yang telah familier di telinga , seperti Wisata Watu
Gunung , kolam renang Lerep Indah , dan beberapa tempat lainnya. Apa yang
membuat penasaran bagiku adalah karena setahu saya hanya ada Curug Lawe dan
Benowo di atas desa Lerep ini. Nama "Indrokilo" sebagai sebuah air terjun
terasa begitu asing di telinga.
Karena didorong oleh rasa penasaran aku
pun mulai mencari keberadaan air terjun ini. Langkah pertama yang ku ambil
adalah menggunakan GPS...nah lho GPS yang saya maksud di sini bukanlah yang ada
di smart phone itu lho kawan...GPS disini berasal dari singkatan Gunakan
Penduduk Setempat alias bertanya pada
penduduk sekitar. hehehe...saya pun mulai bertanya pada penduduk yang kutemui ,
yang jelas bukan orang gila di pingir jalan lho tentunya...hahaha.
Tapi di luar
dugaan , dari beberapa orang yang kutemui malah mengarahkan jawabannya ke Curug
Lawe di desa Kalisidi. Nah lho…. makin rumit neh..yang di tanya Curug Indrokilo
malah jawabannya Curug Lawe. Saya pun mulai berpikir ini jangan-jangan cuma
bohongan belaka. Atau bisa juga "indrokilo" adalah nama curug lawe
sebelumnya. Karena terdoktrin oleh pikiran ini saya pun menghentikan perburuan
saya akan curug ini.
![]() |
| Peta ke Dusun Indrokilo...di lihat ya sebagai petunjuk arah... |
Nama tempat itu tetap terpampang di papan
petunjuk arah. Setiap kali saya lewat
tulisan itu semakin membuat penasaran. Karena saya tak bisa tidur karena terngiang
nama Curug Indrokilo ini saya pun mengambil inisiatif untuk bertanya pada mbah
dukun. Dukun ini sangat sakti dan tahu segala hal lho bro...dan dukun ini hanya
melayani lewat jaringan internet...anda pun pasti kenal...nama dukun ini adalah
Mbah GOOGLE.....hahaha tahu kan yang saya maksud kawan....nah cukup ketik satu
kunci , informasi yang kucari pun muncul dilayar Hp smartphone kesayangan...tidak
banyak sih...cuma ada 3 situs yang membahas tempat ini...
ternyata Curug
Indrokilo ini memang ada...keberadannya pun tak jauh dari kolam renang Watu
Gunung..
![]() |
| tuhhh... |
Setelah mendapatkan sedikit pencerahan ,
saya pun mulai berburu Curug Indrokilo ini...untuk menyingkat tulisan ini saya
pun akan mulai langsung dari kota ungaran , tepatnya mulai dari alun-alun lama
kota ungaran yang terletak di sebelah barat pasar Bringharjo. Dari alun-alun
barat kota ungaran ini perjalanan berlanjut ke arah barat menuju kecamatan
Lerep. Jalan raya yang semula datar menurun tajam melewati jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai. Jembatan
ini akan membawa anda ke gapura desa lerep. Disinilah terdapat papan petujuk
arah curug indrokilo yang membuat penasaran itu bro. Nah setelah papan petunjuk
arah ini , jalan raya yang semula menurun pada awalnya , kemudian datar begitu
menyebrangi sungai ; jalan aspal pun kini menanjak tajam dengan sudut kemiringan
antara 50-60 derajat. Dan tidak main-main jalan raya ini terbagi menjadi dua...
Ke kanan atau ke kiri yah?mungkin itu
yang akan terpikir di benak anda ketika sampai ditanjakan bercabang ini...untuk
itulah kawan makanya saya sarankan untuk membaca papan petunjuk arah yang berada
sebelum tanjakan ini. Bagi yang sudah membaca petunjuk arah ini pasti tak akan
ragu mengambil jalan ke kiri ditanjakan bercabang ini. Jalan menanjak ke kiri
ini akan terus membawa anda ke Wisata Watu Gunung. Setelah melewati wisata Watu
Gunung ini sekitar 200 meter kemudian kembali saya temukan pertigaan jalan. Di
sini kembali saya mengambil jalan turun ke kiri...nah pencerahan yang saya dapat dari
mbah Google hanya sampai di sini kawan , jadi setelah pertigaan ini saya
kembali mengandalkan GPS alias bertanya pada warga sekitar. Pilihan saya pun
jatuh pada salah seorang warga yang tengah berkerja di sebuah konstruksi
bangunan...
" Indrokilo mas???...hmmm...bagaimana
ya...begini saja mas dari sini mas ikuti aja jalan ini..ntar kalo ketemu tanjakan
, nah di situ ada pertigaan dengan sebuah pos ojek disebelahnya..mas belok ke
kanan..terus ikuti jalan keatas jangan berbelok-belok nanti mas akan sampai di desa terakhir...nah
itu dia Desa Indrokilo...selanjutnya tanya lagi pada warga desa sana mas biar
lebih jelas.."
Yossss....jawaban ini membuatku bersemangat
karena arah yang kutuju sudah benar...aku lantas mengikuti petunjuk yang ku
dapat..awalnya jalan menanjak dan melewati persawahan yang menguning setelah itu
jalan aspal kembali datar melewati rumah-rumah penduduk. Setelah itu jalan
menanjak tajam. Di atas tanjakan ini terdapat pos ojek dan pertigaan yang
dimaksud. Langsung aja deh , aku belok ke kanan mengikuti jalan yang terus
menanjak tanpa berbelok sedikitpun.
![]() |
| pose dari bawah |
"Mas terus aja..nanti ketemu pertigaan
besar , mas terus aja ke atas...ikuti jalan ini terus sampai ke atas nanti
ketemu desa...nah itu dia desa indrokilo..." di sebuah persimpangan
kembali aku mengorek keterangan dari seorang anak SMA untuk memastikan arah
perjalananku. Dan setelah mendapat info ini aku pun kembali memacu motor
mengikuti jalan yang menanjak. Jalan ini membawaku ke luar desa dan menuntunku
ke sebuah pertigaan jalan persis seperti info yang ku dapat. Selepas pertigaan
ini , jalan aspal semakin menanjak menaiki bukit terjal...disamping kiri dan
kanan jalan tak lagi ditemui perumahan penduduk...hanya ada kebun , hutan , dan
jurang yang cukup dalam. Tapi pemandangan yang terlihat mengesankan semakin ke
atas. Setelah berkendara sekitar 20 menit , tibalah saya di desa terakhir yang
dimaksud. Sebuah sepanduk besar bergambar air terjun dan bertuliskan Wisata
Curug Indrokilo menyambut kedatanganku..
![]() |
| peta ke air terjun dari Dusun Indrokilo..cusss yuuukkk.. |
Yeeepppp...inilah Dusun Indrokilo yang di
maksud itu kawan. Sebuah desa yang berada pada ketinggian 700 Mdpl. Terletak di
sebelah barat ungaran dengan suhu udara berkisar antara 21 - 25 drajad C. Desa
ini terletak di sisi utara Gunung Ungaran
dan merupakan desa tertinggi di daerah Ungaran barat. Sebagai desa
tertinggi , so pasti dusun ini memiliki panorama pemandangan yang luar biasa.
Terbukti ketika saya terus masuk ke dalam pemukiman dan berhenti di salah satu
rumah penduduk , pemandangan lepas ke arah utara tampak menghampar dari halaman pekarangan rumah penduduk. Luar
biasa....subhanallah....begitulah yang terucap dari bibir sampai hati ini.
Deretan awan di kejauhan menghiasi horizon. Bukit-bukit yang tampak terlihat
saling tumpang tindih di lengkapi dengan warna hijau dan titik -titik putih
yang merupakan pemukiman penduduk. Sungguh terbayang pemandangan yang tersuguh
saat malam hari yang di penuhi oleh kerlip lampu rumah dan jalan raya dari tempat
ini. Atau pemandangan saat pagi hari , saat sunrise muncul diufuk
timur...betapa bahagianya penduduk dusun ini yang bisa melihat pemandangan ini setiap
hari ketika membuka pintu rumah mereka.
![]() |
| pemandangan ini neh yang di lihat sehari -hari oleh penduduk desa ini...agak mendung tapi tetap kereeennn.. |
Saya pun tersadar kembali dari rasa
takjubku akan desa ini karena saya belum menemukan tempat yang saya cari ,
Curug Indrokilo. Dan karena minimnya petunjuk arah ke air terjun ini , saya pun
kembali bertanya pada penduduk tentang keberadaan air terjun ini.
"Lurus terus mas , nanti ketemu
pertigaan belok ke kiri...terus ikuti jalan ke kiri ini ntar nyampe
kok..." begitulah jawaban yang ku terima dari salah satu warga ketika
mencari informasi. Tanpa buang waktu , akupun lantas mengikuti arahan yang
kuterima ini. Awalnya jalan datar saja , tapi mendekati pertigaan yang dimaksud
jalan menurun tajam dan di ujung turunan inilah jalan terbagi dua arah. Seperti
info yang kudapat disini , aku pun berbelok ke kiri. Jalan ke kiri ini rupanya
membawaku keluar desa. Saya pun sedikit merasa ragu dengan jalur ini. Karena
jalan ini semakin menjauhi desa dan melewati rimbunnya hutan bambu dan pohon
tinggi lainnya. Namun ke khawatiran saya pun lenyap ketika saya menemui sebuah
pos bertuliskan "LOKET" dan sebuah papan petunjuk arah bertuliskan
"Ke Air terjun" di ujung jalan beton selebar 1 1/2 meter.
![]() |
| gak perlu di omongin dehhh...tu ada kok keterangannya...hehehhe |
Tapi...anehhh...tak ada satu pun orang
yang berjaga di sini...lagipula tak tersedia tempat parkir ...hanya tersedia
sedikit tanah lapang yang bisa digunakan untuk parkir motor...tanah lapang ini
pun tak muat bila di gunakan untuk parkir 1 mobil pun...sebenarnya dari loket
ini jalan beton masih berlanjut berbelok ke kanan menuruni bukit yang terjal...terbersit
sebuah dugaan bahwa tempat parkir yang sebenarnya ada di penghujung jalan ini?namun
melihat dari jalan yang berlanjut ke bawah ini cuma selebar 50 cm lebih dengan
kondisi jalan yang masih meragukan aku pun jadi ragu dengan pemikiranku
sebelumnya. antara penasaran dan ragu , untung saja seorang petani yang sedang
menggotong rumput di atas kepalanya melintas dari arah jalan ini...buru-buru
aku menyapa dan bertanya pada bapak-bapak separuh baya ini.
"Ya kalau jalan bisa mas bawa motor ke
bawah tapi paling cuma sampai di penghujung jalan ini mas...lepas itu mas harus
jalan kaki untuk menuju air terjun..." jawaban yang cukup membuatku yakin
untuk langsung membawa motor mengikuti jalan beton menurun ini. Tapi diluar
dugaan jalan beton ini tak semulus yang dikatakan sebelumnya. Karena jalan ini
melewati pinggiran jurang dan tidak rata. Disamping itu sudut kemiringan jalan
beton ini benar-benar tajam sehingga bikin hati was-was saat melewatinya..ingin
diriku putar arah dan kembali ke atas namun kodisi jalan yang sempit di pinggir
jurang membuatku tak bisa lagi balik arah...praktis akhirnya akupun nekat maju
melewati jalan maut ini...dan rupanya tak sampai 1 km jalan ini pun berakhir di
tengah jalan yang tidak terlalu lebar. Jalan beton pun digantikan dengan jalan
setapak. Pengerjaan betonisasi ini tampaknya memang belum selesai. Terlihat
dari beberapa matrial bangunan seperti pasir dan kricak yang tampak di jalan
tanah ini. Terpaksa akupun memparkirkan kendaraanku di badan jalan yang memiliki
lebar kurang dari 1 setengah meter ini. Selanjutnya...jalan kaki merupakan
satu-satunya pilihanku untuk menuju air terjun ini.
![]() |
| habis menuruni anak tangga ini...sampai deh di kawasan perkebunan... |
![]() |
| setelah melewati perkebunan kopi n cengkeh...gini neh jalur ke curug.. |
![]() |
| mendekati lokasi air terjun bakalan ketemu neh papan....kalo belum hilang...hehehe |
Air terjun Indrokilo ini berada di Dusun
Indrokilo , Desa Lerep , kecamatan Ungaran Barat , Kabupaten Ungaran. Terletak
diketinggian 640 mdpl , air terjun ini memiliki ketinggian sekitar meter 25
meter lebih. Aliran air dari Curug ini berbentuk lurus ke bawah. Air ini
kemudian membentur dinding tebing dan membentuk aliran-aliran air yang kecil sebelum
akhirnya jatuh di dasar curug. Di bawah air terjun , air yang jatuh membentuk
sebuah kolam kecil dengan kedalaman hingga diatas mata kaki orang dewasa. Tak terlalu
dalam memang....air dari kolam ini terus mengalir di sela-sela bebatuan dengan
berbagai macam ukuran membentuk sungai kecil yang terus mengalir hingga sampai
ke bawah desa indrokilo. Suasana di sekitar curug ini masihlah sangat alami.
Di
kanan dan kiri air terjun ini masihlah banyak di jumpai pepohonan tinggi dan
rimbun. Di pohon-pohon tinggi ini kadang terdengar kicauan burung liar yang
riuh bersaing dengan suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian. Keberadaan
air terjun ini pun cukup tersembunyi karena letaknya yang berada di bawah
lembah dan di apit oleh dua bukit yang disatukan oleh tebing dimana air terjun
ini terbentuk. Sehingga praktis air terjun ini jarang sekali di kunjungi oleh manusia
dahulunya. Setelah beberapa waktu yang lalu curug ini mulai di kenal oleh beberapa
mahasiswa yang melakukan KKN di desa indrokilo. Lalu keberadaan air terjun ini
mulai di kenalkan kepada masyarakat luas dan pembangunan sarana jalan , papan
penunjuk arah , mulai digalakan dibeberapa titik disepanjang jalan menuju air
terjun ini. Bahkan jalur pendakian menuju puncak gunung Ungaran pun di buka
melalui Desa Indrokilo ini. Tapi meskipun telah di usahakan , tampaknya masih
belum banyak yang tau keberadaan air terjun ini. Terlihat dari jumlah kunjungan
wisatawan yang masih sedikit terlihat. Sehingga kealamian air terjun ini dari
jamahan tangan manusia masih sangat terasa sekali.
![]() |
| kaya orang hilang... |
EMBUNG SEBLIGO dari Desa Lerep
![]() |
| ini neh tampilan sebuah embung.... |
Ada yang tahu apa itu Embung???
Embung adalah tampungan air atau Waduk kecil
buatan yang di gunakan untuk mengairi tanaman perkebunan. Beda antara embung
dan waduk adalah pada cara untuk menampung air , asal sumber air yang ditampung
, tempat pembuatan , luas , serta fungsi dari pembuatannya. Kalao waduk
biasanya dibuat dengan membendung aliran sungai tanpa bahan apapun untuk
menampung airnya , Umumnya embung menggunakan bahan plastik polymer tebal yang
di letakkan pada bidang tanah cekung. Luas cekungan ini bisa sampai
berhektar-hektar tergantung pembuatan. Cekungan tanah yang terlapisi plastik
polymer ini kemudian akan menampung air hujan yang turun sehingga semakin besar
intensitas hujan yang turun air yang ada pada suatu embung pastilah banyak.
Air dari waduk biasanya terus mengalir
tanpa henti karena berasal dari aliran sungai dengan debit air yang bisa di atur sepanjang
waktu. Kondisi ini sangat tepat untuk mengairi areal persawahan. Tapi tidak
demikian dengan embung. Air hanya di alirkan disaat kurang hujan dan umumnya ,
embung di bangun di dataran atau tempat yang tinggi untuk mempermudah
mengalirkan air ke tanaman. Fungsi dari embung ini sendiri umumnya di gunakan
untuk mengairi tanaman perkebunan dan buah-buahan. Itulah sedikit penjelasan
tentang Embung.
Lalu apa menariknya dari embung
ini...well karena rata-rata sebuah embung selalu dibuat di tempat yang tinggi ,
rata-rata sebuah embung memiliki pemandangan yang menawan hati dan suasana khas
pegunungan. Namun keberadaan embung di pulau jawa sendiri masihlah jauh dari
kata banyak. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Terlebih di daerah kota Semarang
dan sekitarnya , sangat jarang di temui. Dan satu-satunya embung yang bisa di
temui adalah Embung Sebligo yang berada dibawah lereng sebelah timur dari
Gunung Ungaran. Tepatnya berada di desa
kelurahan Lerep , Kecamatan Ungaran Barat , Kabupaten Semarang. Letak
embung ini masih sejalur dengan arah ke desa Indrokilo. Jadi pastikan untuk
mampir sejenak ya kawan di embung ini ketika berkunjung ke Curug Indrokilo...gak
ada ruginya kan...hehe
![]() |
| siapa yang mau berfoto?? |
Pembangunan embung ini pada awalnya di
dasari oleh kekeringan yang melanda seluruh indonesia pada tahun 2013 dan
selesai pada bulan maret 2016. Pembangunan embung ini sendiri menelan biaya sebesar
Rp. 965.030.000,00. Dana sebesar inipun tak serta merta terkucur dan terbagi
menjadi 2 tahap , yaitu melalui dana bantuan APBD Prop. jateng dan dana APBD
Kabupaten Semarang pada tahun 2014 sebesar Rp 785.030.000 dan dari APBD Kab.
semarang pada tahun 2015 sebesar Rp 180.000.000.
Embung ini awalnya mulai tak terurus dan bocor di salah satu
sisinya , tapi belakangan masyarakat mulai intens melakukan perbaikan dan
pembersihan sejumlah tempat duduk terbuat dari potongan kayu di buat di pinggir
embung ini. Dan beberapa tempat selfi di ketinggian pun di buat menempel di
pohon-pohon tinggi. Keberadaan tempat selfi berbentuk hati berwarna biru di
pinggir embung ini pun turut mempercantik penggiran embung ini. Juga di buat
tempat untuk menggantungkan gembok sebagai simbol cinta.
Tapi bagi saya sendiri , yang mengesankan
dari tempat ini adalah suasananya. Tempat ini cocok untuk sekedar nongkrong
bersama teman atau memadu cinta bersama kekasih tercinta...
Duduk di salah satu bangku kayu sambil
memegang secangkir kopi dan memakan cemilan seperti pisang goreng atau
lainnya...mendengarkan suara angin yang membuat daun bergoyang sambil melihat
air di tengah embung tersibak , beriak-riak karena angin...kadang terdengar
kicau burung di kejauhan...bau khas pedesaan yang masih segar dan alami...sungguh...anda
harus mencobanya sesekali.
Nah karena pembangunan embung ini bukanlah
untuk kolam renang , jadi...please ya bro jangan nyemplung di embung
ini...begitupun kalau melihat ikan , biawak , dan , ular tengah berenang di
tengah kolam buatan ini , jangan juga deh melempar kail ke tengah kolam.
Terlebih lagi menembak atau memanah ke arah embung ini. Selain dapat membuat
kebocoran pada lapisan penampung air , memburu satwa kan juga dapat membuat
hewan tersebut menjadi langka...jadi merugikan orang lain kan??
Embung ini sendiri memilili luas 60 x 80
meter dengan tinggi 4 meter dan berdiri
di atas tanah bekas bengkok Desa Lerep. Dengan luas seperti ini , embung Lerep
ini dapat menampung air dengan volume kurang lebih 4000 meter persegi. Dengan
volume air yang cukup melimpah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan
air untuk pertanian tanaman hortikultura khususnya buah durian montong yang diharapkan dapat menjadi produk pertanian
unggulan atau ikon kebanggaan masyarakat petani desa Lerep dan akan berdampak meningkatkan kesejahteraan petani
dan masyarakat pada umumnya. Dimasa yang
akan datang diharapkan tanaman-Tanaman seperti ini dapat menjadi agrowisata
bagi desa di sekitar embung ini. Sebuah gagasan yang bagus brooo...kita doakan
saja ini bisa terealisasi.
![]() |
| ini neh keadaan embung ini sebelumnya...gak kerawat... |
















