Tampilkan postingan dengan label curug corong limbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curug corong limbangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 18, 2016

CURUG CORONG , Sebuah Alternatif Wisata Di Lereng Gunung Ungaran Yang Menyenangkan

inilah curug baru di Limbangan itu...
Siang itu saya sempat ragu-ragu untuk berangkat menjelajah lagi ke daerah Sumowono-Limbangan. Langit tampak mulai mendung semakin menambah keenggananku untuk bertolak. Tapi karena di dorong oleh rasa penasaran yang besar , akhirnya aku pun bangkit dari dudukku dan pergi naik motor kesayangan menuju tempat yang bikin penasaran ini.
Yaaaaa... Keberadaan sebuah air terjun yang belakangan jadi sorotan di instagram. Nama air terjun itu adalah Curug Corong. Dari beberapa foto yang di unggah di instagram ini , air terjun ini terlihat indah dan keren. Tapi yang membuat aku benar-benar penasaran adalah letak air terjun ini yang berada di Desa Gondang , Kecamatan Limbangan. Karena setahuku di daerah desa Gondang memang ada 1 air terjun yaitu Curug Pangleburgongso dan tak ada nama Curug Corong di sebut oleh penduduk desa ini saat saya berkali-kali berkunjung ke tempat ini.
Akupun bertolak dari rumah mertua yang terletak di daerah Karangjati. Tak ada kesulitan berarti , karena kurang dari 1 jam aku mengendarai motor kesayangan aku pun tiba di Pasar Sumowono. Perjalanan pun terus berlanjut ke arah Limbangan. Seperti biasa jalan yang berkelok tajam dan naik turun menjadi hal yang biasa didaerah ini. Aku pun langsung mengarahkan motor kesayangan menuju desa Gondang yang ku tahu. Tapi untuk memastikan arah dan tujuan , aku pun kemudian bertanya kepada penduduk setempat selepas Desa Losari meski aku tahu Desa Gondang yang ku tahu masih lah jauh. Tepatnya turunan jalan di bawah desa Kemawi tempat curug Klenting kuning berada, akupun berhenti dan bertanya pada seorang lelaki …
peta ke Dusun Beku , Limbangan

"Tuh mas dah dekat..." jawaban dari seorang warga yang ku tanya membuatku langsung terhenyak. Soalnya aq tahu betul letak Desa Gondang dan dari tempatku bertanya masilah jauh.
"Bener Desa Gondang kan pak???" tanyaku untuk lebih memastikan.
"Yang mas tuju tu Beku atau Gondang?" warga ini balik bertanya
"Dusun Beku pak...." jawabku agak kencang
"Kalo Beku tu di situ habis tikungan itu tuh, kalo Gondang masih kesana lagi...masih jauh..." jawaban bapak ini semakin memperjelas arah tujuanku. Aku pun kembali memacu motorku setelah berterima kasih sebelumnya.
Tidak berselang lama dari tempatku bertanya , di kanan jalan terpampang jelas sebuah gapura berwarna putih biru. Di situ tertulis tulisan berwarna biru "Dusun Beku"....masih setengah tidak percaya , aku lantas masuk melewati gapura ini menyusuri jalan beton yang menanjak. Di kiri dan kanan jalan telah di isi oleh rapatnya rumah penduduk. Karena masih merasa ragu , aku kembali bertanya disalah satu rumah  untuk lebih memastikan benar atau tidaknya arah tujuanku.
Gapura masuk menuju Dusun Beku..
" bener mas...ini dusun beku...kalo mau ke Curug Corong lurus terus ikuti jalan menanjak ini sampai habis. Nah setelah jalan beton ini habis , kalo berani mas masih bisa kok bawa motornya. Kalo ndak ya titipkan aja ke rumah terakhir yang ada warungnya...." jawaban panjang lebar ini semakin memperkuat kebenaran arah tujuanku ke tempat yang dimaksud , Curug Corong...
Dengan penuh semangat 45 , motor pun kembali aku pacu. Setelah melewati jalan menanjak dengan beberapa tikungan tajam , sampai juga diriku di penghujung jalan desa. Sebuah rumah dengan warung klontong didepannya terlihat di batas desa ini persis seperti yang disebutkan sebelumnya. Motor pun ku parkirkan di halaman rumah ini dan segera aku menyapa penghuni rumah ini untuk menitipkan motor sekaligus mencari keterangan lebih jauh tentang Curug Corong ini.
Peta Menuju curug Corong dari jalan raya..
"Yaaa...kalo jalan sih sudah bagus mas...sudah di cor..tapi cuma separo...lepas itu jalannya ya ga begitu bagus...tapi orang desa sini sudah biasa bawa motornya sampai ke atas kok..bawa aja motornya ,.nanti sampenya atas , parkir aja di pinggir-pinggir kebun..." kata seorang penduduk memberi penjelasan. Dari penjelasan ini bisa kusimpulkan kalau di Curug Corong ini belum di kelola dan belum di kenai biaya retribusi. Jangankan biaya retribusi masuk , biaya parkir pun belum ada karena area untuk parkir kendaraan pengunjung pun belum ada.
Berdasarkan kesimpulan ini aku pun memutuskan untuk jalan kaki dan menitipkan motor kesayangan di rumah penduduk setempat. Karena saya pikir sangatlah beresiko meninggalkan sepeda motor tanpa pengawasan meski itu sudah biasa bagi warga setempat. Setelah menitipkan motor di rumah penduduk yang terakhir dan membeli bekal secukupnya , saya pun mulai berjalan dari batas desa ke air terjun. Di batas desa ini terdapat sebuah tempat seluas kurang lebih 8X8 meter dikelilingi oleh pagar beton. Di dalam pagar beton ini tampaklah sebuah kuburan dengan batu nisan berupa batu . Menurut warga setempat tempat ini merupakan makam dari cikal bakal atau orang yang membuka tempat ini menjadi sebuah desa. Nama tokoh masyarakat ini adalah kyai Beku. Untuk mengenang jasanya ,  desa tempat kyai Beku ini menetap pun di beri nama Dusun Beku.
nah kalo ini makam dari pendiri Dusun beku...Kyai Beku
Itulah seklumit cerita dusun ini...nah sambil manggut manggut aku pun kembali berjalan menuju air terjun. Jalan beton yang tadinya cukup lebar menjadi menyempit begitu keluar desa dan mulai memasuki kawasan ladang penduduk. Dan seperti yang dikatakan oleh warga , jalan memang sudah di cor beton brooo...tapi cuma selebar 70 cm...hahaha keputusanku untuk tak membawa motor memang tepat. Karena bisa agan bayangin deh jalan nanjak cuma selebar kurang dari 1 meter cuma cukup untuk lewat 1 motor. Mending kalo gak nanjak nanjak banget...nah ini nanjaknya kebangetan...kemiringan jalan nyaris 45 derajad. Sudah begitu terkadang kita harus berpapasan dengan motor penduduk yang berangkat atau pulang dari ladang. Mending kalau motor mereka gak bawa apapun...misal warga ini membawa barang bawaan semisal hasil panen atau rumput...sudah bisa di pastikan deh makin bingung mau mojokin motor kemana...hahaha. .
jalan beton selebar 70 cm...kelihatannya datar ya bro...padahal ini nanjak lho
 Kondisi jalan seperti ini terus berlanjut sampai ke atas bukit. Seperti yang saya sebut sebelumnya , jalan cor setapak ini sangatlah sempit dengan posisi jalan yang menanjak melewati ladang penduduk yang tertata rapi. Jalan ini merupakan satu-satunya akses bagi penduduk setempat untuk ke ladang mereka. Tak jarang pula mereka menggunakan motor untuk pergi ke kebun.
Jalan kaki memang  pilihan terbaik untuk menuju curug Corong dari Dusun Beku. Selain lebih aman dan nyaman , pemandangan kebun penduduk yang ditanami berbagai macam sayuran seperti bawang , kubis , seledri , cabe , labu siam dan lainnya ; akan membuat siapapun untuk memandang ke kiri dan kanan. Terlebih suasana pegunungan yang masih memiliki udara yang bersih dan segar membawa pikiran untuk melupakan sejenak semua masalah yang ada.. Walau memang aku akui sih untuk jalan kaki sejauh dari batas desa beku dengan kondisi jalan menanjak memang bikin keringatan dan ngos-ngosan...tapi so far , I enjoyed it....hehehe
berbagai sayuran yang akan anda temui di spanjang perjalanan menuju curug Corong...ini belumsemua lho...
Jalan cor beton satu jalur dengan lebar 70 cm ini pun cuma sepanjang kurang lebih 700 meter dari batas desa , setelah itu akses jalan berganti dengan jalan yang terdiri dari batu berbagai ukuran yang ditata sedemikian rupa. Jalan berbatu  ini pun bisa memang di lewati oleh motor  namun khusus untuk motor tertentu saja tentunya. Bagi motor standar sangat sulit untuk melewati jalan dengan kondisi yang seperti ini. kontur jalanan yang menanjak membuat diriku senakin menambah ketinggian. sehingga pemandangan lembah dari daerah Limbangan ini semakin jelas terlihat. lekukan bukit yang menghijau oleh kumpulan pepohonan yang membentuk huta , sawah yang menguning di kejauhan , dan rumah penduduk yang terlihat kecil. Semua itu menyatu dalam pemandangan yang kulihat dari jalan berbatu ini.
pemandangan yang menghampar ke bawah pun terlihat mempesona dari kebun sayur warga..
Setelah menyusuri jalan berbatu ini sekitar  300 meter , saya pun menemukan pertigaan jalan dengan sebuah papan penunjuk arah ke curug Corong. Tak ada benda apapun yang bisa di jadikan patokan di pertigaan ini dan sekilas pertigaan ini seperti jalan biasa. Jadi bagi anda yang hendak ke Curug Corong ini , pastikan untuk tidak melewatkan papan penunjuk arah ini.Dari pertigaan jalan ini saya pun berbelok ke kiri mengikuti arah dari penunjuk arah ini. Jalan setapak tanah menggantikan jalan setapak cor beton. Kontur tanah pun menjadi datar membelah ladang penduduk yang kebanyakan di tanami oleh tanaman cabe. Dengan mengikuti jalan setapak ini saya pun kembali menemui pertigaan jalan di ujung jalan setapak ini. Di sini saya pun sempat kebingungan karena tak ada papan penunjuk arah seperti sebelumnya.
salah satu papan penunjuk jalan menuju curug...jangan sampai terlewat ya kawan...
Hanya ada  dua pilihan jalan yang terlihat. Ke kiri adalah jalan menurun yang tampaknya adalah jalan kembali ke desa. Jalan satunya adalah jalan ke kanan yang merupakan tanjakan tajam menuju ke arah hutan yang menurut feeling saya merupakan jalan ke arah curug ini. Dan setelah bertanya kepada beberapa penduduk yang kebetulan sedang berada di ladang , jalan ke kanan merupakan akses selanjutnya menuju curug ini
Tanpa banyak cing cong , saya pun terus mengambil arah kanan. Jalan menanjak kembali menjadi santapan bagi kakiku lagi. But...it's oke...sejauh ini saya sangat menikmatinya. Karena suasana dan pemandangan di kiri dan kanan jalan yang terdiri dari kebun cabe yang menghampar luas bener-bener bikin hati adem ayem...terlebih saat saya berkunjung pohon cabe tengah berbuah menampilkan warna yang beragam dari merah , hijau tua , hijau muda , kuning mewarnai kiri dan kanan jalan setapak. Sippp pokok-e….
Tapi ada sedikit yang mengganjal di benakku...dengan potensi pertanian yang subur seperti ini , mengapa para petani di sini lebih memilih menanam cabe?bukankah bila di tanami sayuran lain lebih menguntungkan...
sampai di kawasan kebun cabe suasana terlihat begitu beda...karena itu...foto dulu ahhhhhh...heheh
"Wah gak berani mas nanam sayuran lain...nanti kitanya gak kebagian panen...soalnya di sini banyak KEMEN(babi hutan) mas...hewan ini suka sekali merusak tanaman...mending kalo hanya makan buahnya saja...tapi celeng tu kalo ngrusak sampai mencabut akar-akarnya...jadinya tanaman pun sudah pasti ikut mati...na kalo cabe???silakan aja makan...nanti bakalan kepedasan...hahaha..." jawab seorang petani yang kontan aja membuatku ngakak...benar juga ya...cukup logis neh…
Jawaban itu cukup membuatku puas..jadi saatnya lanjut ke air terjun. Dari pertigaan saya pun berjalan mengikuti jalan setapak. Sekitar 300 meter dari pertigaan sebelumnya , kembali saya menemukan pertigaan jalan. Kali ini saya pun mengambil jalan ke kiri menuju ke hutan belantara karena jalan ke kanan yang menurun merupakan jalan untuk kembali ke desa. Dan tak jauh dari pertigaan ini , ya kira-kira 50 meter saya pun sampai di batas antara ladang penduduk dan hutan.
jalan setapak tanah membelah kebun warga(kiri) dan sungai kecil (kanan)
Tanpa ragu sedikitpun saya pun terus mengikuti jalan setapak yang akhirnya membawa saya pada sebuah sungai kecil. Di seberang sungai kecil ini kembali terdapat sebuah pertigaan jalan. Di sini saya tak kebingungan karena sebuah papan penunjuk menuju air terjun mengarah ke kanan. Saya pun terus tancap berjalan ke arah kanan.
Tapi…ada yang penasaran gak jalan ke kiri itu menuju ke mana ya guys??
Nah usut punya usut...rupanya jalan ke kiri merupakan jalan setapak menuju perkebunan Teh Medini...
yang butul itu brooo...?

hutan lebat pun masih di temui disini
Yoi....menurut penuturan dari beberapa warga , Perkebunan The Medini ini berjarak sekitar 2 km dari pertigaan ini. Warga sekitar dusun Beku terbiasa menggunakan jalan setapak ini untuk menuju Perkebunan Teh Medini ini. Mereka bekerja sampingan di perkebunan ini untuk menambah penghasilan sehari-hari. Jalan tembus menuju Desa Medini ini kembali membuka mata saya betapa besar potensi desa ini bila di kembangkan sebagai tempat wisata. Bayangkan bila saja jalan yang ada bukan jalan setapak dan bisa di lalui motor sampai ke kebun teh medini. Bayangkan bila yang di tanam di sepanjang jalan ini bukan sayur-sayuran saja , tetapi juga buah-buahan...sungguh menarik kan kawan bilamana ini ter-realisasi??
Itu pun sebatas angan-angan lho bro…jadi kesampingkan dulu . kembali ke tema kita…Dari pertigaan jalan di tepi sungai kecil ini , kembali saya menyusuri jalan setapak ke kanan. Suasana mulai terasa agak gelap karena saya mulai memasuki hutan dengan kerimbunan pohon yang cukup rapat sehingga sinar matahari pun sulit untuk mencapai lantai hutan. Kontur jalan pun kembali menanjak menaiki bukit mengikuti arah aliran sungai kecil dari bawah. Setelah berjalan sejauh kira-kira 50 meter , sampailah saya di ujung jalan yang mentok pada sebuah sungai dengan pematang saluran irigasi yang telah di beton kiri dan kanan di sepanjang tepi sungai ini. Aliran air sungai dari bawah yang semula berdiri sendiri menyatu dengan sungai ini. Di sini jalan kembali terbagi menjadi dua arah , ke kiri mengikuti arah aliran air dari saluran irigasi ini. Sementara ke kanan jalan setapak menuju muara dari aliran air irigasi ini atau berlawanan arah dengan aliran air sungai.
Dan seperti logika yang sudah-sudah , sebuah air terjun pastilah berada pada muara sungai yang membentuk sebuah sungai ; maka saya pun berjalan berlawanan arah dengan arus sungai menuju muara sungai ini…Benar saja....hanya berjalan beberapa meter terlihatlah sebuah air terjun di kejauhan....this is it brooo , sis....Curug Corong dari desa beku itu...
ini dia neh...CURUG CORONG
Unik...begitu menurut pendapatku ketika melihat curug ini dari jauh...bentuk aliran air dari curug ini melebar pada dinding tebing batu berwarna hitam membentuk 2 tingkat air terjun. Aliran air dari atas tebing ini terbagi menjadi 2 aliran air yang cukup deras. Karena tebing tempat mengalir curug ini tidak rata , sebagian aliran airnya menyebar membentuk guratan guratan putih seperti benang. Cantik banget... Di bawah , air yang jatuh disambut kerikil dan bebatuan langsung mengalir ke bawah tanpa membentuk kolam air. Sehingga bagi anda yang suka berenang tak akan bisa melakukannya di curug ini. Tapi kita tetap bisa bermain air dengan happy di sini kok. Karena jernihnya air pasti akan menggoda siapapun yang berkunjung ke air terjun ini. Selain jernih , air dari curug ini terasa begitu dingin dan segar. Saya pun mencoba mendekat ke bawah air terjun....memang aliran air tidak sederas curug yang lain sih , namun air yang jatuh dari ketinggian , membentur dinding tebing dan membentuk butiran-butiran air seperti air hujan yang cukup untuk membuat tubuh basah dalam sekejap...
begitu mendekat...ternyata deras juga yah...
Curug Corong ini berada pada ketinggian 1110 meter dari permukaan laut dan koordinat lintang-7,1860430 derajad dan bujur 110,3214600 derajad. Letaknya yang berada di tengah hutan yang rimbun membuat suasana dari curug ini terkesan angker dan horor. Terlebih dengan keberadaan sebuah pohon besar yang semakin menambah kesan wingit dari tempat ini. Selain pohon besar ini , di sekeliling air terjun ini banyak di tumbuhi pohon-pohon tinggi dengan daun yang cukup rimbun. Keadaan ini membuat sinar matahari sulit untuk mencapai lantai hutan di sekeliling curug ini sehingga praktis tanah di sekitaran curug ini menjadi lembab. Hal inilah mungkin yang membuat kesan angker dari curug ini.
Suasana horor yang seperti inilah yang membuat penduduk desa beku dan orang-orang enggan berkunjung tempat ini. 
brrrr....dingin...waaawww ...basahhhh...
Tapi hal ini jugalah yang membuat curug ini terjaga ke-alami-an dan kelestariannya hingga saat ini. Ini terlihat dengan masih rapatnya hutan di sekitar curug ini. Batu-batu dan tanah yang di tumbuhi lumut berwarna hijau seolah mengisyaratkan bahwa tempat ini seolah tak tersentuh oleh waktu. kealamian dari curug ini jugalah yang membuat saya beraksi tanpa henti dengan kamera digital mencoba mengabadikan pemandangan setiap sudut dari curug corong ini. Tidak lupa , narsis menjadi agenda wajib yang harus dilakukan....hehehe. Sebuah batang pohon yang tumbang melintang menambah sempurna acara narsis ini. 
di lihat dari manapun...memang kece neh air terjun...
Kealamian curug ini begitu terjaga dan diturunkan dari generasi ke generasi. Selain untuk mengairi sawah , Air dari curug ini pun juga di manfaatkan oleh penduduk untuk memenuhi kebutuhan air sehari- hari. Ini terlihat dengan di bangunnya beberapa tempat penampungan air berbentuk persegi yang terbuat dari beton tak jauh dari curug ini. Dari penampungan ini , air kemudian di alirkan ke rumah- rumah penduduk. Belakangan , penduduk Dusun Beku pun sadar akan potensi dari Curug  Corong ini sebagai destinasi wisata. Mereka pun kemudian mulai membenahi akses jalan menuju curug ini walaupun memang belum begitu bagus. Beberapa penunjuk arah di pasang untuk memudahkan pengunjung menuju air terjun ini. Beberapa papan larangan pun di pasang di sekitar curug ini. Walau pun memang belum maksimal , usaha penduduk Dusun Beku ini patut di apresiasi dan di acungi jempol.
nah tuh baca larangannya....oke brooo.......
Terus …adakah dari anda yang bertanya , kenapa namanya harus Curug Corong?kok bukan Curug codot atau yang lainnya…??? Well…menurut penuturan dari warga dusun Beku di namakan Curug Corong karena Curug ini berada di muara sungai Corong yang kemudian terbagi menjadi dua…gitu sih guys…merasa ada hubungannya gak???...enggak ya???au ahhhh…memang namanya gitu kok…hahaha
Entah itu terkait atau tidak yang jelas Keberadaan Curug Corong dari Dusun Beku ini semakin menambah daftar tempat wisata baru di sekitar lereng Gunung Ungaran. Tempat wisata baru yang membutuhkan dukungan dan perhatian pemerintah untuk di poles menjadi tempat wisata yang layak dan bisa di banggakan. Saya pun hanya berharap semoga saja kedepannya Curug Corong ini makin berkembang dengan tetap mempertahankan kealamiannya….
elegi siang hari yang menyenangkan...