Tampilkan postingan dengan label Goa Kreo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Goa Kreo. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 24, 2015

Wajah Baru GOA KREO

.

GOA KREO
Berbicara tentang Goa Kreo,pasti yang terlintas dipikiran sobat pastilah "monyet atau kera". Tentu saja karena obyek wisata ini selain menawarkan wisata alam berupa goa dengan kedalaman mencapai 100 meter, juga menawarkan wisata ekologi ; yaitu interaksi dengan kera liar yang konon telah lama ada di sekitar goa ini. Kera-kera yang berjenis kera ekor panjang dengan nama latin macaca fascicularis ini dipercaya oleh warga sekitar sebagai penjaga goa kreo semenjak dahulu kala..Sebenarnya Goa Kreo sendiri telah lama eksis di dunia pariwisata jawa tengah. Tapi karena tidak terurus dan terkelola dengan baik ; obyek wisata ini tidak banyak dilirik oleh wisatawan dan kurang terkenal dibandingkan dengan obyek wisata lain di jawa tengah.

JEMBATAN PENGHUBUNG  DAN 106 ANAK TANGGA BRO..bikin urat kaki tegang nehhh..
 Goa kreo berada di Dukuh Talun Kacang Kelurahan Kandri Kecamatan Mijen. Kawasan Wisata ini merupakan areal hutan seluas kurang lebih 5 hektar yang terletak di daerah perbukitan (Gunung Krincing ) dan lembah Sungai Kreo walau sungai kreo sendiri sekarang telah menghilang. Obyek wisata yang berada sekitar  ± 13 km dari bundaran Tugu Muda ke arah selatan ini berdiri diatas bukit sehingga dari obyek wisata ini dapat terlihat jelas pemandangan sekitar desa kandri dan kecamatan gunung pati. Dahulu tempat ini hanya menawarkan pemandangan hutan,lembah dan sungai kreo disamping goa kreo itu sendiri. Tapi sekarang goa kreo menampilkan wajah baru yang menawan. Goa kreo yang tadinya membosankan menjadi super keren sejak Waduk Jatibarang selesai dibangun. Air dari waduk ini mengalir dibawah bukit tempat Goa Kreo berada sehingga bukit tempat Goa Kreo berada seolah menjadi pulau kecil di sebuah danau. Sebuah jembatan dibangun untuk menghubungkan Goa Kreo dengan daratan. Jembatan ini memiliki desain yang unik sehingga menambah kesan moderen pada tempat ini. Di tengah jembatan terdapat sebuah gardu pandang dengan beberapa tempat duduk untuk pengunjung menghilangkan penat. Dari grdu pandang  ditengah jembatan ini pengunjung bisa puas berlama-lama memandang indahnya waduk jatibarang yang seperti lautan berpadu dengan lembah lembah hijau dan birunya langit. Semilir angin sepoi menambah suasana damai dihati. Tidak salah kiranya bila tempat ini dijuluki "danau toba-nya jawa tengah". 

WADUK JATIBARANG dari jembatan..
 Waduk jatibarang sendiri dibagun dengan tujuan sebagai pengendali banjir, pasokan air baku untuk irigasi dan air minum serta pembangkit tenaga listrik (PLTA) dan pengembangan potensi pariwisata. Tentu saja pembangunan waduk ini diselaraskan dengan normalisasi sungai Kali Garang, pembangunan Banjir Kanal Barat dan drainase kota semarang. Hal ini sebagai upaya untuk menanggulangi banjir tahunan yang selalu melanda kota semarang. Pembangunan waduk ini tak lepas dari bantuan pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA) pada tahun 2010 dan diresmikan pada bulan mei 2014 oleh Menteri Pekerjaan Umum saat itu , Djoko Kirmanto. memiliki kapasitas 20,4 juta meter kubik. Dengan volume air itu diperkirakan mampu menjadi sumber air baku dengan kapasitas 1.050 meter kubik per detik untuk pembangkit listrik mikro hidro dengan kapasitas 1,5 megawat. Dengan daerah tangkapan 54 km2 dan luas genangan 184 ha, muka air maksimum dapat mencapai tinggi kurang lebih 155,30 dengan elevasi puncak setinggi 157 m. Waduk ini memiliki panjang puncak 200 m. Begitulah sedikit review tentang spesifikasi waduk ini.

wisata keluaraga yang asyik lho...hehehe
Sebagai tempat wisata , waduk ini seolah memberi angin segar kepada masyarakat semarang yang rindu akan wisata alam yang separti ini. Karena di semarang sendiri sangat jarang ada wisata alam yang memadukan wisata air seperti ini. Jadi keberadaan waduk ini seolah-olah menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat kabupaten semarang.

coba tebak mirip di mana ini???
 Untuk menuju ke goa yang dimaksud itu sendiri Dari area parkir , pengunjung harus bersusah dahulu untuk mencapainya. Memang sih waktu turun menuju jembatan penghubung dan goa tak terasa capek. Tapi sewaktu kembali ke tempat parkir pengunjung harus mendaki menapaki 106 anak tangga. Cukup menguras tenaga memang bagi yang tak terbiasa berjalan jauh. Di goa inilah konon sunan kalijaga beserta pengikutnya berisrahat. 

mumpung tak ada orang tak narsis sekkk...hihi
 Goa sedalam 100 meter ini memiliki legendanya sendiri yang reliefnya terpahat di plafon atap gardu pandang yang berada ditengah jembatan penghubung. Dari Dahulu goa ini telah dikramatkan oleh penduduk sekitar. Rimbunnya pohon-pohon yang menaungi tempat ini menambah suasana terasa singup. Kesan teduh yang ditampilkan tidak lantas membuat kesan mistis dari goa ini menghilang. Apalagi dengan adanya kepercayaan masyarakat setempat bahwa kera-kera yang berada di sekitar goa ini adalah keturunan dari empat kera yang membantu sunan kalijaga sewaktu kesulitan mengangkat kayu jati ke Demak. Kera-kera ini sampai sekarang terjaga dan cukup lestari. Kera-kera ini banyak berkeliaran di sekitar goa. Lebih dari 400 kera saat ini menghuni di sekitar Goa Kreo.
neh saudara kalian...sapa dong...hahaha
Karena kepercayaan legenda inilah masyarakat Desa Kandri melakukan ritual sesaji Rewanda tiap tahunnya. Yaitu tiap tanggal 3 syawal, 3 hari setelah hari raya idul fitri.  Sesuai namanya, Rewanda yang artinya monyet, sesaji ini memang ditujukan bagi monyet-monyet yang selama ini menghuni kawasan Goa Kreo. Kini ritual ini menjadi atraksi wisata unggulan Pemerintah Kota Semarang. Bahkan untuk mendanai acata tahunan ini pemerintah kota Semarang tak segan-segan mengucurkan dana bantuan demi terlaksananya  Sesaji Rewanda.


parkir motor yang luas
Saat ini Goa Kreo memiliki fasilitas yang cukup baik. Mulai tempat parkir yang cukup luas dan terpisah untuk mobil dan sepeda motor. Tarif parkir pun cukup murah yaitu Rp 1000 untuk sepeda motor dan 5000 untuk mobil. Untuk kamar mandi pun telah dibenahi dengan baik. Dua buah toilet berada ditempat parkir, satu berada diparkir motor dan satu berada di area parkir mobil.

parir untuk mobil pun juga luas
Toilet lain berdekatan dengan lokasi goa. Tapi sayang, Untuk permainan anak masih minim. Sebuah ayunan dan jungkitan tersedia tak jauh dari area goa. Yang terlihat baru adalah tersedianya kereta mini untuk anda yang ingin menyenangkan buah hati anda. Kreta ini berjalan dari area parkir turun kebawah mengelilingi Waduk Jatibarang. Untuk naik kereta mini ini pengunjung harus membayar Rp 5000 perkepala. Tapi anda kadang harus bersabar karena kreta mini ini kadang berhenti lama menunggu penumpang penuh atau bahasa kerennya nge-time.hehe... Sembari menunggu sobat bisa juga mencoba kuliner yang banyak dijajakan disekitar area parkir. Atau sekedar meminum es kelapa muda dengan harga Rp 10.000 per butirnya sambil menikmati pemandangan waduk jatibarang yang elok.
kereta mini..
Saran saya bagi anda yang membawa makanan sendiri, jangan menenteng tas plastik yang berisi makanan apalagi memakan makanan itu dihadapan kera-kera yang ada di Goa Kreo ini.. Karena kera disini terhitung cukup nakal dan cukup berani untuk merebutnya. Ada baiknya anda memasukan makanan yang anda bawa kedalam tas punggung atau tas pinggang. Bagi sobat yang mau melaksanakan ibadah sholat tak usah keluar objek wisata, karena di area parkir  juga terdapat mushola.


Dan sobat pasti bertanya-tanya berapa tiket masuk ke obyek wisata ini...                     
cukup murah kok...pengunjung cuma disuruh membayar Rp 2500 perkepala saat hari biasa dan Rp 3500 saat hari libur. Cukup murah kan????

LEGENDA GOA KREO

ini neh..relief yang ada di gardu pandang..
 Di ceritakan Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam baru saat itu hendak mendirikan MESJID AGUNG DEMAK. Untuk membangun masjid ini di utuslah Sunan Kalijaga untuk mencari kayu jati sebagai sakaguru atau tiang masjid ke arah barat dari Kerajaan Demak. Setelah melalui perjalanan yang panjang dan berliku kayu jati pun didapat. Selanjutnya, untuk mengejar waktu pohon tersebut akhirnya dipotong menjadi 3 bagian. Sepertiga bagian untuk usuk dan papan. Sedangkan dua pertiga lainnya yang berukuran 30 meter-an digotong beramai-ramai menuju kota demak. Karena terlalu berat , akhirnya diputuskan untuk menghanyutkan kayu tersebuk di sungai agar lebih mudah. Hal ini berjalan dengan lancar, sampai suatu ketika disalah satu bagian sungai ; kayu tersebut tersangkut dibebatuan besar.
Berbagai upaya telah diusahakan untuk menggulirkan kayu jati tersebut agar kembali hanyut. Berpuluh- puluh orang dikerahkan tetapi sia-sia. Kayu jati tersebut tetap diam tak bergeming. Melihat hal ini Sunan Kalijaga pun memutuskan untuk mengistirahatkan rombongan. Ia pun lalu menuju ke salah satu puncak bukit yang tinggi dan menemukan sebuah goa untuk bersemedi memohon petunjuk dan jalan keluar dari yang kuasa. Di tengah semedinya ; entah dari mana datangnya , tiba- tiba muncul 4 ekor kera besar. Masing - masing memiliki bulu yang berbeda yaitu merah,putih,hitam dan kuning. Empat kera ini lalu menghampiri sunan kalijaga dan berkata sanggup untuk membantunya mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Sunan kalijaga pun memberi izin untuk 4 kera ini membantunya menghanyutkan kembali kayu jati yang saat ini tersangkut di bebatuan. Diluar dugaan tenaga empat kera ini ternyata sangat besar dan dengan mudahnya menggulirkan kayu yang tersangkut sehingga kayu jati pun kembali hanyut. Versi yang lain mengatakan kayu jati itu akhirnya di potong menjadi 2 bagian , 1 bagian tenggelam ditengah sungai. 1 bagian lainnya berhasil dihanyutkan.
Sunan kalijaga menjadi lega. Ia kemudian bertanya kepada keempat kera tersebut tentang asal-usul dan tempat tinggal mereka. Rupanya ke empat ekor kera ini merupakan penghuni sebuah goa yang terletak tidak jauh dari rombongan sunan kalijaga beristirahat. Semula empat kera ini hendak ikut Sunan Kalijaga ke demak. Tapi oleh Sunan Kalijaga empat kera ini dilarangnya untuk mengikutinya ke Demak. Kemudian Sunan Kalijaga meminta kepada empat kera ini untuk menjaga goa tempat mereka tinggal sampai keturunan mereka kelak.
Sunan kalijaga berpesan pada ke empat kera ini "Yen ngono, guwo iki REHO tekan anak putumu tekan suk tembe mburi nganti rejaning jaman. Ning pawelingku, ojo nganti kowe kabeh lan sak anak putumu nggawe rusak lan ngganggu deso-deso sak kiwo tengene kene(kalau begitu , goa ini kaliankelola(REHO) sampai anak cucumu kelak. Satu pesanku, jangan sekali-kali kamu dan anak cucumu merusak dan mengganggu desa-desa disekitar sini)"
Seusai mendengar pesan ini , empat kera ini berpamitan pada Sunan Kalijaga dan menghilang tanpa bekas. Sunan Kalijaga pun pergi meninggalkan tempat itu bersama rombongannya kembali ke Demak. Dari perkataan "reh-o" atau "reh-en" inilah lama kelamaan masyarakat sekitar menyebut goa tempat tinggal empat kera ini dengan sebutan GOA KREO. Demikian juga sungai yang mengalir dibawahnya yang kini menghilang menjadi waduk disebut Kali Kreo.
Adapun warna keempat kera ini konon memiliki makna tersendiri. Merah sebagai tanda api , melambangkan jiwa yang penuh keberanian. Hitam sebagai tanda warna tanah , melambangkan jiwa kesadaran. Putih sebagai tanda warna air melambangkan jiwa yang penuh kesucian. Dan kuning sebagai tanda warna angin, melambangkan kesempurnaan.



ASAL NAMA JATIBARANG
Penamaan waduk jatibarang merujuk pada sebuah desa tempat waduk ini dibangun , Desa Jatibarang. Bagi masyarakat semarang Jatibarang merupakan tempat pembuangan umum atau TPU yang cukup terkenal. Tak banyak yang tahu bahwa disini terdapat sebuah desa yang memiliki legendanya sendiri. Desa ini terletak kurang lebih 13 km ke arah selatan dari KaliBanteng. Bagaimana legendanya???simak deh tulisan ane ini...
Legenda desa ini masih berkaitan dengan Legenda pencarian kayu jati untuk SAKA GURU Masjid Demak oleh Sunan Kalijaga. Tersebutlah dalam perjalanan mencari kayu jatingaleh , sampailah rombongan sunan kalijaga di sebuah desa yang terletak ditengah-tengah hutan jati. Didesa ini sedang diadakan pertunjukan yang membuat suasana ramai dan meriah. Keramaian ini sebagai wujud suka cita atas perolehan panen yang melimpah.. KI SOMA , demikian nama salah satu penduduk desa tersebut yang ikut memeriahkan pesta desa tersebut dengan menari. Yang membuat dirinya berbeda dengan penduduk lainnya yang ada didesa ini adalah mata pencaharian yang dilakoninya. Ki Soma beserta sekeluarganya; yang terdiri dari istri dan anak gadisnya , mencaru nafkah bukan sebagai petani. Melainkan setiap harinya hanya "mbarang"(mengamen) tari. Ki Soma sendiri sebenarnya adalah seorang pendatang. Dia sebenarnya bekas punggawa kerajaan majapahit dengan kedudukan ahli gamelan dan music jawa  yang di usir karena meninggalkan ajaran hindu. Di tengah pengembaraannya ia tiba desa ini kemudian menetap.  Di  Tiba-tiba ditengah riuh-rendahnya suasana perayaan, mendadak muncul sesosok lelaki mengenakan topeng ikut menari dan larut dalam iringan musik yang dimainkan. Penduduk setempat makin terperanjat tatkala si penari bertopeng itu membuka topengnya, karena penari bertopeng ini tak lain adalah Sunan Kalijaga.
Dalam kesempatan baik tersebut itu, kanjeng sunan kemudian menerangkan hubungan antara agama dan kesenian serta wejangan lain tentang kehidupan. Pada saat itu juga , orang didesa tersebut termasuk Ki Soma sekeluarga menyatakan diri masuk agama islam. Ki Soma oleh Sunan Kalijaga dipercaya sebagai sesepuh desa yang kemudian disebut juga Ki Demang oleh penduduk desa. Di kemudian hari setelah Ki Demang meninggal , makamnya di kramatkan oleh banyak orang. Oleh karena itulah , Ki Demang atau Ki Soma juga terkenal dengan sebutan Mbah Kramat. Sampai sekarangpun makamnya masih terjaga dengan baik.
Akhirnya Sunan Kalijaga berniat kembali meneruskan perjalanannya mengejar kayu jatingaleh ke arah barat. Sebelum pergi beliau berpesan agar daerah tersebut diberi nama JATIBARANG. Konon didesa yang termasuk kecamatan mijen ini ; pada zaman kolonial hingga penjajahan jepang , penduduk desa tersebut terkenal suka "mbarang tari".