Tampilkan postingan dengan label curug glawe sumowono. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curug glawe sumowono. Tampilkan semua postingan

Jumat, September 11, 2015

Berburu Curug Prawan di Sumowono ( Bagian 1 : CURUG GLAWE )


curug Glawe
Beberapa waktu yang lalu seorang temanku memberikan sebuah info kepadaku tentang keberadaan dua buah air terjun baru di sebuah desa di daerah Sumowono. Letak air terjun ini berada tak jauh dari curug 7 bidadari dan masih prawan. Beberapa mahasiswa yang melakukan KKN di sebuah desa terdekat dari kedua curug ini pernah juga memposting foto ke dua curug ini di salah satu blog. Curug yang belakangan lebih akrab disebut Curug BENDUT dan Curug KLAWE ini terletak di Dusun Duren , Desa Duren , kecamatan Sumowono. Desa Duren sendiri merupakan salah satu desa yang masuk progam pemerintah sebagai Desa Wisata sebagai upaya untuk meningkatkan perekonomian warga dusun. Setidaknya begitulah kata "mbah google"...hehehe  "Desa wisata....kayaknya seru neh..." begitu yang kupikirkan
Langsung saja deh , setelah menentukan hari aku pun berangkat memburu kedua curug fenomenal ini. Tujuan awal adalah Terminal Sumowono sebagai start awal pencarian. Singkat cerita akupun sampai di Terminal Sumowono. Di sini aku mulai mencari info mengenai Desa Duren dengan bertanya pada penduduk setempat. Jawaban yang kuterima malah mengarahkanku pada Desa Duren yang ada di daerah Bandungan. Sejenak aku ragu karena yang kutuju adalah Desa Duren yang ada di daerah Sumowono. Tapi aku tetap optimis kalau didaerah sumowono inipun ada yang namanya desa duren. Karena itu aku tetap maju menuju daerah Curug 7 Bidadari dimana semua info itu berasal. Tak berapa lama berkendara , aku pun sampai di daerah barak tentara. Di sini kembali aku bertanya kepada warga setempat. Secercah harapan pun kudapatkan. Beberapa warga memberikan info keberadaan Desa Duren yang ternyata masih cukup jauh. Sebagian besar mengatakan bahwa masih dibutuhkan waktu 1 jam dan melewati beberapa desa sebelum akhirnya sampai di sana.
curug yang sippp...

"itu mas , masih ke sana...dibawah bukit itu lho..." Salah satu warga berkata sambil menunjuk ke arah bukit yang terlihat jauh nun disana...wah lha kok jauh amat yah pikirku dengan bertanya-tanya.
Tapi dasar memang aku ini orangnya gedhe rasa penasarannya. Akhirnya akupun meluncur ke lokasi setelah sebelumnya meminta petunjuk pasti arah-arah ke Desa Duren. Dari barak tentara aku masih harus belok ke kiri menuju arah curug 7 bidadari. Sesampai di desa Losari di perempatan pertama belok kekiri ke arah Desa Mendong terus sampai ketemu pertigaan dekat dengan sebuah makam. Di pertigaan ini belok ke kanan dan menuju arah ke Desa Setro. Dari sini jalan mulai rusak , beraspal tapi berlubang dimana-mana. Terus ikuti jalan turun naik menuju desa setro ini. Sesampai di Desa Setro , pada pertigaan pertama saya harus belok ke kiri. Belokan ini tak terlihat karena tidak terlalu lebar dan lebih mirip gang kecil. Untuk itu sesampai di Desa Setro ini kita harus benar-benar jeli. Saya sendiri  Awalnya agak ragu apakah benar pertigaan ini yang dimaksud. Karena itulah saya putuskan untuk bertanya dan memang benar pertigaan ini yang di maksud.
Saya pun melanjutkan perjalanan kembali dan astagaaaaa....tak begitu jauh dari pertigaan , terhampar jalan menurun dengan kemiringan mencapai 60 derajat. Tak hanya itu saja , jalan menurun ini telah rusak hampir diseluruh badan jalan. Kerikil dan pasir serta batu pondasi dari jalan pun terlihat semua. Waduh...apa ini bener-bener jalan untuk kendaraan...antara ragu dan tidak akupun berhenti...tapi akhirnya aku pun maju menuruni jalan ini dengan motorku sambil berdoa smoga tidak jatuh dari motor karena terpeleset pasir dan krikil. Dan benar saja , berulang kali roda motor selip karena pasir dan krikil. Kucoba untuk menekan rem penuh-penuh. Tapi tetap saja motor masih saja menggelinding karena kemiringan tanah yang tajam. Alhasil motor pun melaju kencang sambil terguncang kesana kemari. Tapi sungguh ajaib , aku selamat sampai bawah tanpa jatuh. Sampe dag dig dug jantung ini.
Sampai bawah jalan , jalan aspal kembali mulus lagi dan aku terus mengikuti jalan ini tanpa berbelok. Jalan aspal ini berlanjut sampai Desa Pledokan. saya sempatkan bertanya kembali sekedar memeriksa arah saya sudah benar atau tidak. Dan info yang kudapat Dari Desa ini pun saya masih harus lurus sampai keluar desa saya sampai di pertigaan jalan. Di sini saya harus mengambil jalan kekiri menuruni lembah. Tapi kok jalannya kayak gini???jalan dari pertigaan ini seperti telah di betonisasi tapi rusak di sana sini. Saya pun berhenti dan menghampiri seorang pengendara motor yang kalau saya tidak salah tebak seorang pengantar paket kiriman.. Bapak ini juga kelihatan bingung. Belum sempat aku bertanya bapak ini sudah mendahului bertanya.
"Mas apa bener ini jalan ke Desa Duren?"tanya si bapak.
"Gak tau pak , saya sendiri juga mau kesana...tapi kata orang di desa tadi sih ada pertigaan belok kiri kebawah..."jawabku. "Kayaknya memang jalan ini. Soale aku tadi juga dapat petunjuk seperti itu..."kata bapak ini kembali.
Merasa yakin dengan jawaban orang ini , aku pun lalu belok ke kiri setelah mengajak bapak ini. Jalan awalnya datar kemudian menurun dengan kondisi yang rusak dan bergelombang di sana sini. Berapa saat kemudian jalan berbelok ke kanan kemudian melewati perengan bukit. Di sisi jalur adalah perbukitan dan di sisi yang lainnya adalah jurang...bener-bener deh!ampuuunnn...sebenarnya ini desa apa terletak di pelosok?
peta ke desa duren ..ini jauh lho brooo...

Setelah menuruni perbukitan yang terjal , saya pun sampai di sebuah desa. Sayapun mengira telah sampai di Desa Duren dan berhenti di sebuah mesjid. Kemudian mencoba bertanya pada seorang pria paruh baya. Diluar dugaan ternyata ini bukan desa Duren...weleh...."ini Desa Skeper mas Desa Duren masih ke bawah sana tuh...." jawaban ini seolah membuat tubuhku terasa lemas...sampai berapa jauh lagi neh desa Duren....tapi karena sudah kepalang tanggung , akhirnya akupun bergerak menuruni bukit lagi...kembali jalan terjal menjadi makanan bagi aku dan motorku. Awal jalan meninggalkan desa Skeper ini menurun dengan kemiringan yang benar-benar tajam. Jalan pun menikung dengan tajam. Andainya anda seorang penakut , sudah pasti anda akan putar arah kawan. Karena setelah tikungan tajam ini , jalan kembali turun dengan tajam melewati betonisasi yang rusak dan menonjol akibat tanah yang bergerak. Menjelang mendekati desa jalan kembali menjadi datar tetapi rusak parah. Dan beberapa puluh meter kemudian sampai juga di Desa Duren. Hahhhhhh....akhirnya bisa bernafas lega. Dan tampilan dari desa ini benar-benar gersang dan terbelakang. Gak ada bangunan rumah mewah satupun di Desa ini. Berada pada ketinggian 642 meter dari permukaan laut , Rupanya desa ini merupakan desa terakhir terpelosok. Karena akses jalan yang sulit dan naik turun serta rusak dimana-mana membuat desa ini seolah terkucil dari peradaban. Untuk itulah pemerintah berusaha mengangkat perekonomian desa ini dengan menjadikannya sebagai desa wisata. Dan curug Glawe dan Bendut pun dijadikan  sebagai daya tarik utama dari desa ini.
Tak jauh dari gapura desa aku berhenti di sebuah SD untuk bertanya kembali lokasi pasti dari 2 curug ini. Setelah bertanya pada salah satu warga desa , jelaslah semua. Curug ini masih benar-benar alami. Bahkan tak ada biaya retribusi dan lahan parkir. Terpaksa motor pun harus di titipkan ke salah satu rumah warga. Untuk selanjutnya , jalan kaki merupakan satu-satunya pilihan karena tak adanya akses jalan untuk motor apalagi mobil. Dan jalan kaki dari desa ini menuju lokasi curug juga tidak dekat lho broo...langsung saja aku meluncur ke lokasi air terjun yang di maksud. Jalan untuk ke curug ini melalui belakang SD menaiki sebuah bukit. Usaha betonisasi rupanya telah diusahakan warga setempat. Tapi jalan beton ini sebagian telah hancur dan sebagian lagi terkena longsor. Selain karena posisi jalan yan miring , tampaknya jenis tanah yang labil juga menjadi penyebab rusaknya jalan beton ini. Ketika mendekati puncak bukit jalan beton pun menghilang di gantikan jalan tanah setapak. 
terlihat gersang...mungki beda kalo musim hujan kale ya??

Saya sempat di bingungkan dengan beberapa percabangan jalur. Tapi menggunakan penalaran , aku pun mengikuti pipa air besi yang melintang menuju puncak bukit. Sesampai di puncak bukit jalan kembali datar dan beberapa saat kemudian jalan setapak melewati area persawahan. Di sini aku kembali di bingungkan dengan banyaknya jalan setapak. Aku pun lalu bertanya pada seorang petani yang tampak sibuk menggarap sawahnya.
"Numpang nanya pak , kalo arah ke Curug Bendut bener yang ini kan pak?" tanyaku dengan sopan.
"Wah , kejauhan mas kalo dari sini mas...harusnya lewat skeper lebih deket..."jawab pak tani ini setengah berteriak.
 "masa sih pak?" kataku setengah tak percaya sambil berjalan mendekat.
"Iya mas. Memang bisa sih lewat sini tapi jauh dan kalau gak tau jalannya kasihan mas.."kembali bapak petani itu menjawab.
"Memang seberapa jauh pak?1 jam lagi atau berapa...?" kembali aku mengorek keterangan lebih jauh.
"Wah jauh mas...mas lihat bukit itu?"bapak ini berkata sambil menunjuk ke arah selatan dimana terdapat deretan bukit yang memanjang. "Nah curug bendut tu ada di balik bukit itu dan jalannya lumayan jauh dari sini. Lebih mudah dan dekat lewat skeper." bapak ini kembali berkata sambil menunjuk ke arah desa diatas bukit nun jauh disana. 
bukit yang jauh....tuh di balik bukit...
Welehhhh...aku menatap ke arah yang ditunjuk oleh sang bapak. Bingung juga sih karena melihat tingginya bukit dan  jauhnya jarak yang harus dilalui , aku perkirakan butuh lebih dari 1 jam untuk menuju ke balik bukit tersebut.
 "Apa kalo mau ke sana bareng saya mas. Kebetulan saya ini orang skeper. Nanti saya tunjukin jalannya..."bapak ini menawarkan jasa.
"Betul neh pak?" saautku.
"Iya , saya ini orang skeper dan pergi ke sini untuk mengolah ladang. Lha , mas mau ke curug yang mana sih?Curug Bendut atau Curug Glawe. Kalau mau ke Curug Glawe memang lebih dekat lewat sini." bapak ini kembali berkata dan mendengar ini aku kembali bersemangat.
"Wah , bener tu pak?di sebelah mana?lewat jalan yang mana pak?"tanyaku kegirangan.
 "Disebelah sana mas. Lewatnya jalan yang ini lho..."kata bapak ini sambil menunjuk ke arah selatan kembali. "Memang curut bendut dan curug glawe itu airnya berasal dari aliran yang sama mas. Cuma jalan kesananya beda. Tapi kalo di tanya bagus yang mana bagusan Curug Bendut karena alirannya lebih deras. Sedang yang dekat sini(curug Glawe) airnya tidak terlalu deras. Saya sering mencari rumput sampai Glawe jadi saya tahu" bapak ini menjelaskan dengan panjang lebar.
"Ya udah pak...tak coba ke sana dulu aja deh pak"kataku berpamitan sembari berterima kasih.

peta ke curug...trecking yang asik lho...heheeh

Setelah itu aku pun kembali berjalan menyusuri jalan yang di tunjukan si bapak petani. Tak berapa lama kemudian aku pun meninggalkan area persawahan dan mulai masuk hutan. Setelah Sebuah sungai kecil kusebrangi , jalan setapak pun masuk ke deretan hutan bambu dan menanjak. Jalan tanah ini telah di buat berundak. Tak berapa lama jalan pun kembali masuk ke hutan. Berjalan menanjak selama beberapa menit , sebuah pertigaan jalan menghentikan langkahku. Harus ambil jalan yang mana neh. Cukup bingung juga pasalnya tak ada satupun petunjuk arah ke curug glawe. Kekiri merupakan jalan menanjak naik ke atas bukit. Sedang ke arah kanan jalan datar yang akan membawa ke arah sungai soalnya di hutan bambu tadi , sayup-sayup dapat ku dengar derasnya aliran air sungai yang kemudian menghilang saat aku berjalan. Karena menurut logika sebuah air terjun pastilah berada dialiran sungai , aku pun lalu mengambil arah kiri. Jalan datar ini rupanya melewati lereng bukit yang miring sehingga di sisi kiri membentang jurang yang lumayan dalam. Tapi tak berapa lama aku menyusuri lereng bukit ini terlihatlah sebuah air terjun di penghujung bukit. Betapa senang hatiku melihat pemandangan di depan mataku. Inikah Curug Glawe itu?
indah seeehhhh tapi panas...

Aku pun bergerak mendekati curug ini dengan menuruni bukit. Dan tak berapa lama aku pun tiba di kaki Air Terjun yang indah ini , CURUG GLAWE. Dan tidak seperti yang di infokan oleh bapak petani tadi , menurut saya curug ini memiliki debit air yang cukup deras , apalagi mengingat saat ini adalah puncak musim kemarau. Air terjun ini memiliki ketinggian lebih dari 30 meter dan berada di ketinggian 690 meter dari permukaan laut. Air terjun ini berada 790 m dari Desa Duren dan berada di titik kordinat Lintang -7,21257 derajat ; Bujur 110, 26416 derajat. 
Airnya yang jernih jatuh dari tebing batu membentuk 2 undakan sebelum akhirnya jatuh membentuk sebuah kolam kecil yang jernih dan cantik. Di kaki air terjun batuan sedimen dan kapur lebih banyak mendominasi. Beberapa batuan kali yang cukup besar turut menghiasi air terjun ini. Dan karena letak air terjun berada di bawah lembah , lokasi air terjun terlihat rawan dari longsor. Apalagi melihat di sisi kiri tepatnya arah tenggara air terjun terlihar tanah yang longsor. Entah karena kemarau atau memang sengaja di gundul , di sekitar air terjun sangat sedikit keberadaan pohon besar sehingga saat siang suasana di sekitar Curug Glawe ini terasa panas. Tapi semua ini tak lantas mengurangi keindahan air terjun yang satu ini. Butiran air yang jatuh membentuk panorama yang serasi berpadu dengan dinding tebing , pepohonan dan langit biru...indah kawan...gagasan untuk membuat curug ini sebagai tempat wisata memang ide yang cukup bagus. Tinggal bagaimana ide warga dusun duren bisa membuat tempat ini lebih menarik lagi.

aliran sungai...
Aku pun lalu bernarsis ria ditengah teriknya matahari siang. Lalu aku pun kembali teringat pada pertigaan antara jalan menuju curug ini dan menuju puncak bukit. Terbersit di benakku untuk memburu curug yang satunya lagi. Curug Bendut. Karena dugaanku pastilah jalan menuju puncak bukit tadi adalah jalan menuju Curug Bendut. Tanpa berpikir panjang akupun segera beranjak dari tempatku kembali ke arah aku datang. Sesampai di pertigaan jalan aku pun mengambil arah ke puncak bukit dan mencoba menelusurinya. Tapi belum sampai puncak bukit jalan setapak seolah menghilang tanpa jejak. Aku pun akhirnya menyerah dan kembali turun menuju desa duren. Sesampai di desa duren akupun langsung hengkang setelah sebelumnya mengambil kendaraan yang kutitipkan dirumah salah satu warga desa duren. Diluar dugaan perjalanan kembali tak sesulit yang kubayangkan dan lebih cepat dari saat aku menuju desa duren.
Akupun sampai sekarang masih penasaran dengan keberadaan Curug Bendut. Sebuah janji terucap di hatiku bahwa aku akan kembali ke Desa Duren. Tujuan?sudah pasti....memburu curug bendut....(bersambung ke "Memburu Curug Prawan di Sumowono bagian 2 : Curug Bendut)
exsis lageeee....heheheeh