Tampilkan postingan dengan label air terjun tadah hujan pati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air terjun tadah hujan pati. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 23, 2015

Satu Hari Menjelajah Kota Pati . Bagian 2 : nasib AIR TERJUN TADAH HUJAN dan WADUK GUNUNG ROWO nan menyedihkan


menikmati suasana Air Terjun Tadah Hujan..

Baca juga “SATU HARI MENJELAJAH KOTA PATIBAGIAN  1 : WADUK SELOROMO DAN AIR TERJUNGRENJENGAN JOLONG”

Kalau sebelumnya pada perjalanan ke Jolong aku lewat Kecamatan Gembong yang jalannya luar biasa parah rusaknya , di perjalanan turun ini aku lewat arah Kecamatan Tlogowungu. Karena di pertigaan jalan sewaktu aku menuju wisata Jolong sempat ku lihat papan petunjuk arah ke sebuah wisata yang juga telah terkenal keberadaannya , Waduk Gunung Rowo. Sekalian mampir barangkali saja jalan di sekitar daerah Tlogowungu ini memiliki kondisi yang lebih baik dari jalan didaerah Gembong. Begitulah yang kupikirkan. Waduk Gunung Rowo sendiri terletak di Desa Sitiluhur , Kecamatan Gembong atau sekitar 16 km dari Kota Pati. Dengan luas areal obyek lebih kurang 320 ha , waduk ini memiliki  pemandangan alam yang indah berupa gunung dan lembah yang hijau penuh tanaman kopi, cengkih, buah-buahan dan tanaman pertanian lainnya.
Awal mula jalan mulus-mulus saja melewati pemukiman penduduk. Menjelang pertengahan jalan di kawasan hutan jati , jalan menjadi rusak di sana sini. Hampir seluruh aspal di badan jalan ini terkelupas. Selama hampir 3 km aku melewati jalan parah ini. Sampai akhirnya tiba di pertigaan jalan menuju perkebunan Kopi Jolong-Tlogowungu , jalan aspal berganti menjadi mulus kembali. Dari pertigaan ini trus ambil jalan ke kanan akhirnya akupun tiba di jalan raya Tlogo wungu-Pati. Untuk ke Pati kota aku harus belok ke kanan dan untuk menuju Waduk Gunung Rowo aku harus belok ke kiri. Antara bingung ingin mampir sebentar di Waduk Gunung Rowo atau mengambil arah Pati kota untuk pulang karena waktu semakin beranjak sore , aku pun memutuskan untuk bertanya kepada warga sekitar seberapa jauh Waduk Gunung Rowo.
Waduk Gunung Rowo dahulu...(sumber gambar http://eghopuji.goldencivil.com/2015/05/potensi-wisata-di-kota-pati.html)
"Deket mas , cuma 4 km lagi" jawaban singkat dari karyawan sebuah bengkel membuatku semakin penasaran akan tempat wisata ini. Tanpa di komando motorku pun meluncur menuju lokasi yang dimaksud. Kurang dari 1/2 jam aku pun tiba di Waduk Gunung Rowo. Deket memang...tapi semua di luar dari harapan. Karena waduk ini kering tak ada airnya sama sekali. Hanya terlihat hamparan tanah luas di bawah sebuah gunung. Tapi saya akui memang pemandangannya cukup menakjubkan. Kalau saja air di waduk ini tidak kering , pasti akan lebih indah lagi...sayang sekali. Malah , menurut saya pribadi waduk Gunung Rowo ini memiliki suasana yang lebih teduh dan asri dari pada Waduk Seloromo. Di sekeliling waduk banyak di temui warung-warung dan gazebo mini. Banyaknya pohon tinggi dan besar semakin menambah kesan nyaman di waduk ini. Sayang sekali air di waduk ini tak tersisa sama sekali. Belakangan saya mendengar dari teman saya yang juga orang pati , talud penahan air dari waduk ini telah rusak dan hancur saat terjadi hujan besar beberapa waktu yang lalu. Kemungkinan karena struktur bangunan yang telah tua dan rapuh sehingga bendungan ini bisa roboh karena memang bendungan ini konon juga dibangun saat pemerintahan kolonial belanda. Sampai saat ini pun belum ada upaya perbaikan dari pemerintah daerah terkait dengan rusaknya talud di waduk ini.
Waduk Gunung Rowo yang sekarang merana...

Karena tak sesuai yang kuharapkan , aku pun tak berlama lama di waduk ini. Kemudian tak berapa lama aku pun beranjak meninggalkan waduk ini menuju Pati kota. Perjalanan menuju Pati kota ini tak menemui kesulitan tak berarti. Kurang dari 1 jam kemudian akupun sampai  di pusat kota. Dari sini aku terus mengambil ke arah Selatan Pati. Yaitu di kecamatan Sukolilo yang terletak di kaki Gunung Kendeng.  Perjalanan ke arah Pati kota cukup lancar tanpa terkendala apapun. Sesampai di Pati kota aku tidak langsung mengambil arah Sukolilo melainkan belok ke barat menuju semarang. Karena saat berangkat menuju pati kalau aku tak salah aku sempat melihat sebuah papan rambu-rambu ke arah sukolilo yang terletak sebelum memasuki kota Pati tepatnya berada di pintu masuk jalan lingkar kota Pati Surabaya. Benar juga di pintu jalan lingkar ini memang ada rambu-rambu itu. Tanpa pikir panjang stang pun kubanting ke kiri masuk ke jalan lingkar ini. Tidak lama kemudian rambu-rambu ke arah Sukolilo pun kutemui kembali. Terus saja ku ikuti rambu rambu ini. Dari jalan lingkar ini aku harus belok ke kanan mengambil arah Purwodadi di perempatan lampu lalu lintas yang pertama. Setelah itu terus ku ikuti jalan ini sambil sesekali melihat rambu-rambu petunjuk arah. Ketika aku ragu , aku pun mencari jawaban dengan bertanya kepada tiap orang yang kutemui di jalan. Sekitar 45 menit dari jalan lingkar Pati-Surabaya aku akhirnya tiba di daerah Sukolilo.
perjalanan ke Pati selatan begini ini neh pemandangannya...

Sukolilo adalah nama sebuah kecamatan yang terletak di selatan kota Pati. Kecamatan ini berada dibawah Pegunungan Kendeng dan memiliki kontur perbukitan yang naik turun. Aku mulai mengorek informasi tentang sebuah obyek wisata didaerah ini yang jadi tujuanku , Air Terjun Tadah Hujan. Sebuah nama yang lucu dan unik untuk sebuah air terjun. Air terjun ini cukup tenar juga , terbukti ketika aku mencoba bertanya kepada beberapa warga di sukolilo , kebanyakan dari mereka menjawab dengan jawaban yang sama.
"Mas lurus terus aja...ntar jika sudah sampai di pasar Sukolilo , masih terus dikit sampai di jalan tanjakan ketemu pertigaan belok kiri. Jangan yang lurus mengikuti jalan raya lho mas...soalnya itu arah ke Purwodadi. Dari pertigaan itu sudah dekat kok..." jawaban yang sama dari setiap orang yang kutemui ketika ku tanya. Tanpa kesulitan aku pun tiba di Pasar Sukolilo dan tetap lurus mengikuti jalan raya. Sekitar 300 meter dari Pasar Sukolilo kemudian jalan menanjak dan menikung cukup tajam. Di belokan ke dua ,  pertigaan jalan yang di maksud pun terlihat. Aku terus belok ke kiri masuk ke sebuah perkampungan. Awalnya aku merasa ragu karena melihat dari daerah yang telah padat dengan penduduk ini , apa mungkin ada sebuah air terjun yang elok??tapi begitu kutanya kembali ke warga di kampung ini memang di sinilah air terjun ini berada.
ada apa di atas???....hehehe

"Dari pertigaan nanti di gang ke dua mas masuk aja. Terus ikuti jalan dari gang ini...nanti mas akan sampai juga..."jawaban yang cukup singkat dan jelas. Cukup membuataku tak banyak bertanya lagi. Dan mengikuti petunjuk dari warga , aku terus mengikuti jalan setelang gang kedua. Jalan ini awalnya lewat ditengah rumah penduduk tapi berakhir di sebuah hutan. Awalnya aku hendak mengikuti jalan menembus hutan ini sampai sebuah tempat di kelilingi tembok beton dengan gambar aneka satwa. Di tembok bertuliskan "Wisata Air Terjun Tadah Hujan” membuatku tersadar aku telah sampai di tempat yang di maksud.
Sungguh aku tak percaya , ini adalah tempat wisata. Hmmmm...bagaimana ya bilangnya yaaa...soalnya tempat ini dari luar seperti tempat sekolah anak TK. Di pintu masuk pun tak tersedia loket penjualan karcis. Apalagi setelah aku masuk ke lokasi...benar-benar berantakan dan tak tertata dengan baik. Tempat parkir pun terkesan ala kadarnya. Malah daripada tempat parkir ini sih cocoknya di sebut pekarangan. Hampir di seluruh bagian tempat parkir ini tertutupi oleh pohon jati. Dan seluruh area berserakan daun daun yang menutupi tanah. Benar-benar kotor dan tak terawat. Di tempat ini aku di minta membayar tiket masuk sebesar Rp 3.000. Biaya ini sudah termasuk biaya parkir motor.
tempat parkir yang kaya pelataran rumah...

Dari tempat parkir ini aku masih harus berjalan melewati jalan setapak yang membelah di tengah hutan jati. Jalan ini juga terhitung dibuat seadanya. Beberapa saat kemudian jalan setapak menuruni bukit yang terjal. Jalan ini hampir tegak lurus melewati rimbunnya pohon bambu. Beberapa undakan sengaja di buat tapi inipun terkesan ala kadarnya. Dinding tebing vertikal ini memiliki kemiringan hampir 90 derajat. Jalan di jalur ini sangatlah sempit dan penuh batu dan kerikil kecil. Salah langkah sedikit saja sudah pasti anda akan jatuh ke bawah dan cidera , kalo tidak ya mati…sungguh jalan yang berbahaya dan tak layak untuk sebuah tempat wisata. Suara gemericik air terjun mulai terdengar. Dan sesampai di bawah , air terjun yang dimaksud pun terlihat. Yaaa...inilah Air Terjun Tadah Hujan.
air terjun indah yang merana
Air Terjun Tadah Hujan berada di Dukuh Sanggrahan , Desa Sukililo , Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati. Penamaan air terjun ini merujuk pada kata Dari bahasa jawa  "Tadah" yang berarti "mengumpulkan" dan "udan" yang berarti hujan. Air terjun ini terlihat megah dan keren. Air yang cukup deras jatuh mengalir dari dinding tebing berwarna kekuningan setinggi 20 meter . Di bawah air yang jatuh ini lantas membentuk kolam yang cukup lebar berwarna hijau tosca. Sayang air dari air terjun ini kurang jernih tidak nyaman untuk digunakan mandi atau berenang. Air terjun ini memiliki debit air yang tidak terpengaruh oleh musim sehingga di musim kemarau pun air terjun ini masih memiliki debit air yang cukup deras. Dengan di apit oleh tebing-tebing yang setinggi antara 20-25 meter membuat air terjun ini sebenarnya cukup istimewa. Sayang air terjun ini kurang terawat dan terkesan di biarkan. Disekeliling air terjun banyak pohon dan ranting di biarkan berserakan. Sejumlah longsoran pun terlihat di sisi sebelah air terjun. Batu-batu kapur pun terlihat berserakan menutupi aliran air sungai...sejumlah sampah , mulai dari bungkus permen sampai kantong plastik tampak berserakan mengurangi keindahan air terjun ini sendiri. Menurut saya pribadi , aliran sungai dari air terjun ini lebih mirip seperti saluran pembuangan ketimbang sungai sehingga airnya pun terkesan jorok. Entah hal ini apa karena di atas air terjun ini terdapat pemukiman penduduk atau memang pengunjung yang datang yang mengotorinya atau mungkin air yang muncul dari Pegunungan Kendeng ini memang tak jernih.. Yang jelas kealamian air terjun ini sendiri jauh dari kata bagus. Sungguh disayangkan...terlebih akses yang sangat minim dari kata aman...apakah ini cerminan wisata kota pati kah?
last foto...

Yang jelas saya pun akhirnya hanya berdiri menatap air terjun ini. Tidak banyak yang bisa dilakukan di air terjun ini. Di sekeliling air terjun berdiri pohon pohon tinggi membuat suasana cukup rindang sehingga sayapun betah berlama-lama di sini. Dan setelah bengong agak lama kamera-pun akhirnya beraksi. Tidak puas rasanya kalau datang ke suatu tempat tanpa dokumentasi apapun. Setelah selesai narsis , akupun akhirnya pergi meninggalkan air terjun ini.
Perjalanan kembali ke tempat parkir pun juga bukan perkara mudah. Karena saya harus melewati tebing vertikal kembali. Disamping membuat ngos-ngosan , di butuhkan kehati-hatian extra untuk melewati jalan di tebing terjal ini. Beberapa puluh menit kemudian , aku pun tiba di area parkir. Kusempatkan untuk melihat sebuah bangunan yang tampak di fungsikan sebagai kolam renang. Tetapi kolam renang ini tidak terawat dan terkesan di biarkan tanpa sedikitpun air menggenanginya. Disebelah barat dari kedua kolam ini masih terdapat satu kolam lagi yang cukup bagus dan terawat. Tidak seperti  kedua kolam yang lainnya , kolam ini terisi oleh air yang cukup jarnih dengan beberapa air mancur kecil. Tapi karena letaknya di belakang rumah penduduk , saya pun tak tahu apakah kolam ini termasuk kedalam obyek wisata atau milik penduduk.
Puas melongok sana sini , akhirnya aku pun angkat kaki dari Air Terjun Tadah Hujan. Sebuah tempat yang cukup menarik bila saja pemerintah daerah mau serius menggarapnya. Sangat disayangkan pula melihat realita masyarakat kita yang tak memiki kesadaran sehingga tempat seperti Air Terjun Tadah Hujan ini menjadi kotor.
Motorku pun melesat menjauh dari kecamatan Sukolilo dan mengarah pada Kecamatan Kayen. Ke tujuan wisata terakhir , Goa Pancur...

 
Bersambung ke “SATU HARI MENJELAJAH KOTA PATI BAGIAN 3-HABIS : GOA PANCUR DARI KENDENG”