![]() |
| Goa Sepalwan |
Nah...setelah dari Curug Silangit ; dari Dusun Janur , Desa
Somongiri saya terus memacu motor keluar Desa Somongiri menuju jalan raya Kaligesing.
Sampai di perempatan Manukan saya langsung belok kiri kemudian terus mengikuti
jalan ini hingga tiba di pertigaan cangkrep lor langsung belok kanan mengikuti
jalan raya Kaligesing ini. Motor pun ku pacu tidak terlalu cepat dan tidak
terlalu lambat. Karena medan jalan yang berkelak kelok membuatku waspada akan kendaraan yang bisa
saja datang dengan tiba-tiba dari arah depan. Goa Sepalwan ini terletak Desa
Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berbatasan
langsung dengan kecamatan Kulonprogo kabupaten Yogyakarta. Selain dengan
kendaraan pribadi goa ini juga bisa di akses menggunakan angkutan umum. Dari
pusat kota Purworejo, pengunjung bisa naik angkutan ke Kaligesing yang terletak
di timur kota sejauh 20 kilometer. Sampai di Pasar Balidono, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan naik angkutan umum
tujuan Seplawan. Namun perlu diingat, angkutan umum hanya tersedia satu kali
sehari yaitu pukul 10.00-11.00 WIB, dan balik lagi sore harinya.
![]() |
| peta menuju Wisata Goa Sepalwan |
Balik ke cerita…Setelah berkendara selama 20 menit , rambu jalan
menuju Goa Seplawan mengarahkan motorku untuk belok kanan. Memasuki gang ini ,
motor melewati jalan masuk ke desa. Di kiri dan kanan jalan , rumah penduduk
menjadi pemandangan yang di lihat mata ini. Terkadang jalan menuju tempat
wisata ini juga melewati sepinya daerah Pegunungan Menoreh. Karena daerah
pegunungan ini memiliki morfologi dan geologi pegunungan selatan yang identik
dengan batuan kapur dan karang , vegetasi di sekitar jalan menuju Goa Seplawan
ini pun umumnya di isi oleh tumbuhan daerah kering. Medan jalan pun naik turun
dengan kemiringan jalan yang berbeda-beda. Selain naik turun , jalanan menuju
Kecamatan Donorejo juga berkelak-kelok. Aku pun terus berkendara. Tapi semakin
aku pacu motor ku aku merasa tak kunjung sampai dengan lokasi wisata yang di
tuju. Padahal menurut google map dekat lho...Setelah berkendara cukup lama juga
, jalan pun berakhir di sebuah puncak bukit. Disini sebuah gapura besar
menyambut kedatanganku. Nah ini dia neh obyek wisata Goa Seplawan itu...hahaha
akhirnya nyampe juga brooo...
![]() |
| pemandangan dari gardu pandang |
Di gapura ini pula petugas pun langsung menarik biaya retribusi
masuk ke lokasi wisata ini. Cukup membayar sebesar Rp 5.000 perorang dan biaya
parkir sebesar Rp 2.000 per motor , saya pun bebas masuk ke kawasan wisata ini.
Begitu masuk ke kawasan wisata ini , mulut saya langsung berdecak kagum melihat
kondisi obyek wisata Goa Seplawan ini. Karena sebagai wisata yang berada di
puncak bukit , tempat ini sudah terkelola dan tertata dengan sangat baik.
Keberadaan sebuah gedung mirip istana tak jauh dari pintu masuk wisata
inimenambaj kesan megah. Setelah saya bertanya , rupanya gedung ini adalah
sebuah aula dan pintu masuk ke gardu pandang yang baru-baru ini di bangun untuk
menambah fasilitas di obyek wisata ini. Dari gardu pandang ini katanya kota yogja
dapat terlihat dengan jelas. Dari gardu pandang ini pula pengunjung dapat
melihat pemandangan Waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo secara utuh. Bahkan
jika naik kepuncak sisi kanan dari gardu Pandang, pemandangan 5 gunung dijawa
tengah seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan
Gunung Sumbing dapat dilihat dengan jelas jika kondisi cuaca cerah. Menarik
juga yah...Tapi karena tujuan saya sejak awal adalah melihat eksotisnya
pemandangan dalam sebuah goa , saya pun lanjut menuju lokasi Goa Sepalwan
setelah sebelumnya memparkirkan motor kesayangan. Lagi pula waktu yang telah
menunjukan pukul14.00 sehingga saya pun tak bisa berlama-lama di tempat ini.
Lokasi goa yang dimaksud itu sendiri berada di sebelah kiri dari tempat parkir
sepeda motor. Saya pun berjalan ke arah ini dan beberapa meter kemudian saya
mulai menyusuri jalan yang menurun melewati anak tangga terbuat dari beton.
![]() |
| patung Replika arca sepalwan |
Di bawah dua buah patung
setinggi 3 meteran terlihat berdiri kokoh di samping deretan huruf-huruf yang
berjejer membentuk kata "Goa Sepalwan". Patung ini merupakan replika
dari dua arca yang terbuat dari emas yang dulu , tepatnya pada tanggal 15
Agustus 1979 , pernah ditemukan di dalam goa ini. Arca emas 22 karat ini memiliki tinggi 9
sentimeter dan berat 2,5 kilogram. Di perkirakan merupakan peninggalan pada
jaman kerajaan Mataram Kuno yang menggambarkan Dewa Syiwa dan Dewi Parwati.
Kerajaan Mataram Kuno saat itu beraliran Hindu yang menyembah Syiwa, sehingga
bisa di katakan kerajaan ini beragama Hindu Syiwa. Penemuan benda bersejarah
ini sontak membuat gempar dan membuat goa ini menjadi terkenal. Saat ini kedua
arca emas ini di simpan di Museum Nasional untuk keamanannya. Untuk
menggantikan kedua arca emas ini di buatlah replika kedua patung ini. Dan menurut info yang saya baca sebelumnya ,
Selain kedua arca emas ini , tak jauh dari goa ini juga ditemukan lingga dan
yoni dan reruntuhan candi yang tak utuh lagi. Tapi sekali lagi karena saya
mengejar waktu saya pun tidak sempat mengunjungi kedua situs ini dan focus
untuk mengunjungi Goa Seplawan itu sendiri.
![]() |
| cahaya surga di goa pertapa.. |
Setelah melewati patung ini , Jalan menurun pun berlanjut terus
menuruni lembah. Di kemiringan lembah ini juga telah dibangun taman-taman yang
tertata dengan apiknya sehingga saya pun tak merasa bosan saat bertracking menuju
lokasi goa. Jalan masuk Goa Sepalwan sendiri terletak di ujung dasar lembah
ini. Jalan masuk goa ini melewati batuan karang yang banyak di tumbuhi oleh
lumut dan tumbuhan kecil lainnya. Sehingga saat mendekati pintu masuk goa ,
saya merasa seolah suasana beralih ke dunia yang berbeda. Yang semula kiri
kanan didominasi oleh pemandangan taman-taman yang di penuhi oleh aneka tanaman
hias menjadi pemandangan batu dan tebing karang yang menjulang di kiri dan
kanan saya.
![]() |
| menuju perut bumi yang gelap guys... |
Hmmm...rasanya seperti memasuki pintu neraka atau dunia
kegelapan bila di gambarkan lebih jauh...eksotis sekali kawan...
Penggambaran saya pun tepat rasanya karena begitu masuk ke goa
ini suasana gelap , sepi , dan , sunyi terasa sampai ke jiwa...suasana horor
pun begitu kental terasa...bayangan demi bayangan setan , demit , dan kaum
sejenisnya berulang kali terlintas di benak saya. Tapi semua itu hanya fantasi
saya saja tentunya kawan...karena bagi manusia yang telah terbiasa hidup di
terangnya dunia , memasuki perut bumi yang gelap seperti ini benar-benar suatu
yang menyeramkan. Apalagi saya hanya sendirian dan tak berkawan...tapi dasar
saya ini memang orangnya gak gampang takut pada akhirnya saya pun terus masuk
lebih dalam. Beberapa meter kemudian saya melangkah masuk dari anak tangga yang
terakhir , ruangan goa berubah menjadi
lebih luas. Di tempat ini mulai terlihat ornamen-ornamen goa seperti stalagmit
, salakmit beraneka ragam.
Goa Seplawan termasuk goa yang bertipe basah dalam arti kata di
dalam goa ini terdapat aliran air atau sungai bawah tanah. Goa ini memiliki
kedalaman 750 meter yang saat ini di fungsikan sebagai jalur wisata goa dengan
kondisi jalan yang umumnya datar. Selebihnya berupa percabangan jalan lain yang
ditutup karena berupa goa vertikal, jurang, dan ada juga yang berlumpur yang
sering juga disebut Istana Lumpur. Untuk memasuki cabang goa tersebut harus membawa
alat penerangan sendiri karena memang tak di sediakan penerangan di percabangan
goa -goa ini. Dan karena cabang-cabang goa ini begitu rumit dan membingungkan ,
pengunjung di wajibkan untuk membawa seorang
pemandu berpengalaman jika berniat memasuki percabangan goa ini dengan
peralatan caving yang memadai tentunya. Goa Seplawan ini memiliki jalur buntu,
karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Karena itulah untuk keluar goa ini
pengunjung harus berjalan balik dan keluar melalui pintu masuk kembali.
![]() |
| hmmm...sendiri menatap langit Goa.. |
Saya pun terus menyusuri jalan goa yang telah di beton ini
hingga jalan ini berakhir di sebuah kolam yang tak terkalu luas. Kolam ini
terisi air yang sangat jernih hingga dasar kolam pun bisa terlihat dengan
jelas. Kedalamannya pun tampaknya tak seberapa. Kolam ini di sebut sebagai
SENDANG WENING. Menurut cerita sendang ini dahulunya di gunakan sebagai tempat
untuk menyucikan diri sebelum masuk
lebih jauh lagi kedalam goa. Di tepi sendang ini sayapun berhenti dan menengok ke sana
kemari mencari jalan selanjutnya. Di seberang kolam terlihatlah sebuah tangga
terbuat dari kayu. Mungkin ini kali ya jalan untuk menuju ke dalam goa lebih
jauh lagi??
Lanjut gak neh...begitu tanya dalam hatiku
![]() |
| gak berani lebih jauh lage nih kawan...lihat tuh harus nyemplung gitu..jangan-jangan.... |
Karena rasa ragu-ragu ini jugalah yang membuatku memutuskan untuk
menyudahi penelusuran Goa Seplawan ini sampai di sini. Lagi pula bulu kuduk
yang merinding dan perasaan yang di awasi oleh sesuatu yang tak nampak membuat
perasaan ini jadi tak nyaman. Saya pun akhirnya putar arah dan memutuskan untuk
naik ke atas kembali.
Sesampainya di Parkiran motor , saya pun menyempatkan untuk bertanya bertanya lebih jauh kepada penjaga
parkir disitu. Di sini saya mendapat kejelasan bahwa penelusuran goa melewati
kolam yang saya temui di bawah tadi masih bisa di lakukan lebih jauh ke dalam
lagi. Malah setelah kolam ini , akan di temui ruangan ke dua yang lebih luas
dari ruangan yang pertama. Menurut penjelasan yang saya dapat setelah Sendang Wening
akan didapati sebuah lorong setinggi 80 cm sepanjng 2 – 3 meteran dan cukup
untuk satu orang saja. Tinggi lorong
yang setinggi setengah badan orang dewasa ini membuat siapa saja yang
melewatinya harus menunduk bahkan merangkak kadang. Setelah lorong ini akan di
temui lorong goa dengan diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari
700 meter. Di ruangan goa yang kedua ini jugalah terdapat lebih banyak lagi
stalagmit , stalakmit, flow stone dan batuan-batuan unik lainnya. Di dalam
ruangan goa yang kedua ini juga terdapat sebuah batu yang tersusun dari batuan
kapur yang di atasnya terdapat relief menyerupai sirip hiu. Relief ini siapa
yang menulisanya dan apa artinya belum terpecahkan oleh para arkeolog hingga
saat ini. Selain itu di ruangan ini konon terdapat sebuah tempat dimana Sunan
Bonang mengajarkan Hakikat Islam kepada Sunan Kalijaga. Peninggalan dari kedua
wali ini yang berupa padasan atau wadah air wudhu konon masih ada di dalam goa hingga
kini.
![]() |
| tangga ini cukup ikonik di tempat ini... |
Menarik juga neh…Wah nyesel juga neh gak masuk lebih dalam
lagi..mau kembali turun dan masuk ke goa lagi kok ya sudah sore neh...lagian
mendung yang tampak menggantung di langit juga patut di kuatirkan..karena
menurut info yang ada , goa ini serung kali banjir saat hujan tiba...
Wah ya sudah deh...mending gak usah aja...
Sayapun akhirnya check out dari tempat ini dan let's go ke arah
purworejo. Berhubung hari semakin larut , saya pun akhirnya memutuskan untuk
pulang kembali ke Semarang berkumpul kembali dengan keluarga kecil tercinta.
Sebenarnya masih banyak tempat menarik di Kabupaten Purworejo ini yang menunggu
untuk di datangi. Semoga saja kedepannya saya di beri kesempatan untuk meng-explore potensi di Kabupaten Purworejo ini...sekali
lagi…
SEJARAH
GOA SEPLAWAN
Tau gak neh bro…setelah terkenalnya Goa Seplawan ini karena di
temukannya dua arca emas , kemudian bermunculan
sejumlah mitos dan legenda tentang goa ini. Apalagi terdapat fakta di
temukannya lingga dan yoni di sekitar mulut goa dan juga reruntuhan bangunan
pemujaan orang hindu yang kemudian lebih di kenal dengan situs Candi Gondo Arum.
Dinamakan begitu karena ketika Candi ini ditemukan, di lokasi candi itu tercium
bau sangat harum. Kedua temuan benda bersejarah dan dua arca emas ini semakin memperkuat dugaan bahwa dahulunya
tempat ini sempat di huni oleh bangsawan kerajaan hindu. Setelah di selidiki
oleh para arkeolog , masa pembuatan patung atau arca emas goa seplawan adalah
di masa pemerintahan wangsa Sanjaya, artinya keturunan dari Rakai Sanjaya. Akan
tetapi , tentang siapa pastinya pembuat arca masih belum diketahui. Yang jelas,
arca emas Goa Seplawan dibuat sebagai prasasti kebesaran Mataram Hindu
sekaligus penghormatan untuk agama mereka, Hindu Syiwa. Kisah tentang bagaimana
raja mataram ini bisa sampai di goa ini dengan membawa arca emas ini akan saya
kisahkan sedikit…hehehe jangan bosan untuk membacanya ya brooo..
Alkisah pada sekitar abad ke 7 - 8, berdiri 2 kerajaan sama kuat
di Jawa Tengah namun berbeda aliran kepercayaan. Bagian wilayah utara ( Kedu )
yang dipimpin oleh Raja Rakai Sanjaya, putra dari Raja Sana di Kerajaan
Pasundan yang menganut ajaran Hindu
Syiwa. Rakai Sanjaya memerintah Kerajaan Mataram Hindu pada sekitar tahun 732 -
752 M. Bukti peninggalan kerajaan ini saat ini masih ada yaitu candi dieng,
candi prambanan, candi liyangan, candi pringapus dan lain-lain. Sedangkan
bagian wilayah selatan, berdiri kerajaan dengan nama Medang Gele yang enganut
paham Budha Mahayana.
Setelah Raja sanjaya wafat, tampuk pemerintahan Mataram Kuno
dilimpahkan ke salah satu wangsa Sanjaya yang bernama Rakai Pikatan Dyah
Saladu. Raja Dyah Saladu memerintah selama 8 tahun dimulai dari 769 - 777 tahun
caka. Sebelum Raja Dyah Saladu wafat, beliau memberikan wasiat supaya tampuk
pemerintahan dipegang oleh Pangeran Mahamantri I Hino Dyah Lokapala, masih
lingkup wangsa Sanjaya.
Dyah Lokapala dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Prabu
Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Pada masa pemerintahan Raja Dyah Lokapala ini ,
terjadi dendam diantara putra bangsawan terutama pangeran Dyah Tagwas. Dyah
Tagwas adalah putra pertama dari Rakai Dyah Saladu. Meskipun hanya anak selir,
tetapi Dyah Tagwas merasa bahwa dia yang pantas menjadi Raja Mataram, bukan
Dyah Lokapala. Kemudian, terjadilah pemberontakan diantara putra bangsawan di
Mataram untuk pertama kali yang dilakukan oleh Dyah Tagwas yang berakhir dengan
tewasnya Raja Dyah Saladu. Setelah itu, Dyah Tagwas menobatkan diri mejadi Raja
Mataram pada 807 tahun caka atau 17 pebruari 855 M.
![]() |
| berani masuk???sendirian??? |
Namun, pemerintahan Dyah Tagwas tak berlangsung lama dan hanya berlangsung
beberapa bulan saja. Salah satu putra Raja Dyah Saladu yang bernama Dyah
Dewendra, merasa dendam terhadap Dyah Tagwas karena menghabisi ayahnya. Hal ini
pula yang mendasari Dyah Dewendra untuk memberontak dan menghabisi Dyah Tagwas.
Kemudian, Dyah Dewendra mengangkat dirinya menjadi Raja Mataram kuno dengan
gelar Dyah Dewendra Panumwangan pada 807 tahun caka, tepatnya 25 agustus 885 M.
Walau berganti pemerintahan , api dendam ternyata masih
menyelimuti wangsa Sanjaya. Salah satu putra Rakai Dyah Saladu yang bernama
Dyah Badra, dari istri selir namun masih satu kandung dengan Dyah Tagwas,
merencanakan pemberontakan. Dan akhirnya meletuslah pemberontakan oleh Dyah
Badra. Dia pun berhasil merebut tampuk pemerintahan namun tak berhasil
menghabisi Dyah Dewendra karena melarikan diri ke tempat saudaranya, yaitu Dyah
JabangRake Watuhumalang.
Setelah berhasil memberontak, Dyah Badra menobatkan diri menjadi
Raja Mataram dengan gelar Raja Rakai Gurunwangi Dyah Badra pada tanggal 18
januari 887 M atau 809 tahun caka. Namun, pemerintahan Dyah Badra tidak disukai
oleh pembesar kerajaan sehingga terjadilah pemberontakan oleh pembesar istana.
Dyah Badra beserta pengawal setia berhasil melarikan diri dengan membawa harta
dan perhiasan juga membawa arca emas, patung kehormatan Mataram Kuno.
Selama melarikan diri, Dyah Badra dan pengawal setia mendapat
pengepungan dari beberapa prajurit Mataram di berbagai daerah sehingga Dyah
Badra harus melalui hutan belantara dan singgah di gua-gua. Gua yang paling
lama di huni adalah Goa Seplawan ini. Di situ pula, Dyah Badra membangun sebuah
pemujaan berupa lingga dan yoni yang lokasinya berada di sebelah timur mulut
goa. Dyah Badra kemudian melanjutkan pelariannya ke tempat asalnya, yaitu
wilayah Gurunwangi dan dua Arca emas tersebut ditinggalkan di goa
seplawan. Menurut para ahli , Arca emas
ini sengaja di ditinggalkan di goa ini sebagai
persiapan bila Dyah Badra hendak memberontak lagi. Bahkan menurut teori
yang ada bukan hanya dua arca emas ini , di perkirakan masih ada harta lain
peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang tersimpan di goa ini.
LEGENDA
GOA DAN ARCA EMAS
alkisah suatu hari
Prabu Boka hendak melakukan pertunjukan hiburan wayang kulit semalam suntuk
dalam rangka Bersih Desa didaerah
sekitar goa sepalwan.
Bandung Bondowoso yang sejak lama
mempunyai rasa dendam dengan Prabu Boka mengetahui prihal ini. Maka timbul
keinginan Bandung Bondowoso untuk membalas dendam kepada Prabu Boka di tempat
keramaian itu. Setibanya Bandung Bondowoso di tempat pertunjukan wayang kulit
ini di gelar , keramaian pun dibubarkan. Bandung Bondowoso membuat onar. Alat-alat
pewayangan menjadi porak poranda, semua dirusak di tendang jauh hingga jatuh di beberapa daerah sekitaran
Goa Sepalwan.
Kelirnya jatuh di sebelah timur goa
di Dusun Gunung Kelir, sampai sekarang dusun ini dilarang mengadakan kesenian
wayang kulit. Kotaknya (tempat menyimpan wayang) jatuh di Dusun Kali Kotak Desa
Tlogoguwo, sampai sekarang simur itu masih menjadi sumber air minum.Blencongnya
(penerangan wayang kulit di waktu malam) jatuh di Dusun Sokomoyo.
Tidak hanya itu saja yang dirusak,
tetapi wayangnya juga dirusak dan di buang jauh-jauh. Wayang Bolodewo (Ratu
Madura) di Desa Jatimulyo. Raden Sadewa, jatuh di Desa Hulosobo, sampai
sekarang bukit itu dinamai Bukit Sadewa. Gunungan jatuh di Desa Jatiroto
disebut Pager Gunung. Wayang Hanoman dan Gajahtomo jatuh di desa Pandanrejo,
sampai sekarang lokasi itu disebut Bukit Kendalisodo dan Gunung Gajah. Sisanya
wayang-wayang, Semar Bodronoyo jatuh di dusun Kalilo, di Goa Semar. Sisanya
jatuh di desa Plipir sampai sekarang disebut Sumur Wayang.
![]() |
| ini neh 2 arca emas yang asli itu |
Prabu Boka setelah mengetahui yang
merusak itu Bandung Bondowoso menjadi marah sekali. Kemudiaan terjadilah perang
campuh antara mereka berdua. Perang antara Prabu Boka dengan Bandung Bondowoso ini
terjadi disekitar Goa. Keduanya sama-sama saktinya dan sama kuatnya, injak
menginjak silih berganti, bekas peperangan ini pun meninggalkan bekas rusaknya
tanah berwujud goa-goa (jumbleng) sampai beberapa puluh jumblengan warga
masyarakat banyak yang menjadi korban peperangan.Tiap-tiap ada yang meninggal
kepalanya dipotong di masukan dalam telaga, sebelah utara Goa, tempat ini
sampai sekarang disebut Telaga Sirah ( sirah bararti kepala).
Dalam peperangan ini banyak yang
melihat, memantau dari jauh, mereka merasa senang, gembira melihat peperangan
yang sama kuat, dan sama saktinya ini, sampai sekarang bukit untuk memantau
dinamai Gunung Keseneng, dusun Denansri, Donorejo.
Di wilayah lain, banyak masyarakat
yang masih ketakutan adanya perang itu, lebih baik mengungsi dari pada ikut menjadi
korban pertarungan ini. Padahal di daerah ini telah masuk waktunya menuai padi
gogo rancah. Tapi panen ini terpaksa tak di lakukan demi mencari rasa aman. Setelah
peperangan selesai dan keadaan sudahlah aman, masyarakat pun berbondong-bondong
kembali ke rumahnya masing-masing. Tapi mereka pun kemudian merasa kecewa ,
karena padi yang telah ditinggal sebelumnya tidak dapat dipanen lagi dikarenakan
sudah rusak semua. Sampai sekarang, daerah ini dinamai Dusun Gogoluas, desa
Tlogoguwo.
Dan akhirnya peperangan antara Prabu
Boka dengan Bandung Bondowoso pun berakhir dengan kalahnya Prabu Boka. Bandung Bondowoso
pun menagih janjinya kepada Roro Jonggrang. Tetapi karena dewa tidak
mengijinkan persatuan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang , Bandung
Bondowoso dan Roro Jonggrang pun dicipta oleh Dewa menjadi Arca, yang dinamai
“ARCA KENCANA” yang ditemukan di Goa Seplawan.
MITOS
SEPUTAR GOA SEPALWAN
Selain legendanya yang terkenal ini , seputar mitos tentang Goa
Seplawan ini juga banyak beredar di masyarakat. Selain mitos Sendang Wening dan
tempat hamparan batu seperti tempat wejangan (pengajaran) pertemuan dua wali
songo yang sebelumnya sudah saya sebut di atas , lorong-lorong goa yang ada di
goa ini di percaya memiliki ceritanya sendiri. Namun sampai saat ini pun belum
ada yang bisa menjabarkannya. Ada juga yang mempercayai bahwa
Persimpangan-persimpangan dan lorong goa itu melambangkan gambaran hidup, yang
merupakan sebuah pilihan antara ke surga atau ke neraka yang penuh jurang.
Mitosnya pula 34 lorong goa yang belum terungkap ini konon merupakan jalur
khusus bagi Nyi Roro Kidul untuk menemui pertapa yang ingin bertemu dengannya.
Terlebih lorong di ujung goa sebelah tenggara di percaya tembus sampai ke laut
selatan. Namun lorong ini sendiri tak di buka untuk umum karena mengandung gas
beracun dan berbahaya bagi pengunjung.
Memang dahulunya Goa Seplawan ini memang kerap di gunakan
manusia untuk bertapa dan semedi. Dan tak sedikit pula yang mengaku mengalami
kejadian mistis di tempat ini. Nama goa ini pun merujuk pada tulisan dalam
bahasa sansekerta yang ditemukan di dinding atas goa oleh para peneliti.
Setelah di eja tulisan ini berbunyi “Saplu Wan” dalam terjemahannya berarti
“manusia suci”. Oleh karena itulah goa ini dulunya di sebut juga “Pertapaan
Orang Suci”
![]() |
| ini neh ruang semedi para pertapa itu kawan... |
Hmmmm….panjang juga ya cerita tentang Goa Seplawan ini. Pastinya
selain indah tempat ini juga kaya akan cerita sejarah masa lampau. Menarik kan???nah
bagi kawan yang tertarik berkunjung ke goa ini , Wisata Alam Goa Seplawan ini
buka mulai pukul 08.00-17.00. Tapi saya sendiri menyarankan untuk datang di
pagi hari biar anda bisa lebih santai menikmati keindahan alam di Goa Seplawan
ini….
Nah tunggu apalagi guys…ayuk kunjungi goa yang menarik ini…let,s
the journey begin…..don’t stop your advanture…













