![]() |
| Gunung Guntur |
dengan Komplek Gunung Guntur. Komplek Gunung Guntur ini terdiri atas beberapa kerucut,
yaitu Gunung Masigit (2249) yang merupakan kerucut tertinggi. Ke arah tenggara dari
Gunung Masigit terdapat kerucut Gunung Parukuyan (2135m), Gunung Kabuyutan (2048)
Dan Gunung Guntur. Secara administratif terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat. walau memiliki nama lain Gunung Gede ,Gunung ini lebih akrab dipanggil Gunung Guntur. Tak ada yang tahu pasti kenapa gunung ini disebut seperti ini. Tapi...menurut masyarakat setempat gunung ini di panggil seperti ini karena dahulunya kerap sekali terdengar suara menggelegar seperti guntur dipuncaknya.hal ini tidak mengherankan; mengingat gunung ini sempat menjadi salah satu gunung teraktif diabad 18-an. Sampai sekarangpun gunung ini tetap menjadi salah satu gunung aktif dari 17 gunung aktif di Jawa Barat.
![]() |
| jalur yang gersang |
Pengalaman saya pun waktu mendaki gunung ini memberikan 1000 pengalaman unik. Kesan pertama yang terlintas dibenak saya waktu pertama kali menapakan kaki saya dilerengnya adalah TANDUS, PANAS, dan GERSANG. Ditambah waktu kunjungan saya yang tidak tepat; yaitu waktu musim hujan...tepatnya akhir tahun bulan Desember. Waktu itu sekitar jam 8 - 9an aku sampai juga di pintu gerbang kampung citiis setelah kurang lebih 10 jam terombang ambing di kereta api Kahuripan dari semarang dan sekitar 2jam-an menikmati pagi diatas angkot kota garut.
Perlu diketahui untuk menuju Gunung Guntur dapat dicapai dari Kota Garut (55 km dari kota Bandung). Pendakian ke puncak/kawahnya dapat dilakukan dari Kampung Citiis sebelah selatan Gunung Guntur, dengan waktu tempuh 3 - 4 jam. Kampung Citiis sendiri merupakan pintu gerbang untuk menuju ke sebuah wana wisata di kaki gunung guntur ; CURUG CITIIS. Dari air terjun inilah pendakian dapat dilakukan.
Sebenarnya Wana Wisata Curug Citiis sendiri sudah terkenal keindahannya. Tapi karena Penambangan dan proses eksplorasi besar - besaran dari gunung guntur yang tak memperdulikan alam membawa dampak yang besar.Sehingga jalan untuk menuju keCurug indah inipun menjadi rusak dan tak kelihatan akibat kerusakan alam yang parah.
| Curug CITIIS |
Tapi bukannya jalan yang dibeton, paving , atau batu yang ditata atau setidaknya jalan setapak bertanah lah yang saya temui. Melainkan jalan berdebu penuh dengan pasir dan gundukan - gundukan tinggi sisa penggalian. Hutan yang saya harap - harapkan pun tak tampak satupun...jangankn hutan pohon terhitung jarang; bahkan langka dikawasan penambangan ini. hanya ilalang yang tumbuh subur disini...saking suburnya tingginya mencapai tinggi seorang manusia dewasa. Arah jalan yang menuju Curug Citiis pun tidak jelas. Karena banyak sekali percabangan jalan yang merupakan bekas jalan pintas penambang lokal yang membuat bingung. Ditambah tak adanya satupun petunjuk arah untuk menuju ke curug Citiis.Akhirnya akupan bertanya pada beberapa penambang dan mendapatkan jawaban yang berbeda - beda. arrrrgggghhh...tapi dari jawaban mereka semua ada 1 hal yang sama ; yaitu memakai pohon paling besar dibatas areal pertambangan yang memang kelihatan dari bawah. Plus dari bawah tampak kelihatan samar - samar dari jalan beton yang telah rusak parah dan terputus disana - sini yang menuju ke arah pohon besar itu. Dan 4 bangunan yang tampaknya merupakan gardu pandang berdiri disepanjang jalan itu.
![]() |
| inilah puncak gunung guntur |
selama kurang lebih 1 jam saya berputar - putar diareal pertambangan bertanya sana - sini kepada para penambang yang lewat. Naik turun bukit pasir dan krakal akhirnya saya sampai juga di bawah Pohon besar yang dimaksud oleh penambang - penambang tadi. Rasanya adem dan sejuk sekali , beda jauh dari areal penambangan yang panas dan gersang. Setelah berhenti sebentar untuk memakan bekal sayapun melanjutkan perjalanan karena awan mendung telah terlihat semakin menggantung diatas saya.
yah...tak ada kesulitan mulai dari sini. Karena jalan setapak tanah dan hutan khas daerah tropis akhirnya saya temui juga disini. Jalan pun cuma ada satu - satunya mengikuti aliran sungai yang kering karena beberapa km diatas air dibendung dan dialirkan kebawah melalui pipa - pipa besi dan peralon. Pohon - pohon tinggi tampak tumbuh subur disepanjang jalur membuat suasana teduh dan sejuk begitu terasa.beda sekali dengan dibawah yang terasa panas dan gersang. Sungguh suasana yang kontras.....
![]() |
| sedikit berpose ahhh |
| foto bersama anak - anak pecinta alam garut |
sampai juga diatas dengan keringat yang mengucur deras, istirahat sebentar dan berbincang dengan "si sumber suara" yang kudengar dibawah curug tadi. Saya langsung tancap mengikuti jalur yang semakin jauh naik.
Tak ada kesulitan mengikuti jalur ini...tetapi jalur yang mulai menanjak dengan kemiringan 60 - 70 derajat benar - benar menguras tenaga. Ditambah kontur tanah yang semula tanah padat berubah menjadi pasir padat yang bila diinjak langsung ambrol. Sehingga jalan menjadi seperti lantai keramik yang licin. Berulangkali saya nyaris terpeleset tapi untungnya masih bisa mengimbangi badan. semakin menambah ketinggian kontur tanah bertambah lebih parah lagi. karena jalan yang semula pasir padat telah berubah total dengan pasir sedalam mata kaki bercampur dengan krikil dan krakal yang besarnya bervareasi.berjalan di daerah ini serasa seperti berjlan diair.berattt sekali seolah - olah jarak yang kita tempuh seperti tak bertambah; karena setiap menginjak pasir dijalur ini pasir langsung melorot kebawah karena tak kuat menahan berat badan..jadi ketika melangkah naik bukannya saya menambah ketinggian malah semakin terseret kebawah...waduhh waduhhh...capeknya bukan main..plus saya hanya memakai sandal gunung jadi lama - lama jari kaki saya sakit juga karena terus - terusan terendam didalam pasir..akhirnya aq mengambil inisiatif lain yaitu mengambil jalur menjauhi jalur utama dan melewati jalur lain yang melewati pasir yang lebih padat.
![]() |
| beginilah kondisi jalur dibawah pos pohon cemara |
walopun sedikit menjauhi jalur utama akhirnya saya sampai juga disebuah pohon cemara besar yang dari bawah tadi memang telah terlihat. Disini tampak beberapa sampah dan sisa perapian dari pendaki sebelumnya yang menginap disini..rasanya lega banget menemukan ini...karena ini menandakan saya tidak salah jalur. Kondisi cuaca masih tak menentu. Karena gerimis masih turun walau intensitasnya tidak terlalu berat. Saya pun istirahat sebentar setelah 2jam berjalan tanpa henti dari curug Citiis memakan bekal yang ada. Dari tempat duduk saya, puncak telah terlihat begitu dekatnya. Sayapun menjadi lebih bersemangat dan akhirnya melanjutkan perjalanan ditengah cuaca yang tampaknya mulai tak bersahabat. Sebenarnya saya sudah punya niat untuk mendirikan tenda dan bermalam disini; tapi godaan puncak yang terlihat begitu dekat akhirnya memaksa untuk tetap melanjutkan perjalanan naik.
jalur pun menanjak dengan extrem dengan kontur tanah pasir murni yang dipadatkan sehingga kadang bisa membuat kita tergelincir.Cuaca pun tak berubah jauh; malah semakin parah..karena jauh dipuncak sana terdengar suara petir menyambar - nyambar. Saya pun tak membuang waktu dan mempercepat langkah saya.
![]() |
| Disinilah saya terjebak badai yang kayak kiamat |
Perkiraan saya yang semula mengira hujan akan berlangsung sebentar saja ; ternyata salah besar. Nyatanya hujan tidak kunjung mereda tapi malah semakin bertambah parah.
Walau didalam tenda bisa kurasakan amukan badai yang terjadi diluar tenda. Angin menderu - deru begitu kencangnya. Saking kencangnya tendaku yang tak kupasangi pasak pun hampir - hampir terangkat keatas. Kalau saja tak ada beban didalamnya sudah bisa dipastikan tenda ini pasti sudah terbang terbawa angin dari tadi. Berulang kali tenda ini meliuk kekanan kiri mengikuti arah angin kencang yang berubah - ubah.
Gelegar Petir dan guntur pun berulang kali terdengar begitu kerasnya. Bisa kurasakan tanah yang bergetar ketika petir menyambar tanah berulang kali di bukit sekitar. membayangkan diriku saat ini yang berada ditempat terbuka tanpa penghalang apapun merupakan sasaran empuk bagi petir yang berulangkali menyambar tanah dengan kerasnya. Sungguh menakutkan....
Ditambah Intensitas air hujan yang turun pun juga tak kalah derasnya. Memikirkan kondisi tanah sekitar yang labil karena kontur tanah yang berpasir sehingga sangat memungkinkan terjadinya tanah longsor karena tergerus oleh laju air yang sangat deras. Kalau saya pikir kondisiku yang sekarang seperti telur diujung tanduk . Atau seperti rusa yang siap dimakan harimau....benar - benar kritis...karena setiap saat maut seperti mengancamku...kalo tidak mati karena sambaran petir ya kena longsoran tanah atau kedinginan karena hujan...benar - benar tak ada pilihan...mau lari??lari kemana??...lha wong tempat sekitar memang gundul tak ada 1 pohon besarpun untuk berlindung. Mau minta bantuan??tidak mungkinlah mengingat tak ada 1 pendakipun kecuali saya yang mendaki hari ini...hanya ada sekumpulan anak - anak pecinta alam yang Setahu saya ngecamp di curug citiis yang letaknya sungguh jauh dibawah...lagipula tidak mungkin kan saya tiba - tiba keluar dari dalam tenda yang lumayan teduh menuju keluar tenda yang kondisinya seperti KIAMAT...
![]() |
| best picture of all |
![]() |
| kawah gunung guntur |
Bukan main girangnya diriku sampai - sampai saya bersujud bersyukur kepada yang kuasa karena masih diberi umur panjang. Saya langsung keluar tenda dan menghirup udara kehidupan yang terasa sejuk.Diluar langit telah mulai gelap. Jauh dibawah tampak lampu - lampu dari rumah penduduk mulai dinyalakan.Sejenak ku tertegun melihat pemandangan menjelang malam yang indah dari arah kota garut ini...
Setelah maghrib tiba baru kelihatan pemandangan malam sebenarnya kota garut ...Luar biasa!!!mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan pemandangan indah ini diluar realita betapa gersangnya gunung ini...saya tak berlama -lama diluar tenda karena udara yang bertambah dingin ; ditambah saya yang hanya memakai celana pendek berselimut sarung , memaksa saya masuk tenda kembali dan akhirnya tertidur didalam SB yang hangat..
Menjelang dini hari saya terbangun ditengah udara yang dingin. Sambil melirik jam yang sudah menunjukan pukul 3:30 , saya mulai menyiapkan perlengkapan memasak dan sebentar kemudian segelas kopi mix instan panas menemani saya yang telah keluar tenda kembali menikmati damainya malam hari dan indahnya pemandangan malam digunung guntur sambil menunggu shubuh tiba.Tak berapa lama adzan shubuh terdengar membuat saya beranjak dari tempat duduk dan segera sholat setelah berwudhu sebelumnya.
Selesai sholat shubuh langsung kusiapakan perlengkapan seadanya untuk mengejar sunrise di puncak yang saya amati dari tadi terletak tak terlalu jauh dari sini. Berbekal sinar dari senter sayapun mulai menapaki lereng jalur yang tampak samar - samar menuju keatas...15 menit kemudian saya telah sampai di pinggir kawah gunung guntur. Kawah yang sangat lebar dan dalam terpampang didepan saya...sesekali tampak asap berwarna putih kelabu keluar dari kawah ini..dari kawah inilah saya kembali dibingungkan oleh jalur yang tiba- tiba menghilang kearah barat pinggiran kawah. Langitpun mulai memerah...dan karena tak kunjung menemukan jalur ke puncak akhirnya saya berhenti dan menunggu sunrise dipinggiran kawah ini..walau sunrise yang ditunggu tak muncul - muncul juga karena terhalang oleh kabut dan mendung dari gunung cikurai...setengah kecewa saya akhirnya cuma bisa memandang sekitar kalo - kalo jalur kepuncak yang saya cari tadi terlihat kembali karena langit telah mulai terang..Dan benar saja ; Disebelah utara tampak sebuah bukit yang lebih tinggi dan jalan setapak yang terlihat jelas dari sini..tapi untuk menuju kebukit ini saya harus berjalan turun menyeberangi lembah kemudian mendaki punggung bukit itu lagi.
| mengejar sunrise yang tak terkejar |
Karena bimbang dan tak yakin akhirnya sayapun memutuskan untuk turun kembali ketenda yang sejak tadi kutinggalkan dengan membawa perasaan kecewa.tidak butuh waktu lama untuk turun kembali ke tenda ; karena tidak berapa lama kemudian saya telah sampai di bawah dengan kondisi langit yang telah terang.
Sesampainya di tenda betapa terkejutnya saya mendapati disamping kanan arah utara tenda terlihat jelas jalan setapak yang menuju kepuncak. Terlihat jalur ini melewati bukit datar kearah utara setelah akhirnya menanjak menuju puncak. mungkin karena kondisi yang gelap sebelumnya jalan ini tak terlihat.
Saya kembali dihadapkan pada 2 pilihan lagi...antara mengikuti jalur ini dan "mungkin" mengapai puncak yang saya idam - idamkan. Ataukah turun gunung karena dari arah puncak mendung telah terlihat kembali dan bayangan terjebak badai lagi menjadi sebuah ancaman terbesar...
Tapi pilihan tersebut kalah oleh perutku yang minta diisi makanan...sambil memasak bekal makanan ; sayapun memikirkan strategi apa yang terbaik selanjutnya. Akhirnya keputusan pun saya ambil untuk tetap mengikuti jalur ini setelah sebelumnya mengemasi barang - barang kedalam carrier.
Hal ini saya lakukan untuk berjaga -jaga kalau - kalau hujan turun kembali dalam perjalanan kepuncak nanti saya dapat mendirikan tenda kembali untuk berteduh. Selesai makan dan mengemasi tenda dan seluruh perlengkapan kedalam tas carrier sayapun tanpa membuang waktu langsung mengikuti jalur tersebut. setelah melewati jalur datar selama 10 menit , saya tiba di tanjakan terakhir menuju puncak.
Suasana yang semula terang mulai meredup. Baru setengah dari tanjakan gerimis yang jarang turun. dengan nafas terengah - engah sayapun mempercepat langkah saya tanpa memperdulikan beratnya carrier yang saya bawa. 20 menit kemudian akhirnya saya berdiri disalah satu puncak tinggi didataran tinggi Garut ini , PUNCAK GUNTUR 2249 METER DARI PERMUKAAN LAUT.
![]() |
| hasil edit dari foto biasa menjadi gambar yang indah |
Mulai melewati daerah yang panas bagai gurun ; melalui jalur berpasir yang sangat - sangat berat ; terjebak badai guntur , hujan dan angin ; sampai kesasar berulang kali. Moment ini tidak saya lupakan dengan mengambil beberapa foto dari kamera digital yang saya bawa.walopun pemandangan waktu itu tak begitu special karena terhalang oleh awan dan kabut yang semakin tebal. Dan diluar dugaan gerimis tadi yang sempat turun mendadak menghilang digantikan langit yang biru seolah - olah menyambut kedatangan saya dipuncak.
Di sekitar puncak juga tampak berdiri tugu penanda dan beberapa kabel yang saya menduganya digunakan untuk memantau aktivitas dari gunung guntur sebelumnya. Juga terdapat beberapa nisan penanda dari beberapa pendaki yang tampaknya mati disini. Sebuah renungan bagi kita bahwa dibalik keindahannya gunung juga menyimpan sisi garangnya.
![]() |
| Tugu penanda puncak |
Awalnya melewati jalur ini saya sempat frustasi karena seperti yang anda tahu lewat di jalur seperti ini 1 menit terasa bagai 10 menit. seolah - olah saya tak menambah jarak dari tempat terakhir saya bertolak. Lalu terpikir ide untuk menuruni kawasan ini dengan duduk meluncur layaknya kalau anda bermain seluncuran dikolam renang.
![]() |
| bingung mau pose gimana |
Di curug inipun saya berhenti untuk mandi dan membersihkan diri , sekaligus makan siang. Beberapa Pecinta alam tampak mendirikn tenda dan bermain air disini. Baru saya hendak melepas sandal saya dikagetkan oleh mahkluk kecil yang tampak menempel di kaki saya. Seekor pacet tampak dengan asiknya menikmati darah dikakiku.
Pacet seperti ini bila dicabut secara paksa hanya akan menambah lebar bekas luka yang dibuatnya. Cara terbaik untuk menghilangkannya adalah dengan menaburi pacet tersebut dengan tembakau. Tapi karena saya tak merokok ; sayapun akhirnya memakai korek. Bagi anda yang belum paham , tubuh pacet sehabis meminum darah mengandung 80% air. Karena itu tubuh pacet mudah sekali menjadi panas ketika didekatkan api dan dengan sendirinya akan melepaskan gigitannya dari tubuh anda. Cara ini sekaligus dapat membunuh kuman - kuman yang mungkin masuk melalui pacet.
Air dari curug ini begitu menyegarkan dan dingin. Tubuhku yang semula lelah dan capai seperti hilang tersapu oleh sejuknya air dari Curug ini. Ditambah susana yang rimbun dipadu suara kicauan burung benar - benar membuai setelah semalaman bergelut dengan ganasnya alam. Sebentar saja aq sudah terbawa suasana damai ini. Tapi saya cepat - cepat tersadar ketika butiran - butiran air hujan turun tiba - tiba. Sayapun lansung keluar dari air dan mengenakan pakaian untuk selanjutnya turun menuju desa citiis.
Perjalanan turun dari Curug Citiispun tak terlalu sulit , hanya kadang saya masih bingung dengan jalur yang kadang menghilang. Pada saat seperti ini sayapun tak kehilangan ide untuk mengikuti arah aliran sungai dan jalur pun ketemu lagi. Sesampai di kawasan pertambangan ; kembali ku di bingungkan oleh jalur yang banyak bercabang.
| eeee ketemu lagiii mbaaakkk |
Tapi untuk menuju ke arah Torogong ini aq harus naik turun menembus lebatnya rumput - rumput yang tingginya mencapai setinggi manusia dewasa. Setelah melewati sekitar 3 bukit ; akhirnya sayapun menemukan jalur utama yang saya lewati kemarin.
Dikejauhan tampak puncak gunung guntur telah tak terlihat ; langitpun tampak ditutupi oleh mendung hitam...
tampaknya hujan akan turun...
dan benar saja setelah berjalan beberapa menit saja , hujan pun turun dengan lebatnya...
kembali kukenakan mantel yang sejak kemarin tak kupakai...sayapun melanjutkan perjalanan ditengah hujan yang semakin deras...
akhirnya saya mencapai pemukiman sekitar pukul 14:30 tanpa hambatan apapun...awalnya saya berniat pulang kesemarang...
tetepi setelah berbincang dengan pedagang Batagor tempat saya makan siang yang berada disekitar gapura kampung citiis...semangatkupun kembali tumbuh...
untuk melanjutkan perjalanan pendakian ke GUNUNG PAPANDAYAN....
![]() |
| Peta gunung guntur |
CATATAN KAKI :
GUNUNG GUNTUR
Ketinggian
a. Dml : 2249 m
b. Dari kota terdekat : 1600 m
Pos Pengamatan
a. Lokasi : Desa Sirnajaya, Kecamatan Tarogong, Kab. Garut
b. Posisi Geografi : 07o 11' 55.2767"LS dan 107o 51' 39.1195" BT
Kota terdekat : Garut
Cara Pencapaian
Untuk menuju Kampung Citiis
bisa dilakukan dari Kota Garut (3 km) dengan menggunakan kendaraan roda 4 (empat).
Demografi
Pemukiman di sekitar Gunung Guntur umumnya berada pada ketinggian 600m - 1000m dpl.
Pemukiman ini sebagian besar terkonsentrasi di kaki tenggara dan selatan serta sebagian
kecil di kaki timur danutara
Inventarisasi Sumberdaya Gunungapi
Sumberdaya gunungapi yang bisa dimanfaatkan adalah:
-Mata air panas diCipanas, Tarogong Garut
-Bahan galian (batu, pasir) yang terdapat di Kampung Citiis,Cikatel dan Rancabango
Wisata
Daerah Wisata yang menarik untuk dikunjungi adalah:
- Mata air panas di Cipanas, dengan fasilitas pemandian, kolam renang dan hotel serta
pemandangan alam yang menarik.
- Air terjun dan tempat perkemahan di atas Kampung Citiis
SEJARAH LETUSAN
Daftar Waktu Letusan
Tahun Kegiatan
1690 : Letusan besar, banyak orang menjadi korban, daera rusak
1770 : Keterangan lebih lanjut tidak
1777 : Terjadi letusan
1780 : Terjadi aliran lava
1803 : Letusan pada tanggal 3-15 April
1807 : Terjadi letusan pada tanggal 9 Mei
1809 : Keterangan lebih lanjut tidak ada
1815 : 15 Agustus
1815/1816 : 21 September
1816 : 21-24 Oktober
1825 : 14 Juni, hutan di sekitar gunung terbakar
1827/1828 : Keterangan lebih lanjut tidak ditemukan
1829 : Beberapa kampung hancur, beberapa orang menjadi korban
1832 : 16 Januari, 8-13 Agustus
1833 : 1 September
1834/1835/1836 : Bulan Desember
1840 : Terjadi aliran lava ke Cipanas
1841 : 14 Nopember, letusan sangat besar
lk 400.000 batang pohon kopi hancur
1843 : 4 Januari dan 25 November
Tanah rusak dan beberapa kampung terlanda
1847 : Tidak ditemukan keterangan lebih lanjut
Karakter Letusan : Eksplosif
Periode Letusan
Antara tahun 1800 sampai 1847 tercatat tidak kurang dari 21 kali letusan. Letusan itu
berulang-ulang dalam tempo pendek, berlangsung paling lama 5 sampai 12 hari. Periode
letusan berselang-selang antara 1,2 dan 3 tahun dan ada kalanya letusan terjadi setelah
masa istirahat 6 dan 7 tahu
GEOLOGI
Gunung Guntur tidak berdiri sendiri sebagai kerucut tunggal, yang mana di bagian
puncaknya dicirikan dengan adanya kerucut-kerucut tua bekas titik erupsi yang merupakan
satu kelompok besar Gunung Guntur. Dari kelompok besar Gunung Guntur ini nampak dua
buah kaldera, yaitu Kaldera Pangkalan di sebelah barat dan Kaldera Gandapura di sebelah
timur.
Dengan terbentuknya kedua kaldera itu maka terbentuk pula rekahan-rekahan yang
memanjang dimana kemudian muncul kerucut-kerucut gunungapi, diantaranya Gunung
Gajah, Gunung Gandapura, Gunung Agung, Gunung Picung dan Gunung Batususun. Deretan
gunungapi yang lebih muda adalah Gunung Masigit, Gunung Sangiang Buruan, Gunung
Parupuyan Gunung Kabuyutan dan Gunung Guntur yang merupakan gunungapi termuda
dan paling aktif sampai sekarang. Gunung Putri yang terletak agak jauh diselatannya
mungkin merupakan salah satu kerucut parasit dari kelompok Gunung Guntur ini. Komplek
Gunung Guntur ini di sebelah utara berbatasan dengan dataran tinggi Leles, sedangkan di
sebelah timur dan selatan berbatasan dengan dataran tinggi Garut dan di sebelah baratnya
berbatasan dengan Gunung Kunci, Sanggar, Rakutak dan Kawah Kamojang.
Morfologi komplek Gunung Guntur mempunyai kemiringan yang sangat bervariasi antara 2o
sampai 75o. Kemiringan landai umumnya terdapat di daerah pemukiman, seperti Kota
Garut, Kadung Ora, Leles, Tarogong dan Cipanas. Sedang kemiringan yang terjal terdapat
di sekitar puncak Gunung Guntur.
Tubuh Gunung Guntur dibangun oleh hasil erupsi eksplosif dan efusif. Hasil erupsi Gunung
Guntur sebagian besar berupa aliran lava bongkah masih segar dan saling menindih. Lava
yang termuda (hasil erupsi tahun 1840) mengalir dari Kawah Gunung Guntur ke arah
tenggara dan selatan dan berakhir di daerah Cipanas (sekitar 300 meter sebelah utara
lokasi wisata pemandian Cipanas), dimana ujungnya membentuk morfologi tapal kuda.
Aliran Piroklastika tersebar di sebelah tenggara Kawah Gunung Guntur dan sebagian
tertutupi oleh aliran-aliran lava Guntur yang lebih muda.
Aliran piroklastika Guntur ada 3 (tiga) jenis, pertama adalah yang tersusun atas blok-blok
lava dengan matruk pasir kasar coklat kekuningan, singkapan endapan ini bisa dijumpai di
sekitar Kampung Pesantren. Jenis Kedua tersusun atas blok-blok lava dan bom vulkanik
dengan matrik pasir kasar dan bersifat kurang padu. Sedangkan yang termuda tersusun
atas fragmen lava basaltis dan andesitis serta bom vulkanik dengan struktur kerak roti
berwarna abu kehitaman. Aliran piroklastika ini memperlihatkan pola sebaran berbentuk
kipas dari Puncak Guntur ke arah tenggara.
Endapan Jatuhan Piroklastika sebagian besar terkonsentrasi di sekitar puncak Gunung
Guntur dan menyebar ke arah utara dan tenggara. Endapan tersusun atas Skoria dan litik
basaltis berwarna hitam, berukuran halus sampai kasar, berlapis baik dengan ketebalan
berkisar antara 4-34 cm.
( Compiler : M. Hendrasto (totok@vsi.esdm.go.id)











