Tampilkan postingan dengan label goa sepalwan purworejo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goa sepalwan purworejo. Tampilkan semua postingan

Kamis, Agustus 16, 2018

GOA SPALWAN , Menuju Perut Bumi Para Pertapa(Purworejo Dan Potensinya : Part 2)


Goa Sepalwan
Sebenarnya saya tertarik ingin mengexplor pantai-pantai yang ada di purworejo. Namun waktu yang terlanjur siang dan keterbatasan waktu yang saya miliki sangat sedikit , akhirnya saya pun memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat wisata terdekat dengan Curug Silangit(lihat artikel sebelumnya :Menatap Curug Silangit Dan Kemegahannya(Purworejo Dan Potensinya : Part 1)). Dan karena kebanyakan wisata di daerah Kaligesing ini adalah air terjun , biar fair saya pun memutuskan untuk mengunjungi tempat wisata selain air terjun. Pilihan pun jatuh pada sebuah goa alam yang letaknya tidak terlalu jauh dari Curug Silangit menurut google map. Nama tempat wisata ini adalah Goa Seplawan. Sebelumnya saya pun sempat googling mengenai Goa Seplawan ini dan dari gambar yang ada di google , cukup bagus sih tempatnya menurutku. Oleh karena itulah sejak awal pun saya telah meng-agendakan tempat ini sebagai tujuan wisata bila suatu saat berkunjung ke Purworejo...
Nah...setelah dari Curug Silangit ; dari Dusun Janur , Desa Somongiri saya terus memacu motor keluar Desa Somongiri menuju jalan raya Kaligesing. Sampai di perempatan Manukan saya langsung belok kiri kemudian terus mengikuti jalan ini hingga tiba di pertigaan cangkrep lor langsung belok kanan mengikuti jalan raya Kaligesing ini. Motor pun ku pacu tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Karena medan jalan yang berkelak kelok  membuatku waspada akan kendaraan yang bisa saja datang dengan tiba-tiba dari arah depan. Goa Sepalwan ini terletak Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, berbatasan langsung dengan kecamatan Kulonprogo kabupaten Yogyakarta. Selain dengan kendaraan pribadi goa ini juga bisa di akses menggunakan angkutan umum. Dari pusat kota Purworejo, pengunjung bisa naik angkutan ke Kaligesing yang terletak di timur kota sejauh 20 kilometer. Sampai di Pasar Balidono, pengunjung  bisa melanjutkan perjalanan naik angkutan umum tujuan Seplawan. Namun perlu diingat, angkutan umum hanya tersedia satu kali sehari yaitu pukul 10.00-11.00 WIB, dan balik lagi sore harinya.
peta menuju Wisata Goa Sepalwan
Balik ke cerita…Setelah berkendara selama 20 menit , rambu jalan menuju Goa Seplawan mengarahkan motorku untuk belok kanan. Memasuki gang ini , motor melewati jalan masuk ke desa. Di kiri dan kanan jalan , rumah penduduk menjadi pemandangan yang di lihat mata ini. Terkadang jalan menuju tempat wisata ini juga melewati sepinya daerah Pegunungan Menoreh. Karena daerah pegunungan ini memiliki morfologi dan geologi pegunungan selatan yang identik dengan batuan kapur dan karang , vegetasi di sekitar jalan menuju Goa Seplawan ini pun umumnya di isi oleh tumbuhan daerah kering. Medan jalan pun naik turun dengan kemiringan jalan yang berbeda-beda. Selain naik turun , jalanan menuju Kecamatan Donorejo juga berkelak-kelok. Aku pun terus berkendara. Tapi semakin aku pacu motor ku aku merasa tak kunjung sampai dengan lokasi wisata yang di tuju. Padahal menurut google map dekat lho...Setelah berkendara cukup lama juga , jalan pun berakhir di sebuah puncak bukit. Disini sebuah gapura besar menyambut kedatanganku. Nah ini dia neh obyek wisata Goa Seplawan itu...hahaha akhirnya nyampe juga brooo...
pemandangan dari gardu pandang
Di gapura ini pula petugas pun langsung menarik biaya retribusi masuk ke lokasi wisata ini. Cukup membayar sebesar Rp 5.000 perorang dan biaya parkir sebesar Rp 2.000 per motor , saya pun bebas masuk ke kawasan wisata ini. Begitu masuk ke kawasan wisata ini , mulut saya langsung berdecak kagum melihat kondisi obyek wisata Goa Seplawan ini. Karena sebagai wisata yang berada di puncak bukit , tempat ini sudah terkelola dan tertata dengan sangat baik. Keberadaan sebuah gedung mirip istana tak jauh dari pintu masuk wisata inimenambaj kesan megah. Setelah saya bertanya , rupanya gedung ini adalah sebuah aula dan pintu masuk ke gardu pandang yang baru-baru ini di bangun untuk menambah fasilitas di obyek wisata ini. Dari gardu pandang ini katanya kota yogja dapat terlihat dengan jelas. Dari gardu pandang ini pula pengunjung dapat melihat pemandangan Waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo secara utuh. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari gardu Pandang, pemandangan 5 gunung dijawa tengah seperti Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dapat dilihat dengan jelas jika kondisi cuaca cerah. Menarik juga yah...Tapi karena tujuan saya sejak awal adalah melihat eksotisnya pemandangan dalam sebuah goa , saya pun lanjut menuju lokasi Goa Sepalwan setelah sebelumnya memparkirkan motor kesayangan. Lagi pula waktu yang telah menunjukan pukul14.00 sehingga saya pun tak bisa berlama-lama di tempat ini. Lokasi goa yang dimaksud itu sendiri berada di sebelah kiri dari tempat parkir sepeda motor. Saya pun berjalan ke arah ini dan beberapa meter kemudian saya mulai menyusuri jalan yang menurun melewati anak tangga terbuat dari beton.
patung Replika arca sepalwan
Di bawah dua buah patung setinggi 3 meteran terlihat berdiri kokoh di samping deretan huruf-huruf yang berjejer membentuk kata "Goa Sepalwan". Patung ini merupakan replika dari dua arca yang terbuat dari emas yang dulu , tepatnya pada tanggal 15 Agustus 1979 , pernah ditemukan di dalam goa ini.  Arca emas 22 karat ini memiliki tinggi 9 sentimeter dan berat 2,5 kilogram. Di perkirakan merupakan peninggalan pada jaman kerajaan Mataram Kuno yang menggambarkan Dewa Syiwa dan Dewi Parwati. Kerajaan Mataram Kuno saat itu beraliran Hindu yang menyembah Syiwa, sehingga bisa di katakan kerajaan ini beragama Hindu Syiwa. Penemuan benda bersejarah ini sontak membuat gempar dan membuat goa ini menjadi terkenal. Saat ini kedua arca emas ini di simpan di Museum Nasional untuk keamanannya. Untuk menggantikan kedua arca emas ini di buatlah replika kedua patung ini.  Dan menurut info yang saya baca sebelumnya , Selain kedua arca emas ini , tak jauh dari goa ini juga ditemukan lingga dan yoni dan reruntuhan candi yang tak utuh lagi. Tapi sekali lagi karena saya mengejar waktu saya pun tidak sempat mengunjungi kedua situs ini dan focus untuk mengunjungi Goa Seplawan itu sendiri.
cahaya surga di goa pertapa..
Setelah melewati patung ini , Jalan menurun pun berlanjut terus menuruni lembah. Di kemiringan lembah ini juga telah dibangun taman-taman yang tertata dengan apiknya sehingga saya pun tak merasa bosan saat bertracking menuju lokasi goa. Jalan masuk Goa Sepalwan sendiri terletak di ujung dasar lembah ini. Jalan masuk goa ini melewati batuan karang yang banyak di tumbuhi oleh lumut dan tumbuhan kecil lainnya. Sehingga saat mendekati pintu masuk goa , saya merasa seolah suasana beralih ke dunia yang berbeda. Yang semula kiri kanan didominasi oleh pemandangan taman-taman yang di penuhi oleh aneka tanaman hias menjadi pemandangan batu dan tebing karang yang menjulang di kiri dan kanan saya.
menuju perut bumi yang gelap guys...
Belum cukup sampai di situ kawan...karena semakin saya menuruni undakan demi undakan , saya pun semakin dibawa masuk lebih dalam memasuki goa yang gelap sehingga suasana pun berubah kembali. Seperti apa ya mas bro...
Hmmm...rasanya seperti memasuki pintu neraka atau dunia kegelapan bila di gambarkan lebih jauh...eksotis sekali kawan...
Penggambaran saya pun tepat rasanya karena begitu masuk ke goa ini suasana gelap , sepi , dan , sunyi terasa sampai ke jiwa...suasana horor pun begitu kental terasa...bayangan demi bayangan setan , demit , dan kaum sejenisnya berulang kali terlintas di benak saya. Tapi semua itu hanya fantasi saya saja tentunya kawan...karena bagi manusia yang telah terbiasa hidup di terangnya dunia , memasuki perut bumi yang gelap seperti ini benar-benar suatu yang menyeramkan. Apalagi saya hanya sendirian dan tak berkawan...tapi dasar saya ini memang orangnya gak gampang takut pada akhirnya saya pun terus masuk lebih dalam. Beberapa meter kemudian saya melangkah masuk dari anak tangga yang terakhir  , ruangan goa berubah menjadi lebih luas. Di tempat ini mulai terlihat ornamen-ornamen goa seperti stalagmit , salakmit beraneka ragam.
Di bagian atas goa di pasanglah sebuah lampu yang menyala dan berubah-ubah warna setiap beberapa menit. Warna dari lampu yang berubah-ubah ini membuat pemandangan sekitar ruangan goa menjadi lebih indah dan berwarna. Keberadaan lampu in memberi penerangan pada jalan goa yang lembab dan basah. Walau memang sinar lampu tidak bisa menjangkau seluruh sudut ruangan goa sehingga suasana yang remang-remang membuat goa ini terkesan horor.
cuma ini cahayanya kawan...becek nih jalannya...
Goa Seplawan termasuk goa yang bertipe basah dalam arti kata di dalam goa ini terdapat aliran air atau sungai bawah tanah. Goa ini memiliki kedalaman 750 meter yang saat ini di fungsikan sebagai jalur wisata goa dengan kondisi jalan yang umumnya datar. Selebihnya berupa percabangan jalan lain yang ditutup karena berupa goa vertikal, jurang, dan ada juga yang berlumpur yang sering juga disebut Istana Lumpur. Untuk memasuki cabang goa tersebut harus membawa alat penerangan sendiri karena memang tak di sediakan penerangan di percabangan goa -goa ini. Dan karena cabang-cabang goa ini begitu rumit dan membingungkan , pengunjung di wajibkan untuk membawa seorang  pemandu berpengalaman jika berniat memasuki percabangan goa ini dengan peralatan caving yang memadai tentunya. Goa Seplawan ini memiliki jalur buntu, karena tidak ada tembusan ke titik tertentu. Karena itulah untuk keluar goa ini pengunjung harus berjalan balik dan keluar melalui pintu masuk kembali.
hmmm...sendiri menatap langit Goa..
Saya pun terus menyusuri jalan goa yang telah di beton ini hingga jalan ini berakhir di sebuah kolam yang tak terkalu luas. Kolam ini terisi air yang sangat jernih hingga dasar kolam pun bisa terlihat dengan jelas. Kedalamannya pun tampaknya tak seberapa. Kolam ini di sebut sebagai SENDANG WENING. Menurut cerita sendang ini dahulunya di gunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri sebelum  masuk lebih jauh lagi kedalam goa. Di tepi sendang  ini sayapun berhenti dan menengok ke sana kemari mencari jalan selanjutnya. Di seberang kolam terlihatlah sebuah tangga terbuat dari kayu. Mungkin ini kali ya jalan untuk menuju ke dalam goa lebih jauh lagi??
Lanjut gak neh...begitu tanya dalam hatiku
gak berani lebih jauh lage nih kawan...lihat tuh harus nyemplung gitu..jangan-jangan....
Sebenarnya di sudut kanan sendang wening ini juga terdapat sebuah papan arah yang menunjukan jalan masuk ke Goa Seplawan lebih jauh lagi. Tapi melihat kondisi jalan yang terputus oleh kolam kecil ini membuat saya berpikir dua kali untuk masuk lebih dalam lagi.
Karena rasa ragu-ragu ini jugalah yang membuatku memutuskan untuk menyudahi penelusuran Goa Seplawan ini sampai di sini. Lagi pula bulu kuduk yang merinding dan perasaan yang di awasi oleh sesuatu yang tak nampak membuat perasaan ini jadi tak nyaman. Saya pun akhirnya putar arah dan memutuskan untuk naik ke atas kembali.


tangga ini cukup ikonik di tempat ini...
Sesampainya di Parkiran motor , saya pun menyempatkan untuk  bertanya bertanya lebih jauh kepada penjaga parkir disitu. Di sini saya mendapat kejelasan bahwa penelusuran goa melewati kolam yang saya temui di bawah tadi masih bisa di lakukan lebih jauh ke dalam lagi. Malah setelah kolam ini , akan di temui ruangan ke dua yang lebih luas dari ruangan yang pertama. Menurut penjelasan yang saya dapat setelah Sendang Wening akan didapati sebuah lorong setinggi 80 cm sepanjng 2 – 3 meteran dan cukup untuk satu orang saja. Tinggi lorong  yang setinggi setengah badan orang dewasa ini membuat siapa saja yang melewatinya harus menunduk bahkan merangkak kadang. Setelah lorong ini akan di temui lorong goa dengan diameter yang besar dan memanjang sepanjang lebih dari 700 meter. Di ruangan goa yang kedua ini jugalah terdapat lebih banyak lagi stalagmit , stalakmit, flow stone dan batuan-batuan unik lainnya. Di dalam ruangan goa yang kedua ini juga terdapat sebuah batu yang tersusun dari batuan kapur yang di atasnya terdapat relief menyerupai sirip hiu. Relief ini siapa yang menulisanya dan apa artinya belum terpecahkan oleh para arkeolog hingga saat ini. Selain itu di ruangan ini konon terdapat sebuah tempat dimana Sunan Bonang mengajarkan Hakikat Islam kepada Sunan Kalijaga. Peninggalan dari kedua wali ini yang berupa padasan atau wadah air wudhu konon masih ada di dalam goa hingga kini.
Menarik juga neh…Wah nyesel juga neh gak masuk lebih dalam lagi..mau kembali turun dan masuk ke goa lagi kok ya sudah sore neh...lagian mendung yang tampak menggantung di langit juga patut di kuatirkan..karena menurut info yang ada , goa ini serung kali banjir saat hujan tiba...
Wah ya sudah deh...mending gak usah aja...
Sayapun akhirnya check out dari tempat ini dan let's go ke arah purworejo. Berhubung hari semakin larut , saya pun akhirnya memutuskan untuk pulang kembali ke Semarang berkumpul kembali dengan keluarga kecil tercinta. Sebenarnya masih banyak tempat menarik di Kabupaten Purworejo ini yang menunggu untuk di datangi. Semoga saja kedepannya saya di beri kesempatan untuk meng-explore  potensi di Kabupaten Purworejo ini...sekali lagi…



SEJARAH GOA SEPLAWAN
Tau gak neh bro…setelah terkenalnya Goa Seplawan ini karena di temukannya dua arca emas ,  kemudian bermunculan sejumlah mitos dan legenda tentang goa ini. Apalagi terdapat fakta di temukannya lingga dan yoni di sekitar mulut goa dan juga reruntuhan bangunan pemujaan orang hindu yang kemudian lebih di kenal dengan situs Candi Gondo Arum. Dinamakan begitu karena ketika Candi ini ditemukan, di lokasi candi itu tercium bau sangat harum. Kedua temuan benda bersejarah dan dua arca emas  ini semakin memperkuat dugaan bahwa dahulunya tempat ini sempat di huni oleh bangsawan kerajaan hindu. Setelah di selidiki oleh para arkeolog , masa pembuatan patung atau arca emas goa seplawan adalah di masa pemerintahan wangsa Sanjaya, artinya keturunan dari Rakai Sanjaya. Akan tetapi , tentang siapa pastinya pembuat arca masih belum diketahui. Yang jelas, arca emas Goa Seplawan dibuat sebagai prasasti kebesaran Mataram Hindu sekaligus penghormatan untuk agama mereka, Hindu Syiwa. Kisah tentang bagaimana raja mataram ini bisa sampai di goa ini dengan membawa arca emas ini akan saya kisahkan sedikit…hehehe jangan bosan untuk membacanya ya brooo..
inilah jalan keluar dari goa ini lho...
Alkisah pada sekitar abad ke 7 - 8, berdiri 2 kerajaan sama kuat di Jawa Tengah namun berbeda aliran kepercayaan. Bagian wilayah utara ( Kedu ) yang dipimpin oleh Raja Rakai Sanjaya, putra dari Raja Sana di Kerajaan Pasundan yang  menganut ajaran Hindu Syiwa. Rakai Sanjaya memerintah Kerajaan Mataram Hindu pada sekitar tahun 732 - 752 M. Bukti peninggalan kerajaan ini saat ini masih ada yaitu candi dieng, candi prambanan, candi liyangan, candi pringapus dan lain-lain. Sedangkan bagian wilayah selatan, berdiri kerajaan dengan nama Medang Gele yang enganut paham Budha Mahayana.
Setelah Raja sanjaya wafat, tampuk pemerintahan Mataram Kuno dilimpahkan ke salah satu wangsa Sanjaya yang bernama Rakai Pikatan Dyah Saladu. Raja Dyah Saladu memerintah selama 8 tahun dimulai dari 769 - 777 tahun caka. Sebelum Raja Dyah Saladu wafat, beliau memberikan wasiat supaya tampuk pemerintahan dipegang oleh Pangeran Mahamantri I Hino Dyah Lokapala, masih lingkup wangsa Sanjaya.
Dyah Lokapala dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Prabu Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala. Pada masa pemerintahan Raja Dyah Lokapala ini , terjadi dendam diantara putra bangsawan terutama pangeran Dyah Tagwas. Dyah Tagwas adalah putra pertama dari Rakai Dyah Saladu. Meskipun hanya anak selir, tetapi Dyah Tagwas merasa bahwa dia yang pantas menjadi Raja Mataram, bukan Dyah Lokapala. Kemudian, terjadilah pemberontakan diantara putra bangsawan di Mataram untuk pertama kali yang dilakukan oleh Dyah Tagwas yang berakhir dengan tewasnya Raja Dyah Saladu. Setelah itu, Dyah Tagwas menobatkan diri mejadi Raja Mataram pada 807 tahun caka atau 17 pebruari 855 M.
berani masuk???sendirian???
Namun, pemerintahan Dyah Tagwas tak berlangsung lama dan hanya berlangsung beberapa bulan saja. Salah satu putra Raja Dyah Saladu yang bernama Dyah Dewendra, merasa dendam terhadap Dyah Tagwas karena menghabisi ayahnya. Hal ini pula yang mendasari Dyah Dewendra untuk memberontak dan menghabisi Dyah Tagwas. Kemudian, Dyah Dewendra mengangkat dirinya menjadi Raja Mataram kuno dengan gelar Dyah Dewendra Panumwangan pada 807 tahun caka, tepatnya 25 agustus 885 M.
Walau berganti pemerintahan , api dendam ternyata masih menyelimuti wangsa Sanjaya. Salah satu putra Rakai Dyah Saladu yang bernama Dyah Badra, dari istri selir namun masih satu kandung dengan Dyah Tagwas, merencanakan pemberontakan. Dan akhirnya meletuslah pemberontakan oleh Dyah Badra. Dia pun berhasil merebut tampuk pemerintahan namun tak berhasil menghabisi Dyah Dewendra karena melarikan diri ke tempat saudaranya, yaitu Dyah JabangRake Watuhumalang.
Setelah berhasil memberontak, Dyah Badra menobatkan diri menjadi Raja Mataram dengan gelar Raja Rakai Gurunwangi Dyah Badra pada tanggal 18 januari 887 M atau 809 tahun caka. Namun, pemerintahan Dyah Badra tidak disukai oleh pembesar kerajaan sehingga terjadilah pemberontakan oleh pembesar istana. Dyah Badra beserta pengawal setia berhasil melarikan diri dengan membawa harta dan perhiasan juga membawa arca emas, patung kehormatan Mataram Kuno.
Selama melarikan diri, Dyah Badra dan pengawal setia mendapat pengepungan dari beberapa prajurit Mataram di berbagai daerah sehingga Dyah Badra harus melalui hutan belantara dan singgah di gua-gua. Gua yang paling lama di huni adalah Goa Seplawan ini. Di situ pula, Dyah Badra membangun sebuah pemujaan berupa lingga dan yoni yang lokasinya berada di sebelah timur mulut goa. Dyah Badra kemudian melanjutkan pelariannya ke tempat asalnya, yaitu wilayah Gurunwangi dan dua Arca emas tersebut ditinggalkan di goa seplawan.  Menurut para ahli , Arca emas ini sengaja di ditinggalkan di goa ini sebagai  persiapan bila Dyah Badra hendak memberontak lagi. Bahkan menurut teori yang ada bukan hanya dua arca emas ini , di perkirakan masih ada harta lain peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang tersimpan di goa ini.

LEGENDA GOA DAN ARCA EMAS

alkisah suatu hari Prabu Boka hendak melakukan pertunjukan hiburan wayang kulit semalam suntuk dalam rangka Bersih Desa didaerah sekitar goa sepalwan.

Bandung Bondowoso yang sejak lama mempunyai rasa dendam dengan Prabu Boka mengetahui prihal ini. Maka timbul keinginan Bandung Bondowoso untuk membalas dendam kepada Prabu Boka di tempat keramaian itu. Setibanya Bandung Bondowoso di tempat pertunjukan wayang kulit ini di gelar , keramaian pun dibubarkan. Bandung Bondowoso membuat onar. Alat-alat pewayangan menjadi porak poranda, semua dirusak di tendang  jauh hingga jatuh di beberapa daerah sekitaran Goa Sepalwan.

Kelirnya jatuh di sebelah timur goa di Dusun Gunung Kelir, sampai sekarang dusun ini dilarang mengadakan kesenian wayang kulit. Kotaknya (tempat menyimpan wayang) jatuh di Dusun Kali Kotak Desa Tlogoguwo, sampai sekarang simur itu masih menjadi sumber air minum.Blencongnya (penerangan wayang kulit di waktu malam) jatuh di Dusun Sokomoyo.
Tidak hanya itu saja yang dirusak, tetapi wayangnya juga dirusak dan di buang jauh-jauh. Wayang Bolodewo (Ratu Madura) di Desa Jatimulyo. Raden Sadewa, jatuh di Desa Hulosobo, sampai sekarang  bukit itu dinamai Bukit Sadewa. Gunungan jatuh di Desa Jatiroto disebut Pager Gunung. Wayang Hanoman dan Gajahtomo jatuh di desa Pandanrejo, sampai sekarang lokasi itu disebut Bukit Kendalisodo dan Gunung Gajah. Sisanya wayang-wayang, Semar Bodronoyo jatuh di dusun Kalilo, di Goa Semar. Sisanya jatuh di desa Plipir sampai sekarang disebut Sumur Wayang.
ini neh 2 arca emas yang asli itu
Semua tempat sesaji juga dirusak dan dibuang. Buncitnya dibuang, jatuh disebelah selatan Goa. Sampai sekarang tempat ini disebut Gunung Tumpeng. Ancaknya (tempat sesaji dibuat dari bambu) jatuh di dusun Sibentar, lokasi ini dinamai Sancak.
Prabu Boka setelah mengetahui yang merusak itu Bandung Bondowoso menjadi marah sekali. Kemudiaan terjadilah perang campuh antara mereka berdua. Perang antara Prabu Boka dengan Bandung Bondowoso ini terjadi disekitar Goa. Keduanya sama-sama saktinya dan sama kuatnya, injak menginjak silih berganti, bekas peperangan ini pun meninggalkan bekas rusaknya tanah berwujud goa-goa (jumbleng) sampai beberapa puluh jumblengan warga masyarakat banyak yang menjadi korban peperangan.Tiap-tiap ada yang meninggal kepalanya dipotong di masukan dalam telaga, sebelah utara Goa, tempat ini sampai sekarang disebut Telaga Sirah ( sirah bararti kepala).
Dalam peperangan ini banyak yang melihat, memantau dari jauh, mereka merasa senang, gembira melihat peperangan yang sama kuat, dan sama saktinya ini, sampai sekarang bukit untuk memantau dinamai Gunung Keseneng, dusun Denansri, Donorejo.
Di wilayah lain, banyak masyarakat yang masih ketakutan adanya perang itu, lebih baik mengungsi dari pada ikut menjadi korban pertarungan ini. Padahal di daerah ini telah masuk waktunya menuai padi gogo rancah. Tapi panen ini terpaksa tak di lakukan demi mencari rasa aman. Setelah peperangan selesai dan keadaan sudahlah aman, masyarakat pun berbondong-bondong kembali ke rumahnya masing-masing. Tapi mereka pun kemudian merasa kecewa , karena padi yang telah ditinggal sebelumnya tidak dapat dipanen lagi dikarenakan sudah rusak semua. Sampai sekarang, daerah ini dinamai Dusun Gogoluas, desa Tlogoguwo.
Dan akhirnya peperangan antara Prabu Boka dengan Bandung Bondowoso pun berakhir dengan kalahnya Prabu Boka. Bandung Bondowoso pun menagih janjinya kepada Roro Jonggrang. Tetapi karena dewa tidak mengijinkan persatuan antara Bandung Bondowoso dan Roro Jongrang , Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang pun dicipta oleh Dewa menjadi Arca, yang dinamai “ARCA KENCANA” yang ditemukan di Goa Seplawan.

MITOS SEPUTAR GOA SEPALWAN
Selain legendanya yang terkenal ini , seputar mitos tentang Goa Seplawan ini juga banyak beredar di masyarakat. Selain mitos Sendang Wening dan tempat hamparan batu seperti tempat wejangan (pengajaran) pertemuan dua wali songo yang sebelumnya sudah saya sebut di atas , lorong-lorong goa yang ada di goa ini di percaya memiliki ceritanya sendiri. Namun sampai saat ini pun belum ada yang bisa menjabarkannya. Ada juga yang mempercayai bahwa Persimpangan-persimpangan dan lorong goa itu melambangkan gambaran hidup, yang merupakan sebuah pilihan antara ke surga atau ke neraka yang penuh jurang. Mitosnya pula 34 lorong goa yang belum terungkap ini konon merupakan jalur khusus bagi Nyi Roro Kidul untuk menemui pertapa yang ingin bertemu dengannya. Terlebih lorong di ujung goa sebelah tenggara di percaya tembus sampai ke laut selatan. Namun lorong ini sendiri tak di buka untuk umum karena mengandung gas beracun dan berbahaya bagi pengunjung.
Memang dahulunya Goa Seplawan ini memang kerap di gunakan manusia untuk bertapa dan semedi. Dan tak sedikit pula yang mengaku mengalami kejadian mistis di tempat ini. Nama goa ini pun merujuk pada tulisan dalam bahasa sansekerta yang ditemukan di dinding atas goa oleh para peneliti. Setelah di eja tulisan ini berbunyi “Saplu Wan” dalam terjemahannya berarti “manusia suci”. Oleh karena itulah goa ini dulunya di sebut juga “Pertapaan Orang Suci”
ini neh ruang semedi para pertapa itu kawan...
Hmmmm….panjang juga ya cerita tentang Goa Seplawan ini. Pastinya selain indah tempat ini juga kaya akan cerita sejarah masa lampau. Menarik kan???nah bagi kawan yang tertarik berkunjung ke goa ini , Wisata Alam Goa Seplawan ini buka mulai pukul 08.00-17.00. Tapi saya sendiri menyarankan untuk datang di pagi hari biar anda bisa lebih santai menikmati keindahan alam di Goa Seplawan ini….
Nah tunggu apalagi guys…ayuk kunjungi goa yang menarik ini…let,s the journey begin…..don’t stop your advanture…