Tampilkan postingan dengan label air terjun coban rondo malang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air terjun coban rondo malang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, November 12, 2011

Air Terjun COBAN RONDO ( Journey to The Decade : Tempat ke 2 )

pernah dengar "pokok-e mak nyussss...."...
yaaaaa... Bondan Winarno ; itu lho presenter Wisata Kuliner disalah satu stasiun televisi di indonesia..
Sebenarnya artis inilah yang menginspirasi saya untuk ke air terjun Coban rondo. Sewaktu melihatnya shooting di air terjun ini , tempat ini langsung menjadi agenda dan tempat tujuan wisata di Malang yang ingin kudatangi. Coban Rondo adalah sebuah air terjun yang memiliki ketinggian 84 meter dan berada pada ketinggian 1135 meter dari permukaan laut .Coban Rondo berada di desa Pandansari Kecamatan Pujon Kab. malang. Tidak jauh dari Danau Selorejo yang berada dikecamatan Ngantang. Sekitar 32 km ke arah barat dari kota Malang. Letak Coban Rondo yang berada dalam wilayah KPH Perum Perhutani Malang tepatnya dibawah Gunung Panderman ; membuat udara ditempat wisata ini masih asri , bersih dan sangat sejuk dengan suhu rata-rata +/- 22 derajat Celcius. Karena memang untuk menuju ketempat ini anda harus melewati jalan beraspal yang masih lebat dikelilingi pohon - pohon tinggi dikanan kirinya, sekitar 30 menit dari jalan raya utama.


Sebagai salah satu tempat yang pernah dikeramatkan oleh penduduk sekitar , tempat ini juga memiliki legendanya sendiri. Alkisah dulu ada sepasang pengantin yang baru melangsungkan pernikahannya. Mempelai wanita bernama Dewi Anjarwati dari Gunung Kawi yang akan menikah dengan Raden Baron Kusuma dari Gunung Anjasmoro. Setelah 36 hari (selapan) menikah, Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro. Namun orang tua Dewi Anjarwati melarang karena baru “selapan” menikah. Tetapi keduanya bersikeras pergi dengan segala resiko apapun yang akan terjadi di perjalanan.




Dalam perjalanan , mereka bertemu dengan seorang pendekar bernama Joko Lelono. Diceritakan kemudian Joko Lelono yang akhirnya tertarik dengan kecantikan Dewi Anjarwati , berusaha merebut Dewi Anjarwati dari Raden Baron Kusuma. Perkelahianpun tidak dapat dihindarkan, sebelum berkelahi Raden Baron Kusuma memerintahkan para punakawan (pendamping) agar membawa Dewi Anjarwati bersembunyi ke suatu tempat yang ada Coban-nya (air Terjun). Pertempuran antara dua orang ini berlangsung seru dan imbang. Karena mempunyai ilmu yang sama saktinya , keduanya gugur dalam perkelahian itu.


Dengan meninggalnya Raden Baron Kusuma maka Dewi Anjarwati menjadi janda atau “rondo” dalam bahasa Jawa. Sejak saat itulah air terjun yang ditempati Dewi Anjarwati lebih dikenal sebagai Coban Rondo. Konon batu besar yang ada dibawah air terjun itu merupakan tempat duduk sang putri dalam penantiannya menunggu sang suami kembali.




Pertama kali dipergunakan sebagai obyek wisata pada tahun 1980 , tempat ini langsung banyak menyedot perhatian wisatawan ; baik domestik maupun lokal. Karena pengelolaan yang baik , ditempat ini telah tersedia beberapa fasilits yang cukup memadai. Selama 30 tahun ini pun ; Tempat wisata ini terus berbenah sehingga fasilitas yang ada menjadi semakin lengkap. Fasilitas yang ada saat ini adalah Ground Camp , Jogging dan mountainbike track, fasilitas outbond , sebuah mushola , kamar mandi dan mck yang cukup banyak (saya lupa jumlahnya) , tempat parkir yang luas untuk sepeda motor , mobil , dan bus ; serta warung makan. Anda juga bisa bermain atau menunggangi Gajah-Gajah yang berasal dari sekolah Gajah Wykambas, diLampung ; Sumatra.


Untuk menuju ke air terun ini sangatlah mudah. Dari arah timur bisa melalui jalur Malang - Batu - Pujon. Dari arah barat melalui Kediri - Pare - Ngantang - Pujon melalui jalan yang berkelok - kelok dan naik turun. Sesampai di pujon anda tinggal mengikuti petunjuk arah yang banyak terpasang disini. Sedang untuk masuk kekawasan wisata ; tiap pengunjung akan ditarik tarif Rp. 8000 perkepala , Rp. 2000 permotor dan Rp 5000 untuk mobil.


Air terjun Coban Rondo termasuk air terjun yang memiliki debit air yang tidak tetap, tergantung pada musim. Debit air terjun pada musim penghujan 150 liter/ detik dan saat musim kemarau 90 liter/ detik. Saran saya kepada anda yang hendak berkunjung ketempat ini ; datanglah kesini saat akhir musim hujan , saat debit air masih penuh sehingga akan anda dapatkan kondisi air terjun yang maksimal.




















Ditulis oleh " sang Angin "