Tampilkan postingan dengan label curug citro arum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curug citro arum. Tampilkan semua postingan

Jumat, Januari 29, 2016

CURUG CITRO ARUM dan CURUG TUNDO TIGO , Air Terjun nan cantik dan terasingkan...


kale ini saya gak sendiri guys....hehe
Wah gak ada mas curug yang namanya kaya gitu di sini. Ada juga Curug Lawe mas.."
Begitulah jawaban yang ku terima saat mencoba bertanya pada salah satu penduduk Desa Pakis saat ku tanya tentang keberadaan Curug Citro Arum yang katanya ada di desa ini. Memang menurut literatur yang kubaca di salah satu blog , dulunya Curug ini di sebut dengan nama Curu Lawe oleh masyarakat sekitar. Baru setelah di bukanya curug ini untuk umum  pada bulan Mei 2015 , curug ini resmi di ganti dengan nama Curug Citro Arum.
Curug Citro Arum adalah sebuah air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meteran lebih yang berada di Desa Pakis , Kecamatan limbangan , Kabupaten Kendal , Jawa Tengah. Sebenarnya curug ini telah lama ada tetapi kurang begitu di kenal oleh masyarakat luas. Dulunya di namakan "Lawe" karena bila di lihat dari kejauhan aliran air yang jatuh dari curug ini terlihat seperti untaian benang lembut seperti arti nama Lawe sendiri. Kemudian oleh mahasiswa dari Unnes yang melakukan KKN di desa Pakis mencoba mengenalkan curug ini ke dunia luar dengan membuat beberapa papan petunjuk menuju curug ini dan dua curug di atasnya  dari jalan Limbangan sampai Desa Pakis yang letaknya memang cukup jauh dari jalan raya. Oleh beberapa tokoh desa kemudian muncul ide untuk membuka curug ini menjadi sebuah obyek wisata yang diharapkan bisa mengangkat perekonomian warga desa Pakis. Kemudian akses jalan menuju curug ini pun di perbaiki dan ditambah hingga ke tempat parkir yang seperti sekarang. Nama curug ini pun di ganti dengan nama Curug Citro Arum Dan air terjun di atasnya di namakan Curug Tundo Tigo.
curug citro arum yang keren....
Air terjun ini berada di lereng sebelah barat gunung ungaran. Walau pun telah diresmikan , tapi kenyataannya sampai saat ini tak ada biaya retribusi resmi untuk menuju air terjun ini , pengunjung hanya perlu membayar biaya parkir sebesar Rp 2.000. Walau memang akses jalan dari jalan Sumowono-Limbangan sampai tempat parkir motor terbilang sudah cukup bagus untuk sepeda motor. Di katakan tempat parkir sih bukan seperti tempat parkir karena di sini hanya tersedia tanah lapang yang berada di pinggir jalan. Nah lho sampai sini anda pun bisa membayangkan sendiri bagaimana sebenarnya obyek wisata yang satu ini. Yang jelas ....satu kata yang tepat untuk air terjun ini adalah masih alami.
Wah...asyik dong...
ini neh peta air terjun di sekitar limbangan...mau download ukuran besarnya?klik disini
Begitulah kawan...perjalanan menuju Desa Pakis sendiri pun terbilang juga asyik lho bro. Terlebih jika anda datang dari arah Bandungan atau Sumowono. Sepanjang jalan anda akan melewati jalan memutari gunung ungaran dengan pemandangan dan hawa udara khas pegunungan yang indah dan segar. Terlebih ketika anda tiba di daerah setelah pasar  Sumowono ; Jajaran sawah , kebun sayur , dan ladang menghiasi di sepanjang kanan dan kiri jalan. Dari terminal Sumowono ini , anda harus mengambil ke arah Limbangan melewati jalan yang naik turun sejauh kurang lebih 11 Km.
tikungan menuju Desa Pakis dari Jl.Sumowono-Boja
Dari jalan raya Sumowono-Limbangan ini , masih di butuhkan waktu menempuh jarak sekitar 3 km melewati jalan menanjak yang terbuat dari beton cor dengan kondisi yang masih bagus. Tanjakan menuju desa pakis ini memiliki kemiringan antara 30-45 derajat. Akses jalan pun melewati jajaran pohon tinggi dan tak ada satupun rumah penduduk dikiri dan kanan jalan. Saran saya , persiapkan kondisi kendaraan anda dengan seksama. Cek roda kendaraan anda dan pastikan tidak kekurangan angin apalagi sampai bocor. Karena anda tak kan menemui bengkel tambal ban di area ini. Jangan lupa juga untuk mengecek tingkat kepekaan dari rem kendaraan anda karena jalan yang dilalui menuju Desa Pakis ini naik turun dengan banyak tikungan tajam dengan jurang di sisi jalan. Kondisi jalan ini akan anda temui di sepanjang jalan menuju desa ini baik anda lewat Jalur Bandungan-Sumowono maupun lewat Jalur Boja-Limbangan.

peta ke citro arum bro....bagi yang butuh peta ini dalam ukuran besar klik aja disini
Kembali ke tema kawan , setelah menanjak selama kurang lebih 10 menit , sampailah anda di desa pakis di tandai dengan keberadaan rumah penduduk yang berada di kiri kanan jalan. Sekitar 100 meter kemudian Jalan menanjak ini pun berujung di sebuah pertigaan jalan dengan jalan ke kiri merupakan jalan menuruni bukit dan jalan ke kanan merupakan jalan menanjak.
Sebuah petunjuk arah bertuliskan Citro arum menunjuk ke arah kiri ke arah jalan menurun. Saya tahu memang jalan ke arah kiri ini terlihat kurang menyakinkan. Karena jalan yang terdiri dari 2 lajur jalan beton dengan lebar masing 50 cm ini melewati rimbunnya pohon pohon tinggi dan terlihat seram dan juga angker..siapapun yang melihat jalur ini pasti berpikir ini bukanlah jalan manusia...tapi kenyataannya memang jalan inilah jalan menuju ke curug citro arum. 
jangan kaget ya...jalannya memang kayak gini bro...
Andapun mesti berjalan dengan pelan ketika menuruni turunan ini. Karena selain jalan di sini memiliki turunan yang tajam dengan sudut elevasi antara 30-45 derajat, jalan beton di jalur menurun ini juga licin karena banyaknya lumut yang tumbuh di sepanjang jalan. Di samping itu semua di kiri jalan dari arah anda datang terbentang jurang yang cukup dalam di sepanjang jalan. Bahaya??sudah pasti kawan...karena turunan benar benar tajam sehingga dapat memacu adrenalin anda. Karena itulah sejak awal saya selalu menekankan kepada anda yang berniat berkunjung ke tempat ini untuk benar-benar memeriksa kondisi kendaraan anda sebelumnya.
Balik ke benang merah yuk...dari pertigaan , Awalnya jalan ini lurus menuruni bukit sejauh 400 meter untuk kemudian berapa kali berbelok kemudian dari jauh terlihat berbelok tajam ke arah kiri. Di tikungan ini terdapat sebuah tanah lapang dengan sebuah papan petunjuk arah menuju curug Citro Arum. Di sinilah anda harus berhenti dan memparkirkan motor anda karena sampai di sinilah anda bisa membawa motor anda.
tempat parkir neh...sederhana khan...
Dari tanah lapang di pinggir tikungan jalan betonisasi yang tampaknya di fungsikan sebagai tempat parkir ini , pengunjung masih harus berjalan kaki sejauh 600meter melewati rimbunnya hutan untuk menuju ke Air Terjun Citro Arum. Dari sini cuma ada jalan setapak bro jadi kalo mau ajak cewe sebaiknya jangan memakai sepatu hak tinggi yaw...lebih nyaman memakai sandal jepit karena kalopun pakai sepatu kondisi tanah di sini cukup lembab dan anda akan dipaksa untuk menyeberangi sungai beberapa kali sehingga bisa saya pastikan sepatu anda akan basah oleh lumpur atau air sungai. 
harus siap basah-basahan lohhhh..
Tapi jalan setapak di sini masilah minim petunjuk arah dan banyak percabangan jalan yang pasti membuat bingung. Saya sendiri saat berkunjung ke tempat ini harus mengamati dengan cermat mengamati setiap patunjuk arah yang umumnya cuma berupa tanda panah dari cat putih yang berada di batu batu. Tapi sebenarnya gak sulit-sulit banget kok guyz , karena cukup mengikuti sungai kecil yang mengalir di sepanjang sisi jalan anda pun pasti sampai di air terjun ini.
Perjalanan tracking menuju air terjun pun menurutku pun tidak membuat bosan lho , soalnya kita akan banyak menemui pohon pohon besar yang cukup eksotik sehingga tracking menuju air terjun ini serasa kita melewati jalan di dunia lain. Memang sih bila di lihat sepintas suasananya di sini terasa angker tapi ini bukti bahwa tempat ini masih perawan dan belum banyak terjamah tangan manusia. Keren kan...??? 
Sekitar 15 menit kita menyusuri deretan pohon pohon tinggi dan beberapa tanaman daerah lembab yang cukup tinggi dari tempat kita meninggalkan kendaraan kita , akhirnya suasana pun menjadi lebih terang karena vegetasi yang semula rapat oleh pohon dan semak menjadi terbuka. Jalan setapak kembali mengikuti pinggiran sungai yang jernih dan bening. Dan tebak kawan di kejauhan terlihat sebuah tebing tinggi dengan sebuah guratan putih menempel di atasnya mirip sebuah benang putih. Setelah di amat-amati ternyata guratan putih yang sekilas mirip benang putih ini adalah Air terjun yang di maksud. Ya....inilah Air Terjun Citro Arum itu....
tingginya itu lho...ckckck...kerennnn...
Baru aku menyadari kenapa air terjun ini dulu sering disebut dengan "Curug Lawe". Karena bila di perhatikan dengan benar air yang mengalir dari tebing hitam setinggi 100 meter lebih ini terlihat seperti untaian benang. Curug yang berada di ketinggian sekitar 825 meter dari permukaan laut ini berada di sebuah tebing berbentuk melingkar. Bagian atas dari tebing air terjun ini terlihat menonjol sementara bagian bawah terlihat masuk ke dalam. Di sekeliling tebing bamyak mengalir air dari celah celah tebing ini. Dari penjelasan saya di atas tentunya anda bisa membayangkan banyak rongga dan celah didalam tanah yang terbentuk di tebing ini. Ini berarti tebing ini juga rawan terhadap longsor. Penulis sendiri juga sempat melihat beberapa longsoran terjadi di sekitaran jalan menuju air terjun ini. Ini adalah suatu yang anda perlu waspadai ketika berkunjung ke air terjun ini.
kelebatan hutan prawan di sekitar curug..
Tapi dibalik semua resiko ini , Air terjun Citro Arum ini memiliki keindahan sendiri lho kawan. Airnya yang jatuh dari ketinggian tidak lantas langsung jatuh ke bawah , air dari atas air terjun ini terlebih dulu jatuh membentur pada batu di pertengahan tebing yang kemudian memecah air menjadi beberapa aliran kecil dan jatuh di bawah tebing membentuk kolam kecil yang tak terlalu dalam. Dari kolam ini air ini lantas mengalir ke bawah membentuk sungai kecil dengan air yang bening dan jernih. Dan satu yang membedakan air terjun ini dengan air terjun lainnya adalah banyaknya tumbuhan rambat yang tumbuh di sepanjang tebing ini sehingga suasana asri dan hijau terlihat mendominasi sekeliling air terjun ini. Terlebih dengan keberadaan hutan citro arum yang masih perawan dan rimbun. Menambah suasana semakin terasa adem di hati. Sementara deburan air dari atas yang terpecah ini sebagian jatuh membentuk butiran butiran kecil yang membasahi sekeliling air terjun. Hal ini membuat tanah sekitar menjadi lembab sehingga banyak tumbuh tanaman perdu di bawah air terjun..
gambar ini ku ambil saat kemarau bro...walau kecil airnya,tapi tetap indah kok..
Nama "Citro Arum" sendiri di ambil dari kata Citro , nama dari Mbah Citro yang merupakan cikal bakal atau tokoh pendiri dari Desa Pakis. Sedang kata "Arum" adalah kata harum dalam bahasa jawa. Konon hal ini merujuk pada sumber air dari air terjun ini yang berasal dari sebuah mata air yang di sebut oleh masyarakat sebagai Tuk Wangi. Tuk dalam bahasa indonesia bisa diartikan sebagai mata air dan wangi sendiri berarti harum. Dari sini bisa di simpulkan arti dari "tuk wangi" adalah mata air yang harum. Nama ini pun tak asal comot , karena konon air yang keluar dari tanah di Tuk Wangi ini berbau harum. Dari sumber mata air mengalirlah air menuju ke bawah yang kemudian membentuk air terjun ini. Tak hanya Curug Citro Arum saja , air dari mata air ini juga membentuk 2 air terjun di atasnya , Curug Tundo Tigo dan curug tanpa nama yang konon telah mengering.




CURUG TUNDO TIGO
curug tundo tigo
Awalnya membaca kata "TUNDO TIGO" di papan petunjuk arah saya sempat bingung juga dibuatnya....tempat apa ya ini...dari namanya kelihatannya menarik neh...
Setelah sempat ngobrol ke sesama pengunjung yang datang ke curug citroarum , barulah saya tahu Tundo Tigo adalah nama sebuah curug yang berada di atas curug citroarum. Letak curug ini berada di desa kedokan yang berada di atas desa pakis. Untuk menuju Curug Tundo Tigo , Dari Curug Citroarum anda harus berkendara menuju ke desa pakis kembali menaiki jalan menanjak hingga sampai ke pertiggan jalan terus ambil jalan ke kiri yang menanjak. Tidak jauh kok kawan , karena 10 menit berkendara anda akan memasuki sebuah perkampungan kembali setelah sebelumnya melewati beberapa perkebunan penduduk dari pertigaan jalan.

peta ke Curug Tundo Tigo...neh bagi yang butuh ukuran gambar aslinya klik DI SINI
.Tak ada tempat parkir khusus untuk motor anda , jadi andapun harus menitipkan motor anda  di rumah penduduk. Tepatnya di rumah pak minto yang merupakan rumah warga yang terdekat dari jalan menuju ke curug. Dari perkampungan penduduk ini tak ada petunjuk arah satupun untuk menuju ke Curug Tundo tigo jadi ada baiknya anda bertanya pada pak minto mengenai arah pasti menuju curug ini. .
belum ada tempat parkir lho...jd titipin aja di rumah pak minto ini..
Tapi bagi anda yang segan bertanya , saya akan coba uraikan arah-arah menuju curug ini dari rumah warga...nah dari rumah pak minto perjalanan menuju ke lokasi curug ini anda harus berjalan ke arah melewati jalan setapak yang letaknya berada dibelakang rumah pak minto. jalan setapak ini tidak terlalu lebar dan cukup membingungkan bagi siapa saja yang pertama kali melewatinya. Tapi patokan yang pasti bagi anda adalah carilah jalan setapak yang menuju areal persawahan karena jalan setapak ke arah sawah ini cuma ada satu.
ke kiri bawah mas....
Sesampai di area sawah penduduk terus ikuti jalan setapak ini hingga jalan terbagi menjadi dua , jalan lurus ke kanan dan jalan turun ke kiri. Untuk menuju curug tundo tigo ambilah jalan turun ke kiri. Terus ikuti jalan menurun ini hingga di akhir jalan menurun ini anda akan menemui sebuah sungai. Dari sungai ini terlihat jalan menikung menanjak ke kiri. Tapi tunggu dulu kawan....jangan ikuti jalan ini karena jalan ini bukanlah jalan menuju ke curug Tundo Tigo.
Lalu yang mana neh???
nah ikuti panah merah itu bro
Jalan untuk menuju ke curug terletak di samping sungai , tepatnya berada di sisi kiri sungai dari tempat anda datang. Jalan setapak ini tak terlihat dan sepintas terlihat seperti kumpulan semak belukar jadi anda harus jeli mengamatinya. Saya pun sempat terkecoh saat pertama kali berkunjung ke tempat ini dan terus saja mengikuti jalan menikung yang menanjak ke kiri. Setelah berjalan ngos-ngosan dan tak menemukan satupun sungai atau sumber mata air baru saya sadari saya telah kesasar dan kembali lagi menuju ke sungai yang berada jauh di bawah kembali. Sesampai di sungai saya pun mengamati sekeliling sungai dengan jeli dan menemukan jalan setapak ini.
Terus ikuti jalan setapak yang memiliki jalur berkelok-kelok mengikuti aliran sungai ini. Tidak butuh waktu lama brooo...10 menit dari percabangan jalan tadi anda pun sampai di Curug Tundo Tigo. Kesan yang bisa anda dapatkan saat pertama melihat curug ini adalah tenang dan teduh. Walau memang curug tundo tigo ini tak setinggi curug citro arum. Aliran airnya pun tak sederas curug citro arum.

curug dengan suasana yang tenang...
Curug ini memiliki ketinggian sekitar 20 meteran dan berada pada ketinggian 875 mdpl. Air nya yang jernih mengalir dari tebing berwarna hitam dan jatuh membentuk kolam selebar 5x5 meter...cukup lebar bagi anda yang yang Punya hobby renang dan ingin mencoba ke ahlian anda di sini. Di lihat dari bentuknya kolam ini bukanlah kolam yang terbentuk secara alami dan sengaja di buat oleh penduduk untuk membuat curug ini semakin terlihat menarik. Tapi bila di bandingkan dengan Curug Citro Arum , air terjun ini memiliki debit air yang relatif lebih kecil sehingga mungkin anda akan merasa sedikit kecewa. Tapi bukanlah debit air atau tingginya yang membuat curug ini menarik , melainkan suasana yang di tawarkan.
Suasana di curug ini sangatlah tenang. Di sekeliling air terjun banyak dinaungi oleh rimbunnya pepohonan sehingga suasana teduh pun sangat terasa di curug ini. Saking rapatnya vegetasi di curug ini langit biru pun hampir tak terlihat.

kerimbunan hutan tundo tigo...
Dari pohon pohon ini kadang berhembus angin sejuk yang membuat dingin kepala. Keadaan sekitar pun masih bersih dari sampah dan kotoran. Sebuah bukti bahwa tempat ini masilah alami dan belum banyak di datangi oleh manusia. Yang paling membuat Krasan adalah keberadaan kolam Dibawah air terjun yang memiliki air yang jernih sedalam lutut orang dewasa. Air yang tak terlalu deras jatuh dari ketinggian menimbulkan suara gemericik yang membuat pikiran dan hati menjadi damai. Sebuah tempat yang cocok untuk sekedar duduk dan menghabiskan waktu bersama teman atau.... pacar mungkin...hehehe Terus...kenapa sih di namakan "Tundo Tigo"?sepintas bila di dengarkan mirip bahasa minang kan?coba aja lihat rumah makan padang ...mereka umumnya memakai nama untuk restoran mereka dengan pengucapan yang sama...contoh rumah makan citro bundo , rumah makan bundo tigo, dll..apa ada hubungannya ya???saya pun berpikir demikian ketika pertama kali mendengar nama curug ini. Hahaha
bingung mau pose gimana....hehehe
Ternyata ini asumsi yang ngawur lhooo...hahaha
Nama Tundo Tigo berasal dari kata bahasa jawa "Tundo" yang berarti mengurungkan atau menunda dan "Tigo" yang berarti "tiga". Dengan begitu bisa di artikan Curug Tundo Tigo bisa diartikan "air terjun yang menunda tiga".
Kok???artinya begitu???
Iya kawan...menurut salah satu penduduk nama ini ada kaitannya dengan 3 curug yang ada di kawasan desa pakis ini. Curug yang paling bawah adalah Curug Citro Arum. curug yang kedua berada di tengah , curug Tundo Tigo. Dan curug terakhir berada di atasnya tanpa nama dan telah mengering tanpa air yang mengalir sedikitpun. Karena curug yang terakhir ini telah mengering dan semua mata airnya berpindah ke curug yang kedua ini maka curug yang kedua inipun dinamakan dengan nama Curug Tundo Tigo yang berarti curug yang menunda curug ketiga untuk menjadi air terjun. Begitu sih menurut penduduk setempat..lucu jugs yah...Hahaha

suasana yang bikin adem hati guys...

Inilah uniknya indonesia kawan. Kadang sebuah hal yang sederhana bisa menjadi nama dari sebuah tempat. Ada jatingaleh, watugong , dan yang terakhir yang saya sebutkan adalah curug citro arum dan curug Tundo Tigo...nama yang unik membuat kita menjadi penasaran untuk mencoba mengunjunginya. Semoga saja kelestarian dari tempat ini tetap terjaga hingga anak cucu kita.