Tampilkan postingan dengan label candi plaosan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi plaosan. Tampilkan semua postingan

Jumat, April 29, 2016

Hangatnya Sinar matahari Pagi di Candi Plaosan (Liburan Akhir Tahun di Klaten bagian 2-habis)


ini dia Candi Plaosan itu...
Anda pasti pernah lihat sebuah lagu pembuka dari salah satu TV swasta(RCTI) yang menampilkan sebuah candi yang berada di tengah sawah...Menarik bukan?nah...ini pulalah yang mendorong saya untuk mencari info di mbah google tentang candi ini. Alhasil mbah google pun mengatakan bahwa candi ini adalah salah satu candi yang berada di sekitaran Candi Prambanan...dan untuk itulah saya pun mengajak anak dan istri saya ke kota Klaten untuk mengunjungi candi ini. Cuma karena istri juga ingin melihat Candi Prambanan , pada akhirnya kami pun mengunjungi Candi Prambanan. Setelah istirahat 1 malam di penginapan , ke esokan harinya aku pun mengajak anak dan istriku untuk mengunjungi candi yang menjadi tujuan utama kami ke kota Klaten , ya...Candi Plaosan namanya.
Candi ini terletak tak jauh dari penginapan. Hanya berkendara sekitar 15 menit akhirnya kami pun tiba di sekitar Desa Plaosan. Desa Plaosan terletak di sebelah barat dari kompleks Candi Prambanan. Candi ini terletak di pinggir jalan sehingga tidak terlalu sulit untuk menemukannya. Tapi kedatangan kami terlalu pagi rupanya karena candi ini masih tertutup dan pagar pintu masuk candi ini masih terkunci rapat. Akhirnya kami pun memutuskan untuk menunggu sejenak. Dari luar pagar teralis ini bisa ku lihat keindahan candi ini. Sejumlah gambar pun aku abadikan lewat kamera digitalku. Beberapa menit kami menunggu tapi candi ini tak kunjung buka juga. Aku pun mengambil inisiatif untuk mengajak anak dan istriku mengunjungi candi plaosan yang lainnya...
"Yang lainnya?"
Oya tadi belum ku sebut ya kawan kalau candi Plaosan tuh ada dua...Candi yang pertama yang saat ini aku kunjungi adalah Candi Plaosan Lor atau Candi Plaosan Utara. Sedang kompleks candi kedua adalah Candi Plaosan Kidul atau Candi Plaosan Selatan yang letaknya tidak jauh kok dari Candi Plaosan Lor. Cukup berkendara tak sampai 5 menit ke arah utara dari kompleks Candi Plaosan Lor , kami pun sampai di Kompleks Candi Plaosan Kidul.

candi Plaosan Kidul

Tapi seperti hal nya Candi Plaosan Lor , kompleks candi yang ke dua ini juga masih belum buka. Hadeh....terpaksa kami pun cuma berjalan menyusuri depan candi yang di batasi pagar teralis besi. Namun dari luar pagar ini bisa kulihat candi ini tak semegah kompleks Candi Plaosan Lor. Letaknya pun berada di pemukiman penduduk sehingga terkesan kurang indah bila di pandang. Dari luar pagar ini bisa kulihat 3 buah candi kecil berada di sisi selatan dan 2 buah candi kecil berada di sisi utara dari kompleks Candi plaosan Kidul ini. Hanya 5 candi ini yang masih terlihat utuh dan di sekeliling candi ini berserakan reruntuhan candi lainnya. 5 candi yang utuh ini sendiri merupakan Candi Prawara atau Candi pendamping sedang candi utama dari kompleks candi ini sendiri telah runtuh dan tak bisa di lihat lagi. Di kompleks Candi Plaosan kidul ini jugalah pernah di temukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M pada bulan oktober 2003. Prasasti yang terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 X 2,2 cm tersebut berisi tulisan dalam Bahasa Sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno. Isi dari prasasti ini sendiri sampai saat ini masih belum di ketahui tapi dari tahun pembuatan yang tertulis menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan ini dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
kompleks Candi Plaosan Kidul yang tak lengkap
Itulah seklumit cerita tentang Candi Plaosan Kidul. Bentuk dari Candi Prawara di kompleks Candi Plaosan Kidul ini sendiri pun cukup unik menurut saya. Karena bila di katakan sebagai candi hindu bentuknya kurang ramping dan kurang tinggi seperti halnya candi Prambanan. Dan bila dikatakan sebagai candi budha pun , bentuk dari candi prawara di kompleks ini kurang lebar. Bagian bawah candi prawara ini seperti mengadopsi bentuk  candi-candi hindu pada umumnya dan bagian atas atau atap dari candi prawara ini mengambil bentuk dari Candi Borobudur yang melebar. Di sini bisa terlihat jelas perpaduan antara agama Hindu dan Budha lewat bangunan Candi Prawara ini.  Sayangnya saya sendiri tak bisa melihat lebih dekat lagi ke candi candi ini karena kompleks candi Plaosan Kidul ini tak kunjung buka juga. Akhirnya kami pun memutuskan untuk meninggalkan Candi Plaosan Kidul  ini dan mencoba peruntungan di Candi selain Candi Plaosan…barangkali Candi yang lain ini sudah buka…kami pun menyempatkan berhenti di Candi Plaosan Lor sekedar mengambil beberapa gambar untuk kenangan.
Baru saja kami hendak menaiki motor dan berniat meninggalkan Candi Plaosan Lor ini , tiba-tiba pintu gerbang yang menutupi jalan masuk candi ini di buka oleh pak penjaga. Wah asyik  neeeehhh…akhirnya di buka juga…kami pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan masuk ke Kompleks Candi Plaosan Lor yang lebih luas dari Kompleks Candi Plaosan Kidul.
di antara Candi Prawara...rapi ya guys..
“udah buka ya pak???berapa tiket masuknya untuk kami bertiga???” tanyaku kegirangan
“gak ada mas…Cuma mas harus isi buku tamu ini…daaannnn….tolong parkirkan motor anda di sana….”kata pak penjaga dengan logat jawa sambil menunjuk ke sebrang jalan di mana tertulis “tempat parkir”. …
Hahaha…ya deh maaf pak saya ndak tahu kalau parkirnya ada di seberang jalan sana…kataku dalam hati. Lekas saja motor pun ku arahkan ke tempat parkir yang tersedia. Setelah mengisi buku tamu , akupun mengajak anak dan istriku masuk melihat lebih dekat…
wowwww…begitu kami masuk ke kompleks Candi Plaosan Lor ini , kami seperti di ajak masuk ke dunia lain. Awalnya kami melewati kumpulan reruntuhan batu candi prawara yang sangat banyak dan luas. Menurut info terdapat 174 candi prawara atau candi pendamping yang mengelilingi candi utama, terdiri atas 58 candi kecil berdenah dasar persegi dan 116 bangunan berbentuk stupa. Tujuh candi berbaris di masing-masing sisi utara dan selatan setiap candi utama, 19 candi berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama. Hampir semua candi perwara tersebut saat ini dalam keadaan hancur.
kompleks Candi Plaosan Lor dan reruntuhan Candi Prawara-nya...
Lalu kami pun menuju candi utama dengan memutari pagar batu sebelah barat dan tiba di sebuah gerbang berupa Gapura Paduraksa, dengan atap yang dihiasi deretan mahkota kecil. Puncak atap gapura berbentuk persegi dengan mahkota kecil di atasnya. Di plataran dari gapura ini terdapat dua pasang arca Dwarapala yang saling berhadapan, sepasang terletak di pintu masuk utara. Masing-masing arca setinggi manusia ini berada dalam posisi duduk di atas kaki kanannya yang terlipat dengan kaki kiri ditekuk di depan tubuh. Tangan kanannya memegang gada, sedangkan tangan kiri tertumpang di atas lutut kiri. Arca serupa pun juga terdapat di di pintu masuk sebelah selatan.
foto dulu ahhh dengan arca Dwarapala
Anak saya pun tampak senang dan berulang kali bertanya banyak hal kepada saya…tapi karena pengetahuan saya tentang candi ini juga sedikit akhirnya saya pun Cuma bisa menjawab sekenanya…hahahaha…dengan melewati Gapura paduraksa , kami bertiga pun tiba di Candi utama.
Mengagumkan sekali !
Begitulah yang terpikirkan pertama kali ketika melihat bangunan candi induk setinggi 60 meter ini.  Arsitektur dari bangunan ini dari jauh pun sudah terlihat begitu megah. Apalagi setelah mendekat , terlihat jelas 2 buah candi utama yang tampak begitu gagah berdiri di pusat kompleks percandiaan ini. Untuk menuju ke pintu candi ini , di buat tangga menuju pintu dilengkapi dengan tangga yang memiliki hiasan kepala naga di pangkalnya. Bingkai pintu dihiasi pahatan bermotif bunga dan sulur-suluran. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala tanpa rahang bawah. Di sepanjang dinding luar candi utama yang pertama ini terpahat banyak ukiran relief. Sungguh mengagumkan melihat pahatan yang begitu detil bisa di lakukan pada zaman dahulu kala yang belum tersedia peralatan yang lengkap dan memadai. 
kemegahan Candi Plaosan lor laki-laki...
Pada candi utama yang pertama yang berada di sisi selatan ini bila saya perhatikan lebih banyak menggambarkan relief laki-laki. Karenanya candi di sisi selatan ini disebut juga candi Lanang atau pria. Kami pun mencoba naik menuju pintu candi..namun sayangnya pintu candi ini tertutup dan tak bisa di masuki. Akhirnya kami pun cuma berjalan mengitari candi lanang ini. Sampai di sisi utara dari candi lanang ini, candi utama yang kedua terlihat begitu angun tertimpa sinar kuning matahari pagi. Di tambah suasana pagi yang masih sangay syahdu membuat semua terasa nyaman…Sungguh pemandangan yang mempesona kawan…
itu tuh Candi "wedok" kelihatan bung...
Kami pun bergegas turun dan menuju candi utama yang kedua ini. Bangunan candi yang kedua ini pun tak berbeda dan memiliki bentuk yang sama dengan candi utama yang pertama. Kesamaan ini lah yang membuat Candi Plaosan Lor ini dinamakan juga dengan Candi kembar. Tapi meski memiliki banyak kesamaan , candi utama yang kedua ini memiliki perbedaan dengan candi utama yang pertama pada relief yang tergambar di dinding luar candi. Jika di candi utama yang pertama lebih banyak menggambarkan tentang lelaki , di candi utama  yang kedua ini lebih banyak menggambarkan relief tentang wanita. Oleh karena itulah candi utama yang kedua ini di namakan juga dengan Candi Wedok atau Candi Wanita.
segarnya pagi di Candi Plaosan Lor...
Kok bisa gitu kawan? Nah nanti aku jelasin lebih lanjut deh…hehehe
Sama seperti candi utama yang pertama , pintu candi ini tertutup oleh teralis besi yang terkunci. Cukup kecewa juga saya tak bisa sekedar menengok ke dalam…padahal menurut info di mbah google , kedua candi utama ini memiliki 2 tingkat yang terbagi menjadi enam ruangan, tiga ruangan terletak di bawah, sedangkan tiga ruangan lainnya terletak di tingkat dua. Konon antara kedua lantai ini dahulu di batasi oleh lantai papan yang saat ini sudah tidak ada lagi, namun pada dinding masih terlihat alur bekas tempat memasang lantai. Di ruang tengah terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas altar yang menghadap pintu, namun arca Buddha yang berada di tengah saat ini sudah raib. Pada dinding di kiri dan kanan ruangan terdapat relung yang tampaknya merupakan tempat meletakkan penerangan. Relung tersebut diapit oleh relief Kuwera dan Hariti. Di kiri dan kanan, dekat pintu utama, terdapat pintu penghubung ke ruangan samping. Susunan di kedua ruangan bawah lainnya, baik di bangunan utara maupun di bangunan selatan, mirip dengan susunan di ruang tengah. Di sisi timur terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padadmasana menghadap ke barat. Arca Buddha yang berada di tengah juga sudah raib. Raibnya arca ini tak ada yang tahu dan tetap menjadi misteri sampai saat ini. Oleh karena itulah pintu masuk kedalam kedua candi lanang maupun wedok lebih sering tertutup untuk menghindari pencurian…
Sayang pintu masuknya ketutup...
Tak jauh dari kedua candi utama ini terdapat sebuah bangunan terbuka berbentuk persegi tanpa atap. Tempat ini bila dilihat dari candi utama yang kedua terlihat seperti lapangan batu dengan deretan arca yang menghiasi di atasnya. Karena tertarik kami bertiga pun memutuskan untuk mengunjungi situs yang biasa di sebut sebagai Mandapa ini. Begitu mendekat terlihat jelas Mandapa ini di susun dari batu hingga mencapai tinggi dada orang dewasa dengan luas sekitar 2 kali lapangan bola voli. Untuk naik di atasnya telah dibuat tangga batu di sisi utara. Di atas bangunan yang seperti lapangan ini ini berjajar beberapa arca budha dengan kondisi yang masih bagus . hanya saja arca-arca ini sebagian besar tidak lengkap lagi. Tapi hal ini tak mengurangi kemegahan bangunan ini. Malah berdiri di atas Mandapa ini mengingatkan saya akan film kera sakti di mana di salah satu adegan terdapat banyak budha bersemedi di sebuah lapangan besar…heheheh…berfantasi sedikit boleh kan brooo…
arca-arca Budha di Mandapa...keren bozz...

Over all…candi ini cukup mengesankan dan pantas untuk di kunjungi kawan. Apalagi jika anda datang saat pagi atau sore hari. Suasana yang ditawarkan di candi ini begitu tenang dan menghanyutkan. Apalagi bagi anda yang berpacaran gak ada salahnya ke sini lhooo…karena Candi Plaosan ini memiliki mitos melanggengkan hubungan asmara antara pria dan wanita. Hal ini berhubungan dengan sejarah candi ini. Menurut sejarah , candi ini di bangun pada masa pemerintahan Ratu Sri Kahulunan. Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu. Dari pernikahan kedua wangsa ini terjadi akulturasi 2 budaya yang berbeda. Dan untuk mengabadikan cinta dari 2 budaya yang berbeda ini di bangunlah Candi Plaosan ini yang merupakan bentuk dari perpaduan agama hindu dan budha.
Stupa sebagai tanda bahwa candi ini juga candi Budha
Hal ini dapat dilihat dari bangunan candi yang ramping dan dikelilingi candi perwara yang merupakan ciri khas dari bangunan candi hindu dan ditemukannya stupa di sekitar candi yang merupakan ciri khas bangunan candi budha. Tak tanggung-tanggung di pusat kompleks candi di bangun lah sepasang candi induk dengan bentuk yang hampir sama.  Di candi utama sebelah selatan di pahatlah relief yang menggambarkan semua hal tentang lelaki sebagai bentuk kekaguman putri Pramodhawardani terhadap Rakai Pikatan. Sebaliknya di Candi utama sebelah utara dipahatlah relief yang menggambarkan semua hal tentang wanita sebagai bentuk kekaguman Rakai Pikatan terhadap Pramodhawardani.
pahatan arca Wanita(kanan) dan pahatan arca laki-laki(kiri)
Kedua candi kembar ini di percaya sebagai symbol cinta suci dari dua sejoli yang berlainan agama itu sehingga miytos pun berkembang di masyarakat setempat bagi siapa saja yang datang ke tempat ini bersama pasangannya hubungannya akan menjadi langgeng seperti halnya hubungan asmara Rakai PIkatan dan Pramodhawardani.
Mitos lain dari Candi Plaosan ini adalah  mampu mendatangkan berkah bagi pasangan yang belum mendapatkan keturunan, dengan memohon di tempat ini maka harapan dari pasangan tersebut akhirnya berhasil mendapatkan keturunan seperti yang diharapkan. Waktu permohonan bisa di lakukan kapan saja , tapi sebaiknya dilaksanakan pada malam Jumat Kliwon atau malam Selasa Kliwon. Ritual harus dilakukan sebanyak tiga kali, baik itu tiga kali berturut-turut ataupun tiga kali dengan hari yang berlainan, yang penting ritualnya genap tiga kali. Tapi yang namanya mitos tetaplah sebuah mitos…anda pun bisa percaya bisa tidak…
mampir sebentar...
Dan rasanya sangat puas bisa mengunjungi candi ini bersama anak istri di pagi hari , dimana suasana masih sangat sejuk dengan rangkaian sinar surya yang masih lembut dan indah…pokok-e TOP BGT…hehehe. Akan tetapi hari pun mulai beranjak siang…suara perut kami yang kelaparan memaksa kami bertiga untuk angkat kaki dari candi ini…ya wajarlah…mengingt perut ini belum terisi apa-apa sedari pagi tadi…akhirnya kami pun memutuskan untuk mencari sarapan di daerah Kalasan…dekat dengan sebuah Candi juga…Candi Kalasan…
tapi sesampai di Candi Kalasan kami bertiga tak berlama-lama disini karena si kecil dan ibunya ribut minta pulang ke penginapan. Ya sudah....setelah mengambil beberapa foto , kamipun angkat kaki dari obyek wisata ini. Tiba di penginapan kamipun langsung sarapan dan segera berbenah untuk kembali ke Semarang. dan akhirnya sekitar pukul 9:30 kami pun berangkat pulang ke kota asal kami setelah check out tentunya...segudang pengalaman yang kudapat kali ini saat liburan akhir tahun 2015.....kapan kapan kita lakukan lagi ya ...heheheeh... 

LIBURAN AKHIR TAHUN DI KLATEN-HABIS