Tampilkan postingan dengan label gumuk reco sepakung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gumuk reco sepakung. Tampilkan semua postingan

Jumat, Juli 27, 2018

Jelajah sepakung episode 1 : ke Gumuk Reco yuk...

spot selfi sarang burung at Gumuk Reco
Gumuk Reco adalah sebuah tempat wisata yang berada pada ketinggian sekitar 850 meter dari permukaan laut...konsep tempat wisata ini berbasis pada wisata alam yang menyajikan pemandangan lereng GunungTelomoyo dan Rawa Pening yang mempesona dari ketinggian. Sebagai tempat yang tergolong masih baru dan fresh , tempat wisata ini sudah terkelola dengan cukup baik. Sejumlah fasilitas yang di bangun pun telah menunjang tempat ini untuk beroperasi. Dari tempat parkir yang cukup luas untuk kendaraan. Dua buah kamar mandi lengkap dengan WC dan persediaan air yang cukup melimpah. Sampai sarana jalan menuju lokasi wisata yang telah di lakukan betonisasi yang cukup baik.
sejumlah fasilitas neh...no 1. loket karcis(jangan lupa bayar lhoo..a)  2.gazebo serbaguna(kalo-kalo mau ngadain acara ,bisa di booking dulu neh..hubungi pengelola yah)  3.kalo ini mah gazebo buat penjaga wahana berbayar seperti Jembatan Kepompong , ayunan langit dan flying fox(disini pula neh di pasang sejumlah peralatan safety bagi yang mau naik wahana ini)  4.Kamar Mandi..airnya melimpah bro n ngalir terus...bisa di tampung n jadi kolam neh...
Terus....apa sih menariknya tempat ini? Tentunya itu yang terlintas di benak anda...nah selain menyajikan pemandangan di ketinggian , tempat ini juga mengakomodir beberapa tempat selfi yang ciamik punya...
Sebut saja Jembatan Kepompong yang membentang memanjang menghubungkan sebuah gardu pandang yang mirip rumah pohon. Jembatan yang terbuat dari tali yang di simpul menyangga potongan kayu membentuk jembatan sepanjang sekitar 15 meter dan memiliki ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Di sisi Rumah pohon tersebut terdapat sebuah jurang yang memiliki kedalaman sampai 300 meter. Sensasi meniti jembatan ini akan membuat jantung pengunjung semakin berdegup kencang ketika melewatinya. Betapa tidak...jembatan ini akan bergoyang ke kanan dan ke kiri begitu kaki melangkah melewatinya. Apalagi saat angin lembah bertiup kencang jembatan ini semakin bergoyang kencang. Tidak jarang beberapa pasangan meniti jembatan ini dengan saling berpegang tangan. Tentu saja hal ini semakin menambah kemesraan pasangan-pasangan yang sedang di rundung asmara ini..
Jembatan Kepompong
Yang tak kalah ikonik adalah sebuah wahana ayunan yang berada di pinggir sebuah tebing. Ayunan Langit begitu pengelola menyebutnya. Ayunan ini menggantung pada sebuah pohon yang berada di bibir jurang pada ketinggisn 800 meter. Butuh keberanian extra untuk mencoba wahana ini. Karena pengunjung akan langsung di hadapkan pada jurang menganga di bawahnya ketika mulai berayun dari bibir jurang. Deg-deg-an??pastinya brooo.....karena itulah bagi anda yang punya penyakit jantung sebaiknya jangan deh coba wahana yang satu ini...nah meski terlihat berbahaya , wahana ini telah di lengkapi dengan pengaman yang memadai...ayunan ini pun banyak di buru oleh penggemar fotografi karena dengan ayunan ini pengunjung dapat membuat foto yang keren...seolah kita sedang menggapai angkasa dengan sebuah ayunan berlatar belakang pegunungan di ketinggian....wow keren pastinya neh bro...
Ayunan Langit atau bahasa kerennya Sky Swing...coba deh...seru lho...
Dan karena tingkat bahayanya ini jugalah yang membuat kedua wahana sekaligus spot selfie ini menjadi tidak gratis alias bayar...berapa nih htm-nya perorang?
Murah kok...cuma beli tiket Rp 10.000 per wahana ini dan anda pun bisa mencoba Ayunan Langit dan Jembatan Kepompong ini.
Yang terbaru adalah wahana Flying Fox sepanjang 85 meter membentang di antara pohon pinus. Jalur Flying fox ini saya taksir berada pada ketinggian sekitar 10 meter dari permukaan tanah. Wah benar-benar membikin deg-degan nih...nah untuk wahana terbaru ini pengunjung harus membayar Rp 15.000 untuk dapat mencobanya.
Flying Fox...lewat pinus kayak gini ,berasa mirip Rubah Terbang beneran neh
Bagi yang tak ingin bayar....hehehe...tenang nih di lokasi Gumuk Reco ini juga terdapat spot-spot Selfi yang gratis. Dan spot selfi ini juga bisa menghasilkan foto-foto yang oke punya. Spot selfi gratis favorit saya sendiri adalah sebuah spot selfie berbentuk sarang burung yang terletak di pinggir jurang. Menurut saya pribadi spot ini begitu unik dan pas dengan tema tempat ini yang berada di gunung dan pinggiran jurang. Di sini saya bisa bergaya layaknya anak burung yang berada di sarangnya menunggu induknya yang terbang mencari makanan...hahahaha
ini neh spot selfie gratis favorit ane...selalu suka lihat nih foto...

Selain beberapa spot selfie gratis ini disekitar lokasi juga terdapat gardu-gardu pandang yang menempel di pohon-pohon tinggi. Untuk berdiri di gardu pandang yang terletak di ketinggian ini , pengunjung harus meniti tangga-tangga kayu yang menghubungkan gardu pandang ini dengan permukaan tanah. Tinggi gardu pandang dari permukaan tanah ini pun bervareasi. Ketika berada di gardu pandang ini pengunjung bisa lebih lepas memandang ke arah bawah yang di dominasi oleh hutan , sawah , dan rumah penduduk. Dan karena letaknya yang menempel di dahan pohon yang lumayan tinggi terkadang gardu pandang ini ikut bergoyang ketika angin berhembus kencang menerpa pepohonan. Lumayan bikin kaget n bikin jantung deg-deg-an sich...hahaha
berani coba panjat tebing ini...
Bagi pengunjung yang menginginkan sesuatu yang benar-bener bikin adrenalin memuncak , bisa juga tuh mencoba untuk memanjat Tebing Pereng Kuning di sebelah dari lokasi wisata. Tapi tentu saja saya pun menyarankan untuk sekali-kali tak mencobanya bagi yang tak memiliki keahlian atau pengalaman panjat tebing. Karena memang di butuhkan keahlian untuk memanjat tebing yang memiliki kontur tegak lurus.
Selain sebagai ajang berselfi ria , gumuk reco juga dapat menjadi tempat nongkrong yang asyik...secara letak tempat wisata ini terletak di lereng gunung sehingga udara pun masih bersih dan sejuk. Tempatnya yang jauh dari keramaian pun merupakan tempat yang sempurna untuk merenung dan menenangkan diri dari kesemrawutan per-kota-an. Banyaknya pohon cemara yang tumbuh di lokasi ini juga semakin mempercantik tempat ini. Pohon cemara ini juga memberi kesan teduh dan adem pada lokasi wisata ini. Di bawah pohon-pohon cemara ini banyak bertebaran bangku , meja dan kursi terbuat dari potongan kayu. Pengunjung pun dapat memesan makanan dan minuman di warung-warung terdekat...
Menarik kan bro...nah bagi yang tertarik ke tempat ini , sobat semua dapat mendatangi tempat wisata ini yang terletak di Dusun Kenongo, Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Desa Sepakung sendiri adalah sebuah desa yang terletak di ketinggian 700-1000 meter dari permukaan laut. Desa ini merupakan desa wisata dengan beberapa potensi wisata yang menarik. Dengan kondisi geografisnya yang terletak di pegunungan , desa ini memiliki akses jalan yang naik dan berkelok-kelok dengansudut kemiringan jalan mencapai 45 derajat. Di beberapa titik malah mencapai 50 derajat. Untuk itulah sebaiknya persiapkan kondisi kendaraan bagi anda yang berniat berkunjung ke desa ini. Karena saya sendiri sempat melihat sebuah truk box hampir meluncur turun karena tidak kuat melewati jalan yang menanjak. Saya sendiri juga sempat menyaksikan sebuah motor matic hampir kehilangan kontrol saat menuruni turunan tajam gara-gara sistim rem cakramnya rusak.
pemandanganny lepas ke arah timur..sunrise pun terlihat dari sini..
Nah untuk menuju Desa Sepakung ini ,
bagi anda yang membawa kendaraan pribadi , entah itu Mobil atau motor ; yang perlu anda lakukan adalah pergi menuju ke kota Ambarawa. Kalau dari kota Semarang anda bisa berkendara ke arah selatan menuju kota solo. Sebelum terminal Bawen , anda harus belok ke kanan menuju kota Ambarawa. Sebaliknya , bagi yang datang dari arah Solo , anda harus menuju kota Semarang melewati Kabupaten Boyolali dan kabupaten Salatiga. Selepas terminal Bawen anda akan menemui sebuah pertigaan. Disinilah anda harus belok ke kiri untuk menuju kota Ambarawa.

Dari terminal Bawen , ada 2 alternatif untuk menuju ke Banyubiru. Alternatif pertama lewat Ambarawa Kota. Untuk ke Ambarawa kota , dari terminal Bawen anda harus berkendara lurus tanpa berbelok. Sekitar 6 km anda akan tiba di pasar Projo Ambarawa. Jangan kaget dengan kemacetan di pasar ini ,disamping jalan yang sempit , di sinilah pusat aktifitas kota Ambarawa. Dari pasar Ambarawa ini anda masih harus berkendara lurus hingga tiba di sebuah pertigaan dengan sebuah monument berbentuk tank  yang berdiri tepat di tengah pertigaan ini , anda harus belok ke kiri untuk menuju Banyubiru. Terus ikuti jalan ini hingga habis dan bertemu dengan pertigaan yang terletak di depan Lapangan Turonggo atau Pangsar Sudirman. Disini anda harus belok ke kanan. Ikuti jalan ini terus  tanpa berbelok dan anda pun akan sampai di daerah Banyubiru.
Alternatif kedua adalah dengan melewati ring road Ambarawa. Dari terminal Bawen anda harus berkendara lurus sampai di pertigaan lampu lalu lintas yang pertama , anda harus belok ke kiri. Ikuti terus jalan ini hingga anda tiba di perempatan besar dengan lampu lalu lintas yang mengatur arus lalu lintas kendaraan bermotor. Di perempatan ini anda kembali harus belok ke kiri untuk menuju Banyubiru. Terus ikuti jalan ini tanpa berbelok dan anda pun akan sampai di daerah Banyubiru.
Bagi anda yang datang dari arah Yogyakarta atau Magelang , anda harus berkendara menuju Ambarawa melewati rute Yogyakarta-Magelang-Pringsurat-Jambu-Ambarawa. Untuk menuju ke Banyubiru anda bisa lewat Ambarawa Kota atau melalui Ring Road Ambarawa.
Sesampai Banyubiru , untuk gampangnya anda bisa menuju ke wisata Bukit Cinta yang terletak di pinggir Rawa Pening. Setelah melewati Taman Wisata Bukit Cinta , anda akan menjumpai sebuah pasar tradisional bernama pasar Gilang. Tak jauh dari pasar ini anda akan menjumpai sebuah pertigaan jalan dengan sebuah pos ojek di sisi kanan. Disinilah anda harus belok ke kanan untuk menuju Desa Sepakung.. Jalan menanjak penuh tikungan tajam akan anda lalui selepas dari pertigaan pasar sampai ke Desa Sepakung. Untuk menuju Gumuk reco , Sekitar km dari pertigan jalan pasar gilang , anda akan menemui kembali sebuah pertigaan jalan. Belok kiri ya bro untuk menuju Gumuk Reco. Terus ikuti jalan ini yang akan membawa anda melewati Dusun Glowo. Jangan kaget ya bila anda akan menemui jalan yang nanjak kemudian turun habis di desa ini...Selepas Dusun Glowo anda akan kembali menemui pertigaan lagi. Disini anda harus belok kanan kawan...tapi hati-hati ya bro jalan belok ke kanan ini merupakan tikungan tajam dan nanjak habis. Mending pelan-pelan aja deh....ikuti jalan nanjak  ini terus dan anda pun akan sampai di Gumuk Reco.

nih peta ke gumuk reco dari bukit cinta....
Lalu kenapa diberi nama Gumuk Reco??
Secara bahasa , gumuk reco berasal dari kosakata bahasa jawa. Gumuk berarti gundukan dan Reco berarti arca atau patung. Menurut penuturan warga setempat ,pak daryono yang juga merupakan sesepuh sekaligus pengelola obyek wisata ini ; di sekitar lokasi wisata ini memang terdapat sebuah batu yang merupakan peninggalan para waliullah. Pada awalnya bongkahan batu ini akan dipahat oleh wali ini. Tapi saat pahatan baru berbentuk  kepala manusia , sang wali ini terlihat oleh penduduk setempat yang menjadikan amalannya ini menjadi sia-sia. Wali ini kemudian meninggalkan batu yang belum selesai ia pahat begitu saja. Pahatan yang menyerupai kepala manusia ini sampai sekarang masih tersisa dibatu bagian paling atas walau bentuk kepala manusia ini sudah berkurang detilnya di karenakan tergerus oleh hujan dan panas.
batu ini neh yang konon memberi ama tempat ini...perhatikan deh...bagian mana yng mirip kepala kera dan mana yang mirip kepala kodok
Selain pahatan berbentuk kepala manusia , menurut penuturan pak daryono masih terdapat pahatan yang dapat terlihat jika batu ini di lihat dari sudut yang lain. Jika batu ini dilihat dari samping barat , terlihat pahatan berbentuk kepala kodok menghadap utara dan pahatan kepala kera menghadap selatan. Pahatan kepala kera ini di percaya ada kaitannya dengan penampakan kera putih yang kadang terlihat di sekitar tebing bernama Pereng Kuning. Letak tebing Pereng Kuning ini sendiri berada di sisi selatan dari obyek wisata ini. Tebing ini juga kadang di gunakan untuk olah raga panjat tebing. Keberadaan kera putih di sekitar tebing ini pun menjadi sosok hewan yang penuh misteri. Batu yang semula hendak di jadikan patung ini pun masih ada dan terletak di pnggir jurang tidak jauh dari Ayunan Langit dan Jembatan Kepompong. Keberadaan batu ini yang sampai saat ini masih berdiri kokoh di pinggir tebing juga di percaya adalah suatu keajaiban. Karena batu ini terletak di atas permukaan tanah tidak tertanam di dalam tanah. Penduduk setempat menganggap ini adalah suatu keajaiban batu yang terletak di pinggir tebing ini tidak menggelinding ke bawah hingga sekarang.
Saat ini pun pengelolaan wisata yang satu ini masih di pegang oleh pihak Desa Sepakung yang berkerja sama dengan pihak perhutani dengan system bagi hasil. Tarif masuknya pun cukup terjangkau. Hanya membayar Rp 5000 perorang , pengunjungpun dapat masuk ke lokasi wisata dan menikmati wahana dan fasilitas  yang ada. Untuk parkir motor di patok Rp 2000 per-motor. Tempat ini pun semakin ramai dan di kunjungi wisatawan ,  baik itu wisatawan lokal maupun wisatawan luar daerah...bahkan menurut penuturan pak daryono , saat hari libur obyek wisata ini ramai di kunjungi oleh wisatawan.
pemandangan indahnya area persawahan dari Gumuk Reco
"Tahun baru kemarin itu lho mas...motor mau naik ke gumuk reco ini sampai kesulitan saking padatnya jalan menuju gumuk reco ini..." wuisss...benar-benar animo masyarakat sangatlah tinggi pada tempat wisata ini. Karena itulah pihak pengelola berencana untuk menambah spot selfi di tempat ini. Pengelola pun berencana membangun beberapa kolam renang anak sebagai wahana bermain untuk anak-anak...hmmm...good plan pak...tetap semangat yah...hehe
pintu gerbang menuju Gumuk Reco...
Dan yang menjadi kendala dari tempat wisata ini adalah kondisi jalan raya menuju tempat wisata ini yang boleh di bilang extrem untuk ukuran orang awam. Beberapa tanjakan di beberapa titik jalan yang nanjak habis sering membuat beberapa pengunjung putar arah. Beberapa turunan jalan yang cukup curam pun juga di temui di beberapa titik jalan. Disamping nanjak dan turun habis , kondisi jalan raya yang sebagian besar melewati jalan desa ini di penuhi dengan tikungan-tikungan tajam. Selain itu lebar jalan yang sempit seringkali membuat beberapa mobil kesulitan saat berpapasan...tapi kalo buat saya sendiri sih "sesuatu yang indah dan menarik hati memang harus di dapatkan dengan perjuangan..."
Gak ada yang tanya ya???
Hahaha...ya udah lah...
Tentunya tempat wisata yang seperti ini banyak di buru oleh para pecinta selfie dan fotografi. Pun juga khalayak luas yang haus akan tempat wisata baru. Nah tunggu apalagi… jika anda tertarik , buruan deh kunjungi tempat ini kawan.
tak mainan ayunan lagi...hehehe