 |
| kale ini saya gak sendiri guys....hehe |
Wah gak ada mas curug yang namanya kaya gitu di sini. Ada juga
Curug Lawe mas.."
Begitulah jawaban yang ku terima saat mencoba bertanya pada salah satu penduduk
Desa Pakis saat ku tanya tentang keberadaan Curug Citro Arum yang katanya ada
di desa ini. Memang menurut literatur yang kubaca di salah satu blog , dulunya
Curug ini di sebut dengan nama Curu Lawe oleh masyarakat sekitar. Baru setelah
di bukanya curug ini untuk umum pada bulan Mei 2015 , curug ini resmi di
ganti dengan nama Curug Citro Arum.
Curug Citro Arum adalah sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meteran
lebih yang berada di Desa Pakis , Kecamatan limbangan , Kabupaten Kendal , Jawa
Tengah. Sebenarnya curug ini telah lama ada tetapi kurang begitu di kenal oleh
masyarakat luas. Dulunya di namakan "Lawe" karena bila di lihat dari
kejauhan aliran air yang jatuh dari curug ini terlihat seperti untaian benang
lembut seperti arti nama Lawe sendiri. Kemudian oleh mahasiswa dari Unnes yang
melakukan KKN di desa Pakis mencoba mengenalkan curug ini ke dunia luar dengan
membuat beberapa papan petunjuk menuju curug ini dan dua curug di atasnya
dari jalan Limbangan sampai Desa Pakis yang letaknya memang cukup jauh dari
jalan raya. Oleh beberapa tokoh desa kemudian muncul ide untuk membuka curug
ini menjadi sebuah obyek wisata yang diharapkan bisa mengangkat perekonomian
warga desa Pakis. Kemudian akses jalan menuju curug ini pun di perbaiki dan
ditambah hingga ke tempat parkir yang seperti sekarang. Nama curug ini pun di
ganti dengan nama Curug Citro Arum Dan air terjun di atasnya di namakan Curug
Tundo Tigo.
 |
| curug citro arum yang keren.... |
Air terjun ini berada di lereng sebelah barat gunung ungaran. Walau pun telah
diresmikan , tapi kenyataannya sampai saat ini tak ada biaya retribusi resmi
untuk menuju air terjun ini , pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir
sebesar Rp 2.000. Walau memang akses jalan dari jalan Sumowono-Limbangan sampai
tempat parkir motor terbilang sudah cukup bagus untuk sepeda motor. Di katakan
tempat parkir sih bukan seperti tempat parkir karena di sini hanya tersedia
tanah lapang yang berada di pinggir jalan. Nah lho sampai sini anda pun bisa
membayangkan sendiri bagaimana sebenarnya obyek wisata yang satu ini. Yang
jelas ....satu kata yang tepat untuk air terjun ini adalah masih alami.
Wah...asyik dong...
 |
| ini neh peta air terjun di sekitar limbangan...mau download ukuran besarnya?klik disini |
Begitulah
kawan...perjalanan menuju Desa Pakis sendiri pun terbilang juga asyik lho bro.
Terlebih jika anda datang dari arah Bandungan atau Sumowono. Sepanjang jalan
anda akan melewati jalan memutari gunung ungaran dengan pemandangan dan hawa
udara khas pegunungan yang indah dan segar. Terlebih ketika anda tiba di daerah
setelah pasar Sumowono ; Jajaran sawah , kebun sayur , dan ladang
menghiasi di sepanjang kanan dan kiri jalan. Dari terminal Sumowono ini , anda
harus mengambil ke arah Limbangan melewati jalan yang naik turun sejauh kurang
lebih 11 Km.
 |
| tikungan menuju Desa Pakis dari Jl.Sumowono-Boja |
Dari jalan raya Sumowono-Limbangan ini , masih di butuhkan waktu menempuh jarak
sekitar 3 km melewati jalan menanjak yang terbuat dari beton cor dengan kondisi
yang masih bagus. Tanjakan menuju desa pakis ini memiliki kemiringan antara
30-45 derajat. Akses jalan pun melewati jajaran pohon tinggi dan tak ada
satupun rumah penduduk dikiri dan kanan jalan. Saran saya , persiapkan kondisi
kendaraan anda dengan seksama. Cek roda kendaraan anda dan pastikan tidak
kekurangan angin apalagi sampai bocor. Karena anda tak kan menemui bengkel
tambal ban di area ini. Jangan lupa juga untuk mengecek tingkat kepekaan dari
rem kendaraan anda karena jalan yang dilalui menuju Desa Pakis ini naik turun
dengan banyak tikungan tajam dengan jurang di sisi jalan. Kondisi jalan ini
akan anda temui di sepanjang jalan menuju desa ini baik anda lewat Jalur
Bandungan-Sumowono maupun lewat Jalur Boja-Limbangan.
 |
| peta ke citro arum bro....bagi yang butuh peta ini dalam ukuran besar klik aja disini |
Kembali ke tema kawan ,
setelah menanjak selama kurang lebih 10 menit , sampailah anda di desa pakis di
tandai dengan keberadaan rumah penduduk yang berada di kiri kanan jalan.
Sekitar 100 meter kemudian Jalan menanjak ini pun berujung di sebuah pertigaan jalan
dengan jalan ke kiri merupakan jalan menuruni bukit dan jalan ke kanan
merupakan jalan menanjak.
Sebuah petunjuk arah bertuliskan Citro arum menunjuk ke arah kiri ke arah jalan
menurun. Saya tahu memang jalan ke arah kiri ini terlihat kurang menyakinkan.
Karena jalan yang terdiri dari 2 lajur jalan beton dengan lebar masing 50 cm
ini melewati rimbunnya pohon pohon tinggi dan terlihat seram dan juga
angker..siapapun yang melihat jalur ini pasti berpikir ini bukanlah jalan
manusia...tapi kenyataannya memang jalan inilah jalan menuju ke curug citro
arum.
 |
| jangan kaget ya...jalannya memang kayak gini bro... |
Andapun mesti berjalan dengan pelan ketika menuruni turunan ini. Karena
selain jalan di sini memiliki turunan yang tajam dengan sudut elevasi antara
30-45 derajat, jalan beton di jalur menurun ini juga licin karena banyaknya
lumut yang tumbuh di sepanjang jalan. Di samping itu semua di kiri jalan dari
arah anda datang terbentang jurang yang cukup dalam di sepanjang jalan.
Bahaya??sudah pasti kawan...karena turunan benar benar tajam sehingga dapat
memacu adrenalin anda. Karena itulah sejak awal saya selalu menekankan kepada
anda yang berniat berkunjung ke tempat ini untuk benar-benar memeriksa kondisi
kendaraan anda sebelumnya.
Balik ke benang merah yuk...dari pertigaan , Awalnya jalan ini lurus menuruni
bukit sejauh 400 meter untuk kemudian berapa kali berbelok kemudian dari jauh
terlihat berbelok tajam ke arah kiri. Di tikungan ini terdapat sebuah tanah
lapang dengan sebuah papan petunjuk arah menuju curug Citro Arum. Di sinilah
anda harus berhenti dan memparkirkan motor anda karena sampai di sinilah anda
bisa membawa motor anda.
 |
| tempat parkir neh...sederhana khan... |
Dari tanah lapang di pinggir tikungan jalan betonisasi yang tampaknya di
fungsikan sebagai tempat parkir ini , pengunjung masih harus berjalan kaki
sejauh 600meter melewati rimbunnya hutan untuk menuju ke Air Terjun Citro Arum.
Dari sini cuma ada jalan setapak bro jadi kalo mau ajak cewe sebaiknya jangan
memakai sepatu hak tinggi yaw...lebih nyaman memakai sandal jepit karena
kalopun pakai sepatu kondisi tanah di sini cukup lembab dan anda akan dipaksa
untuk menyeberangi sungai beberapa kali sehingga bisa saya pastikan sepatu anda
akan basah oleh lumpur atau air sungai.
 |
| harus siap basah-basahan lohhhh.. |
Tapi jalan setapak di sini masilah
minim petunjuk arah dan banyak percabangan jalan yang pasti membuat bingung.
Saya sendiri saat berkunjung ke tempat ini harus mengamati dengan cermat
mengamati setiap patunjuk arah yang umumnya cuma berupa tanda panah dari cat
putih yang berada di batu batu. Tapi sebenarnya gak sulit-sulit banget kok guyz
, karena cukup mengikuti sungai kecil yang mengalir di sepanjang sisi jalan
anda pun pasti sampai di air terjun ini.
Perjalanan tracking
menuju air terjun pun menurutku pun tidak membuat bosan lho , soalnya kita akan
banyak menemui pohon pohon besar yang cukup eksotik sehingga tracking menuju
air terjun ini serasa kita melewati jalan di dunia lain. Memang sih bila di
lihat sepintas suasananya di sini terasa angker tapi ini bukti bahwa tempat ini
masih perawan dan belum banyak terjamah tangan manusia. Keren kan...???

Sekitar
15 menit kita menyusuri deretan pohon pohon tinggi dan beberapa tanaman daerah
lembab yang cukup tinggi dari tempat kita meninggalkan kendaraan kita ,
akhirnya suasana pun menjadi lebih terang karena vegetasi yang semula rapat
oleh pohon dan semak menjadi terbuka. Jalan setapak kembali mengikuti pinggiran
sungai yang jernih dan bening. Dan tebak kawan di kejauhan terlihat sebuah
tebing tinggi dengan sebuah guratan putih menempel di atasnya mirip sebuah
benang putih. Setelah di amat-amati ternyata guratan putih yang sekilas mirip
benang putih ini adalah Air terjun yang di maksud. Ya....inilah Air Terjun
Citro Arum itu....
 |
| tingginya itu lho...ckckck...kerennnn... |
Baru aku menyadari kenapa air terjun ini dulu sering disebut dengan "Curug
Lawe". Karena bila di perhatikan dengan benar air yang mengalir dari
tebing hitam setinggi 100 meter lebih ini terlihat seperti untaian benang.
Curug yang berada di ketinggian sekitar 825 meter dari permukaan laut ini
berada di sebuah tebing berbentuk melingkar. Bagian atas dari tebing air terjun
ini terlihat menonjol sementara bagian bawah terlihat masuk ke dalam. Di
sekeliling tebing bamyak mengalir air dari celah celah tebing ini. Dari
penjelasan saya di atas tentunya anda bisa membayangkan banyak rongga dan celah
didalam tanah yang terbentuk di tebing ini. Ini berarti tebing ini juga rawan
terhadap longsor. Penulis sendiri juga sempat melihat beberapa longsoran
terjadi di sekitaran jalan menuju air terjun ini. Ini adalah suatu yang anda
perlu waspadai ketika berkunjung ke air terjun ini.
 |
| kelebatan hutan prawan di sekitar curug.. |
Tapi dibalik semua resiko ini , Air terjun Citro Arum ini memiliki keindahan
sendiri lho kawan. Airnya yang jatuh dari ketinggian tidak lantas langsung
jatuh ke bawah , air dari atas air terjun ini terlebih dulu jatuh membentur
pada batu di pertengahan tebing yang kemudian memecah air menjadi beberapa
aliran kecil dan jatuh di bawah tebing membentuk kolam kecil yang tak terlalu
dalam. Dari kolam ini air ini lantas mengalir ke bawah membentuk sungai kecil
dengan air yang bening dan jernih. Dan satu yang membedakan air terjun ini
dengan air terjun lainnya adalah banyaknya tumbuhan rambat yang tumbuh di
sepanjang tebing ini sehingga suasana asri dan hijau terlihat mendominasi
sekeliling air terjun ini. Terlebih dengan keberadaan hutan citro arum yang
masih perawan dan rimbun. Menambah suasana semakin terasa adem di hati.
Sementara deburan air dari atas yang terpecah ini sebagian jatuh membentuk
butiran butiran kecil yang membasahi sekeliling air terjun. Hal ini membuat
tanah sekitar menjadi lembab sehingga banyak tumbuh tanaman perdu di bawah air
terjun..
 |
| gambar ini ku ambil saat kemarau bro...walau kecil airnya,tapi tetap indah kok.. |
Nama "Citro Arum" sendiri di ambil dari kata Citro , nama dari Mbah
Citro yang merupakan cikal bakal atau tokoh pendiri dari Desa Pakis. Sedang
kata "Arum" adalah kata harum dalam bahasa jawa. Konon hal ini
merujuk pada sumber air dari air terjun ini yang berasal dari sebuah mata air
yang di sebut oleh masyarakat sebagai Tuk Wangi. Tuk dalam bahasa indonesia
bisa diartikan sebagai mata air dan wangi sendiri berarti harum. Dari sini bisa
di simpulkan arti dari "tuk wangi" adalah mata air yang harum. Nama
ini pun tak asal comot , karena konon air yang keluar dari tanah di Tuk Wangi
ini berbau harum. Dari sumber mata air mengalirlah air menuju ke bawah yang
kemudian membentuk air terjun ini. Tak hanya Curug Citro Arum saja , air dari
mata air ini juga membentuk 2 air terjun di atasnya , Curug Tundo Tigo dan
curug tanpa nama yang konon telah mengering.
CURUG TUNDO TIGO
 |
| curug tundo tigo |
Awalnya membaca kata
"TUNDO TIGO" di papan petunjuk arah saya sempat bingung juga
dibuatnya....tempat apa ya ini...dari namanya kelihatannya menarik neh...
Setelah sempat ngobrol ke sesama pengunjung yang datang ke curug citroarum ,
barulah saya tahu Tundo Tigo adalah nama sebuah curug yang berada di atas curug
citroarum. Letak curug ini berada di desa kedokan yang berada di atas desa
pakis. Untuk menuju Curug Tundo Tigo , Dari Curug Citroarum anda harus
berkendara menuju ke desa pakis kembali menaiki jalan menanjak hingga sampai ke
pertiggan jalan terus ambil jalan ke kiri yang menanjak. Tidak jauh kok kawan ,
karena 10 menit berkendara anda akan memasuki sebuah perkampungan kembali
setelah sebelumnya melewati beberapa perkebunan penduduk dari pertigaan jalan.
 |
| peta ke Curug Tundo Tigo...neh bagi yang butuh ukuran gambar aslinya klik DI SINI |
.
Tak ada tempat parkir
khusus untuk motor anda , jadi andapun harus menitipkan motor anda di
rumah penduduk. Tepatnya di rumah pak minto yang merupakan rumah warga yang
terdekat dari jalan menuju ke curug. Dari perkampungan penduduk ini tak ada
petunjuk arah satupun untuk menuju ke Curug Tundo tigo jadi ada baiknya anda
bertanya pada pak minto mengenai arah pasti menuju curug ini. .
 |
| belum ada tempat parkir lho...jd titipin aja di rumah pak minto ini.. |
Tapi bagi anda yang
segan bertanya , saya akan coba uraikan arah-arah menuju curug ini dari rumah
warga...nah dari rumah pak minto perjalanan menuju ke lokasi curug ini anda
harus berjalan ke arah melewati jalan setapak yang letaknya berada dibelakang
rumah pak minto. jalan setapak ini tidak terlalu lebar dan cukup membingungkan
bagi siapa saja yang pertama kali melewatinya. Tapi patokan yang pasti bagi
anda adalah carilah jalan setapak yang menuju areal persawahan karena jalan
setapak ke arah sawah ini cuma ada satu.
 |
| ke kiri bawah mas.... |
Sesampai
di area sawah penduduk terus ikuti jalan setapak ini hingga jalan terbagi
menjadi dua , jalan lurus ke kanan dan jalan turun ke kiri. Untuk menuju curug
tundo tigo ambilah jalan turun ke kiri. Terus ikuti jalan menurun ini hingga di
akhir jalan menurun ini anda akan menemui sebuah sungai. Dari sungai ini
terlihat jalan menikung menanjak ke kiri. Tapi tunggu dulu kawan....jangan
ikuti jalan ini karena jalan ini bukanlah jalan menuju ke curug Tundo Tigo.
Lalu yang mana neh???
 |
| nah ikuti panah merah itu bro |
Jalan untuk menuju ke
curug terletak di samping sungai , tepatnya berada di sisi kiri sungai dari
tempat anda datang. Jalan setapak ini tak terlihat dan sepintas terlihat
seperti kumpulan semak belukar jadi anda harus jeli mengamatinya. Saya pun
sempat terkecoh saat pertama kali berkunjung ke tempat ini dan terus saja
mengikuti jalan menikung yang menanjak ke kiri. Setelah berjalan ngos-ngosan
dan tak menemukan satupun sungai atau sumber mata air baru saya sadari saya
telah kesasar dan kembali lagi menuju ke sungai yang berada jauh di bawah
kembali. Sesampai di sungai saya pun mengamati sekeliling sungai dengan jeli
dan menemukan jalan setapak ini.
Terus ikuti jalan setapak yang memiliki jalur berkelok-kelok mengikuti aliran
sungai ini. Tidak butuh waktu lama brooo...10 menit dari percabangan jalan tadi
anda pun sampai di Curug Tundo Tigo. Kesan yang bisa anda dapatkan saat pertama
melihat curug ini adalah tenang dan teduh. Walau memang curug tundo tigo ini
tak setinggi curug citro arum. Aliran airnya pun tak sederas curug citro arum.
 |
| curug dengan suasana yang tenang... |
Curug ini memiliki
ketinggian sekitar 20 meteran dan berada pada ketinggian 875 mdpl. Air nya yang
jernih mengalir dari tebing berwarna hitam dan jatuh membentuk kolam selebar
5x5 meter...cukup lebar bagi anda yang yang Punya hobby renang dan ingin
mencoba ke ahlian anda di sini. Di lihat dari bentuknya kolam ini bukanlah
kolam yang terbentuk secara alami dan sengaja di buat oleh penduduk untuk
membuat curug ini semakin terlihat menarik. Tapi bila di bandingkan dengan
Curug Citro Arum , air terjun ini memiliki debit air yang relatif lebih kecil
sehingga mungkin anda akan merasa sedikit kecewa. Tapi bukanlah debit air atau
tingginya yang membuat curug ini menarik , melainkan suasana yang di tawarkan.
Suasana di curug ini sangatlah tenang. Di sekeliling air terjun banyak dinaungi
oleh rimbunnya pepohonan sehingga suasana teduh pun sangat terasa di curug ini.
Saking rapatnya vegetasi di curug ini langit biru pun hampir tak terlihat.
 |
| kerimbunan hutan tundo tigo... |
Dari pohon pohon ini
kadang berhembus angin sejuk yang membuat dingin kepala. Keadaan sekitar pun
masih bersih dari sampah dan kotoran. Sebuah bukti bahwa tempat ini masilah
alami dan belum banyak di datangi oleh manusia. Yang paling membuat Krasan
adalah keberadaan kolam Dibawah air terjun yang memiliki air yang jernih sedalam
lutut orang dewasa. Air yang tak terlalu deras jatuh dari ketinggian
menimbulkan suara gemericik yang membuat pikiran dan hati menjadi damai. Sebuah
tempat yang cocok untuk sekedar duduk dan menghabiskan waktu bersama teman
atau.... pacar mungkin...hehehe Terus...kenapa sih di namakan "Tundo
Tigo"?sepintas bila di dengarkan mirip bahasa minang kan?coba aja lihat
rumah makan padang ...mereka umumnya memakai nama untuk restoran mereka dengan
pengucapan yang sama...contoh rumah makan citro bundo , rumah makan bundo tigo,
dll..apa ada hubungannya ya???saya pun berpikir demikian ketika pertama kali
mendengar nama curug ini. Hahaha
 |
| bingung mau pose gimana....hehehe |
Ternyata ini asumsi
yang ngawur lhooo...hahaha
Nama Tundo Tigo berasal dari kata bahasa jawa "Tundo" yang berarti
mengurungkan atau menunda dan "Tigo" yang berarti "tiga".
Dengan begitu bisa di artikan Curug Tundo Tigo bisa diartikan "air terjun
yang menunda tiga".
Kok???artinya begitu???
Iya kawan...menurut salah satu penduduk nama ini ada kaitannya dengan 3 curug
yang ada di kawasan desa pakis ini. Curug yang paling bawah adalah Curug Citro
Arum. curug yang kedua berada di tengah , curug Tundo Tigo. Dan curug terakhir
berada di atasnya tanpa nama dan telah mengering tanpa air yang mengalir
sedikitpun. Karena curug yang terakhir ini telah mengering dan semua mata
airnya berpindah ke curug yang kedua ini maka curug yang kedua inipun dinamakan
dengan nama Curug Tundo Tigo yang berarti curug yang menunda curug ketiga untuk
menjadi air terjun. Begitu sih menurut penduduk setempat..lucu jugs
yah...Hahaha
 |
| suasana yang bikin adem hati guys... |
Inilah uniknya indonesia kawan. Kadang sebuah hal yang sederhana
bisa menjadi nama dari sebuah tempat. Ada jatingaleh, watugong , dan yang
terakhir yang saya sebutkan adalah curug citro arum dan curug Tundo Tigo...nama
yang unik membuat kita menjadi penasaran untuk mencoba mengunjunginya. Semoga
saja kelestarian dari tempat ini tetap terjaga hingga anak cucu kita.
Salam trip gan, :D
BalasHapussempet kemari beberapa waktu lalu, sekarang banyak perubahan ya. Dulu pertama kesini sepi banget + motornya diparkirin di sembarangan :D
Iya neh mas...pertama kali ke sini , saya sempat was was ninggalin motor , namun tetep aja parkir di sembarang tempat walo bagian cakram di roda depan akhirnya ku pasangi gembok...hahaha...kedepannya semoga aja tempat ini semakin bagus dengan di bangunnya taman dan jembatan...bt w nih ada recomend tempat yang gak kalah keren mas bro...baca di sini http://negeriangin-negeriangin.blogspot.com/2016/02/menjelajah-kawasan-wisata-curug-glawe.html
HapusCoba kunjungi deh karena letaknya gak jauh dari citro arum...salam trip :)
Iya neh mas...pertama kali ke sini , saya sempat was was ninggalin motor , namun tetep aja parkir di sembarang tempat walo bagian cakram di roda depan akhirnya ku pasangi gembok...hahaha...kedepannya semoga aja tempat ini semakin bagus dengan di bangunnya taman dan jembatan...bt w nih ada recomend tempat yang gak kalah keren mas bro...baca di sini http://negeriangin-negeriangin.blogspot.com/2016/02/menjelajah-kawasan-wisata-curug-glawe.html
HapusCoba kunjungi deh karena letaknya gak jauh dari citro arum...salam trip :)
tadi saya dari sana gan... bagus tempatnya,,, cuma saran saya rem motor harus benar" dicek kondisinya...
BalasHapusSippp brooo...jangan lupa untuk kunjungi air terjun lainnya...masih banyak lho air terjun di sekitar sumowono...
Hapusmau nanya mass ... kalo curug corong sebelah mana nya curug citro arum (desa pakis)
BalasHapusBila dari arah limbangan kendal curug corong berada setelah curug citro arum dan pangleburgongso....bila dari arah sumowono bandungan , curug corong berada sebelum curug citro arum dan curug panglebur gongso , dan berada persis setelah curug klenting kuning yang berada di desa kemawi....
BalasHapus