.
 |
| GOA KREO |
Berbicara tentang Goa Kreo,pasti yang terlintas dipikiran sobat
pastilah "monyet atau kera". Tentu saja karena obyek wisata ini
selain menawarkan wisata alam berupa goa dengan kedalaman mencapai 100 meter,
juga menawarkan wisata ekologi ; yaitu interaksi dengan kera liar yang konon
telah lama ada di sekitar goa ini. Kera-kera yang berjenis kera ekor panjang
dengan nama latin macaca fascicularis ini dipercaya oleh warga sekitar sebagai
penjaga goa kreo semenjak dahulu kala..Sebenarnya Goa Kreo sendiri telah lama
eksis di dunia pariwisata jawa tengah. Tapi karena tidak terurus dan terkelola
dengan baik ; obyek wisata ini tidak banyak dilirik oleh wisatawan dan kurang
terkenal dibandingkan dengan obyek wisata lain di jawa tengah.
 |
| JEMBATAN PENGHUBUNG DAN 106 ANAK TANGGA BRO..bikin urat kaki tegang nehhh.. |
Goa kreo berada di Dukuh Talun Kacang Kelurahan Kandri Kecamatan
Mijen. Kawasan Wisata ini merupakan areal hutan seluas kurang lebih 5 hektar
yang terletak di daerah perbukitan (Gunung Krincing ) dan lembah Sungai Kreo
walau sungai kreo sendiri sekarang telah menghilang. Obyek wisata yang berada
sekitar ± 13 km dari bundaran Tugu Muda ke arah selatan ini berdiri
diatas bukit sehingga dari obyek wisata ini dapat terlihat jelas pemandangan
sekitar desa kandri dan kecamatan gunung pati. Dahulu tempat ini hanya menawarkan
pemandangan hutan,lembah dan sungai kreo disamping goa kreo itu sendiri. Tapi
sekarang goa kreo menampilkan wajah baru yang menawan. Goa kreo yang tadinya
membosankan menjadi super keren sejak Waduk Jatibarang selesai dibangun. Air
dari waduk ini mengalir dibawah bukit tempat Goa Kreo berada sehingga bukit
tempat Goa Kreo berada seolah menjadi pulau kecil di sebuah danau. Sebuah
jembatan dibangun untuk menghubungkan Goa Kreo dengan daratan. Jembatan ini
memiliki desain yang unik sehingga menambah kesan moderen pada tempat ini. Di
tengah jembatan terdapat sebuah gardu pandang dengan beberapa tempat duduk
untuk pengunjung menghilangkan penat. Dari grdu pandang ditengah jembatan ini pengunjung bisa puas
berlama-lama memandang indahnya waduk jatibarang yang seperti lautan berpadu
dengan lembah lembah hijau dan birunya langit. Semilir angin sepoi menambah
suasana damai dihati. Tidak salah kiranya bila tempat ini dijuluki "danau
toba-nya jawa tengah".
 |
| WADUK JATIBARANG dari jembatan.. |
Waduk jatibarang sendiri dibagun dengan tujuan sebagai
pengendali banjir, pasokan air baku untuk irigasi dan air minum serta
pembangkit tenaga listrik (PLTA) dan pengembangan potensi pariwisata. Tentu
saja pembangunan waduk ini diselaraskan dengan normalisasi sungai Kali Garang,
pembangunan Banjir Kanal Barat dan drainase kota semarang. Hal ini sebagai
upaya untuk menanggulangi banjir tahunan yang selalu melanda kota semarang.
Pembangunan waduk ini tak lepas dari bantuan pinjaman dari Japan International
Cooperation Agency (JICA) pada tahun 2010 dan diresmikan pada bulan mei 2014
oleh Menteri Pekerjaan Umum saat itu , Djoko Kirmanto. memiliki kapasitas 20,4
juta meter kubik. Dengan volume air itu diperkirakan mampu menjadi sumber air
baku dengan kapasitas 1.050 meter kubik per detik untuk pembangkit listrik
mikro hidro dengan kapasitas 1,5 megawat. Dengan daerah tangkapan 54 km2 dan
luas genangan 184 ha, muka air maksimum dapat mencapai tinggi kurang lebih
155,30 dengan elevasi puncak setinggi 157 m. Waduk ini memiliki panjang puncak
200 m. Begitulah sedikit review tentang spesifikasi waduk ini.
 |
| wisata keluaraga yang asyik lho...hehehe |
Sebagai tempat wisata , waduk ini seolah memberi angin
segar kepada masyarakat semarang yang rindu akan wisata alam yang separti ini.
Karena di semarang sendiri sangat jarang ada wisata alam yang memadukan wisata
air seperti ini. Jadi keberadaan waduk ini seolah-olah menjadi kebanggaan
tersendiri bagi masyarakat kabupaten semarang.
 |
| coba tebak mirip di mana ini??? |
Untuk menuju ke goa yang dimaksud itu sendiri Dari area parkir ,
pengunjung harus bersusah dahulu untuk mencapainya. Memang sih waktu turun
menuju jembatan penghubung dan goa tak terasa capek. Tapi sewaktu kembali ke
tempat parkir pengunjung harus mendaki menapaki 106 anak tangga. Cukup menguras
tenaga memang bagi yang tak terbiasa berjalan jauh. Di goa inilah konon sunan
kalijaga beserta pengikutnya berisrahat.
 |
| mumpung tak ada orang tak narsis sekkk...hihi |
Goa sedalam 100 meter ini memiliki
legendanya sendiri yang reliefnya terpahat di plafon atap gardu pandang yang
berada ditengah jembatan penghubung. Dari Dahulu goa ini telah dikramatkan oleh
penduduk sekitar. Rimbunnya pohon-pohon yang menaungi tempat ini menambah
suasana terasa singup. Kesan teduh yang ditampilkan tidak lantas membuat kesan
mistis dari goa ini menghilang. Apalagi dengan adanya kepercayaan masyarakat
setempat bahwa kera-kera yang berada di sekitar goa ini adalah keturunan dari
empat kera yang membantu sunan kalijaga sewaktu kesulitan mengangkat kayu jati
ke Demak. Kera-kera ini sampai sekarang terjaga dan cukup lestari. Kera-kera
ini banyak berkeliaran di sekitar goa. Lebih dari 400 kera saat ini menghuni di
sekitar Goa Kreo.
 |
| neh saudara kalian...sapa dong...hahaha |
Karena kepercayaan legenda inilah masyarakat Desa Kandri
melakukan ritual sesaji Rewanda tiap tahunnya. Yaitu tiap tanggal 3 syawal, 3
hari setelah hari raya idul fitri. Sesuai namanya, Rewanda yang artinya
monyet, sesaji ini memang ditujukan bagi monyet-monyet yang selama ini menghuni
kawasan Goa Kreo. Kini ritual ini menjadi atraksi wisata unggulan Pemerintah
Kota Semarang. Bahkan untuk mendanai acata tahunan ini pemerintah kota Semarang
tak segan-segan mengucurkan dana bantuan demi terlaksananya Sesaji Rewanda.
 |
| parkir motor yang luas |
Saat ini Goa Kreo memiliki fasilitas yang cukup baik. Mulai
tempat parkir yang cukup luas dan terpisah untuk mobil dan sepeda motor. Tarif
parkir pun cukup murah yaitu Rp 1000 untuk sepeda motor dan 5000 untuk mobil.
Untuk kamar mandi pun telah dibenahi dengan baik. Dua buah toilet berada
ditempat parkir, satu berada diparkir motor dan satu berada di area parkir
mobil.
 |
| parir untuk mobil pun juga luas |
Toilet lain berdekatan dengan lokasi goa. Tapi sayang, Untuk permainan
anak masih minim. Sebuah ayunan dan jungkitan tersedia tak jauh dari area goa.
Yang terlihat baru adalah tersedianya kereta mini untuk anda yang ingin
menyenangkan buah hati anda. Kreta ini berjalan dari area parkir turun kebawah
mengelilingi Waduk Jatibarang. Untuk naik kereta mini ini pengunjung harus
membayar Rp 5000 perkepala. Tapi anda kadang harus bersabar karena kreta mini
ini kadang berhenti lama menunggu penumpang penuh atau bahasa kerennya
nge-time.hehe... Sembari menunggu sobat bisa juga mencoba kuliner yang banyak
dijajakan disekitar area parkir. Atau sekedar meminum es kelapa muda dengan
harga Rp 10.000 per butirnya sambil menikmati pemandangan waduk jatibarang yang
elok.
 |
| kereta mini.. |
Saran saya bagi anda yang membawa makanan sendiri, jangan menenteng tas
plastik yang berisi makanan apalagi memakan makanan itu dihadapan kera-kera
yang ada di Goa Kreo ini.. Karena kera disini terhitung cukup nakal dan cukup
berani untuk merebutnya. Ada baiknya anda memasukan makanan yang anda bawa
kedalam tas punggung atau tas pinggang. Bagi sobat yang mau melaksanakan ibadah
sholat tak usah keluar objek wisata, karena di area parkir juga terdapat
mushola.
Dan sobat pasti bertanya-tanya berapa tiket masuk ke obyek
wisata ini...
cukup murah kok...pengunjung cuma disuruh membayar Rp 2500
perkepala saat hari biasa dan Rp 3500 saat hari libur. Cukup murah kan????
LEGENDA GOA KREO
 |
| ini neh..relief yang ada di gardu pandang.. |
Di ceritakan Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan islam baru
saat itu hendak mendirikan MESJID AGUNG DEMAK. Untuk membangun masjid ini di
utuslah Sunan Kalijaga untuk mencari kayu jati sebagai sakaguru atau tiang
masjid ke arah barat dari Kerajaan Demak. Setelah melalui perjalanan yang
panjang dan berliku kayu jati pun didapat. Selanjutnya, untuk mengejar waktu
pohon tersebut akhirnya dipotong menjadi 3 bagian. Sepertiga bagian untuk usuk
dan papan. Sedangkan dua pertiga lainnya yang berukuran 30 meter-an digotong
beramai-ramai menuju kota demak. Karena terlalu berat , akhirnya diputuskan
untuk menghanyutkan kayu tersebuk di sungai agar lebih mudah. Hal ini berjalan
dengan lancar, sampai suatu ketika disalah satu bagian sungai ; kayu tersebut
tersangkut dibebatuan besar.
Berbagai upaya telah diusahakan untuk menggulirkan kayu jati
tersebut agar kembali hanyut. Berpuluh- puluh orang dikerahkan tetapi
sia-sia. Kayu jati tersebut tetap diam tak bergeming. Melihat hal ini
Sunan Kalijaga pun memutuskan untuk mengistirahatkan rombongan. Ia pun lalu
menuju ke salah satu puncak bukit yang tinggi dan menemukan sebuah goa untuk
bersemedi memohon petunjuk dan jalan keluar dari yang kuasa. Di tengah
semedinya ; entah dari mana datangnya , tiba- tiba muncul 4 ekor kera besar.
Masing - masing memiliki bulu yang berbeda yaitu merah,putih,hitam dan kuning.
Empat kera ini lalu menghampiri sunan kalijaga dan berkata sanggup untuk
membantunya mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Sunan kalijaga pun memberi
izin untuk 4 kera ini membantunya menghanyutkan kembali kayu jati yang saat ini
tersangkut di bebatuan. Diluar dugaan tenaga empat kera ini ternyata sangat
besar dan dengan mudahnya menggulirkan kayu yang tersangkut sehingga kayu jati
pun kembali hanyut. Versi yang lain mengatakan kayu jati itu akhirnya di potong
menjadi 2 bagian , 1 bagian tenggelam ditengah sungai. 1 bagian lainnya
berhasil dihanyutkan.
Sunan kalijaga menjadi lega. Ia kemudian bertanya kepada keempat
kera tersebut tentang asal-usul dan tempat tinggal mereka. Rupanya ke empat
ekor kera ini merupakan penghuni sebuah goa yang terletak tidak jauh dari
rombongan sunan kalijaga beristirahat. Semula empat kera ini hendak ikut Sunan
Kalijaga ke demak. Tapi oleh Sunan Kalijaga empat kera ini dilarangnya untuk
mengikutinya ke Demak. Kemudian Sunan Kalijaga meminta kepada empat kera ini
untuk menjaga goa tempat mereka tinggal sampai keturunan mereka kelak.
Sunan kalijaga berpesan pada ke empat kera ini "Yen ngono, guwo iki REHO tekan anak putumu
tekan suk tembe mburi nganti rejaning jaman. Ning pawelingku, ojo nganti kowe
kabeh lan sak anak putumu nggawe rusak lan ngganggu deso-deso sak kiwo tengene
kene(kalau begitu , goa ini kaliankelola(REHO) sampai anak cucumu kelak.
Satu pesanku, jangan sekali-kali kamu dan anak cucumu merusak dan mengganggu
desa-desa disekitar sini)"
Seusai mendengar pesan ini , empat kera ini berpamitan pada Sunan
Kalijaga dan menghilang tanpa bekas. Sunan Kalijaga pun pergi meninggalkan
tempat itu bersama rombongannya kembali ke Demak. Dari perkataan
"reh-o" atau "reh-en" inilah lama kelamaan masyarakat
sekitar menyebut goa tempat tinggal empat kera ini dengan sebutan GOA KREO.
Demikian juga sungai yang mengalir dibawahnya yang kini menghilang menjadi
waduk disebut Kali Kreo.
Adapun warna keempat kera ini konon memiliki makna tersendiri.
Merah sebagai tanda api , melambangkan jiwa yang penuh keberanian. Hitam
sebagai tanda warna tanah , melambangkan jiwa kesadaran. Putih sebagai tanda
warna air melambangkan jiwa yang penuh kesucian. Dan kuning sebagai tanda warna
angin, melambangkan kesempurnaan.
ASAL NAMA JATIBARANG
Penamaan waduk jatibarang merujuk pada sebuah desa tempat waduk
ini dibangun , Desa Jatibarang. Bagi masyarakat semarang Jatibarang merupakan
tempat pembuangan umum atau TPU yang cukup terkenal. Tak banyak yang tahu bahwa
disini terdapat sebuah desa yang memiliki legendanya sendiri. Desa ini terletak
kurang lebih 13 km ke arah selatan dari KaliBanteng. Bagaimana
legendanya???simak deh tulisan ane ini...
Legenda desa ini masih berkaitan dengan Legenda pencarian kayu
jati untuk SAKA GURU Masjid Demak oleh Sunan Kalijaga. Tersebutlah dalam
perjalanan mencari kayu jatingaleh , sampailah rombongan sunan kalijaga di
sebuah desa yang terletak ditengah-tengah hutan jati. Didesa ini sedang
diadakan pertunjukan yang membuat suasana ramai dan meriah. Keramaian ini
sebagai wujud suka cita atas perolehan panen yang melimpah.. KI SOMA , demikian
nama salah satu penduduk desa tersebut yang ikut memeriahkan pesta desa
tersebut dengan menari. Yang membuat dirinya berbeda dengan penduduk lainnya
yang ada didesa ini adalah mata pencaharian yang dilakoninya. Ki Soma beserta
sekeluarganya; yang terdiri dari istri dan anak gadisnya , mencaru nafkah bukan
sebagai petani. Melainkan setiap harinya hanya "mbarang"(mengamen)
tari. Ki Soma sendiri sebenarnya adalah seorang pendatang. Dia sebenarnya bekas
punggawa kerajaan majapahit dengan kedudukan ahli gamelan dan music jawa yang di usir karena meninggalkan ajaran hindu.
Di tengah pengembaraannya ia tiba desa ini kemudian menetap. Di Tiba-tiba
ditengah riuh-rendahnya suasana perayaan, mendadak muncul sesosok lelaki
mengenakan topeng ikut menari dan larut dalam iringan musik yang dimainkan.
Penduduk setempat makin terperanjat tatkala si penari bertopeng itu membuka
topengnya, karena penari bertopeng ini tak lain adalah Sunan Kalijaga.
Dalam kesempatan baik tersebut itu, kanjeng sunan kemudian
menerangkan hubungan antara agama dan kesenian serta wejangan lain tentang
kehidupan. Pada saat itu juga , orang didesa tersebut termasuk Ki Soma
sekeluarga menyatakan diri masuk agama islam. Ki Soma oleh Sunan Kalijaga
dipercaya sebagai sesepuh desa yang kemudian disebut juga Ki Demang oleh
penduduk desa. Di kemudian hari setelah Ki Demang meninggal , makamnya di
kramatkan oleh banyak orang. Oleh karena itulah , Ki Demang atau Ki Soma juga
terkenal dengan sebutan Mbah Kramat. Sampai sekarangpun makamnya masih terjaga
dengan baik.
Akhirnya Sunan Kalijaga berniat kembali meneruskan perjalanannya
mengejar kayu jatingaleh ke arah barat. Sebelum pergi beliau berpesan agar
daerah tersebut diberi nama JATIBARANG. Konon didesa yang termasuk kecamatan
mijen ini ; pada zaman kolonial hingga penjajahan jepang , penduduk desa
tersebut terkenal suka "mbarang tari".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar